Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Saya Mencintai Anda


__ADS_3

Andika tersenyum simpul di balik maskernya. Lantas, dia turut bangkit dan menatap Mauren. Tidak ada kegugupan apalagi rasa takut, Andika berdiri di depan Mauren dengan penuh percaya diri.


"Maaf jika sikap saya membuat Anda curiga, Bu. Tapi, saya melakukan ini hanya karena rasa khawatir. Saya takut terjadi apa-apa dengan Anda. Yang saya inginkan Anda tetap baik-baik saja," ucap Andika dengan serius.


"Khawatir? Heh, kamu pikir aku bodoh?" Mauren tersenyum sinis. "Cepat katakan siapa yang menyuruhmu dan apa tujuanmu!" sambungnya dengan nada tinggi.


"Tidak ada yang menyuruh___"


"Kamu bilang alergi wewangian, tapi nyatanya bisa merokok dan membuka masker. Saat kudesak, kamu malah jatuh pingsan, yang bisa saja itu pura-pura. Karena buktinya, kamu mampu mengalahkan preman-preman yang menghadang kita. Walaupun kamu terluka, tapi rasanya mustahil bisa memukul mundur mereka. Dan sekarang ... kamu malah bicara seperti ini. Siapa kamu sebenarnya? Apa tujuanmu datang kemari?" pungkas Mauren dengan panjang lebar.


Dalam beberapa hari terakhir, Mauren sempat memikirkan sikap Andika. Menurutnya banyak kejanggalan yang harus diwaspadai, dan hari ini lelaki itu malah menambah kadar kejanggalan, sehingga Mauren pun kian curiga.


"Saya bukan siapa-siapa, Bu, tujuan saya hanya berkerja. Tapi, maaf ... Bu Mauren memang benar. Sekarang saya ada tujuan lain, mmm bukan ... lebih tepatnya harapan. Tapi Bu Mauren tenang saja, harapan saya tidak akan membahayakan keselamatan Ibu," jawab Andika.


"Apa maksudmu?" Tatapan Mauren makin tajam, tampak siap melumpuhkan lawan.


"Saya memang alergi. Waktu itu merokok untuk mengusir rasa ngantuk, sebenarnya itu memang pantangan, tapi saya tidak punya pilihan lain. Saya tidak tega meninggalkan Bu Mauren sendirian. Walaupun keamanan di kantor ini sangat maksimal, tapi saya khawatir. Soal preman, saya kepepet baru berani melakukannya. Saya nekat karena tidak tega melihat Bu Mauren disakiti. Sebisa mungkin saja menghajar mereka, motivasi saya hanya satu, yaitu melindungi Ibu. Saya akan menyesal dan merasa bersalah jika malam itu gagal." Andika menjeda kalimatnya.


"Untuk hari ini, itu juga saya lakukan karena rasa khawatir. Akhir-akhir ini banyak tindak kriminal dalam dunia bisnis. Saya hanya takut orang itu merencanakan sesuatu yang buruk, seperti yang sering wara-wiri di berita. Dalam hal bisnis saya tidak bisa melakukan apa pun, jadi saya berusaha mengingatkan saja. Bu Mauren, saya benar-benar khawatir. Mungkin ini berlebihan, tapi ... seperti itulah yang saya rasakan. Saya begini karena ... maaf lancang, saya mencintai Anda," sambung Andika yang lantas membuat Mauren membelalak.


"Kamu!"


"Sebenarnya saya malu untuk jujur, tapi mau bagaimana lagi. Kekhawatiran saya barusan sudah membuat Anda tidak nyaman. Saya tahu ini lancang dan tidak seharusnya saya lakukan, tapi soal perasaan saya tidak bisa mengendalikan. Bu Mauren, jika dengan ini saya harus dipecat, saya terima. Saya tidak akan mengelak karena saya memang bersalah, sudah tidak tahu malu mencintai atasan. Tapi, saya mohon dengan sangat, berhati-hatilah dan jaga diri Anda dengan baik. Saya sadar posisi saya tidak sebanding dengan Anda dan sangat tidak pantas jika saya mengimpikan Anda. Jadi, saya hanya berharap Anda bahagia dan baik-baik saja. Saya akan bahagia jika Anda bahagia," sambung Andika masih dengan kalimat panjangnya.


Mauren salah tingkah. Dia berpaling dan membelakangi Andika. Seumur-umur, baru kali mendapat pernyataan cinta dengan cara gamblang. Tidak ada pendekatan, tidak ada aba-aba, dan langsung pada intinya. Sebagai seorang OB yang belum lama bergabung dengan Victory, tindakan Andika sungguh berani.

__ADS_1


"Keluar!" perintah Mauren.


"Saya ... jadi dipecat atau tidak, Bu?" tanya Andika dengan polosnya.


"Jika sekarang langsung keluar tanpa banyak omong, maka kamu masih boleh bekerja di sini. Tapi jika tidak___"


"Baik, Bu, saya akan keluar. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk tetap bekerja, terima kasih juga Anda tidak marah dengan kejujuran saya barusan." Andika memotong kalimat Mauren sambil membungkuk. Lantas, dia keluar ruangan tanpa menunggu tanggapan Mauren.


Sepeninggalan Andika, Mauren duduk di kursinya sambil mengusap wajah. Kata-kata Andika masih jelas terngiang dalam pendengaran, dan hal itu membuatnya tidak nyaman.


"Aku masih nggak yakin kalau itu alasannya," gumam Mauren.


Lantas, dia pun meraih ponselnya dan mencari nomor kontak seseorang.


"Halo, Bu Mauren. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Adnan, pria dewasa yang dulu menjadi orang kepercayaan Giorgino. Kini, dia bekerja untuk Mauren.


"Siapa yang harus saya selidiki, Bu?"


"Yang pertama Enggar Erawanto, dia adalah pemilik NE Group, perusahaan distribusi asal Surabaya. Tolong selidiki dia dan juga latar belakang perusahaannya. Yang kedua, Andika Mantofany. Dia juga lelaki asal Surabaya dan belum lama bekerja di sini sebagai OB. Aku yakin ada yang tidak beres dengannya, tolong selidiki!" perintah Mauren.


"Baik, Bu, akan saya laksanakan. Tapi sebelumnya, tolong kirimkan foto mereka."


"Iya, setelah ini akan saya kirim. Saya tunggu kabar baiknya ya, Pak." Mauren mengakhiri sambungan telepon usai mendengar tanggapan dari Adnan.


"Enggar, Andika, keduanya sama-sama dari Surabaya dan selang waktu kedatangannya pun tidak lama. Jangan-jangan ... mereka ini saling berhubungan." Mauren berpikir keras. "Yohan, sepertinya aku juga harus menyelidiki dia," sambungnya.

__ADS_1


_________________


Di antara gemerlap lampu Kota Jakarta, seorang pria dewasa sedang berdiri di dekat terali, di balkon kamar Hotel Mutiara. Dia adalah Enggar Erawanto, pemilik NE Group.


Setengah jam yang lalu, Enggar menginjakkan kaki di Hotel Mutiara. Sebelum membersihkan diri, dia terlebih dahulu menikmati keindahan kota dari ketinggian—lantai empat belas.


"Jakarta, ini akan menjadi awal yang baik untuk karierku." Enggar mengulum senyum, kemudian mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.


Di tengah isapannya, Enggar mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Sebuah kejadian yang membuatnya berada di sini saat ini, ada seseorang mengajaknya bekerja sama dan menjanjikan imbalan yang fantastis.


"Maurena Alexandra ... maaf jika tindakanku nanti membuatmu tidak senang. Tapi ... kita ini pebisnis. Selagi ada celah harus dimanfaatkan. Kamu pasti paham, kan?" Enggar tersenyum licik.


Kemudian, dia menunduk dan mengambil ponsel yang sedang berdering. Senyuman Enggar makin lebar ketika melihat nama sang penelepon.


"Halo, Nona."


"Kau sudah tiba di Jakarta?" tanya seseorang yang entah di mana posisinya.


"Sudah, Nona. Besok pagi saya siap menemuinya," jawab Enggar.


"Bagus. Lakukan sesuai rencana. Jika berhasil, aku akan menambah imbalannya. Tuan Enggar, kau tidak akan rugi bekerja sama denganku."


"Saya mengerti, Nona. Saya akan melakukan yang terbaik." Enggar menjawab dengan sungguh-sungguh.


Setelah sambungan telepon berakhir, Enggar menatap layar ponselnya. Di sana ada foto Mauren yang sedang berdiri di depan gedung Victory.

__ADS_1


"Victory, sebentar lagi hanya tinggal nama. Sebesar apa pun perusahaan ini sekarang, tiba saatnya nanti hanya menjadi sejarah," ucap Enggar seorang diri.


Bersambung...


__ADS_2