
Dua minggu setelah tersandung kasus, perusahaan milik Mauren mulai berjalan normal. Karyawan-karyawan yang ikut membantu para pengkhianat sudah dipecat. Jabatan yang mereka tinggalkan, sekarang digantikan oleh karyawan lama yang bisa dipercaya. Meski kantor kekurangan tenaga, tetapi Mauren belum membuka lowongan. Dia menunggu sampai keadaan benar-benar stabil, setidaknya sampai launching produk baru yang kemarin sempat dicuri Sandria.
Tentang kasus yang kemarin, sudah diklarifikasi secara terbuka. Sekarang semua pihak tahu bahwa Mauren tidak bersalah dan produk-produk Victory tidak bermasalah. Kendati demikian, masih ada beberapa pihak yang menghujat, mengatakan bahwa Mauren terlalu bodoh dan ceroboh, sampai-sampai kecolongan sejauh itu.
Akan tetapi, Mauren tidak terlalu memikirkan hujatan itu. Baginya, yang terpenting saat ini hanyalah bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Biarlah mereka berkata apa. Karena pada dasarnya, tidak ada yang tahu bahwa selama ini dirinya tak pernah belajar bisnis. Terlalu fokus dengan fashion dan modeling, sampai lupa dengan bisnis keluarga yang harus ia jaga ketika orang tuanya tiada.
"Aku pasti bisa," gumam Mauren di sela-sela kerjanya.
Saat ini Mauren sedang ada di ruangannya, memeriksa beberapa laporan terkait peluncuran produk baru yang akan diselenggarakan esok hari.
"Semua udah oke, mudah-mudahan aja acara besok berjalan lancar." Mauren menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggung sambil merenggangkan tangan.
"Tapi, rasanya kok masih nggak enak gini ya," sambung Mauren seraya meraih ponselnya.
Dia memeriksa kotak masuk dan riwayat panggilan. Ada beberapa pesan baru, tetapi tak lantas membangkitkan semangat Mauren. Pasalnya, hanya relasi dan teman biasa yang mengirimkan. Tidak ada nama Rendra di sana. Entah seistimewa apa posisi lelaki itu dalam hatinya, mengapa Mauren sampai kesal sendiri ketika Rendra tak seantusias sebelumnya.
Sejak pulang ke Surabaya, sikap Rendra memang berubah. Percakapan dalam chat hanya satu-dua kata saja. Ketika menelepon pun, hanya sebentar dan sekadar membahas hal penting—menanyakan perkembangan Victory pasca kasus yang kemarin. Tidak ada rayuan ataupun candaan seperti tempo hari.
"Apa kata cintanya itu palsu? Apa dia hanya mempermainkan aku?" Mauren bertanya-tanya dalam kegelisahannya. "Kenapa juga aku jadi sekesal ini, apa aku udah jatuh cinta sama dia?" sambungnya.
"Ahh, menyebalkan!" Mauren berdecak kesal dan kemudian beranjak dari duduknya. Lantas, berdiri di depan jendela sambil menatap keramaian kota.
Dalam sejenak, ingatan Mauren kembali pada masa remaja. Ketika dirinya asyik berkumpul bersama teman tanpa ada beban. Uang jajan dan kebutuhan lain selalu terjamin, menggeluti hobi juga difasilitasi sedemikian rupa. Pada masa itu, Elsa-lah sahabat terdekat yang hampir setiap waktu ada bersamanya.
Kini, orang tuanya telah tiada, Mauren dipaksa berdiri sendiri melawan kerasnya kehidupan. Sahabat yang dianggap saudara, malah menambah beban dan masalah yang cukup pelik. Ternyata semudah itu hati manusia berbelok arah.
"Kalau lagi kayak gini, rasanya pengin nikah lagi. Tapi, ada rasa takut juga. Gimana kalau suamiku nanti nggak beda jauh dengan Mas Jeevan, dan akhirnya dikecewakan lagi. Ah, makin nggak enak lah," batin Mauren.
Ketika memikirkan pernikahan, ingatan Mauren kembali tertuju pada Rendra, lelaki yang akhir-akhir ini mengusik hatinya. Tidak munafik, Mauren sering mengimpikannya sebagai pasangan halal. Namun, kenyataan membuatnya takut dan tak berani berharap lebih. Ia belum lama mengenal Rendra, entah seperti apa sifatnya dan entah bagaimana keluarganya. Terlebih lagi, sikap Rendra mendadak berubah, sehingga Mauren meragukan ketulusannya.
"Coba deh kukabari, kalau masih tak acuh dan nggak mau datang, ya udah. Mungkin ... dia hanya main-main aja."
__ADS_1
Mauren kembali menyalakan ponselnya dan mencari nomor Rendra. Mauren mengabari perihal acara launching produk baru, lalu mengundangnya hadir dalam acara itu.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Rendra membalas pesannya, yang lagi-lagi dengan kalimat singkat—aku usahakan. Dua kata yang menyiratkan harapan, tetapi juga penolakan halus.
Mauren memejam sambil membuang napas kasar, "Entah ada apa denganmu, Ndra."
Kemudian, Mauren kembali ke kursi kerja dan fokus dengan tugas-tugasnya. Dia berusaha mengalihkan rasa yang tiba-tiba menyesakkan dada.
_________________
Detik terus berdetak. Dari senja belum menyapa sampai malam telah tiba rasanya sangat singkat, bahkan menurut Mauren lebih singkat dari bekerja dikejar dead line.
Detik ini, jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Acara peluncuran produk baru sudah dimulai dan sebentar lagi Mauren naik ke atas panggung. Kecantikannya mendekati sempurna, berbalut gaun panjang warna abu-abu, serta high hells warna senada, kulit Mauren tampak putih nan mulus. Sedangkan rambutnya disanggul tinggi dengan hiasan berbentuk bunga, memamerkan lehernya yang jenjang.
"Masih nggak ada chat lagi," gumam Mauren ketika melihat ponselnya. Sejak kemarin, hanya ada satu balasan dari Rendra.
"Bu Mauren, silakan! Sebentar lagi giliran Anda," ucap Adnan membuyarkan pikiran Mauren.
Mauren berjalan anggun ke atas panggung, menyapa karyawan, kawan, dan relasi yang turut hadir di sana. Selain mengucap banyak terima kasih, Mauren juga memohon maaf atas kejadian yang tak mengenakkan kemarin. Setelah itu, Mauren memperkenalkan Beauty VC sebagai concealer multifungsi yang sangat cocok untuk melengkapi kecantikan para kaum hawa.
Sembari menjelaskan produknya dengan panjang lebar, Mauren melayangkan tatapan ke segala arah, mencari keberadaan seseorang yang sangat diharapkan kehadirannya. Namun, bukannya menemukan sosok Rendra, melainkan malah Jeevan yang ada. Entah tahu dari mana dia, padahal Mauren tidak mengundangnya.
Usai mengisi acara, Mauren turun dan menyapa beberapa relasi. Cukup banyak yang antusias menyambut Beauty VC. Hal itu membuat Mauren lega karena setidaknya kenyataan tak seburuk yang ia pikirkan. Dampak kasus kemarin tidak sebesar yang ia duga.
"Sukses selalu ya, Ren. Bilang aja kalau butuh apa-apa, kami berdua siap bantu," ucap Zenna yang kala itu hadir bersama Ezra.
"Terima kasih banyak untuk dukungannya. Tapi ... sejauh ini masih bisa kuatasi sendiri," jawab Mauren.
"Kita kan teman, wajib saling dukung. Mana tahu nanti ganti aku yang butuh bantuan kamu." Zenna tersenyum lebar.
"Mauren, selamat ya. Semoga setelah ini Victory makin maju dan nggak ada masalah lagi. Aku doakan semoga usahamu selalu lancar," sela Dilan, yang tiba-tiba ikut bergabung di antara mereka.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Lan. Aku bisa di posisi ini, nggak lepas dari bantuan kamu." Mauren tersenyum sambil menepuk bahu Dilan.
Jauh di belakang mereka, ada sepasang mata yang menatap heran. Dia adalah Jeevan. Dalam hatinya bertanya-tanya, sejak kapan hubungan Mauren dan Ezra membaik. Setahu dia, Mauren sangat membenci Ezra karena dulu pernah menyakiti Elsa.
"Kok bisa mereka seakrab itu?" batin Jeevan. Matanya tak lepas dari Mauren yang sedang bercanda tawa bersama Ezra, Zenna, dan Dilan.
Akan tetapi, rasa heran itu tak berlangsung lama karena perlahan terkikis rasa cemburu. Memandang Dilan yang sering menyentuh pundak dan lengan Mauren, membuat Jeevan tak nyaman. Hatinya sakit dan sesak. Terlebih lagi jika mengingat sosok Rendra yang tampan dan berkharisma, yang dari tatapannya terlihat jelas sangat menyukai Mauren.
"Apa sesulit ini jalan untuk kembali?" batin Jeevan.
Pada akhirnya, Jeevan meninggalkan acara lebih awal, bahkan sebelum menyapa Mauren. Rasanya jarak di antara keduanya makin terbentang dan entah bisa ia lalui atau tidak.
Meski tanpa Jeevan, acara berjalan lancar. Mauren pun tidak sadar bahwa Jeevan sudah pergi sambil membawa rasa sakit. Karena saat ini, yang menyita pikiran Mauren hanyalah Rendra.
"Dia beneran nggak datang. Mungkin ... jawabannya kemarin memang memperhalus penolakan," batin Mauren ketika acara sudah selesai dan para undangan sudah meninggalkan gedung Victory.
Ketika orang-orang sibuk membereskan sisa acara, Mauren pergi ke lantai atas, ke ruangan yang dulu menjadi tempat favorit orang tuanya.
Mauren duduk di dekat jendela dan menatap gemerlap kota. Dia menikmati pemandangan malam yang makin larut, tetapi keramaiannya tak surut.
"Dia bukan pilihan yang tepat," ucap Mauren pada malam yang tak mungkin memberikan jawaban.
"Sudahlah," sambungnya seraya mengembuskan napas panjang.
Ketika Mauren masih sibuk menghempaskan pikiran yang mengecewakan, tiba-tiba suara yang amat familier menyapanya dari belakang.
"Mauren, maaf aku telat."
*Rekomendasi novel teman, udah tamat🥰🥰
__ADS_1
Bersambung...