Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Tentang Rasa


__ADS_3

"Sayang, seburuk apa pun hubunganku dengan Mama, tapi Mama tetaplah orang tuaku. Kita harus meminta restu darinya sebelum menikah, kau mau kan menemui ibuku?" Kairi menatap Ella lekat-lekat.


"I ... iya," jawab Ella dengan gugup.


"Aku juga meminta pengertianmu. Tolong jangan marah ya, andai saja nanti Mama bicara kasar padamu," ucap Kairi.


"Iya, aku mengerti," jawab Ella.


"Terima kasih, Sayang. Sekarang, ayo kita masuk," ajak Kairi sambil melepaskan genggamannya.


"Kau pergilah dulu, nanti aku akan menyusul. Bagaimanapun juga, aku akan bertemu dengan calon mertua, harus menata hati terlebih dahulu agar tidak gugup." Ella bicara sambil berusaha tersenyum.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Kau jangan takut ya, ada aku disamping kamu. Aku tidak akan membiarkan Mama berbuat yang keterlaluan padamu." Kairi mengusap pipi Ella sebelum membuka pintu mobil.


"Iya, aku hanya butuh sedikit waktu," jawab Ella.


"Baiklah, aku tunggu di dalam ya," ucap Kairi yang kemudian ditanggapi dengan anggukan dan senyuman.


Dari dalam mobil, Ella dapat melihat langkah Kairi yang mulai mendekati satpam yang sedang berjaga. Satpam membukakan pintu gerbang untuk Kairi, tidak kaget sama sekali, mungkin ia adalah satpam baru yang tidak tahu siapa Kairi. Perlahan Kairi melangkah masuk, dan Ella tak bisa melihatnya lagi karena terhalang pagar tembok.


Ella memejamkan matanya, mencoba menenangkan detak jantung yang sedari tadi sudah tak beraturan. Ella mengehela napas dalam-dalam dan kemudian mengembuskannya dengan perlahan.


"Tenang, aku pasti bisa melewati semua ini," ucap Ella meyakinkan dirinya sendiri.


Jika menuruti kata hati, sejujurnya Ella ingin pergi saat ini juga. Namun, akal sehatnya yang menahannya untuk tetap duduk ditempat. Sekeras apa pun ia berusaha menyembunyikannya, cepat atau lambat Kairi akan tahu, bahwa sahabatnya adalah Andra.


Mungkin fakta ini sedikit menyakiti hati Kairi, tetapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa mengubah masa lalunya.


"Tidak peduli Kairi akan marah atau kecewa, aku harus tetap mengatakan kejujuran ini padanya," kata Ella dengan pelan.


Sementara itu, Kairi sudah berdiri di ambang pintu dan mengetuknya dengan pelan. Tak lama kemudian, Bik Surti membukanya dari dalam. Alangkah kagetnya Bik Surti saat tahu siapa yang datang mengetuk pintu.


"Tu ... Tuan Kairi," sapa Bik Surti dengan terbata-bata.


Rasanya tak percaya melihat tuan mudanya berdiri di hadapan.


"Mama ada, Bik?" tanya Kairi tanpa basa-basi.


"A ... ada, Tuan. Silakan masuk, saya akan panggilkan Nyonya," jawab Bik Surti dengan gugup.


Lalu Kairi mengikuti langkah Bik Surti yang masuk ke rumah. Bik Surti terus melangkah sampai ke ruang tengah, sedangkan Kairi berhenti di ruang tamu. Kairi menatap semua barang yang ada di ruangan itu, sudah berubah, semua perabotannya bukan lagi perabotan yang dipakai waktu ia tinggal di sana.


"Ruangan ini sudah berubah, aku harap hati Mama juga ikut berubah," batin Kairi.


"Untuk apa kamu datang ke sini?" teriak Bu Mirna sambil melangkah menuju ruang tamu.


"Ternyata belum berubah," batin Kairi diiringi senyum getir.


"Bagaimana kabar Mama?" tanya Kairi sambil tersenyum, seolah ia tidak mendengar teriakan yang baru saja Bu Mirna lontarkan.


"Tanpa kamu aku selalu baik," jawab Bu Mirna dengan nada datar.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Kairi.


"Untuk apa kamu datang ke sini?" Bu Mirna kembali berteriak.


"Mama tidak bertanya bagaimana kabarku?" tanya Kairi masih dengan senyumannya.


"Kamu punya ayah yang kaya raya, segala yang kau inginkan pasti bisa kau dapatkan, jadi untuk apa aku menanyakan kabarmu!" bentak Bu Mirna sambil menatap Kairi dengan tajam.


"Tapi ... sebenarnya kabarku tidak baik, Ma," Kairi menatap ibunya.

__ADS_1


"Aku tidak peduli. Kau mau baik atau tidak, itu bukan urusanku!" bentak Bu Mirna sambil melipat tangannya di dada.


"Begitukah?" kata Kairi sambil tersenyum hambar. Meskipun dari dulu ia sudah sering mendapatkan bentakan dan teriakan kasar dari ibunya, namun tetap saja rasanya begitu sakit.


"Sekarang katakan apa tujuanmu ke sini. Apakah disuruh ayahmu?" tanya Bu Mirna masih dengan nada tinggi.


"Tidak, Ma, aku datang ke sini karena keinginanku sendiri."


"Untuk apa? Jika kau tidak punya tujuan, lebih baik cepat pergi dan kembalilah ke negaramu!" bentak Bu Mirna dengan pelototan tajam.


"Aku ke sini bersama seseorang, Ma. Aku ingin mengenalkannya pada Mama. Aku berencana menikah, dan aku datang kesini untuk meminta restu dari Mama," terang Kairi.


"Minta saja pada ayahmu, tidak perlu meminta padaku," jawab Bu Mirna dengan cepat.


"Bagaimanapun juga Mama adalah ibuku, jadi tidak mungkin aku mengabaikan Mama. Sudah seharusnya aku meminta restu dari Papa dan juga Mama," ucap Kairi sambil menatap Bu Mirna.


"Baiklah jika seperti itu mau kamu. Dengar baik-baik, Kairi, aku tidak akan pernah___"


Belum sempat Bu Mirna meneruskan teriakannya, tiba-tiba ada suara wanita yang memanggilnya.


"Tante Mirna." Ella menyapa sambil melangkah mendekati Kairi.


Bu Mirna menurunkan tangannya yang tadi sempat menunjuk ke arah Kairi. Ia menatap Ella dan kemudian tersenyum sambil mendekatinya.


"Ella, ini benar-benar kamu, Nak. Kapan kamu pulang, ahh semakin cantik saja. Silakan duduk, biar Bik Surti menyiapkan minuman untukmu. Kebetulan Andra sedang ada di rumah." Bu Mirna berucap sambil mengusap-usap rambut Ella. Bu Mirna tersenyum lebar saat berbicara pada Ella, berbeda jauh dari detik sebelumnya, saat berbicara dengan Kairi.


Kairi menatap Ella dan ibunya sambil mengernyit heran. Ternyata mereka saling mengenal, dan tadi ibunya sempat menyebut nama 'Andra'. Apakah Ella mengenal Andra?


"Sayang, kamu kenal sama Mama?" tanya Kairi sambil menatap Ella.


"Sayang, apa maksud kamu, Kairi?


Belum sempat Ella menjawab pertanyaan Kairi, Bu Mirna sudah lebih dulu menyahut. Bu Mirna bertanya sambil menatap Kairi lekat-lekat. Senyuman yang tadi mengembang di bibirnya kini sudah tiada, raut wajah Bu Mirna kembali dingin dan datar.


Bu Mirna langsung melangkah mundur saat mendengar ucapan Kairi. Ia memang sangat menginginkan Ella menjadi menantunya, tetapi sebagai istrinya Andra, bukan Kairi. Kenapa mereka bisa saling mengenal, bahkan menjalin hubungan?


Bukankah Ella kuliah di London, sedangkan Kairi tinggal di Perancis?


Kenyataan macam apa ini, seperti sinetron saja, pikir Bu Mirna kala itu.


"Apa itu benar, Ella?" tanya Bu Mirna sambil menatap Ella. Ia sangat berharap Ella akan menggeleng sambil menjawab tidak.


"Benar, Tante, dan kita tadi ke sini untuk meminta restu dari Tante. Sekarang apakah Tante akan merestui kita? Apakah Tante akan mengizinkan aku untuk menjadi bagian dari keluarga Anggara?" tanya Ella dengan sopan dan syarat akan senyuman.


Bu Mirna menunduk, ia teringat waktu dulu, kala Ella menolak lamarannya. Bu Mirna berkata bahwa ia akan bahagia sekali andai suatu saat nanti Ella datang padanya dan meminta restu darinya. Ternyata hari ini harapan itu benar-benar terjadi. Namun, Bu Mirna tidak merasa bahagia, karena Ella meminta restu bukan untuk bersama Andra, melainkan bersama Kairi. Seorang anak yang tidak pernah diharapkan kehadirannya.


"Iya, saya merstui hubungan kalian," ucap Bu Mirna.


Ia tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin untuk berkata tidak, karena itu akan menyakiti Ella.


"Andai saja calon istri kamu bukan Ella, aku tidak akan pernah sudi memberikan restuku padamu," batin Bu Mirna dengan kesal.


Belum sempat Ella ataupun Kairi menjawab ucapan Bu Mirna. Tiba-tiba mereka sudah dikejutkan oleh teriakan lelaki yang sedang menuruni tangga.


"Mama, kunci mobilku di mana ya, aku cari di mana-mana kok tidak ada!" teriak Andra sambil melangkah menuruni tangga. Ia tidak menyadari kalau rumahnya kedatangan tamu yang tak terduga.


"Masih tidak berubah, tetap manja dan kekanak-kanakan," kata Kairi dengan nada datar. Ia menatap Andra dengan tajam, sambil melipat tangannya di dada.


Sontak Andra langsung menghentikan langkahnya, ia kenal betul dengan suara itu, suara seseorang yang sangat dibencinya. Lalu Andra menoleh dan menatap Kairi. Ia memicingkan mata, terlihat jelas raut kebencian di wajahnya. Andra terlalu fokus dengan Kairi, sampai tak sadar dengan sepasang mata yang sedang memandangnya.


Ella memandang Andra dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Andra terlihat lebih dewasa dari terakhir kali mereka bertemu. Namun, penampilannya belum berubah, tetap simpel seperti dulu. Saat itu Andra sedang memakai celana jeans panjang yang dipadu dengan kaos warna putih, dan di tangan kanannya menenteng jaket warna hitam. Gaya rambutnya pun tetap sama, tetap berdiri dan dibiarkan cinta langit.

__ADS_1


"Meskipun tanpa aku, kau tetap baik-baik saja, Ndra. Aku harap kau selalu bahagia bersama Nadhira, dan aku berharap kau bisa menerimaku sebagai kakak iparmu." Ella membatin sambil menatap Andra.


"Untuk apa kau datang ke sini, belum puas kau merebut Papa, dan sekarang kau ingin mengusik Mama. Dimana hati nurani kamu, hah!!" teriak Andra sambil melangkah menuruni anak tangga. Kini ia berdiri di dekat Bu Mirna.


"Aku tidak ingin mengusik Mama," jawab Kairi dengan santai, tetapi tatapannya sangatlah tajam.


"Pergi kamu dari sini, aku tidak___" Teriakan Andra terhenti saat ia mendengar suara wanita memanggil namanya.


"Andra," panggil Ella.


Jantung Andra berdetak dengan cepat saat mendengar suara itu, suara yang sama persis dengan suara wanita yang akhir-akhir ini sering mengganggu hatinya. Mungkinkah ini ilusi? Tapi mengapa terdengar begitu nyata?


Lalu Andra menoleh dan tenggorokannya seakan tercekat saat melihat Ella berada di rumahnya, berdiri di hadapannya. Andra menatap Ella lekat-lekat. Wanita yang pernah menjadi sahabatnya, kini tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Penampilannya tetap sederhana seperti dulu. Namun, dengan wajah yang sedikit dioles mekap, dan rambut panjang yang digerai tanpa poni depan, Ella terlihat sangat anggun dan menawan.


Rasa sakit kembali menyayat hati Andra, kala mengingat sikap Ella yang seakan-akan memang sengaja menjauhinya. Ella memblokir akunnya, dan sekarang Ella pulang tanpa memberi kabar padanya. Namun, masih ada satu hal yang menguatkan hati Andra, yakni kalung berliontin menara eiffel yang masih menggantung manis di leher Ella.


Jujur, sebenarnya ia sangat ingin berlari mendekati Ella, memeluknya dengan erat dan melepaskan rasa rindu yang kian membuncah. Namun, Andra tak bisa melakukannya.


Meskipun Ella tersenyum padanya, tetapi dari sorot matanya, seolah Ella membentangkan jarak di antara mereka. Entah apa alasannya, Andra juga tidak tahu.


"Ella," panggil Andra dengan suara yang sangat pelan. Sebenarnya banyak hal yang ingin Andra sampaikan pada Ella, tetapi rasanya sangat sulit untuk diucapkan lewat kata. Andra hanya mampu mengungkapkannya lewat tatapan mata, sambil menyebut namanya.


"Bagaimana kabar kamu?" tanya Ella, ia berusaha setenang mungkin meskipun sebenarnya sangatlah gugup.


"Aku baik, kapan kamu pulang?


Kenapa tidak mengabariku, tahu begitu 'kan aku bisa menjemputmu," kata Andra sambil berusaha tersenyum. Ia mencoba mengikis rasa canggung yang sedari tadi menguasai diri.


"Dia sudah aman bersamaku, tidak perlu kau jemput." Kairi menyahut sambil merangkul bahu Ella. Matanya menatap Andra dengan sangat tajam.


"Apa maksudmu?" geram Andra sambil mengepalkan tangannya. Entah kenapa hatinya serasa terbakar, saat melihat Kairi merangkul Ella dengan erat.


"Kau tadi menanyakan apa tujuanku ke sini 'kan? Sekarang biar aku jawab, aku ke sini untuk meminta restu dari Mama, karena sebentar lagi aku akan menikah. Kenalkan, dia adalah Gabriella Tamara, calon istriku, calon kakak ipar kamu," kata Kairi dengan tegas.


Andra mengepalkan tangannya lebih erat lagi, hatinya makin panas saat mendengar kalimat yang Kairi ucapkan. Dadanya terlihat naik turun menahan amarah. Melihat Kairi yang sedang tersenyum penuh kemenangan, membuat emosinya makin memuncak.


"Itu tidak mungkin," sanggah Andra sambil menatap Kairi dengan sangat tajam.


"Kenapa tidak mungkin, kami sudah dewasa, sudah saatnya merencanakan pernikahan. Apa menurutmu itu aneh, Andra?" tanya Kairi dengan santainya, dan itu membuat Andra semakin emosi.


"Kai, Ibu berpesan agar kita tidak pulang terlalu malam," sahut Ella sebelum Andra sempat menjawab ucapan Kairi. Membawa Kairi pergi adalah pilihan yang terbaik. Karena jika tidak, mungkin mereka akan baku hantam di menit berikutnya.


"Kau benar, Sayang, aku harus segera mengantarmu pulang." Kairi menjawab sambil mengusap rambut Ella. Seolah sengaja memamerkan kemesraannya di depan Andra.


"Mama, terima kasih ya sudah memberikan restu untuk kita. Sekarang aku pamit pergi, lain kali aku akan datang lagi untuk mengunjungi Mama," ucap Kairi sambil menatap Bu Mirna.


"Tante, kita pulang dulu ya. Ndra, aku pamit pulang." Ella berpamitan sambil menatap Bu Mirna dan Andra secara bergantian.


Lalu Ella dan Kairi melangkah keluar rumah, mereka berjalan bersama menuju mobilnya.


Bu Mirna langsung berlalu pergi menuju kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun, sedangkan Andra masih berdiri terpaku di tempatnya. Kenyataan yang sangat sulit untuk dipercaya. Sahabat dekatnya yang selalu membuat ia nyaman, sekarang menjalin hubungan dengan kakak yang sangat ia benci. Takdir macam apa ini?


"Arrggg!!" Andra menggeram sambil menendang udara kosong di hadapannya.


Lalu ia berlari menaiki tangga dan kembali menuju kamarnya. Pikirannya benar-benar kacau, hingga lupa dengan rencana semula, yakni mengajak Nadhira pergi mencari gaun untuk acara pertunangannya.


Andra berdiri didekat jendela kamarnya. Samar-samar ia melihat Ella dan Kairi masuk ke mobil yang sama. Mobil itu perlahan bergerak dan melaju meninggalkan rumahnya.


Andra mencengkeram tirai kamarnya dengan erat, dadanya terasa sangat sesak, seolah ada benda tajam yang menusuk tepat di relung hati. Ingatan Andra tiba-tiba dipenuhi dengan kenangan masa lalu. Saat ia remaja, hari-harinya selalu ditemani Ella. Gadis itulah yang selalu ada untuknya, mendukungnya, menasihatinya, dan memberikan solusi positif dalam setiap masalah yang sedang dihadapi. Senyuman gadis itu kini terlihat begitu nyata dalam memori Andra.


Perlahan Andra mulai sadar, dari dulu hingga sampai saat ini, ia selalu membutuhkan Ella. Akhir-akhir ini Ella menjauh dan menjaga jarak dengannya, membuatnya merasa rindu, gelisah, dan kacau. Malam ini, ia merasa sangat sakit saat melihat Ella bersama lelaki lain. Kini Andra sadar, posisi Ella di hatinya ternyata lebih dari sahabat. Kenapa baru sekarang ia menyadari perasaannya? Pada saat semuanya sudah sangat terlambat, Ella sudah menjadi milik kakaknya.

__ADS_1


Perlahan air matanya mulai menetes, untuk pertama kalinya ia menangis karena seorang wanita, selain ibunya.



__ADS_2