Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Pesan dari Rendra


__ADS_3

Rendra : Aku udah tiba di Surabaya. Aku usahakan nggak lama dan cepat kembali ke Jakarta. Selama aku di sini, baik-baik ya di sana. Jaga diri dan jaga hati😘😘😘


Mauren tersenyum saat membaca pesan dari Rendra. Semalam, lelaki itu terbang ke Surabaya dan sudah tiba sebelum tengah malam. Hanya saja, Mauren lelah dan tidur lebih awal. Jadi, baru pagi ini dia membaca pesan tersebut.


"Aslinya ... pengin banget menahan kamu di sini, tapi aku nggak mau egois. Kamu juga ada urusan di sana," ucap Mauren.


Sejak minggu lalu, ketika ia dan Rendra belanja bersama, lelaki itu sudah bercerita banyak tentang keinginan ayahnya, yang menyuruhnya berhenti kerja di luar dan lebih fokus pada bisnis keluarga. Namun, sampai saat ini Rendra belum menjalankan perintah, dia masih bekerja di perusahaan milik kawannya, di Jakarta.


Mauren : Maaf, baru bales, semalam aku udah tidur. Gimana perjalanannya? Lancar?


Usai mengirim pesan balasan, Mauren tak henti menatap layar ponsel. Rasanya tak sabar menunggu tulisan 'mengetik' menjadi sebuah pesan baru.


Rendra : Lancar, sampai sini masih tetap tampan. Oh ya, dapat salam dari papa dan tanteku. Katanya, kapan ikut pulang ke sini.


Mauren : Nggak meyakinkan, akal-akalan kamu aja pasti.


Rendra : Aku serius.


Mauren : Terserah deh. Rencana berapa hari di sana?


Rendra : Belum pasti, nanti aku kabari lagi. Kangennya tahan bentar ya, nanti diobati dengan VC.


Mauren : Nggak ada kangen!


Rendra : I love you too.


Mauren : Nggak lucu!


Rendra : Tapi romantis.


"Dasar kamu, gombalannya receh, tapi sialnya aku selalu senyum-senyum," ujar Mauren dengan pipi yang bersemu.


Sebelum Mauren mengetik pesan balasan, tiba-tiba ponselnya berdering. Rupanya Rendra tidak sabar bertukar pesan dan lebih memilih bicara via suara.

__ADS_1


"Selamat pagi, Calon Ayang," sapa Rendra.


"Nggak usah lebay, malu sama umur," sahut Mauren.


"Aku baru dua puluh sembilan, wajah juga masih imut dan manis kayak remaja. Masih layak lah lebay-lebay dikit, apa lagi sama orang tercinta." Rendra tak mau kalah.


"Dasar kamu," ucap Mauren dengan intonasi yang sedikit tinggi. Namun, Rendra malah menanggapinya dengan tawa.


"Mauren, maaf ya kalau seandainya lusa aku belum bisa balik ke sana," ucap Rendra beberapa saat kemudian. Nada suaranya menyiratkan penyesalan yang dalam.


Mauren memejam sejenak. Dia berusaha menghempas ego yang akhirnya menghadirkan kecewa. Lusa adalah hari ulang tahunnya yang ke-26. Sebenarnya, Mauren ingin merayakannya bersama Rendra. Namun, dia tak mau menuntut lebih. Hubungan mereka belum bisa dikatakan sebagai kekasih, dan yang membuat itu terjadi adalah dirinya sendiri. Sangat memalukan jika sekarang dirinya banyak menuntut, sedangkan menerima cinta saja masih banyak syarat.


"Mauren," panggil Rendra.


"Sorry, tadi aku masih minum. Iya nggak apa-apa, selesaikan dulu


urusan kamu. Jangan mengecewakan ayah dan tantemu. Mereka udah baik dan sayang sama kamu," kata Mauren.


"Nggak usah sungkan gitu," sahut Mauren.


Detik berikutnya, mereka kembali bercanda. Rendra gencar melontarkan rayuan yang terkadang payah dan terdengar konyol, sedangkan Mauren menjadi pendengar setia yang selalu tersenyum dan tersipu.


Setelah cukup lama bercanda dan tertawa bersama, mereka menyudahi obrolan karena tuntutan pekerjaan. Mauren harus mandi dan siap-siap ke kantor, sedangkan Rendra harus menyelesaikan urusan yang belum kelar.


_________________


Hari ini adalah hari pertama Jeevan bekerja di toko elektronik, sebuah pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya. Dua hari yang lalu lamarannya diterima dan Jeevan langsung mencari tempat tinggal yang tak jauh dari sana, daripada gaji habis di transportasi karena tidak punya motor atau kendaraan lain.


Keberuntungan masih berpihak pada Jeevan, dia mendapatkan tempat kos yang cukup murah. Walau sempit dan letaknya hanya terselip di antara bangunan-bangunan megah, tetapi lebih bersih dari tempat kos yang lama. Pemilik tempat pun punya warung nasi yang sederhana, sangat cocok untuk berhemat. Kebanyakan penghuni kos-kosan memang pekerja biasa dengan gaji yang tidak besar.


Saat ini, Jeevan sudah rapi dalam balutan kemeja dan celana panjang. Dia baru saja membeli sarapan dan menyantapnya di kamar. Jeevan melakukannya dengan santai karena jarum jam masih menunjukkan pukul 06.20, sedangkan masuk kerja tepat pukul 07.00.


Sembari menyuap makanannya, Jeevan menatap kotak hadiah warna biru terang berhiaskan pita putih. Di sampingnya, terdapat setangkai mawar putih yang dibungkus plastik, sangat manis.

__ADS_1


"Mudah-mudahan Mauren suka," gumam Jeevan.


Kemarin dia merogoh tabungannya dan membeli kotak musik berbentuk bola salju, sebagai hadiah ulang tahun untuk mantan tercinta. Dia berharap, sang mantan mau memaafkan dan memperbaiki hubungan. Jeevan masih ingat jelas betapa bahagianya Mauren ketika dirinya bersikap manis. Tak peduli sekecil apa perhatian yang ia berikan, Mauren akan menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa.


"Nanti malam setelah kerja, aku akan memberikan kejutan padanya. Mauren, buka hati lagi, ya. Kemarin aku hanya khilaf, ke depannya nggak akan terjadi lagi hal semacam itu. Kamu ... akan menjadi satu-satunya wanita yang aku cintai," sambung Jeevan dengan penuh harap.


Pada saat yang sama, di kediaman Mauren. Wanita itu masih berbaring di ranjang sambil memeluk guling. Rambut panjangnya kusut dan berantakan, sebagian menutup pipi yang masih bau bantal.


Hari ini tidak ada jadwal rapat atau pertemuan dengan klien, jadi Mauren masih santai meski matahari sudah lama menyingsing. Di antara rasa malas yang terus menggeluti, berulang kali Mauren mendengar ponselnya bergetar. Ada banyak pesan masuk yang ia tebak dari teman dan rekan, yang mungkin mengucapkan selamat ulang tahun.


Mauren belum ada keinginan untuk membalas atau sekadar melihat pesan-pesan tersebut. Pasalnya, sesuatu yang membuatnya semangat masih entah ke mana. Sejak kemarin sore, Rendra tak berkabar. Jangankan telepon, mengirim pesan singkat pun tidak.


"Heran deh, seneng banget ngilang-ngilang," gerutu Mauren seraya menarik selimut yang sudah melorot hingga batas kaki.


Ketika masih asyik menikmati hangat ranjang, tiba-tiba ponsel Mauren berdering. Dengan malas dia beringsut dan meraih ponsel yang diletakkan di meja, di samping tempat tidur.


Senyuman Mauren mulai terkulum ketika melihat nama sang penelepon—Rendra, lelaki yang sejak kemarin dirindukan.


"Halo," sapa Mauren.


Namun, bukannya suara Rendra yang menjawab sapaan, melainkan suara sambungan terputus.


"Kok malah dimatiin sih?" Mauren berdecak kesal dan hendak menelepon balik. Akan tetapi, gerakannya terhenti setelah mendapat notifikasi pesan dari Rendra.


Mauren cepat-cepat membuka pesan tersebut, dan alangkah terkejutnya dia saat membaca kata demi kata yang tertera di sana.


"Rendra, ini ... ini___"


Saking terkejutnya, Mauren gelagapan dan panik, sampai gagal mengucap kalimat dengan jelas. Akhirnya, dia keluar kamar dan berteriak memanggil pelayan.


"Bi Inah, Bi!" Mauren menuruni tangga dengan setengah berlari.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2