
Angin malam berembus pelan, gemerisiknya terdengar samar dan menenangkan, sangat serasi dengan susana yang tergambar di sekitar.
Di sebuah taman yang menghadap kolam renang, kursi-kursi ditata rapi di sekeliling meja panjang yang penuh hidangan. Di sampingnya, terdapat meja yang lebih kecil, yang berisikan kue ulang tahun bersusun tiga.
Gelak tawa dan alunan musik romantis berpadu merdu, seirama dengan gemerlap lampu yang berpendar indah. Meski yang hadir tak banyak dan hanya keluarga dekat saja, tetapi pesta ulang tahun Elsa kali ini tergolong mewah.
"Terima kasih banyak ya, Mas, sudah merayakan ulang tahunku semewah ini. Aku benar-benar bahagia," ucap Elsa.
Saat ini dia tidak menjilat, memang benar hatinya sangat bahagia. Adik-adik Derri dan juga keponakannya, masing-masing memberikan hadiah mahal. Ada tas limited edition, gaun mewah, set mekap, dan ada pula perhiasan. Sedangkan hadiah terbesar dari suaminya sendiri, yaitu mobil.
"Aku suamimu, Sayang, sudah seharusnya melakukan ini." Derri menjawab sambil merengkuh pinggang Elsa dan mencium keningnya dengan mesra.
Sesaat kemudian, acara pesta dimulai. Bersama Derri, Elsa berdiri di depan kue dan meniup lilin. Lantas, dia memotong kue pertamanya dan menyuapkannya kepada Derri. Kemudian, pelayan datang dan membantu memotong kue untuk semua orang yang hadir di sana.
Ketika semua orang sibuk menyantap hidangan, Rendra datang sambil membawa kotak beludru hitam. Dia mendekati ayah dan ibu tirinya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
"Selamat ulang tahun, Ibu. Maaf, aku terlambat. Tadi Rayen masih telpon, ada hal penting yang harus kami bahas," sela Rendra sambil menyodorkan kotak beludru kepada Elsa.
"Tidak apa-apa, kami paham kamu sangat sibuk," jawab Elsa.
"Lain kali jangan begini, Rendra. Tidak enak sama yang lain. Kakak dan iparmu saja sudah bergabung sejak awal." Derri menyela dengan suara pelan agar tidak terdengar yang lain.
"Maaf, Pa." Rendra menunduk sejenak. "Oh ya, Bu, maaf aku tidak tahu barang apa yang disukai Ibu. Jadi, kemarin dengan asal memilih gelang itu. Dan maaf juga hanya mutiara biasa, aku usahakan lain kali bisa menghadiahi gelang yang lebih berharga," sambungnya.
"Terima kasih banyak, Rendra. Ini adalah hadiah mahal, kamu jangan sungkan begitu." Elsa tersenyum usai melihat gelang dari Rendra. "Ayo, nikmati hidangannya dan gabung dengan yang lain. Kita bersenang-senang malam ini," lanjutnya.
"Ada angin apa tiba-tiba kamu kasih hadiah sebagus ini. Meski katamu mutiara biasa, tapi aku tahu ini mutiara mahal. Aku yakin harganya di atas sepuluh juta. Apa kamu mulai sadar kalau aku ini cantik dan tidak selayaknya diabaikan? Baguslah, artinya matamu nggak buta lagi. Sering-seringlah di rumah, aku akan memberimu kesempatan untuk bersenang-senang denganku," batin Elsa dengan penuh percaya diri.
"Wanita yang hobi menukar tubuhnya dengan uang seperti kamu, nggak akan sadar kalau itu hanya imitasi. Memangnya siapa yang sudi memberimu mutiara asli, buang-buang uang saja. Tapi, kamu nggak usah khawatir, dalam waktu dekat aku akan memberimu gelang yang lebih berharga. Gelang yang akan kamu ingat selama-lamanya," ujar Rendra dalam batinnya.
"Rendra!"
__ADS_1
Rendra menoleh dan menatap seseorang yang memanggilnya—Fadila Dirgantara—adik kandung Derrion Dirgantara.
"Tante." Rendra tersenyum senang, lalu menghambur ke pelukan Fadila. Di antara semua saudara Derri, Fadila-lah yang paling dekat dengan Rendra.
"Lupa jalan ke rumah Tante ya kamu, ditunggu-tunggu nggak pernah datang. Janjinya besok lusa, besok lusa, sampai lima puluh dua hari kamu nggak jenguk Tante. Tante kangen, pengin masakin kamu, Rendra!" Fadila mengomel sambil mengusap lembut bahu Rendra.
"Maaf, Tante, akhir-akhir ini aku sibuk. Nanti deh kalau ada waktu luang, aku janji akan nginep di rumah Tante," jawab Rendra.
"Udah kenyang sama janji kamu, Ndra. Buktiin aja, nggak usah janji-janji lagi!"
Rendra mengurai pelukan dan menatap Fadila dengan lekat. Bibinya itu memelotot ke arahnya, persis anak remaja yang sedang merajuk.
"Kali ini beneran Tante, bukan sekedar janji." Rendra berusaha meyakinkan bibinya.
Dulu, Rendra sangat sering berkunjung dan menginap di rumah Fadila, tetapi akhir-akhir ini jarang. Sejak ayahnya menikahi Elsa dan mengetahui rencana liciknya, Rendra disibukkan dengan banyak pekerjaan. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir dia menghabiskan waktunya di Ibu Kota. Tidak ada sempat untuk melihat bibinya yang hidup seorang diri, sekadar ditemani pelayan.
"Andika," seru Fadila.
"Tante, jangan nangis." Rendra menyeka air mata bibinya dengan lembut. Dia paham, hidup terpisah dengan anak adalah sesuatu yang menyakitkan, maka tak heran jika Fadila selalu menangis setiap kali mengingat Andika.
"Dila, sudah. Aku tahu ini sulit, tapi ... mau bagaimana lagi," timpal Derri.
"Tapi, Mas."
"Percaya padaku, Dila, Andika bahagia. Jadi, kamu juga harus bahagia," ujar Derri.
"Benar, Dik. Jangan terlalu bersedih, masih ada kami di sini." Elsa turut menyela dan menenangkan Fadila. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu, melainkan karena Fadila sangat royal padanya.
_______________
Pukul 08.00 malam di pusat Kota Jakarta. Mauren baru saja menginjakkan kaki di rumahnya, sangat lelah karena seharian keliling pabrik dan meninjau pekerjaan di sana.
__ADS_1
Alih-alih langsung mandi dan istirahat, Mauren masih dituntut satu tugas, yakni menemui Adnan yang kini sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Capek sih, tapi ...tahan bentar deh. Aku sangat penasaran dengan identitas Andika, jadi jangan sampai informasi ini tertunda." Mauren melepas blazer dan meletakkan tas ke atas meja. "Adnan memang bisa diandalkan, dalam waktu singkat dia bisa mendapatkan apa yang kucari," sambungnya.
Demi meredam rasa lelah, Mauren berendam sebentar dalam air hangat. Lantas, berganti pakaian dan menggulung rambutnya dengan asal. Tak ada waktu untuk berhias dengan benar karena Adnan sudah menunggunya di ruang tamu. Mauren tidak enak hati jika membuatnya menunggu lama.
"Selamat malam, Pak Adnan," sapa Mauren ketika di hadapan Adnan.
"Selamat malam, Bu Mauren. Maaf mengganggu Anda malam-malam." Adnan menunduk hormat.
"Tidak apa-apa, kebetulan saya belum tidur, baru saja tiba dari pabrik," jawab Mauren.
"Syukurlah kalau begitu. Saya sengaja memberitahukan malam ini dan menemui Anda secara langsung karena ... informasi ini sangat penting. Berbeda dengan masalah Pak Enggar kemarin," terang Adnan, yang sontak saja membuat jantung Mauren berdetak cepat.
"Apa Andika memang orang jahat yang berniat mencelakaiku?" batin Mauren setengah tidak rela.
"Bukan seperti itu, tapi___"
"Tapi apa, Pak?" tanya Mauren dengan tidak sabar.
"Andika Mantofany bukan orang sederhana. Dia putra tunggal Jeremi Mantofany, pemilik perusahaan properti yang cukup terkemuka di Kota Surabaya," ungkap Adnan.
"Nama-nama mereka sangat asing dan bisnisnya pun bergerak di bidang yang berbeda dengan Victory. Lantas, apa motifnya?" Mauren mengernyitkan kening. Dia tak bisa menebak apa gerangan yang ada dibalik seorang Andika Mantofany.
"Bu Mauren, selain identitas ini, saya juga mendapatkan informasi lain."
"Apa itu?"
"Andika___"
Bersambung...
__ADS_1