Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Lamaran


__ADS_3

Rendra : Aku dan keluargaku ada di depan rumahmu, mau ngelamar.


Sebuah pesan yang dikirimkan Rendra, lengkap dengan foto dirinya yang tersenyum lebar di depan pintu gerbang. Di belakangnya, tampak pria dan wanita paruh baya dengan wajah yang sedikit mirip, yang Mauren tebak adalah ayah dan tantenya.


"Bi!" Mauren kembali berteriak.


"Iya, Nyonya, ada apa? Maaf, tadi saya masih di dapur." Inah tergopoh-gopoh mendekati Mauren.


"Ada tamu di depan, tolong suruh masuk dan kasih jamuan ya, Bi. Sekalian suruh menunggu, aku mau mandi dulu," ujar Mauren dengan cepat.


"Baik, Nyonya."


Akan tetapi, langkah keduanya terhenti karena kehadiran Nina dan Rendra. Tadi, Nina sedang membuang sampah ke depan dan melihat Rendra beserta keluarganya. Karena sebelumnya sudah tahu siapa Rendra, maka Nina langsung membukakan pintu untuknya. Sewaktu mengirim pesan, sebenarnya Rendra sudah berada di depan pintu ruang tamu.


Kini, Rendra ikut masuk ke ruang tengah dengan alasan ke kamar mandi. Padahal, niatnya ingin cepat-cepat bertemu Mauren dan melihat tanggapannya.


"Aku datang," ujar Rendra tanpa rasa bersalah. Bibirnya justru mengulum senyum ketika melihat penampilan Mauren saat ini.


Tidak seperti biasanya yang modis dan elegan, kali ini Mauren tampak lucu dalam balutan piyama panjang cokelat bermotif beruang. Rambutnya yang biasa rapi, sekarang berantakan dan meriap di sana sini. Begitu pun dengan wajah, tidak ada riasan apa pun. Beruntung, wajah Mauren memang cantik alami. Jadi, tetap menawan meski aura bantal masih dibawa.


"Dasar! Kamu gila! Benar-benar gila! Kemarin ngilang, sekarang main datang ke sini nggak bilang-bilang, mana sepagi ini. Aku baru bangun, belum mandi, belum sikat gigi, belum dandan! Kamu mau bikin aku malu, ya?" Mauren mengumpat sambil memelotot tajam. Tak lupa pula tangannya memukuli dada Rendra.


Bukannya marah, Rendra malah tersenyum lebar. Dia teringat dengan kejadian tempo hari, ketika Mauren memarahi Jeevan dan menjatuhkan tubuhnya di pohon cemara, sampai kancing kemejanya banyak yang terlepas. Sepertinya, sang calon istri ini memang memiliki bakat yang terpendam, yaitu barbar dan raja tega. Dia sengaja menyembunyikan sifat itu dibalik wajah anggun dan lemah lembut.


"Nggak usah senyum-senyum! Ini nggak lucu!" Suara Mauren masih meninggi.


"Aku tahu. Kamu emang cantik, bukan lucu. Bahkan, nggak mandi pun tetap cantik, imut lagi," sahut Rendra.


"Kamu, ya!" geram Mauren. Lagi-lagi dia melayangkan tangan dan hendak memukul dada Rendra, tetapi dengan sigap Rendra menangkapnya.

__ADS_1


Mauren tersentak dan sedikit terhuyung, alhasil kini tubuhnya merapat di dada Rendra dan refleks lelaki itu meraih pinggangnya.


Sebenarnya Nina dan Inah sudah pergi ke dapur untuk menyiapkan jamuan, sehingga tak ada yang melihat posisi mereka.


Namun, beberapa detik kemudian, Fadila yang datang. Dia ingin ke kamar mandi karena hajat tak bisa ditunda. Tak disangka, dia malah disambut dengan pemandangan yang membuat orang gagal fokus.


"Mmm, apa Tante mengganggu?"


Mauren terkejut dan langsung melepaskan pelukan Rendra. Lantas menoleh dan mendapati wanita paruh baya sedang berdiri di belakangnya sambil tersenyum. Oh tidak, rasa malu Mauren sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ingin sekali ia menghilang saja dari sana.


"Mmm, maaf, tadi ... tadi___" Mauren gelagapan.


"Santai saja, Tante juga pernah muda kok," ucap Fadila sambil mengerling.


"Tapi, tadi tidak begitu. Kami cuma ... cuma berbincang aja. Iya, berbincang." Mauren bicara sambil merapikan rambutnya.


"Iya, Tante mengerti." Fadila mengangguk. "Mmm, boleh Tante ke kamar mandi?" sambungnya.


Dengan perasaan yang campur aduk tak karuan, Mauren mengantar Fadila ke kamar mandi. Entah bagaimana cara memperbaiki citranya yang sudah hancur. Baginya, Rendra benar-benar menyebalkan. Namun, tak dipungkiri juga ia merasa bahagia. Ternyata lelaki itu serius, dalam waktu satu minggu sudah membawa keluarganya datang meminang.


Usai melewati banyak drama yang sangat memalukan, kini Mauren duduk anggun bersama Rendra sekeluarga. Setelah izin mandi, Mauren berdandan dan membalut tubuhnya dengan gaun warna kuning gading, lengannya berenda dan pinggangnya dihiasi bunga-bunga kecil, sangat serasi dengan aksesori rambut yang juga berbentuk bunga dan berwarna kuning.


"Sebelumnya, perkenalkan dulu. Aku adalah Derri, ayahnya Rendra. Ini Fadila, adik kandungku. Ini Kavin, kakaknya Rendra. Dan ini Diva, istri Kavin. Ibunya Rendra sudah tiada, jadi hanya kami yang bisa datang ke sini." Derri menatap Mauren sambil tersenyum. Dia akui Mauren memang cantik, bahkan lebih cantik dari fotonya. Tak heran Rendra benar-benar luluh, setelah sekian tahun lamanya anti wanita.


"Kedatangan kami ke sini atas permintaan Rendra. Dia sangat mencintaimu dan hari ini melamarmu. Mauren, pikirkan baik-baik sebelum memberikan jawaban karena ini menyangkut masa depan. Ini, cincin bukti lamaran kami. Ambil dan pakailah jika kamu menerima Rendra. Tapi jika tidak, kami menghormati keputusanmu," sambung Derri sembari menyodorkan cincin permata yang berkilauan di dalam kotaknya.


"Pasti diterima. Iya, kan, Sayang?" Rendra menyela sebelum Mauren menjawab. "Aku udah buktiin keseriusanku loh, belum genap sebulan udah datang ke sini bawa Papa," sambungnya.


"Tapi, datangnya nggak bilang-bilang. Mengurangi poin keseriusan," ucap Mauren dengan pelan.

__ADS_1


"Aku kan cuma ngasih kejutan, nggak boleh gitu dong. Seriusku ini beneran, nggak cuma lamaran aja kok. Kamu mau nikah kapan, aku selalu siap. Nanti, besok, lusa minggu depan, bulan depan. Asal jangan tahun depan, tersiksa aku," sahut Rendra dengan cepat.


"Ndra!" Derri menatap Rendra.


"Aku kan bener, Pa. Siap nikah kapan aja," ujar Rendra.


"Kamu itu benar-benar, ya. Datang ke sini nggak bilang Mauren, tapi bilangnya ke kami, Mauren yang minta dilamar. Padahal aslinya, pacaran pun belum. Pokoknya kalau ini gagal, gaun di mobil itu harus kamu pakai," kata Derri, yang lantas membuat Rendra menggaruk-garuk kepala.


Sebelumnya, Rendra memang mengatakan bahwa dirinya dan Mauren sudah pacaran. Lantas, ingin dilamar secepatnya. Rendra baru jujur perihal keadaan yang sebenarnya, ketika mobil sudah berhenti di depan rumah Mauren. Akhirnya, seserahan yang sudah disiapkan ditinggal dulu di mobil, takut malu jika lamaran ditolak. Hanya kue dan parsel buah yang dibawa masuk, layaknya buah tangan dari tamu biasa.


Melihat hal itu, Mauren menahan tawa dalam batinnya. Ternyata, sikap Rendra jauh lebih konyol dari yang ia bayangkan. Namun, untuk kesekian kali dia tersipu dengan tingkah yang semacam itu.


"Mauren, masa kamu tega nolak aku? Enggak, kan?" tanya Rendra dengan ekspresi murung.


"Perasaan itu nggak boleh dipaksa, Ndra. Biarkan dia menjawab sendiri. Kalau kamu beneran cinta, apa pun jawabannya kamu harus terima, karena itu untuk kebahagiaannya," timpal Kavin.


Rendra tak menjawab ucapan Kavin, dia malah menatap Mauren dengan sorot sendu.


"Sebelum saya memberikan jawaban, bolehkah saya bertanya terlebih dahulu?" Mauren bicara sambil menatap Derri, lelaki paruh baya dan berkuasa yang hampir saja menghancurkan Victory. "Pak Derri pasti tahu status saya dan bagaimana awal mula saya mengenal Rendra. Apakah Pak Derri tidak masalah dengan semua itu?" sambungnya.


"Sudah pernah menikah atau belum, bagiku bukan masalah. Dan untuk pertanyaan yang kedua ... Rendra adalah anakku. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga, begitu pula sebaliknya. Jadi, aku tidak ada alasan untuk mementingkan orang lain dibandingkan dia," jawab Derri dengan sungguh-sungguh.


Mauren mengangguk pelan. Cerita Rendra beberapa waktu lalu membuatnya yakin bahwa ucapan Derri kali ini adalah benar.


"Jadi, diterima, kan?" tanya Rendra.


"Iya, aku terima lamaran kamu." Mauren beralih menatap Derri. "Pak Derri, saya menerima lamaran Anda dan saya bersedia menjadi menantu Anda," ucapnya.


Semua yang ada di sana tersenyum bahagia mendengar jawaban Mauren, terutama Rendra. Dengan tidak sabar, Rendra mengambil cincin dan siap menyematkannya di jari manis Mauren. Sementara itu, Fadila dan Diva keluar guna mengambil seserahan yang masih ada di mobil.

__ADS_1


Jemari Mauren sudah terulur dan Rendra pun sudah menyematkan cincinnya. Namun___


Bersambung...


__ADS_2