
"Aku dan Andika mirip karena kami saudara satu ayah."
"Hah!" Mauren terperangah.
Ibu Andika dan ayah Rendra bersaudara, lantas bagaimana bisa Andika dan Rendra saudara satu ayah. Apakah di keluarga mereka ada hubungan yang rumit.
"Selama ini aku sangat membenci Papa karena dulu dia sering selingkuh dan menyakiti Mama. Sikap buruknya membuatku menjadi pribadi yang anti wanita, sampai akhirnya aku ketemu kamu dan pandanganku terhadap wanita mulai berubah. Tapi, dua minggu lalu ... aku dihadapkan pada rahasia lama yang ... sangat mengejutkan," terang Rendra.
Melihat Rendra yang menunduk dan tangannya pun mengepal erat, Mauren sadar bahwaa lelaki itu sedang tidak baik-baik saja. Lantas, Mauren menghibur dan menyemangatinya.
Rendra merasa lega, beban di hatinya perlahan berkurang karena Mauren tak mempermasalahkan keadaannya saat ini.
Kemudian, Rendra menceritakan awal mula dirinya mengetahui rahasia besar itu.
Pada malam ketika dirinya bertengkar dengan Derri, Rendra berniat pergi dan kembali ke Jakarta. Namun, Kavin mencegahnya.
"Papa masih butuh kamu di sini, jangan pergi dulu. Percayalah, emosinya hanya sesaat. Aslinya Papa itu sangat sayang sama kamu," ujar Kavin.
"Kamu nggak tahu apa-apa, Kak. Jangan___"
"Udah kubilang kan, jangan mengungkit masa lalu. Papa nggak akan marah kalau kamu nggak mengungkit itu," pungkas Kavin.
__ADS_1
"Keegoisan Papa membuat Mama meninggal, apa salah jika aku nggak bisa memaafkan kesalahan itu?" bantah Rendra.
"Cukup, Rendra! Duduk dan dengarkan Papa bicara, setelah itu nilailah mana yang benar dan mana yang salah!" Derri menyusul Rendra dan berteriak di belakangnya.
Meski kesal dan enggan, tetapi Rendra menurut dan mau bicara dengan sang ayah.
"Papa kayak gini karena terlalu mencintai, tapi dikhianati. Seandainya kamu yang jadi Papa, apa nggak marah ketika tahu bahwa istrimu selingkuh dengan suami adikmu? Bahkan sampai hamil dan punya anak?" Derri mengawali pembicaraan dengan pertanyaan yang mencengangkan.
"Hamil? Punya anak?" Entah mengapa Rendra langsung teringat kemiripan wajahnya dengan Andika.
"Iya, sebenarnya kamu bukan darah daging Papa. Kamu adalah anaknya Jeremi, ayahnya Andika. Ibumu selingkuh dengan dia dan sampai ada kamu. Tapi, Papa sudah memaafkan kesalahan itu, bahkan Papa menerimamu dengan ikhlas. Papa hanya memintanya berhenti kerja karena kesempatan itu yang membuat ibumu selingkuh. Hanya saja ... ibumu memanfaatkan kebaikan Papa dan kembali main gila dengan lelaki lain, lagi-lagi orang dekat. Ibumu nggak mau melayani Papa dengan alasan capek karena mengasuhmu, tapi ternyata karena ada hubungan dengan kepala pelayan di rumah ini, seseorang yang sebenarnya sangat kupercaya. Setelah kejadian itu, Papa nggak bisa memaafkan ibumu dan akhirnya bersikap buruk seperti yang kamu lihat. Papa sangat mencintai ibumu, tapi disakiti sedemikian rupa. Jujur, hati Papa nggak tegar untuk menerima semuanya. Dan akhirnya, Papa frustrasi, lalu melampiaskan semua itu dengan bermain wanita. Papa mencari mereka yang hanya butuh uang dan nggak mempermasalahkan perasaan. Tapi, Papa bermain bersih, banyak hal yang Papa lakukan agar nggak terjangkit penyakit." Derri diam sejenak dan menunggu tanggapan Rendra. Namun, Rendra hanya diam seperti patung. Kebenaran itu terlalu sulit untuk ia cerna.
"Ibumu sering menangis bukan murni karena perubahan sikap Papa, apalagi menyesali kesalahannya, melainkan karena diagnosis dokter. Ibumu positif menderita HIV AIDS, itu didapat dari kepala pelayan. Ibumu bunuh diri karena penyakit itu. Dia stadium akhir dan kesempatan sembuh sangat tipis. Akhirnya, dia putus asa dan mengakhiri hidupnya. Itu sebabnya, dulu Papa melarangmu sembarangan memegang ketika dia bersimbah darah, Papa hanya takut kamu nggak hati-hati dan tertular. Itu juga alasannya kenapa Papa memberitahukan kepada publik bahwa ibumu meninggal karena jatuh. Karena jika tidak, maka publik akan tahu bahwa ibumu menderita penyakit itu. Sekian lama Papa menyembunyikan ini demi nama baik ibumu, Papa masih nggak rela jika kamu membencinya karena tahu kebenaran ini. Biarlah Papa saja yang kamu anggap buruk, asal ibumu nggak. Jujur, sampai saat ini Papa masih mencintai ibumu. Walaupun rasa itu memang sama besar dengan rasa benci karena pengkhianatannya. Tentang Elsa, Papa sudah tahu seperti apa dia, karena kebersamaan kami memang dilandasi uang. Dia mau bersama Papa asalkan dibantu balas dendam dan diberi uang setiap bulan. Papa tahu seperti apa sifatnya, jadi nggak kaget lagi ketika tahu dia mau kamu rayu," sambung Derri.
"Apa Tante Fadila tahu rahasia ini?" tanya Rendra dengan air mata yang mulai menetes.
Hatinya sangat sakit. Sosok wanita yang dia anggap mulia, ternyata menyimpan aib yang besar. Parahnya, sang ayah menutupi aib itu dan rela dibenci selama bertahun-tahun. Kini, semua masuk akal. Sejak dulu, Kavin tidak terlalu kecewa dengan ayahnya. Ternyata, karena dia tahu kebenaran ini.
"Tentu saja tahu, Ndra. Tapi, tantemu juga sama seperti Papa, memaafkan dan ikhlas menerima kehadiranmu. Sejak lahir Andika kurang sehat, akhirnya didiagnosis menderita lupus dan meninggal di usia yang masih muda. Fadila menyayangimu seperti anaknya sendiri. Dia sangat mencintai Jeremi, dan di sisi lain juga menyayangi ibumu, maka dari itu dia juga menyayangimu. Bahkan, sejak Jeremi dan Andika tiada, dia sudah berencana memberikan seluruh asetnya ke kamu. Karena dulu, Jeremi-lah yang merintis bisnis itu."
Jawaban Derri membuat Rendra makin menangis. Dulu, seringkali dia berkeluh kesah kepada Fadila, mengadukan sikap buruk Derri yang senang main wanita dan menyakiti ibunya. Ternyata, Fadila adalah pihak yang tersakiti dan ibunya adalah pelaku utama. Sangat miris.
__ADS_1
Usai bercerita panjang, Rendra kembali menatap Mauren. Lantas, mendongak dan mengerjap cepat. Dia tidak ingin berkaca-kaca di hadapan Mauren.
"Meski Papa dan Tante akan memberiku aset, tapi ... aku nggak tahu harus menerimanya atau nggak. Aku hanyalah anak hasil zina yang seharusnya nggak pernah ada. Seikhlas apa pun Papa dan Tante, aku yakin di dalam hatinya menyimpan luka yang teramat sakit. Aku nggak layak mendapatkan kasih sayang ataupun materi dari mereka. Sudah cukup menjagaku selama ini, aku nggak mau menjadi beban lagi," ucap Rendra.
Mauren menatap Rendra dengan sendu. Dia ikut sedih mendengar cerita Rendra yang sepahit itu. Lantas, Mauren bangkit dan beralih ke sebelah Rendra. Dengan gerakan lembut, Mauren mengusap-usap bahu Rendra.
"Boleh aku berpendapat?" tanya Mauren.
"Silakan."
"Sebelumnya maaf, bukannya aku mengharap hartamu dan keberatan jika kamu nggak punya apa-apa, tapi aku berpendapat gini berdasarkan sikap ayah dan tantemu selama ini. Jika mereka menyayangimu dan bersedia menerima kehadiranmu, sebaiknya ... tetaplah menjadi keluarga mereka. Terima apa yang mereka beri, jangan menolak apalagi memilih pergi. Tantemu sudah sendiri sekarang, bukankah makin sedih jika kamu pergi hanya karena nggak mau menjadi beban? Bukankah dia lebih bahagia jika kamu datang dan meminta maaf atas nama ibumu. Lantas, hidup di dekatnya dan menemani masa tuanya. Terlepas dari apa dia menganggapmu, entah sebagai Andika atau sebagai dirimu sendiri, yang penting dia sayang dan memperlakukanmu dengan baik." Mauren memberikan pendapat.
"Rendra, jika kamu menganggap ibumu bersalah. Alangkah baiknya jika sekarang bersikap baik-baik terhadap tante dan ayahmu, hitung-hitung menebus kesalahan ibumu di masa lalu. Jangan malah menjauh dan pergi, mereka akan kecewa," sambung Mauren.
Rendra tersenyum, "Terima kasih, Mauren."
"Iya."
"Tapi, tunggu ... katamu tadi, kamu berpendapat bukan karena mengharap hartaku, kan? Apa itu artinya kamu udah menerima cintaku?" tanya Rendra.
Mauren gelagapan. Karena terbawa suasana, dia sampai tak sadar sudah melontarkan kalimat yang ambigu. Kini pipinya merah karena menahan malu. Akhirnya, Mauren bangkit dan bersiap pergi. Namun, dengan sigap Rendra menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Jangan pergi!" pinta Rendra.
Bersambung...