Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Pulang


__ADS_3

'Pulanglah, Papa sedang nggak baik-baik saja! Sejak tiba semalam, Papa terus diam. Saat kuajak bicara hanya menjawab satu-dua kata saja. Hari ini juga nggak datang ke kantor, padahal ada jadwal rapat. Kata Bibi, Papa juga nggak mau makan dan malah marah-marah ketika dibujuk. Sebenarnya apa yang udah kamu lakukan? Aku mendadak curiga sikapnya terhadap Ibu bukan murni keinginan Papa.'


Sebuah perintah dan juga informasi yang barusan dilontarkan oleh Kavin. Sejauh ini, Kavin tidak tahu perihal rencana Derri dan Elsa. Dalam pehamannya, Elsa hanyalah wanita yang haus uang, yang tak ada bedanya dengan wanita-wanita Derri sebelumnya. Masalah pernikahan yang masih disembunyikan, sebelumnya juga demikian, bahkan tak jarang hanya berkumpul tanpa ikatan halal. Jadi, Kavin tidak aneh dengan hubungan ayahnya dan Elsa saat ini. Sejak dulu, Derri memang bertabiat buruk. Itu sebabnya, kemarin Kavin juga tidak curiga ketika Derri mengabarkan perceraian dan melarangnya peduli terhadap Elsa. Pikir Kavin, mungkin sang ayah sudah bosan. Namun, melihat perubahan sikap ayahnya sekarang, Kavin yakin ada hubungannya dengan Rendra.


"Ada apa?" tanya Mauren. Dia menyadari perubahan raut wajah Rendra, yang semula ceria tiba-tiba dingin dan datar.


"Ada sedikit masalah di Surabaya," jawab Rendra sambil berusaha tersenyum.


"Apa ada hubungannya dengan masalah tadi?" Mauren bertanya dengan hati-hati.


Rendra menggeleng, "Enggak. Ini hanya ada sedikit kesalahpahaman di rumah."


"Sedikit?" Mauren kurang yakin dengan yakin jawaban Rendra.


"Iya sedikit. Hanya saja ... aku disuruh pulang, jadi ... mau nggak mau ya pulang dulu." Rendra kembali memamerkan senyumannya.


Mauren diam sejenak. Ada sedikit hal yang mengganjal dan ingin ditanyakan, tetapi tak tahu bagaimana cara memulainya. Beruntung Rendra sangat peka dan bisa membaca mimik wajahnya.


"Kamu mau ngomong sesuatu?" tanya Rendra.


"Sebenarnya ... mau tanya dikit, tapi___" Mauren menatap Rendra dan menunggu tanggapannya.


"Tanyakan aja, nggak usah ragu," ujar Rendra.


"Elsa kan ... ibu tiri kamu, tapi kenapa kamu malah bantu aku dan menjerumuskan dia ke penjara? Apa ... ayahmu nggak marah?"


"Ibu tiri kan bukan ibu kandung. Jadi, aku nggak punya alasan untuk membela dia, terlebih lagi tindakannya memang salah. Sedangkan Papa ... yah, hubunganku dengan beliau kurang baik. Dan ... jujur, kesalahpahaman ini memang berhubungan dengan Papa," ungkap Rendra.


Meski enggan, tetapi akhirnya Rendra berterus terang. Dia tahu Mauren tidak suka dibohongi, dan mulai sekarang dia akan berusaha jujur dalam hal apa pun.


"Berarti benar, itu ada hubungannya dengan masalah tadi? Kamu bermasalah dengan ayahmu karena membantuku?" tanya Mauren.

__ADS_1


Rendra tersenyum lebar, "Apa kamu sedang mengkhawatirkan aku?"


Mauren salah tingkah dan langsung membuang muka.


"Aku seneng kok lihat kamu tersipu, jadi ... nggak usah berpaling gitu," goda Rendra.


"Apaan sih, aku 'tuh cuma nanya. Kita belum lama kenal, aku cuma nggak enak aja kalau kamu bantu aku terus kena masalah. Aku nggak mau berhutang budi." Mauren menjawab tanpa menoleh.


"Yah, sayang banget. Padahal, aku udah bahagia karena kupikir kamu khawatir," ucap Rendra.


Mauren tak menanggapi. Dia hanya bergeming dan tak acuh meski Rendra beralih ke hadapannya.


"Nggak perlu ngerasa nggak enak, awalnya aku ngelakuin ini untuk diriku sendiri. Aku sangat anti dengan orang ketiga, dan itu sebabnya aku nggak suka dengan Elsa, bahkan bisa dibilang benci. Setelah tahu banyak tentang kamu, aku mulai jatuh cinta dan kemudian punya tujuan lain, yaitu membantumu dan melindungimu," sambung Rendra.


Mauren mengangkat wajah dan menatap Rendra dengan lekat. Dia butuh penjelasan lebih terkait ucapan 'anti orang ketiga'. Ada apa gerangan?


"Aku punya pengalaman buruk dengan orang ketiga. Bukan pengalamanku sendiri, melainkan orang tua. Ada hal kelam yang membuatku sangat benci dengan orang ketiga, bahkan juga dengan ... wanita. Selama ini aku sangat anti dengan wanita, dan kamu adalah wanita pertama yang berhasil mengubah pandanganku," terang Rendra, seolah-olah mengerti dengan isi hati Mauren.


"Jika kamu mau, nanti aku akan bercerita banyak denganmu. Apa pun yang ingin kamu tahu, aku akan menjawabnya dengan rinci dan jujur. Tapi ... sekarang aku harus pergi, ada hal yang perlu kuurus."


"Iya, hati-hati." Mauren tersenyum.


Kendati dalam hati sangat penasaran dengan masa lalu Rendra, tetapi Mauren menahannya. Dia tahu saat ini Rendra sedang ada masalah, yang mungkin tidak sederhana. Dengan perasaan yang kurang nyaman, Mauren melepas kepergian Rendra.


"Sebenarnya terlalu cepat jika aku jatuh cinta padanya. Tapi ... kenapa hatiku sulit dikendalikan," batin Mauren.


_________________


Tepat pukul 11.00 malam, Rendra tiba di rumahnya. Demi meluruskan masalah dengan sang ayah, ia rela buru-buru pulang dan berjauhan dengan Mauren. Rendra tak peduli meski harus mengeluarkan banyak uang demi penerbangan yang mendadak. Pikirnya, asal bisa cepat bertemu dengan papa.


Rendra keluar dari mobil setelah Joni membuka pintunya. Lantas, Rendra melangkah cepat menuju pintu utama yang masih tertutup rapat.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, pintu dibuka dari dalam. Bukan ART yang datang, melainkan Kavin. Walau dia menyambut Rendra dengan ramah, tetapi ada sekelumit pilu yang terpancar jelas di wajahnya.


"Akhirnya kamu pulang juga, Ndra." Kavin memegang erat kedua bahu Rendra. "Apa sih yang kamu lakukan, kenapa Papa sampai kayak gini? Kamu mengungkit masa lalu lagi?" lanjutnya.


"Ceritanya panjang. Papa belum tidur, kan? Di mana sekarang?" tanya Rendra sembari menahan kesal.


"Ada di kamar. Bicaralah baik-baik, jangan mengungkit masalah yang udah lalu. Orang tua kita tinggal Papa dan beliau pun udah nggak muda. Sayangi dia, Ndra! Jangan menambah beban di masa tuanya!" Kavin bicara serius.


"Maaf, Kak, aku memang nggak sebijak kamu. Sampai saat ini aku belum bisa memaafkan kesalahan Papa. Kepergian Mama menyisakan luka yang nggak bisa disembuhkan," jawab Rendra.


"Aku tahu. Tapi, gimanapun juga Papa adalah ayah kandung kita. Seburuk apa pun sikapnya, kita nggak pantas membenci. Kewajiban kita mengingatkan, bukan menyudutkan."


"Bukankah selama ini ini kamu selalu mengingatkan, Kak? Tapi, gimana tanggapan Papa? Nggak pernah peduli, kan? Ucapanmu hanya dianggap angin, Kak," sahut Rendra dengan intonasi yang lebih tinggi.


Kavin terdiam. Benar kata Rendra, ayahnya tak pernah mengindahkan apa yang ia ucapkan. Derri adalah pria yang keras kepala dan egois. Tak malu dengan usia tua, dia terus saja main wanita. Bermodalkan uang dan kekuasaan, dia menggandeng wanita-wanita muda yang lebih layak menjadi anaknya.


"Aku akan menemui Papa dulu," pamit Rendra.


"Kendalikan emosimu, Ndra!" Kavin memberikan peringatan sebelum Rendra benar-benar pergi.


Entah akan acuh atau tidak, yang jelas Rendra tetap berjalan tanpa memberikan tanggapan.


Beberapa saat kemudian, Rendra tiba di depan kamar Derri. Pintu ruangan itu tertutup rapat dan Rendra mengetuknya dengan keras.


"Tidurlah, Vin! Ini sudah larut!" teriak Derri dari dalam kamar.


"Ini aku," jawab Rendra.


Setelah sadar bahwa yang datang adalah Rendra, Derri bangkit dan melangkah menuju pintu, lantas membukanya lebar-lebar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2