
Dering ponsel yang cukup nyaring mengusik ketenangan seorang lelaki yang masih bergumul dengan selimut tebal. Matanya yang hitam memikat melirik jarum jam yang menggantung di dinding, masih pukul 06.00 pagi. Lantas, lelaki itu berdecak kesal sambil beringsut ke tepi ranjang.
"Siapa sih telpon pagi-pagi, nggak tahu orang masih ngantuk apa," gerutunya sembari menahan pening.
Papa, satu nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan malas lelaki itu bangkit dan mengusap tombol hijau. Dia menjawab asal ketika ayahnya bertanya kabar. Selama ini, hubungan keduanya kurang baik. Dia memendam kecewa atas sikap ayahnya yang egois.
"Berapa lama lagi kamu di Medan, Ndra?" tanya sang ayah.
"Belum tahu, Pa, Rayen masih membutuhkan tenagaku di sini," jawab lelaki yang menyandang nama Karendra Dirgantara, selarik nama yang menjadi saksi atas hidupnya selama 30 tahun.
"Rendra, Rendra, kamu ini malah mementingkan bisnis orang. Sementara bisnis sendiri malah terbengkalai."
"Rayen adalah sahabatku, Pa. Aku tidak enak hati jika mengabaikannya dalam masa sulit. Lagian, di rumah kan sudah ada Papa, ada Kak Kavin juga. Nggak mungkin lah terbengkalai," kilah Rendra.
"Papa ini sudah tua, tidak bisa bekerja sekuat dulu. Kakakmu juga fokus dengan kantor cabang, mana sekarang iparmu lagi hamil, tidak mungkin menghabiskan waktu dengan bekerja terus. Cobalah mengerti, Rendra!"
Rendra tersenyum masam. Bayangan-bayangan luka yang sudah ditorehkan ayahnya kembali memenuhi pikiran. Lantas, memaksa hatinya untuk tetap beku dalam rasa kecewa.
"Mana bisa aku mengerti Papa, sementara Papa sendiri nggak pernah ngertiin aku," batin Rendra.
"Rendra!"
"Beri aku waktu satu atau dua bulan, Pa," ucap Rendra.
"Itu sangat lama, Ndra."
"Hanya itu yang aku bisa." Rendra menyahut cepat.
"Tapi___"
"Aku sudah ngertiin pilihan Papa, tolong sekarang ngertiin pilihanku juga, Pa," pungkas Rendra.
"Lagi-lagi kamu mengungkit masalah itu, Rendra. Papa melakukan ini karena___"
"Jangan diteruskan! Aku tahu alasan Papa apa. Dan sekarang, aku juga punya alasan yang sama." Lagi-lagi Rendra tidak memberikan kesempatan kepada ayahnya.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan segera menikah, seperti keinginan Papa," jawab Rendra.
"Papa baru percaya jika sudah ada bukti, Papa tidak mau lagi dibujuk dengan janji-janji."
"Kali ini aku serius, Pa. Itu sebabnya, beri aku waktu satu atau dua bulan," kata Rendra dengan mata yang memejam. Lantas, bibirnya mengulum senyum ketika bayangan seseorang hadir di ingatan.
"Baiklah.Tapi, minggu depan kamu bisa pulang, kan? Tidak masalah meski nanti balik ke sana lagi. Minggu depan ibumu ulang tahun, tolong pulang dan ikut merayakan. Dia akan senang jika kamu hadir pada hari istimewanya."
__ADS_1
Senyuman Rendra langsung pudar ketika mendengar ayahnya menyebut kata 'ibumu'.
"Rendra, kamu bisa pulang, kan?" Ayahnya kembali bertanya.
"Nggak janji, Pa. Tapi, akan kuusahakan," jawab Rendra.
"Bagus. Papa sangat mengharapkan kehadiranmu, begitu juga dengan ibumu. Tolong jangan kecewakan kami, Rendra."
Tak lama setelah Rendra mengatakan 'iya', sambungan telepon berakhir. Rendra menunduk sambil mencengkeram ponsel yang masih menyala.
"Ibu. Apa dia pantas disebut ibu?" batin Rendra.
__________________
Lima hari telah berlalu sejak Mauren mengalami insiden yang tak mengenakkan. Kini, semuanya sudah berjalan normal seperti sedia kala.
Andika sudah sembuh dan masuk kerja sejak kemarin, sedangkan Mauren pun sudah melupakan kejadian malam itu. Sekarang, dia kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Siska, lusa kita berkunjung ke pabrik. Mungkin bisa sehari penuh dan pasti sangat melelahkan, jadi kosongkan jadwal untuk dua hari," ujar Mauren.
"Baik, Bu."
"Untuk hari ini, apakah ada jadwal penting?" tanya Mauren.
Enggar Erawanto adalah pemilik perusahaan distribusi asal Surabaya. Tiga hari yang lalu, dia mengontak Victory dan ingin menjalin kerja sama.
"Baik, kita harus mempersiapkannya." Mauren bicara tegas.
"Siap, Bu."
Perusahaan yang dikelola Enggar cukup besar, relasinya pun sudah ada di mana-mana. Mauren harap, kerja sama mereka berjalan lancar, sehingga Victory berkesempatan melebarkan sayap ke beberapa kota.
"Enggar Erawanto, cukup beruntung bisa dihubungi olehnya," batin Mauren.
Tak lama kemudian, Siska pamit keluar untuk mengerjakan tugas-tugasnya, dan tak lama setelahnya Andika yang datang. Lengkap dengan masker dan kacamata tebalnya, Andika berjalan ke meja Mauren sambil membawa segelas teh.
"Silakan, Bu, teh hangatnya," ujar Andika.
"Iya, terima kasih." Mauren tersenyum.
"Bu Mauren, boleh saya bicara," pinta Andika.
Mauren menghentikan aktivitasnya dan menatap Andika, "Silakan duduk dan katakan apa yang ingin kamu katakan!"
Andika mengangguk hormat dan kemudian duduk di hadapan Mauren.
__ADS_1
"Lusa saya mau izin, Bu. Sepupu saya mau KKN ke luar kota dan saya yang disuruh mengantar," ucapnya.
"Sepupumu orang mana?" tanya Mauren.
"Orang Surabaya juga, tapi dia kuliah di sini, Bu."
"Oh begitu." Mauren mengangguk pelan. "Kamu mau izin berapa hari?" sambungnya.
"Sehari saja, Bu, nanti saya langsung balik."
"Baik, kamu boleh izin."
"Terima kasih banyak, Bu. Mmm, boleh saya bicara lagi?" Kali ini Andika tampak ragu.
"Bicara saja!"
"Sebelumnya maaf, tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Bu Mauren dan Bu Siska. Katanya, ada distributor dari luar kota yang ingin menjalin kerja sama. Bukannya saya bermaksud lancang, melainkan sekedar mengutarakan apa yang mengganjal di pikiran. Bu Mauren, alangkah baiknya Anda berhati-hati. Beliau orang jauh dan Anda belum mengenalnya, mana tahu punya niat buruk," ucap Andika dengan panjang lebar.
Mauren mengembuskan napas kasar, "Kenapa kamu bisa bicara seperti ini?"
"Maaf, Bu, saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk perusahaan tempat saya bekerja."
Mauren bangkit sambil melipat tangan di dada. Dia menatap tajam ke arah Andika yang sedari tadi terus menunduk.
"Sebelumnya kamu tidak pernah bekerja di perusahaan, bahkan sebatas OB atau cleaning service. Bukankah otakmu terlalu cerdas jika mengatakan kalimat barusan, kecuali ... di belakangmu ada seseorang yang sengaja menyuruhmu kerja di sini," tuduh Mauren.
"Tidak ada orang yang menyuruh saya, Bu. Saya hanya rutin mengikuti berita, dan dari sana bisa menarik kesimpulan bahwa bisnis itu keras. Tak jarang jebakan diawali dari kerja sama dan menunggu lawan terlena. Jadi, bukankah lebih baik waspada dengan orang baru?" Andika menjawab tanpa mengangkat wajah.
"Iya, kamu benar. Aku harus waspada dengan orang baru. Sebenarnya nasihatmu sungguh bijak, Andika, tapi sayang kamu lupa dengan posisimu," ucap Mauren dengan intonasi yang lebih tinggi.
"Saya tahu posisi saya hanya OB, Bu. Saya___"
"Bukan masalah OB, HRD, atau manager, melainkan ... kamu juga orang baru. Jika harus waspada, maka kamu adalah orang pertama yang harus kuwaspadai," pungkas Mauren.
Kendati hatinya sering berdebar ketika berdekatan dengan Andika, tetapi tak dipungkiri kehadiran lelaki itu cukup mencurigakan. Banyak hal janggal pada dirinya. Mauren tidak mau egois. Dia tidak ingin mengedepankan perasaan dan mengesampingkan logika. Apa artinya cinta jika Victory yang harus dikorbankan?
Tidak! Mauren tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Cukup dengan Jeevan dia melakukan kesalahan fatal.
TBC
*Sambil menunggu bab selanjutnya, boleh dong mampir di novel baruku. Aku usahakan juga up setiap hari. The Billionaire Courier, kisah tentang Fabian—si lelaki miskin yang menjadi miliarder dengan cara instan.
Bersambung...
__ADS_1