
"Lepaskan saya!" teriak Elsa yang kala itu dipaksa masuk ke dalam ruangan.
Sorot matanya penuh amarah, terlebih lagi ketika menatap Rendra. Lelaki yang pernah menjadi anak tiri, juga menjadi tokoh utama dalam mimpi, ternyata menyimpan sifat yang sangat licik dan kejam. Bahkan, kelicikan dan kekejamannya melebihi Mauren dan Ezra.
"Nona Elsa, saya sudah membawa bukti yang akurat. Kenapa Anda terus berteriak? Anda sudah menjebak Victory dan juga menipu ayah saya, jadi lebih baik cepat akui saja kesalahan Anda. Jika berkilah dan mempersulit penyidikan, bisa jadi hukuman Anda malah diperberat," ujar Rendra dengan santainya.
"Aku nggak menipu ayahmu! Kamu sendiri tahu aku dan dia menikah! Aku___"
"Cukup!" Polisi memotong teriakan Elsa. "Tolong tenang dan jelaskan duduk permasalahannya!" sambungnya.
"Dia menjebak saya!" teriak Elsa.
"Saudari Elsa telah melakukan banyak tindak kejahatan. Ini bukti-buktinya." Polisi yang membawa Elsa menyodorkan beberapa barang bukti kepada rekannya yang tadi memeriksa Mauren.
Barang bukti itu berupa rekening koran, rekaman, dan juga identitas para saksi serta oknum yang ikut terlibat.
Rendra berhasil mengungkap kejahatan Elsa terhadap Mauren dan Victory. Dimulai dari tindakan Elsa yang mencuri produk Victory dan menjualnya kepada Sandria, sampai pemalsuan produk dengan mengatasnamakan Victory. Elsa tak punya celah untuk membela diri karena Rendra mengupas rencananya secara rinci. Dalam hal ini, Enggar pun langsung menjadi tersangka karena membantu tindak kejahatan.
Selain itu, Elsa juga dijerat kasus penipuan. Uang dari Derri yang bernilai ratusan juta, dilaporkan sebagai investasi bodong. Elsa tidak bisa mengelak karena tak ada bukti bahwa dirinya dan Derri sudah menikah. Hakim dan penghulu yang dulu menikahkannya kini entah di mana, sedangkan keluarga Dirgantara tidak ada yang mendukung, termasuk Derri. Pria paruh baya itu malah menceraikannya. Fadila yang sebelumnya royal pun, kini juga ikut-ikutan membela Rendra.
Pemeriksaan pada hari itu berlangsung lama. Selain pihak Victory dan pihak NE Group, pihak Sandria pun turut dihadirkan untuk menjalani pemeriksaan.
"Saya tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini. Saya memperkerjakan Devia dan saya pikir ini memang hasil pemikirannya. Ketika manajer menyodorkan data ini kepada saya, saya setuju. Saya tidak tahu jika ini hasil bajakan," ujar Altan—pemilik Sandria. Dia cuci tangan dan melimpahkan kesalahan kepada Devia—developer product di kantornya.
__ADS_1
"Anda jangan seperti ini, Pak. Jelas-jelas kita menyetujui kerja sama yang ditawarkan Bu Diana. Anda yang lebih banyak menelan keuntungan, kenapa saya yang paling Anda salahkan?" bantah Devia.
"Saya___"
"Saya berani bersaksi bahwa apa yang dikatakan Bu Devia memang benar. Pak Altan ikut andil dalam masalah ini. Sebagai bukti, beliau telah mentransfer sejumlah uang ke rekening saya," pungkas Diana.
Dia tak mau lagi tutup mulut, toh dirinya tidak akan bebas. Daripada dipenjara sendiri, sedangkan yang lain masih bebas padahal sama-sama bersalah, jadi Diana lebih memilih membuka suara. Agar adil, pikirnya.
Elsa hanya menunduk dan bungkam. Satu per satu orang yang bekerja sama dengannya mulai mengaku dan membeberkan kronologi kejadian, tak terkecuali Dion. Dia adalah orang yang paling bertanggung jawab di pabrik Victory, dialah yang mengatur produk-produk palsu yang rencananya digunakan untuk menjatuhkan Mauren.
Satu bulan sebelum Enggar mengajukan kerja sama, Dion menyelipkan ratusan cream dan mengirimnya ke NE Group, lantas memanipulasi laporannya ke Mauren. Di Surabaya, Enggar mengotak-atik cream tersebut dan menambahkan merkuri dengan dosis tinggi.
Setelah resmi bekerja sama, pihak NE Group datang mengambil produk untuk didistribusikan. Namun, mereka sambil membawa cream yang sudah dicampur dengan merkuri. Bersama Dion, mereka menukar cream di pabrik Victory dengan cream palsu tersebut. Sedangkan cream yang asli mereka bawa dan disembunyikan di dalam gudang NE Group. Itu sebabnya, hasil pemeriksaan cream di pabrik sama dengan cream yang sudah diedarkan. Karena pada dasarnya, barang itu sudah ditukar dengan produk palsu.
Kendati semua kasus sudah diungkap dan Mauren resmi menjadi korban, bukan tersangka, tetapi rasanya sangat sesak. Orang-orang di sekitar yang selama ini dia percaya, ternyata adalah pengkhianat yang kejam. Mauren benar-benar gagal dalam mengelola bisnisnya.
"Maafkan saya, Bu. Kami menyesal telah melakukan ini."
Permintaan maaf serta ucapan sesal, terus terlontar dari bibir karyawan yang terlibat dalam kasus itu. Namun, Mauren malah jengah mendengarnya.
"Menyesal? Andai semua ini tidak terungkap dan aku yang dipenjara, sedangkan kalian bebas menikmati imbalan dari dia. Apakah kalian juga menyesal? Atau malah bahagia?" bentak Mauren.
"Maaf, Bu."
__ADS_1
"Saya tidak butuh kata maaf dari kalian!" Mauren bangkit dan beralih menatap polisi. "Pak, kasus ini sudah mencoreng nama baik perusahaan saya. Meski semua sudah terungkap, tapi pasti butuh untuk mengembalikannya. Selain itu, saya menderita banyak kerugian atas tindakan mereka. Saya mohon keadilan, berikan hukuman yang setimpal untuk mereka," sambungnya.
"Pasti, Bu. Mereka akan dihukum sesuai pasal yang berlaku."
"Untuk dia, saya harap dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya. Karena sebelum ini, dia sudah korupsi di perusahaan saya, juga di perusahaan Astoria. Kala itu, saya dan pemilik Astoria merasa kasihan dan tidak membawa kasus ini ke jalur hukum. Kami pikir dia akan berubah, tapi ternyata malah lebih parah. Jika dijatuhi hukuman ringan, takutnya tidak jera dan akan mengulang kejahatan yang lebih kejam lagi." Mauren bicara panjang sambil menunjuk Elsa, yang saat ini sudah pucat pasi.
"Apakah sebelumnya dia karyawan Anda?" tanya polisi.
"Iya, dan dia tidak hanya korupsi, tapi juga selingkuh dengan suami saya, yang sekarang sudah menjadi mantan. Dia sempat marah dan menuduh saya yang membuat hubungan mereka putus, padahal suami saya kecewa karena merasa ditipu. Dulu dia mengaku perawan dan kenyataannya hanya hasil operasi selaput dara. Dia adalah penipu yang ulung, Pak," jawab Mauren, lagi-lagi dengan kalimat panjang.
"Kamu jangan sembarang, Mauren! Jangan mentang-mentang___"
"Mentang-mentang apa? Aku bicara apa adanya. Kalau kamu menuntut bukti, aku bisa menunjukkannya. Dokter Airis, aku kenal dengannya. Perlukah dia dipanggil kemari?" pungkas Mauren.
"Kamu!" geram Elsa dengan tatapan nyalang.
Rasa bencinya kepada Mauren sudah melebihi batas maksimal. Wanita itu tidak sekadar menjebloslannya ke penjara, tetapi juga mengumbar aib-aibnya. Bahkan, masalah lama yang sudah terlupakan, dia ungkit kembali di hadapan banyak orang. Mauren benar-benar menginjak-injak harga dirinya.
"Kamu keterlaluan, Mauren! Beraninya kamu membuatku dalam posisi ini. Dan dia ... dasar laki-laki biadab! Berpura-pura baik dan tertarik, tapi ternyata hanya menjebakku! Dia sama brengseknya dengan tua bangka yang sudah bau tanah itu!" maki Elsa dalam hatinya.
*Kira-kira apa yang dilakukan Rendra ke Elsa?
Abis ini alur mundur ya biar terkuak jawabannya🙂🙂🙂
__ADS_1
Bersambung...