Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Kebenaran tentang Andika


__ADS_3

"Andika Mantofany sudah meninggal sejak tiga tahun yang lalu. Dia menderita penyakit autoimun kronis, yaitu lupus. Penyakit ini diturunkan oleh ayahnya, yang meninggal sejak sembilan tahun yang lalu. Menurut analisa saya, identitas Andika sedang dipakai oleh seseorang. Tapi, saya belum berhasil menemukan siapa orangnya," terang Adnan dengan panjang lebar.


Mauren berpikir keras. Dia mengingat-ingat sikap Andika selama ini, berusaha mencari titik terang untuk menguak identitasnya.


"Dia bisa membawa KTP dan juga surat keterangan dokter milik Andika. Saya rasa ... dia bukan orang lain bagi Andika. Mungkin masih ada hubungan keluarga atau setidaknya teman dekat." Mauren mengutarakan pendapatnya.


"Anda benar, Bu. Saya pun berpikir demikian." Adnan mengusap wajahnya. "Saat ini ... saya berusaha mencari informasi tentang keluarga Andika. Ada beberapa identitas yang sudah saya kantongi, tapi belum saya selidiki. Dan saya belum bisa memastikan, yang memakai identitas Andika salah satu dari mereka atau bukan. Saya akan terus mencari tahu, tidak akan berhenti sebelum menemukan jawaban yang tepat, Bu Mauren," sambungnya.


"Terima kasih banyak, Pak, sudah bersedia membantu saya sampai sejauh ini."


"Sama-sama, Bu. Itu sudah menjadi kewajiban saya. Mengingat dulu, Pak Giorgino sangat baik kepada saya." Adnan tersenyum. "Oh ya, Bu, saya juga membawa kabar baik untuk Anda," lanjutnya.


"Apa itu?"


"Tidak ada hubungan antara NE Group dengan Andika Mantofany. Jadi, saya makin yakin kerja sama yang Anda tanda tangani tidak bermasalah," jawab Adnan.


"Syukurlah. Saya senang mendengarnya." Mauren tersenyum lebar.


Setelah cukup lama berbincang dan tak ada lagi yang perlu dibahas, Adnan pamit pulang. Mauren mengantarnya sampai ke pintu gerbang. Setelah mobil Adnan melaju pergi, Mauren hendak kembali ke rumah. Namun, langkahnya terhenti karena ada motor yang berhenti tepat di depan rumahnya.


"Siapa yang bertamu semalam ini?" batin Mauren. Saat ini sudah jam setengah sepuluh, bukan waktu yang pantas untuk bertamu.


Tak lama kemudian, sang pengemudi turun dan melepaskan helm. Mauren memutar bola mata ketika melihat wajahnya.


"Ngapain dia ke sini?" gumam Mauren.


"Mauren, kebetulan kamu belum tidur." Lelaki yang tak lain adalah Jeevan menyapa Mauren dengan senyuman lebar.


"Ini udah malem, Mas, ngapain kamu ke sini?" Mauren bertanya sinis. Meski demikian, dia juga membukakan pintu gerbang.

__ADS_1


"Ada hal penting yang pengin aku omongin sama kamu, penting banget," jawab Jeevan.


"Penting buat kamu, belum tentu penting buat aku, Mas," ujar Mauren. Dia sudah capek dengan bualan Jeevan. Kerap sekali mengatakan hal penting, tetapi nyatanya hanya mengucap rindu dan mengungkit kenangan lalu.


"Kali ini penting banget, aku nggak bohong. Lihat, aku abis lembur dan belum sempat pulang. Aku bela-belain ke sini demi ngomong ini sama kamu," ucap Jeevan.


Mauren menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tubuh Jeevan masih dibalut seragam binatu, tampaknya dia memang lembur dan belum membersihkan diri.


"Ya udah masuk, tapi jangan lama-lama. Ini udah malem." Mauren mempersilakan Jeevan masuk ke rumahnya. Namun, Jeevan menolak dan lebih memilih duduk di teras. Selain sadar bahwa sekarang sudah malam, Jeevan juga kelelahan. Jadi, dia tidak akan lama-lama di rumah Mauren.


"Kemarin aku lagi ngantarin barang dan nggak sengaja ketemu Andika. Dia sedang berbincang dengan seseorang di depan tempat kos. Aku nggak tahu itu kos-kosan dia atau bukan. Sehabis berbincang, Andika masuk mobil dan pergi bersama orang itu," terang Jeevan.


"Lalu apa anehnya?" Mauren pura-pura tak peduli meski aslinya sangat berharap ada petunjuk dari masalah itu.


"Orang itu sangat hormat kepada Andika. Dari cara bicaranya, seperti seorang bawahan dengan atasan. Dan lagi, dia memanggilnya bukan Pak Andika, melainkan Pak Rendra."


Mauren menoleh seketika, antara percaya dan tidak, tetapi dia sangat terkejut dengan perkataan Jeevan.


Mauren masih diam. Dia berusaha mengingat-ingat nama Rendra. Namun, berulang kali melakukannya, tetap tak tahu siapa itu Rendra. Bagi Mauren namanya sangat asing.


"Mauren, kenapa kamu diam aja? Kamu nggak percaya dengan ucapanku?" tanya Jeevan beberapa saat kemudian.


"Nggak sepenuhnya percaya, tapi juga nggak sepenuhnya nggak percaya," jawab Mauren.


"Padahal, yang kukatakan ini benar. Sewaktu ada sempat, aku buru-buru menemuimu demi mengatakan hal ini. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Mauren." Jeevan menunduk sendu. Ada perasaan tak nyaman ketika kehilangan kepercayaan dari Mauren.


"Ya udah, kalau gitu makasih banyak untuk informasinya. Kamu nggak usah khawatir lagi, Mas, aku tahu apa yang harus kulakukan," ucap Mauren.


"Kamu akan memecat dia?"

__ADS_1


"Entah. Tapi yang jelas, aku akan melakukan yang terbaik untuk aku dan juga Victory." Mauren menjawab serius.


"Aku percaya kamu bisa." Jeevan tersenyum. "Mauren ... apa belum bisa mempertimbangkan aku?" sambungnya menyimpang dari obrolan awal.


Mauren menunduk dan menarik napas dalam-dalam, "Mas, kita sudah berakhir. Aku memang bisa memaafkanmu, tapi aku nggak bisa kembali denganmu. Aku pernah memberimu kesempatan, tapi kamu abaikan."


"Nggak bisakah memberiku kesempatan sekali lagi? Kali ini aku janji nggak akan menyakitimu. Aku nggak akan lagi menodai cinta kita," ujar Jeevan.


"Mas, bukankah sangat egois jika sekarang kamu memaksaku, setelah dulu nggak mau tahu dengan perasaanku?" Mauren menatap Jeevan dengan sedikit tajam. Namun, lelaki langsung menunduk dan menghindari tatapannya.


"Aku mengerti." Jeevan tersenyum masam. "Kamu pasti butuh waktu untuk menyembuhkan lukamu, aku akan selalu sabar menunggu, Mauren," sambungnya dalam hati.


Tak lama kemudian, Jeevan pamit pulang. Dia tak lagi mendesak karena takut Mauren tak nyaman.


Sepeninggalan Jeevan, Mauren bergegas masuk dan mengambil ponselnya, lantas menghubungi Adnan.


"Iya, Bu Mauren."


"Barusan Mas Jeevan ke sini dan bicara soal Andika. Saya tidak tahu yang dia katakan benar atau tidak, Pak, tapi tidak ada salahnya saya beritahukan kepada Anda."


"Apa yang dia katakan, Bu?" tanya Adnan.


"Katanya, dia melihat Andika sedang berbincang dengan orang lain yang tampak seperti bawahan. Orang itu memanggil Andika dengan sebutan Pak Rendra. Pak Adnan, apa saudara atau teman Andika ada yang bernama Rendra?" Mauren menjawab cepat.


"Yang saya selidiki saudara dari ayahnya dan nama ini masih asing. Saya butuh waktu lagi untuk menyelidiki saudara dari ibunya, mungkin saja ada yang bernama Rendra," ujar Adnan.


"Terima kasih, Pak, saya tunggu kabar baiknya."


Usai mengakhiri sambungan telepon dengan Adnan, Mauren menghubungi Yohan. Dia menyuruh lelaki itu datang ke kantor esok pagi. Yohan sempat menolak karena dia shift malam, tetapi setelah diberi tahu bahwa besok ada pembagian bonus, dia mengiakan perintah Mauren.

__ADS_1


"Kamu pasti tahu sesuatu. Besok aku akan membuatmu jujur dan mengaku," batin Mauren.


Bersambung...


__ADS_2