
Wanita yang tak lain adalah Elsabila Zaqia, menoleh dan menatap anak tirinya. Karendra Dirgantara, si bungsu yang yang selalu membangkang. Tiga bulan menikah dengan Derrion Dirgantara, tak pernah sekali pun Rendra bersikap baik padanya. Entah ada apa dengan hari ini, mengapa tiba-tiba Rendra menghampiri dan memanggilnya dengan sebutan ibu.
"Rendra, Ibu senang akhirnya kamu pulang." Elsa bangkit dan berusaha tersenyum ramah.
"Ibu ulang tahun, mana mungkin aku mengabaikannya. Walau di antara kita tidak ada hubungan darah, tapi kamu adalah wanita yang dicintai ayahku. Sudah seharusnya, kan, aku menghargaimu?" jawab Rendra.
"Rendra! Kamu sudah tiba, Nak," teriak Derri. Dia baru saja keluar kamar dan langsung menghampiri Rendra.
"Sudah, Pa. Bagaimana kabar Papa?" jawab Rendra lengkap dengan senyuman lebar.
"Seperti yang kamu lihat, sangat sehat. Ibumu menjaga Papa dengan baik, Ndra." Derri membanggakan istrinya, sementara Rendra merutuk wanita itu dalam batinnya.
"Kak Kavin dan Kak Diva ke mana?" tanya Rendra beberapa saat kemudian.
"Kavin masih di kantor, kalau Diva ada di dapur, bantu-bantu pelayan menyiapkan hidangan untuk nanti malam," jawab Derri.
"Oh." Rendra menjawab singkat.
"Gimana bisnisnya Rayen? Apa masih membutuhkan bantuanmu?" Derri menatap Rendra yang hendak pergi.
"Iya, Pa. Seperti yang kukatakan kemarin, aku butuh waktu satu sampai dua bulan," jawab Rendra.
"Setelah itu janji pulang dan mengurus bisnis di sini, ya?"
"Aku usahakan, Pa." Rendra menjawab datar. "Ya sudah, aku ke kamar dulu. Punggungku lelah karena perjalanan panjang, aku akan istirahat sebentar," sambungnya.
"Mau kubuatkan minum dulu? Nanti biar Bibi yang mengantar ke atas," tawar Elsa.
"Tidak usah, Bu, nanti saja." Rendra menoleh sekilas dan kemudian pergi meninggalkan ayah dan ibu tirinya.
Sepeninggalan Rendra, Elsa merapatkan duduknya dengan Derri. Lantas, menggenggam erat lengannya sambil tersenyum girang.
"Mas, dia mau memanggilku ibu," ucap Elsa pura-pura bahagia.
Sesungguhnya, Elsa sangat bosan dengan pernikahan sirinya. Bagaimana tidak, Derri sudah berumur 60 tahun, sedangkan dirinya baru 26 tahun. Namun, daripada tidak ada jalan untuk membalas dendam, akhirnya Elsa bersedia menjadi istri Derri. Tak mengapa meski setiap malam bermain-main dengan tubuh keriputnya, asalkan ada kesempatan untuk menghancurkan Mauren.
"Sudah kubilang kan, Sayang, Rendra itu hanya butuh waktu. Aslinya dia anak baik, cuma dulu sangat dekat dengan ibunya. Jadi, kadang nggak bisa menerima keberadaan ibu tiri. Tapi, kamu tenang aja, lama-lama Rendra juga luluh dan mau mengakui status kamu," sahut Derri sambil mencubit gemas pipi Elsa.
__ADS_1
"Sebenarnya yang kuimpikan, dia mengakui statusku sebagai istri, bukan ibu tiri. Wanita secantik aku, mana pantas bersanding dengan tua bangka sepertimu. Sayangnya, Rendra terlalu keras. Jangankan tertarik, mau bersikap ramah aja baru hari ini. Aku penasaran, wanita kayak apa yang dicintainya, sampai-sampai mengabaikan aku yang sesempurna ini," batin Elsa.
Minggu lalu dia mendengar percakapan Derri dan Rendra di telepon. Elsa sempat kesal karena Rendra mengatakan bahwa dirinya akan menikah. Dia tidak rela melihat Rendra bersanding dengan orang lain, sementara dirinya hanya menjadi ibu tiri. Kalaupun tidak bisa menjadi istri, setidaknya bisa menjadi kekasih gelap, begitulah yang dipikirkan Elsa.
"Sayang," panggil Derri.
"Iya, Mas."
"Setelah aku mengabulkan keinginanmu, hubungan kita bisa diekspos, kan? Aku nggak sabar menikahimu secara resmi dan mengenalkanmu pada rekan-rekanku." Derri berkata sambil mengusap lembut lengan Elsa.
"Tentu saja, Mas. Aku nggak pernah ingkar janji," jawab Elsa.
"Istri yang baik." Derri mengeratkan dekapannya seraya mencium mesra puncak kepala Elsa.
"Siapa juga yang mau menjadi istri sahmu, Mas, apalagi dikenalkan pada rekan-rekanmu. Kamu hanya tua bangka, malu sekali jika hal itu benar-benar terjadi. Setelah keinginanku terkabul, tentu saja aku pergi meninggalkanmu. Uang yang kukumpulkan selama tiga bulan ini cukup banyak, lebih dari cukup untuk modal usaha. Jadi, kenapa aku harus bertahan dengan pernikahan konyol ini? Toh aset juga sudah kamu atas namakan anak-anakmu, jadi apa lagi yang bisa kudapat? Mending aku cari lelaki muda yang tampan, biar Mas Jeevan juga ikut nyesel karena udah campakin aku," batin Elsa.
Selama menikah dengan Derri, Elsa mengajukan syarat, yaitu menyembunyikan hubungan dari publik. Alasannya, agar fokus membalas dendam dulu. Padahal aslinya, Elsa merasa malu jika ada yang tahu dirinya bersuamikan pria tua seperti Derri.
Itulah mengapa Elsa juga meminta pernikahannya cukup sah secara agama. Tujuannya agar mudah meninggalkan ketika rencananya sudah tercapai. Elsa akan kembali ke Kota Jakarta sambil membawa kemenangan. Dia akan tertawa puas di atas penderitaan Mauren.
____________
"Rendra, ini sudah jam dua, kamu cepat makan!" perintah Derri ketika memasuki kamar Rendra dan melihat anak lelakinya sedang bersantai di sofa.
"Belum lapar, Pa," jawab Rendra.
"Semua sudah makan loh, bahkan Kavin juga sudah pulang dan ikut makan tadi."
"Acaranya nanti jam berapa, Pa?" tanya Rendra mengalihkan pembicaraan. Jujur, dia sangat malas jika makan satu meja dengan ibu tirinya.
"Jam 07.00 malam. Bukan acara besar, Ndra, hanya kerabat dekat saja yang diundang. Kamu tahu, kan, hubungan Papa dengan ibumu ini belum terang-terangan." Derri menjawab sambil tersenyum senang.
Sepanjang petualangan cintanya, Elsa adalah satu-satunya wanita yang paling menawan. Kemampuannya di ranjang tak diragukan lagi, Derri yang sudah berumur rasanya kembali muda jika berolahraga bersama Elsa. Itu sebabnya dia sangat kagum dan tak ingin melepasnya, meski di sisi lain Rendra kurang senang dengan pilihannya.
"Iya, aku tahu." Rendra menjawab datar.
Sesungguhnya, Rendra paham benar dengan alasan Elsa yang bersikeras menyembunyikan pernikahannya. Wanita itu hanya mengambil keuntungan dan tidak ada niatan serius dengan ayahnya. Namun, Rendra tak mengungkapkannya pada siapa pun. Bagi Rendra, keputusan Elsa adalah kebodohan yang nyata, dan dirinya memanfaatkan kebodohan itu untuk menyerang balik.
__ADS_1
"Papa masih menjalankan rencana itu?" tanya Rendra beberapa saat kemudian.
"Tentu saja. Demi menyenangkan ibumu, hal sekecil itu bukan masalah bagi Papa," jawab Derri dengan entengnya.
"Tapi ... Victory bukan perusahaan kecil. Jika rencana ini gagal, bukan mustahil imbasnya akan merugikan Dirgantara. Apa Papa nggak berpikir sejauh itu?" Rendra menatap ayahnya dengan lekat.
Derri terkekeh-kekeh, "Kamu pikir baru kemarin sore Papa mengenal bisnis? Rendra, Rendra, ini sudah Papa pikirkan dengan matang. Semuanya tersusun rapi, tidak ada kesalahan sedikit pun. Jadi, Papa tidak mungkin gagal. Victory sekarang memang besar, tapi jika menyadarinya setelah hancur, apa yang bisa mereka lakukan?"
Rendra tersenyum dan membatin, "Kuakui memang rapi dan sangat sulit ditangani. Tapi ... itu bagi orang lain. Jika bagi diriku yang statusnya anak Papa dan paham seluk-beluk rencana Papa, ini sangat mudah."
"Tapi, apa Papa nggak kasihan? Selama ini kita nggak ada masalah dengan Victory dan sekarang Papa menyerangnya tanpa alasan. Bukankah ini nggak adil?" selidik Rendra.
"Tanpa alasan? Salah besar kamu, Ndra. Alasan Papa sangat jelas, cinta. Papa melakukan ini karena mencintai ibumu, jadi sudah seharusnya Papa menyenangkan dia. Lagipula, ada untungnya menghancurkan Victory, nanti bisa kita kuasai. Tapi___" Derri diam sejenak.
"Seandainya kamu mau membawa Mauren ke sini dan membuatnya menjadi istri kedua Papa, beda lagi ceritanya. Dia juga cantik, Papa akan lebih senang jika punya dua istri sekaligus," sambung Derri.
Rendra mengepal mendengar ucapan ayahnya. Dari dulu sampai sekarang lelaki itu tidak pernah berubah, selalu mengedepankan na*su di atas segalanya. Bahkan, ibu kandung Rendra meninggal di usia muda juga karena sifat buruk Derri.
"Dasar otak selangka*gan! Kenapa aku terlahir sebagai keturunannya, sangat memalukan!" umpat Rendra dalam hatinya.
"Jadi menurut Papa ... cinta itu sangat pantas diperjuangkan, ya? Bahkan, perjuangan yang sebesar ini?" tanya Rendra dengan tatapan tajamnya. Namun, Derri tak acuh karena terlalu fokus dengan imajinasinya.
"Jelas dong."
"Baiklah. Kalau begitu ... aku juga akan memperjuangkan cintaku." Rendra tersenyum miring.
"Itu harus. Papa sudah nggak sabar melihat kamu nikah dan punya momongan. Lihat kakakmu, sebentar lagi memberikan cucu untuk Papa," ujar Derri dengan bangga.
"Papa hampir punya cucu, tapi masih senang main wanita. Apa nggak malu?" sindir Rendra.
"Itu dua hal yang berbeda, jangan dicampuradukkan, Rendra!" Derri menatap anaknya sekilas. "Oh ya, wanita yang kamu cintai itu orang mana? Kapan akan kamu bawa kemari?" sambungnya.
"Orang Medan, dia karyawannya Rayen. Nanti kalau waktunya udah tepat, pasti kuajak ke sini," jawab Rendra.
"Perjuangkan! Papa menunggu kehadiranmu di sini bersama dia." Derri menepuk pelan bahu Rendra.
"Pasti kuperjuangkan, Pa, meskipun harus menghancurkan istri Papa dan juga ... Papa sendiri jika bersikeras membelanya," jawab Rendra dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung...