Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Patah Hati


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa saat, Nina datang dan membukakan pintu untuk Jeevan. Wanita itu menyambut ramah lelaki yang pernah menjadi tuannya.


"Tuan Jeevan, silakan masuk!"


"Terima kasih, Nin," jawab Jeevan. "Mauren sudah pulang kerja, kan?"


"Sudah, Tuan, tapi ... barusan saja Nyonya pergi."


Jeevan mengernyitkan kening, "Ke mana?"


"Saya kurang tahu, Tuan, tadi pamitnya hanya keluar," jawab Nina.


Jeevan berpikir sejenak, lantas menanyakan perihal kepergian Mauren, dengan siapa dan kira-kira berapa lama.


"Saya tak tahu lama tidaknya, Tuan. Nyonya pergi bersama Tuan Rendra," terang Nina.


Jeevan tersentak, lagi-lagi Rendra yang mengacaukan rencananya. Dia menggerutu kesal dalam batin, mengapa Rendra tak mau menjauhi Mauren dan mengapa pula Mauren tak menolak kehadirannya.


"Apa bagusnya dia dibandingkan aku? Dari mana-mana masih gantengan aku, hanya menang kedudukan aja dia," batin Jeevan.


"Tuan!" panggil Nina karena Jeevan hanya diam.


"Mmm, aku tunggu saja. Nggak apa-apa, kan?" tanya Jeevan. "Aku menunggunya di teras kok, nggak masuk ke rumah."


"Baik, silakan, Tuan! Sebentar saya buatkan minum."


"Iya." Jeevan mengikuti langkah Nina sampai ke teras. Lantas dia duduk di sana, sedangkan Nina masuk ke rumah.


"Ke mana Mauren, kenapa bersama Rendra? Memangnya sejauh apa hubungan mereka sekarang?" Jeevan bertanya-tanya seorang diri.


Tak lama kemudian, Nina kembali menemuinya sambil membawa secangkir teh hangat dan sepiring apple pie.


"Silakan, Tuan!" ujar Nina.


"Terima kasih." Jeevan mengangguk pelan.


Sesaat setelahnya, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Jeevan masih betah dalam lamunan, sedangkan Nina juga tak ada topik untuk bicara, malah dia merasa serba salah saat ini. Ingin masuk dan meninggalkan Jeevan, tetapi tidak enak hati. Sebaliknya, berduaan seperti ini pula membuatnya tak nyaman.


"Kalau pas lagi kayak gini, kasihan juga Tuan Jeevan. Dia masih berharap pada Nyonya, tapi Nyonya sudah move on. Tapi ... kalau dipikir-pikir setimpal juga dengan perbuatannya. Dulu dia kejam banget selingkuh dengan Non Elsa, padahal dia kan sahabatnya Nyonya. Mana menawarkan poligami segala lagi, belagu banget. Lupa apa kalau aslinya kedudukannya itu nggak beda jauh sama aku gini, sederhana. Sekarang pisah sama Nyonya, sulit sendiri kan? Nggak punya kerjaan mapan, nggak punya harta melimpah. Hmm dasar laki-laki," batin Nina tanpa mengalihkan pemandangan.


"Apa kukasih tahu aja ya, kalau Nyonya udah dipinang Tuan Rendra. Dengan begitu Tuan Jeevan nggak akan berharap lagi, nggak ganggu-ganggu Nyonya lagi," sambung Nina masih dalam batinnya.


"Nina, apa Mauren sering pergi dengan Rendra?" tanya Jeevan beberapa saat kemudian.


"Tidak, Tuan, hanya kadangkala." Nina tersenyum. "Mmm, silakan dimakan, Tuan! Itu tadi oleh-oleh dari Tuan Rendra," sambungnya.

__ADS_1


"Mauren suka bolu pandan, kenapa dibawakan pie. Heh, dasar orang asing. Belum paham aja udah sok-sokan ngejar," cibir Jeevan. Untuk sesaat dia merasa puas karena pemahaman Rendra terhadap Mauren tidak sebaik dirinya.


"Tadi ... yang bawa keluarganya Tuan Rendra. Bolu pandannya juga ada, tapi ... saya nggak berani ambil, soalnya kesukaan Nyonya."


Jeevan menoleh seketika, penjelasan Nina membuatnya berpikir lain.


"Keluarga, apa maksudnya?" tanya Jeevan dengan cepat.


"Iya, Tuan. Tadi keluarganya Tuan Rendra ke sini ... melamar Nyonya. Mereka bawa banyak kue dan buah, juga seserahan yang mewah. Ada set perhiasan dan gaun pengantin," jawab Nina tanpa tedeng aling-aling.


"Apa!" teriak Jeevan dengan mata yang membulat sempurna.


"Iya. Nyonya sudah menerimanya sebagai calon suami, Tuan. Sekarang tinggal membahas hari pernikahannya saja," ujar Nina.


Jeevan gelagapan. Hancur sudah mimpi-mimpi yang tadi terangkai indah dalam pikirannya. Sang mantan tercinta sudah menjalin hubungan dengan lelaki lain, bahkan sudah merencanakan pernikahan. Walau menurut Jeevan lelaki itu tidak lebih baik darinya, tetapi kenyataannya dia yang dipilih.


"Ini nggak mungkin! Nggak mungkin!" Jeevan berteriak melampiaskan sesak di dada. Lantas bangkit sambil mencengkeram kotak hadiah yang kini tak ada artinya.


"Yang sabar, Tuan. Saya___"


"Kamu tahu kan, Nin, betapa aku mencintai dia. Tapi ... tapi kenapa dia setega ini? Apa bagusnya lelaki asing itu, mana mungkin dia lebih tulus dariku? Mauren benar-benar tega," pungkas Jeevan.


Di depannya, Nina hanya melongo. Dalam ingatannya, Jeevan adalah suami pengkhianat. Dia tidak hanya selingkuh, tetapi juga mengambil harta yang bukan haknya. Mana bisa disebut cinta?


Kalaupun posisi Nina bukan ART-nya Mauren, dia tetap akan menyalahkan Jeevan, karena dialah yang pertama bermain api. Jika sekarang Mauren mencari pengganti, itu bukan kejam, melainkan menyayangi diri sendiri.


"Iya, awalnya tulus, Tuan. Tapi ... Nyonya sangat kecewa saat Anda menawarkan poligami. Nyonya sakit hati." Nina menjawab sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Entah kalimatnya akan menyinggung Jeevan atau tidak, tetapi dia tidak punya jawaban lain.


Jeevan menatap Nina sekilas, lalu mendengkus dan kemudian melangkah pergi. Tanpa mengucap sepatah kata, dia meninggalkan Nina yang masih kebingungan.


"Menjalin hubungan dengan Elsa memang kesalahanku, tapi kan sekarang aku udah berubah. Masih aja diungkit-ungkit," gerutu Jeevan.


Sesaat kemudian, dia berhenti di depan gerbang. Ditatapnya kotak hadiah dan setangkai mawar yang sedikit lecek karena cengkeraman eratnya. Dengan penuh kecewa, Jeevan membuangnya begitu saja. Untuk apa lagi, Mauren sudah berpaling pada hati yang lain.


_______________


Tepat pukul 10.00 malam, Rendra dan Mauren di rumah. Mereka baru saja melakukan dinner romantis. Sebagai tanda dimulainya hubungan, juga untuk merayakan ulang tahun Mauren.


"Waktu kayak singkat banget ya. Tiba-tiba udah malam aja, padahal masih pengin barengan sama kamu," ujar Rendra sebelum turun dari mobil. Matanya tak henti menatap Mauren yang cantik memesona.


Mauren tertawa renyah, ekspresi Rendra kali ini persis anak kecil yang kehilangan waktu bermain, murung dan menyedihkan.


"Malah ketawa sih, emang aku lucu apa?"


"Lumayan," jawab Mauren.

__ADS_1


"Sayang!"


Mauren makin tertawa, "Makanya jangan lebay."


"Aku nggak lebay, serius ini. Nggak rela rasanya berjauhan sama kamu. Sayang, ayo dong buruan nikah." Rendra meraih tangan Mauren dan menggenggamnya. Lembut dan hangat, sangat menyejukkan hati yang semula mati rasa.


"Tunggu pamanku ke sini, nanti biar diskusi sama Papa."


"Jangan lama-lama ya. Kamu nggak mau, kan, aku kesiksa terus karena menahan rindu?" ujar Rendra.


"Tuh kan, lebay lagi."


"Kamu ngeledek mulu. Udah kukatakan berulang kali ini beneran," bantah Rendra.


"Iya deh iya. Percaya banget aku sama Sayangku." Mauren kembali tertawa.


Beberapa saat kemudian, mereka terhanyut dalam rasa yang bermekaran. Mauren dan Rendra saling diam menikmati hangat sentuhan di antara jemari yang saling menggenggam.


"Turun yuk, aku antar masuk!" ajak Rendra. Meski berat, tetapi dia harus menyudahi suasana itu, daripada hilang kendali dan melakukan hal di luar batas.


"Ayo."


Keduanya pun turun dan melangkah bersama menuju gerbang. Namun, langkah Mauren terhenti ketika kakinya menyandung sesuatu.


"Apa ini?" ucap Mauren sembari memungut kotak hadiah dan setangkai mawar putih yang tercampakkan.


"Bunga? Hadiah?" Rendra mengernyitkan kening.


"Iya. Punya siapa ya?"


"Coba buka," ujar Rendra.


"Kalau punya orang gimana, mungkin aja jatuh pas jalan," jawab Mauren.


"Kalau punya orang, jatuhnya di pinggir jalan sana, Sayang, nggak di sini." Rendra bicara sembari melipat tangan di dada.


"Terus?"


"Dari mantan suamimu kali," jawab Rendra sambil memasang tampang kesal, yang sontak saja membuat Mauren tertawa.


"Kenapa ketawa? Seneng ya dapat hadiah dari mantan?" sindir Rendra.


"Seneng lihat kamu cemburu," jawab Mauren dengan cepat.


Speechless. Rendra salah tingkah dan akhirnya membuang pandangan. Jika biasanya dia yang membuat Mauren tersipu, maka kali ini keadaan berbalik. Dirinya yang luluh dalam rayu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2