Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Andika Tidak Masuk Kerja


__ADS_3

Rencana yang disusun rapi oleh Mauren, gagal total karena Yohan tidak datang ke kantor. Bahkan, nomor teleponnya pun mendadak tak bisa dihubungi. Sepertinya, dia memang merasa bersalah dan kini menghindari Mauren.


"Sial! Ke mana dia? Andika juga tidak masuk, padahal ... janjinya cuma izin sehari," gerutu Mauren.


"Jangan-jangan ... mereka memang bersalah, jadi sekarang nggak berani menemuiku," sambung Mauren.


Karena kesal dan tak tahu harus berbuat apa, akhirnya Mauren kembali menghubungi Adnan. Dia jelaskan bahwa hari ini Yohan dan Andika tidak datang ke kantor, juga tidak menghidupkan ponselnya.


"Anda tahu alamatnya, Bu?" tanya Adnan.


"Alamat Yohan ada, nanti saya kirim. Tapi kalau alamat Andika saya tidak yakin. Setahu saya dia tinggal di kos-kosan, tapi entah itu alamat yang sebenarnya atau bukan. Rasanya saya banyak ditipu olehnya," jawab Mauren dengan perasaan yang masih kesal.


"Coba Anda kirimkan juga, Bu. Nanti biar saya selidiki."


"Baik, Pak, setelah ini saya kirim." Mauren membuang napas kasar. "Menurut Pak Adnan apa mereka memang bersalah?" sambungnya.


"Jika tidak bersalah, tidak mungkin menghindari Bu Mauren. Tapi ... sejauh ini belum ada bukti yang valid, bisa saja tafsiran saya keliru. Hanya saja, melihat sikap mereka saat ini, pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Entah dalam kebaikan atau keburukan," terang Adnan.


"Tapi, jika mereka punya maksud baik, untuk apa sembunyi-sembunyi? Bukankah lebih mudah terang-terangan saja?"


"Itu benar, Bu. Tapi ... ah, bisnis kadang rumit. Apa yang tampak di luar terkadang berbeda jauh dengan kenyataan. Yang penting, Bu Mauren tetap hati-hati. Saya akan menyelediki masalah ini sampai tuntas," kata Adnan.


"Baik, Pak."


Usai meletakkan ponselnya, Mauren menyandarkan punggung sambil memejam. Sekilas, bayangan tempo hari menjelma di pikiran, ketika dirinya dan Andika berdiri berhadapan dengan jarak yang amat dekat. Masih terngiang jelas dalam ingatan Mauren, betapa memikatnya tatapan Andika, juga aroma parfume yang menguar samar-samar. Rasanya sangat nyaman dan sayang untuk dilupakan. Namun, keadaan membuatnya tak bisa merindu lelaki itu.


"Lupakan, Mauren, lupakan! Dia bukan cowok baik-baik, nggak boleh terus-terusan dipikirkan. Apa gunanya meninggalkan Mas Jeevan, kalau akhirnya memilih lelaki yang nggak bener. Udah, lupakan!" batin Mauren.


Ketika Mauren masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ponselnya berdering. Lantas, Mauren mengambilnya dan membaca nama kontak sang penelepon—Dion. Dia adalah manager produksi yang sudah lama bekerja dengan Victory.


"Bu Mauren, barang-barang untuk NE Group sudah di-packing. Besok pagi akan diambil oleh pihak sana," terang Dion.

__ADS_1


"Bagus, usahakan barang-barang kita selalu tersedia dan bisa mencukupi permintaan mereka. Jangan lupa, catat juga data-data barang yang sudah keluar. Saya tunggu laporan bulanannya seperti biasa," ujar Mauren.


"Baik, Bu."


Karena lelah dan menunggu Yohan pun sia-sia, akhirnya Mauren memutuskan pulang. Kebetulan hari ini tidak ada jadwal penting. Sebelum pulang, Mauren terlebih dahulu menemui Siska di ruangannya.


"Siska, aku akan pulang lebih awal. Persiapan rapat besok pagi kerjakan hari ini. Kalau sudah selesai kabari aku, ya," perintah Mauren sebelum meninggalkan kantor.


"Baik, Bu." Siska mengangguk patuh. "Oh ya, besok malam Anda diundang dalam acara ulang tahun Sandria. Acaranya dimulai jam delapan malam," sambungnya.


Mauren memijit pelipisnya, "Ah iya, aku hampir lupa. Terima kasih sudah diingatkan."


Usai mendapat tanggapan dari Siska, Mauren melangkah pergi dan menuju parkiran. Dia bergegas pulang guna menenangkan hati dan pikiran.


________________


Ratusan mobil mewah berjajar rapi di halaman gedung Sandria. Orang-orang berpenampilan glamour pun berlalu lalang di sana. Malam ini adalah ulang tahun Sandria yang ke-10, acara digelar megah karena bertepatan dengan peluncuran produk baru.


Sandria adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri kosmetik, sama seperti Victory. Namun, kedudukan perusahaan tersebut belum sebanding dengan Victory.


"Lebih dari bagus," jawab Dilan.


"Issh, dasar."


"Aku serius." Dilan tertawa renyah.


Mauren tak lagi menanggapi, sekadar menggeleng-geleng sambil membuka pintu mobil. Dilan pun melakukan hal yang sama. Sekarang keduanya berjalan beriringan memasuki gedung Sandria.


Kedatangan Mauren menarik perhatian banyak pasang mata. Sebagai mantan model yang cukup terkenal, kecantikan Mauren menjadi sanjungan bagi kaum Adam dan kaum Hawa. Sungguh suatu keberuntungan bisa melihatnya dalam jarak dekat, terlebih lagi jika berhasil membuatnya membalas senyuman.


"Kamu masih populer, Mauren. Yakin nih nggak mau balik lagi?" goda Dilan.

__ADS_1


"Kamu pikir aku robot apa, jadi nggak bisa capek. Ngurus bisnis doang aja kadang sampai begadang, apalagi kalau sambil jadi model. Bisa mati berdiri aku," sahut Mauren.


"Kalau udah terima gaji, capeknya pasti bakal ilang. Lumayan loh, Ren, ada pemasukan dari sana-sini. Mana tahu nanti jadi wanita terkaya se-Indonesia. Keren, 'kan?" Dilan menatap Mauren yang memang terlihat cantik.


Meski mekapnya tidak tebal, tetapi ayu wajah Mauren terpancar sempurna. Ditambah gaun silver light melekat di tubuh idealnya, pesona Mauren mendekati sempurna.


"Nggak jadi model aja aku bisa kok jadi wanita terkaya," sahut Mauren diiringi tawa renyah.


"Sombong," cibir Dilan.


Diam-diam, Dilan ikut tersenyum. Hatinya terasa damai ketika melihat Mauren tertawa. Setidaknya, wanita itu sudah bahagia.


Andai boleh egois, Dilan akan mengejarnya dan memilikinya dalam ikatan halal. Namun, Dilan sadar itu tidak adil. Dirinya adalah pendosa yang entah berapa kali meniduri wanita, sedangkan Mauren adalah janda yang terhormat. Tidak pernah terlibat skandal ataupun hubungan semalam dengan lelaki mana pun.


"Ke sana yuk, kayaknya acara udah mau dimulai," ajak Mauren. Dia menunjuk kursi yang tak jauh dari panggung.


"Ayo."


Sembari membawa segelas minuman, Dilan dan Mauren duduk di kursi, di depan panggung. Sesekali mereka tersenyum dan membalas sapaan rekan yang kebetulan turut hadir di sana.


Tak lama kemudian, acara dimulai. Diawali dengan ucapan terima kasih, lalu sambutan-sambutan ringan, dan setelah itu pengumuman peluncuran produk baru.


"Produk baru kami saat ini adalah concealer. Berbeda dengan concealer pada umumnya yang hanya menutupi mata panda, concealer kami juga bisa mencerahkan dan mengencangkan kantung mata. Dengan pemakaian rutin dan sesuai petunjuk, kerutan-kerutan di sekitar mata mulai berkurang hanya dalam satu minggu pemakaian."


"Wah, aku mau mencoba!"


"Perlu dicoba nih, cocok banget untuk aku yang sering begadang."


"Produk-produk Sandria memang luar biasa."


Tanggapan-tanggapan antusias dari para wanita turut meramaikan jalannya acara. Mereka sudah tidak sabar untuk memiliki concealer dari Sandria, yang diyakini mampu mengoptimalkan kecantikan.

__ADS_1


Namun, tidak semua wanita menanggapi positif produk tersebut. Ada salah seorang yang justru merasa kesal dan kecewa.


Bersambung...


__ADS_2