Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Pertengkaran


__ADS_3

"Apa lagi, Rendra? Masih kurang puas memperlakukan Elsa seperti itu? Menjerumuskan dia ke penjara dan membuatnya mendekam entah berapa lama, padahal kamu tahu dia istri Papa. Nggak punya hati kamu, Ndra!" hardik Derri.


"Papa sendiri udah tahu bagaimana sifatnya, kemarin sama sekali nggak sulit saat aku merayunya melakukan hal intim. Padahal, aku adalah anak Papa. Apa wanita seperti itu layak dijadikan istri?" sahut Rendra.


"Kamu masih muda, tentu punya banyak cara untuk merayu, wajar kalau Elsa tergiur."


"Jika memang begitu, kenapa kemarin Papa nggak membelanya? Mengakui dia sebagai istri dan ikut mempertanggung jawabkan kejahatan yang dia lakukan. Pasti romantis," ucap Rendra.


"Kamu berharap Papa masuk penjara? Durhaka kamu, Rendra!" bentak Derri.


"Aku memang durhaka, tapi jangan lupakan juga sikap Papa. Sebagai kepala keluarga, Papa tidak pernah mencontohkan sikap yang baik." Rendra tak mau kalah.


Derri tidak menyahut dengan mulut, tetapi tangan yang langsung melayang dan mendarat kasar di pipi Rendra. Panas dan nyeri rasanya, tetapi Rendra tak peduli. Sesakit-sakitnya bekas tamparan, masih lebih sakit hatinya.


"Mauren sudah menjebak Elsa. Dia membuat Elsa kehilangan pekerjaan dan juga reputasi. Papa hanya membantu Elsa memberikan sedikit pelajaran, agar di kemudian hari Mauren nggak bertingkah lagi. Tapi ... kamu malah mengacaukan semuanya. Kamu membantu orang lain yang nggak ada hubungannya dengan kita!" Suara Derri makin meninggi.


"Mauren melakukan itu karena Elsa sudah mengusik rumah tangganya. Mereka bersahabat tapi Elsa selingkuh dengan suami Mauren. Apa salah jika Mauren marah?"


"Tapi___"


"Apa menurut Papa, seharusnya Mauren diam dan hanya menangis? Seperti Mama dulu yang memendam bebannya sendiri, membiarkan harga diri diinjak-injak suami sampai depresi dan kemudian bunuh diri. Begitu kah, Pa?" pungkas Rendra dengan cepat.


"Jangan mengungkit masalah ibumu, dia sendiri yang nggak becus menjadi istri!" Derri makin emosi.

__ADS_1


"Mama udah melahirkan dua anak untuk Papa, juga udah menghabiskan waktu untuk mengurus kita. Papa menjadikan Mama seperti pelayan, tapi nggak pernah memikirkan betapa lelahnya dia. Papa hanya menuntut dilayani setiap waktu, Papa sangat egois!"


"Ibumu nggak kerja, hanya mengurus anak dan rumah. Apa susahnya? Lelah yang dia rasakan nggak sebanding dengan Papa yang bekerja seharian mencari nafkah!" Dada Derri naik turun karena napas yang tak beraturan.


"Hanya? Apakah Papa pernah sehari saja menggantikan posisi Mama? Rumah ini nggak kecil, Pa, butuh banyak tenaga untuk membersihkannya. Belum lagi harus masak, mencuci baju, menyetrika, dan itu semua Mama lakukan sambil mengasuh anak. Yakin Papa sanggup melakukannya?" ujar Rendra. "Dan lagi, jangan mengungkit posisi Mama yang nggak menghasilkan uang, karena Mama berhenti kerja juga karena Papa."


"Kamu makin berani, Rendra!"


"Jangan marah, Papa sendiri yang membuatku seperti ini. Sejak kecil Papa menyuguhiku dengan pemandangan yang nggak bermoral. Hampir setiap hari Papa memarahi Mama, membentak, memaki, dan tak jarang juga main tangan. Hampir setiap hari Papa membawa pulang wanita lain, yang sikapnya sangat arogan dan kurang ajar. Dan ... hampir setiap waktu aku melihat Mama menangis. Sampai akhirnya, aku melihat Mama bersimbah darah tanpa nyawa. Apa salah jika sekarang aku membenci Papa?" Suara Rendra gemetaran, dadanya sesak setiap kali mengingat ibunya.


"Ibumu bunuh diri karena___"


"Karena depresi dan nggak ada orang yang menolong. Papa nggak mau menceraikan Mama, tapi juga nggak mau memperlakukan dia seperti istri." Rendra memotong ucapan Derri.


"Kamu masih kecil, nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu," jawab Derri.


Derri kehabisan kata-kata dan tak bisa membantah ucapan Rendra. Ada banyak rahasia yang tak boleh sembarang diungkap.


"Papa tahu kenapa sampai sekarang aku masih sendiri? Karena aku anti dengan wanita, Pa. Aku takut mengenal mereka. Di satu sisi takut menyakiti dan wanitaku malah menderita seperti Mama, di sisi lain takut jika wanita yang kukenal adalah wanita beracun seperti selingkuhan-selingkuhan Papa. Itulah alasan yang sebenarnya kenapa sampai sekarang aku belum menikah. Sikap buruk Papa telah membentukku menjadi pribadi yang hampir abnormal," sambung Rendra.


"Cukup, Rendra! Jangan melantur ke mana-mana! Entah seperti apa pendapatmu tentang Papa, tapi ini urusan kita. Nggak seharusnya kamu melibatkan Elsa dan membuatnya sehancur ini." Lagi-lagi Derri membentak Rendra.


"Andai Elsa nggak menyusun rencana licik itu, dan hanya meminta uang seperti wanita-wanita Papa sebelumnya, aku hanya akan membenci tanpa mengambil tindakan. Tapi ... kenyataannya Elsa adalah orang ketiga yang berniat membalas dendam. Sungguh memalukan! Dan setelah tahu identitas sahabat yang dia khianati, aku makin yakin untuk ikut campur dalam urusan ini," jawab Rendra.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Waktu itu Papa pernah bilang, kan, kalau cinta harus diperjuangkan?" Rendra menatap ayahnya dengan lekat. "Setelah sekian lama anti wanita, sekarang aku udah bisa jatuh cinta, Pa. Dan wanita yang kucintai adalah Mauren," sambungnya.


Derri tersentak dan membelalak seketika.


"Dia musuhnya Elsa dan kamu malah mencintainya? Dengar baik-baik, Rendra, Papa nggak akan pernah merestuimu! Papa akan murka jika kamu bersikeras menikahinya!"


Rendra tersenyum, "Aku laki-laki, menikah nggak butuh wali. Dengan atau tanpa restu Papa, aku akan tetap menikahi Mauren."


"Rendra!"


"Selama ini Papa sering membawa pulang wanita juga nggak meminta restu dariku, kan? Jadi ya udah, meminta restu di batu nisan Mama aja udah cukup bagiku," jawab Rendra, yang lantas membuat Derri hilang kendali. Untuk kedua kalinya, tangan kekar Derri mendarat di pipi Rendra.


"Aku ayahmu dan masih hidup di depanmu. Bisa-bisanya kamu mengabaikan keberadaanku, Rendra! Dari dulu kamu memang nggak berubah, nggak pernah menghargai Papa! Kamu sangat berbeda dengan kakakmu!" bentak Derri.


"Sejak kecil Papa nggak pernah mengajariku tentang menghargai dan menghormati. Hanya kekerasan dan penindasan yang selalu Papa tunjukkan. Jadi___"


"Cukup!" Derri mendekati Rendra sambil menatap tajam. "Sudah Papa katakan berulang kali, kamu nggak pernah tahu masalah yang sebenarnya. Papa memang salah, tapi ibumu juga bukan wanita yang mulia," sambungnya.


"Terserah Papa, aku udah tahu kok apa yang menjadi tolok ukur Papa dalam menilai wanita. Maaf, Pa, aku akan tetap mencintai Mauren. Dia yang bisa mengubah pandanganku terhadap wanita. Aku juga ingin hidup normal seperti lelaki pada umumnya, Pa. Jika Papa masih menentang, aku akan menikah tanpa kehadiran Papa." Usai bicara, Rendra langsung berbalik dan siap meninggalkan kamar Derri.


"Jangan berlagak, Rendra! Tanpa Papa kamu bukan siapa-siapa. Berani-beraninya kamu bicara seperti itu! Sekali saja Papa bertindak___"

__ADS_1


Rendra menoleh dan menyela ucapan Derri, "Lalu aku hancur? Begitu kah? Lakukan saja, Pa, hancurkan aku, hancurkan Mauren. Dengan begitu, aku makin yakin kalau yang ada di pikiran Papa hanyalah na*su. Bahkan, anak sendiri nggak ada arti jika bandingannya wanita ****."


Bersambung...


__ADS_2