
Tepat pukul 08.00 malam, tamu-tamu undangan mulai berdatangan. Baik tamu yang berasal dari Jakarta, maupun Surabaya. Mereka ingin menyaksikan pernikahan besar antara Mauren dan Rendra, dua anak konglomerat yang cantik dan tampan.
Di antara para tamu, banyak sekali yang memuji dan menyanjung. Menurut mereka, Mauren sangat pantas bersanding dengan Rendra. Karena selain cantik, Mauren juga kaya dan cerdas. Namun, tak jarang pula yang merasa kecewa, menyayangkan Rendra yang memilih janda sementara perawan masih banyak berkeliaran.
Akan tetapi, baik buruknya tanggapan orang, tak berpengaruh pada hubungan Rendra dan Mauren. Bagi mereka, yang penting dua hati saling menyayangi dan keluarga saling merestui. Mereka sangat bahagia dengan pernikahan yang baru berjalan beberapa jam, keduanya bangga memiliki satu sama lain. Terlebih setelah tadi siang mengincip sedikit manis cinta, Mauren dan Rendra makin terhanyut dalam perasaan.
"Selamat ya, Ndra. Akhirnya kamu sold out juga. Sebagai teman ikut seneng, kamu nggak anti lagi sama wanita," ucap Rayen, sahabat dekat Rendra yang selama ini tinggal di Medan, seseorang yang menjadi alasan Rendra ketika menyelidiki rencana Elsa.
"Ternyata hanya butuh waktu," jawab Rendra dengan mata yang berbinar.
"Semoga ini menjadi pernikahan pertama dan terakhirmu. Meski kita nanti nggak banyak bertemu, tapi aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu. Semangat, Kawan." Rayen menepuk-nepuk bahu Rendra dengan pelan.
Selagi Rendra masih berbincang dengan Rayen dan beberapa kawan lain, Mauren menghampiri kawan-kawan lama, para wanita yang dulu menjadi model bersamanya.
Ketika Mauren masih asyik menanggapi ucapan selamat dari kawan-kawan, tiba-tiba ada lelaki yang datang mendekat. Langkahnya tampak lunglai dan wajah pula terlihat kusut. Meski tubuhnya dibalut setelan rapi, tetapi tidak ada gairah yang terpancar.
Lelaki itu adalah Jeevan. Dengan hati yang hancur remuk tak karuan, dia menghampiri mantan istri yang sejujurnya masih dicintai. Jeevan tersenyum miris saat menatap bibir Mauren yang mengumbar tawa renyah.
"Dulu, senyum itu untukku, tapi nggak dengan sekarang. Udah ada orang lain yang menjadi alasan senyumannya. Mauren, andai waktu bisa diputar, aku nggak akan pernah mengkhianati kamu," batin Jeevan.
Tepat di hadapannya, Mauren masih asyik tertawa. Sesekali suaranya mengalun merdu di antara bisingnya para tamu.
Diam-diam Jeevan tersenyum, pikirannya mengembara pada waktu lalu. Pada awal pernikahan, hubungan mereka sangat manis. Saban hari saling mengucap selamat pagi dan selamat malam. Meski sering menghabiskan waktu dengan pekerjaan masing-masing, tetapi setiap malam mereka selalu bersama. Mauren tidak pernah tidur lebih dulu meski dirinya lembur hingga larut, bahkan lembur yang sebenarnya hanya untuk bermain dengan Elsa.
"Aku sangat bodoh." Jeevan kembali membatin.
Saking larutnya dalam kenangan silam, Jeevan sampai tak sadar jika objek yang sedari tidak diperhatikan kini mulai melihatnya.
Mauren, dia mengernyit heran ketika menoleh dan tak sengaja mendapati Jeevan sedang terpaku di belakangnya. Sambil mencengkeram kotak hadiah yang entah apa isinya, Jeevan menatap kosong.
Karena penasaran, Mauren mendekatinya.
"Mas Jeevan," panggilnya.
__ADS_1
Jeevan tersentak dan gelagapan. Lalu tersenyum kaku dan kemudian menyodorkan kotak hadiah untuk Mauren.
"Selamat ya. Aku turut bahagia jika kamu bahagia, semoga ... Rendra memang jodohmu. Ini, sedikit hadiah dariku. Mungkin nggak seberapa, tapi ... terimalah," ujarnya.
Mauren menerima hadiah dari Jeevan, sangat ringan, seperti tak ada isinya. Mauren sempat menebak apa gerangan yang diberikan Jeevan. Namun, dia tak menemukan dugaan yang akurat.
"Terima kasih ya, Mas, semoga kamu juga bahagia." Mauren tersenyum tipis.
"Iya." Jeevan mengangguk. "Besok aku akan pergi ke Bali. Ada teman yang kerja di sana dan aku akan nyusul dia," sambungnya.
"Semoga perjalananmu lancar, Mas," sahut Mauren.
"Iya." Jeevan langsung berbalik dan melangkah pergi. "Bisa-bisanya aku berharap dia menahan kepergianku, memangnya sekarang aku siapa? Pergi ataupun enggak, apa pengaruhnya buat dia? Aku udah nggak penting lagi dalam hidupnya," sambungnya dalam hati.
Sebelum meninggalkan acara, Jeevan terlebih dahulu menemui Rendra. Tanpa basa-basi dan tanpa memberikan ucapan selamat, Jeevan mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya.
"Jaga dan bahagiakan dia! Jangan sekali-kali menyakiti atau membuatnya menangis. Satu hal yang harus kamu tahu, aku masih mencintainya. Jadi jika sekali saja kamu menyia-nyiakan dia, maka aku akan membawanya pergi. Aku yang akan kembali menikahinya. Camkan itu!" ujar Jeevan dengan tegas.
Belum sempat Rendra menyelesaikan ucapannya, Rendra sudah melangkah pergi. Kini, Rendra sekadar menatap dengan kening yang mengernyit.
"Omonganmu, Bro, kayak situ yang paling jantan dan ikhlas melepaskan. Kamu berpisah dengan Mauren itu karena dibuang sama dia, bukan kamu yang sengaja melepaskan. Kalau dia masih mau, kamu juga nyosor, kan? Sok-sokan bicara bijak, padahal aslinya udah nggak dianggap, dasar kamu. Lagian ya, yang selama ini menyakiti dan membuatnya menangis itu siapa? Kamu sendiri, kan? Malah nasihatin orang, coba 'tuh diri sendiri dinasihatin, biar nanti kalau nikah lagi nggak bodoh kayak kemarin," umpat Rendra dalam hatinya.
"Sayang, tadi Jeevan ngasih hadiah. Nggak tahu apa isinya," ucap Mauren yang tiba-tiba saja berdiri di samping Rendra.
"Oh ya? Coba lihat." Rendra mengambil hadiah yang ada di tangan Mauren. "Ringan banget, apa ya kira-kira?" sambungnya, yang kemudian hanya ditanggapi dengan gelengan.
"Apa jangan-jangan cek, Sayang? Mungkin aja dia mau balikin cek yang dulu."
"Ada-ada aja. Ya nggak mungkin lah, ceknya aja ada di aku," jawab Mauren.
"Iya juga ya. Mmm, apa jangan-jangan___"
"Jangan-jangan apa?" Mauren bertanya dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Obat mungkin," jawab Rendra sambil tersenyum miring.
"Ish, sembarangan aja. Dia nggak gila," sahut Mauren dengan pipi yang bersemu.
"Tapi, yang dia lakukan barusan lebih gila dari ngasih hadiah obat, Sayang," batin Rendra.
Tak lama kemudian, beberapa tamu mendekati mereka dan memberikan ucapan selamat. Untuk sesaat, perhatian Mauren dan Rendra teralih dari hadiah itu.
Ketika tamu-tamu sudah menjauh, Rendra menggandeng tangan Mauren dan mengajaknya pergi sebentar. Dia sangat penasaran dengan hadiah yang diberikan Jeevan.
"Sayang, di depan masih banyak tamu. Mereka pasti mencari kita," protes Mauren.
"Sebentar aja." Rendra terus mengajaknya melangkah, dan akhirnya berhenti di dekat kamar mandi.
"Ngapain kita ke sini?" tanya Mauren.
"Buka gih, aku penasaran."
"Jadi ke sini tadi cuma gara-gara ini?"
Melihat Rendra mengangguk, Mauren hanya geleng-geleng. Masih ada banyak waktu, tetapi lelaki itu tidak sabaran dan rela menyelinap dari para tamu, hanya demi hadiah yang apa pun bentuknya tetap tidak istimewa.
"Aku buka ya." Mauren bicara sambil membuka kotak hadiah.
Hanya dalam waktu singkat, kotak itu sudah terbuka sempurna dan barang yang ada di dalamnya terpampang jelas. Mauren dan Rendra saling pandang usai melihat barang tersebut.
*Terima kasih untuk kakak-kakak pembaca yang sudah mendukung karyaku sampai bab ini. Semoga berkenan sampai ending yah🥰🥰🥰
Maaf, belum bisa balas semua komentar, hanya beberapa saja. Abis update aplikasi malah sering begini. Bales komentar nggak lancar kayak dulu☹️☹️☹️
Bersambung...
__ADS_1