
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Mauren diizinkan pulang. Sebenarnya, kondisinya belum pulih total. Namun, Mauren sudah bosan dan bersikeras pulang. Akhirnya, dokter pun meluluskan keinginannya. Dengan catatan, segera kembali ke rumah sakit jika terjadi sesuatu yang tidak baik.
Namun beruntung, hal buruk yang dikhawatirkan dokter tidak terjadi. Mauren baik-baik saja dan kondisinya makin sehat.
Kini, sudah genap satu minggu Mauren melahirkan. Kavin dan Diva sudah kembali ke Surabaya sejak kemarin. Tinggal Fadila dan Derri saja yang ada di sana, yang rencananya akan pulang esok hari.
"Ndra, Papa dan mamamu akan pulang besok pagi. Kamu jaga Mauren dengan baik, jangan sampai lalai. Kalau kerja, jangan pulang telat. Kalau bisa setengah hari saja. Kasihan Mauren kalau kamu tinggal lama-lama," ucap Derri ketika berkumpul bersama di kamar Mauren.
"Iya, Pa. Aku pasti menjaga anak dan istriku dengan baik," jawab Rendra.
"Nah bagus, memang harus begitu. Nanti, Papa pun akan sering datang ke sini. Cuma kalau tinggal terlalu lama kasihan Kavin, dia kerja sendirian nanti." Derri kembali bicara.
"Iya, Pa, nggak apa-apa. Di sini juga ada Bi Inah dan Nina kok, ada Mbak Dewi dan Mbak Susi juga yang membantu mengasuh si kembar. Jadi, sewaktu Mas Rendra kerja, aku nggak sendirian di rumah." Mauren ikut menyahut.
"Iya, tapi akan lebih baik kalau Rendra juga ada di rumah, Nak," jawab Derri.
Senyumnya terkulum sempurna saat menatap Mauren, juga bayi kembar yang sedang ditidurkan dalam box. Wanita yang dulu pernah dimusuhi, kini menjadi menantu dan memberikan dua cucu.
Derri tak pernah menyesali kenyataan itu, justru dia bahagia. Kehadiran Mauren di dalam keluarganya memberikan banyak dampak baik, untuk dirinya dan juga untuk Rendra.
Rendra yang dulu anti wanita, bahkan tidak pernah pacaran sampai usianya memasuki kepala tiga. Berkat Mauren, dia sanggup mengubah pandangannya terhadap wanita, lantas berani jatuh cinta dan menikah.
Sedangkan bagi dirinya, kehadiran Mauren mengembalikan kepribadiannya yang dulu, sebelum dikhianati sang istri.
Kini, Derri tak pernah lagi bermain wanita. Dia menikmati hari tuanya dengan hal-hal yang positif. Sungguh perubahan yang luar biasa. Jika mengingat hal itu, Derri kerap malu karena dulu sangat salah menilai Mauren. Dia pikir Mauren adalah wanita yang kejam seperti yang dituturkan Elsa, tetapi ternyata tidak. Mauren hanya wanita yang hancur dan kecewa karena pengkhianatan.
__ADS_1
"Rendra! Mauren!" panggil Fadila, turut menyela dalam perbincangan.
"Iya, Ma." Rendra dan Mauren menjawab kompak.
"Sebelum Mama pulang, ada sedikit hal yang ingin Mama bicarakan dengan kalian," ucap Fadila.
Rendra dan Mauren saling pandang. Keduanya penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Fadila, tampaknya cukup serius.
"Kalian bicaralah, aku akan istirahat," timpal Derri sebelum Rendra dan Mauren menyahut.
"Ini tentang masalah kemarin, Mas, yang sudah kubahas denganmu," ujar Fadila.
"Aku tahu. Untuk itu berdiskusilah dengan mereka, aku akan istirahat." Derri tersenyum dan kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Mauren.
"Masalah apa sih, Ma? Aku penasaran deh." Rendra langsung bertanya ketika tubuh ayahnya sudah menghilang di balik dinding.
"Ma!"
"Akhir-akhir ini kesehatan Mama kurang baik. Kamu tahu sendiri kan, Ndra, sejak lama Mama mengidap diabetes? Dari hasil pemeriksaan dokter, saat ini Mama sudah mengalami komplikasi, walaupun gejalanya masih ringan," tutur Fadila dengan sedikit murung.
"Selama ini, Mama tinggal sendirian dan jujur ... Mama kesepian. Rendra, Mauren, sebenarnya ... Mama ingin tinggal bersama kalian. Mama ingin menitipkan diri kalau saja penyakit ini membuat Mama lemah dan nggak bisa melakukan apa-apa. Maaf ya, jika permintaan Mama merepotkan kalian," sambung Fadila dengan kepala yang menunduk.
"Ma, jangan bilang repot. Kita keluarga, aku malah senang kalau Mama mau tinggal di sini. Bahkan, sejak dulu aku mengharapkan itu. Dan ... seharusnya kami yang minta maaf, Ma. Sudah tiga bulan kami nggak menjenguk Mama, kami jadi nggak tahu kalau kesehatan Mama kurang baik," ucap Mauren sambil menggenggam tangan Fadila.
Sejak dulu, Mauren sering mengajak Fadila tinggal bersama. Namun, wanita paruh baya itu menolak. Alasannya klasik, yakni pekerjaan. Bisnisnya tidak bisa ditinggal, jadi tidak bisa pula ikut ke Jakarta. Akan tetapi, akhir-akhir ini Fadila berpikir lain. Usia makin bertambah dan kesehatan makin menurun, Fadila tak bisa terus-menerus memforsir diri dengan pekerjaan.
__ADS_1
"Betul kata Mauren, Ma. Kami malah senang kalau Mama mau tinggal di sini. Urusan bisnis, nanti biar orang saja yang mengurus. Berapa bulan sekali nanti dikunjungi. Jika diserahkan pada orang yang yang terpercaya, pasti aman kok, Ma." Rendra turut menyahut.
"Nah, itu juga yang akan Mama bahas, Ndra," jawab Fadila.
"Maksudnya, Ma?" tanya Rendra.
"Mama semakin tua, tidak mungkin bisa memiliki bisnis itu selamanya. Jadi, Mama akan memberikan itu ke kalian. Bukan warisan, tapi imbalan karena kalian bersedia merawat Mama," terang Fadila.
Selama ini, Rendra terus menolak pemberiannya. Menurut Rendra, dia tidak berhak mendapatkan bagian harta meski Jeremy adalah ayah kandungnya. Bahkan, di keluarga Dirgantara pun, Rendra juga tidak mengharapkan warisan. Dia sadar diri dengan posisinya.
Namun, Fadila tak lantas menyerah. Dia ingat benar betapa gigihnya Jeremy dalam merintis bisnis. Pikirnya, kurang adil jika bisnis itu jatuh ke tangan saudara jauh, sementara ada darah daging yang ditinggalkan, dan darah daging itu pula yang menjadi harapan satu-satunya untuk menitipkan masa tua. Dulu, Jeremy memang terlahir sebagai anak tunggal, jadi tidak ada satu pun keponakan.
"Ma, kalau soal itu aku tidak bisa. Lebih baik wariskan saja pada saudara Ayah. Mereka yang lebih berhak, Ma," tolak Rendra.
"Saudara yang mana, Ndra? Ayahmu tidak punya keponakan. Apakah harus diberikan pada saudara jauh? Sementara mereka belum tentu mau merawat Mama." Fadila menatap Rendra dengan lekat. "Ndra, jangan menganggap ini sebagai warisan, tapi anggaplah imbalan. Jadi, jangan ditolak ya? Mas Derri pun sudah setuju loh dengan keputusan Mama ini," sambungnya.
"Aku dan Mauren ikhlas merawat Mama, kami tidak meminta imbalan. Cukup doakan saja, Ma, semoga usaha yang kami jalani selalu diberi kemudahan." Rendra tetap menolak.
"Betul, Ma. Kami sangat ikhlas merawat Mama. Jangan memikirkan imbalan, kami tidak mengharap itu, Ma." Mauren ikut menyela.
Fadila mengembuskan napas kasar, Rendra dan Mauren sama-sama keras. Sepertinya, untuk menghadapi mereka harus dengan sikap yang keras pula.
"Baiklah. Kalau kalian tetap menolak, Mama tidak akan tinggal di sini. Mama akan tinggal sendiri di Surabaya. Tak apa meski nanti sakit-sakitan dan hanya dirawat pelayan. Mau bagaimana lagi, Andika memang sudah tiada," ujar Fadila yang lantas membuat Mauren dan Rendra terperangah.
"Baiklah, aku akan menerima imbalan dari Mama, tapi dengan satu syarat," ucap Rendra setelah berulang kali gagal membujuk Fadila.
__ADS_1
Bersambung....