
"Saya terima nikah dan kawinnya Maurena Alexandra Binti Giorgino Alexander dengan mas kawin seratus gram emas dibayar tunai."
Suara Rendra menggema lantang saat melafazkan ijab kabul. Setelah satu kali gagal, akhirnya dia berhasil mengucapkannya dengan lancar.
"Bagaimana, Saksi, sah?"
"Sah!" teriak para saksi dengan kompak.
"Alhamdulillah."
Usai mendengar teriakan sah dari para saksi, juga ucapan hamdallah dari penghulu, Rendra luar biasa senangnya karena berhasil menghalalkan Mauren. Kini, dia menoleh dan menatap wanita yang baru saja menyandang status istri. Rendra meraih tubuh Mauren agar lebih dekat dan kemudian memegang ubun-ubunnya.
"Allahumma inni as 'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaih." Berkat usahanya selama berhari-hari, Rendra berhasil melafazkan doa pengantin.
Mauren sangat terharu mendengarnya. Lelaki yang dia cintai, yang belum lama membuatnya ragu dan tak yakin, kini benar-benar membuktikan keseriusannya. Rendra tak hanya mengucap janji manis, tetapi juga janji suci di hadapan Ilahi.
Rasa haru Mauren kian membuncah saat bibir Rendra mengecup keningnya dengan mesra, meninggalkan bekas basah yang menghadirkan perasaan aneh dalam dirinya.
"Istriku," bisik Rendra sambil mengusap lembut pipi Mauren.
Mauren tak menjawab, hanya tersenyum sambil menunduk, menyembunyikan pipinya yang bersemu merah dan juga mata yang mulai berkaca-kaca. Perasaannya bergejolak tak karuan, ada haru dan bahagia karena Rendra sudah sah menjadi suami. Namun, ada sedih pula karena orang tuanya tidak ada di sisi. Sangat menyakitkan ketika ijab kabul hanya disaksikan saudara dan kawan.
Demi menahan tangisnya, Mauren betah menunduk dan tidak membuka sura. Bahkan, saat penghulu memimpin selawat dan doa bersama pun, Mauren hanya mengikutinya dalam hati.
Setelah doa selesai, Mauren dan Rendra meminta doa restu pada Derri dan Fadila, juga Bram dan istrinya—Rina. Meski mereka bukan orang tua kandung, tetapi saat ini merekalah yang berperan sebagai pengganti ayah dan ibu.
"Papa, Om," bisik Mauren ketika berada dalam pelukan Bram. Dia tak kuasa menahan tangis dan akhirnya tumpah juga di sana.
"Nak, sudah, Nak. Jangan menangis, kamu harus tersenyum, ini hari bahagiamu. Malu dong sama keluarga yang lain. Sudah ya, jangan menangis ya! Mas Gino sedih juga kalau melihatmu seperti ini," ucap Bram menenangkan Mauren.
__ADS_1
"Anak Tante sudah menikah lagi, semoga kali ini bahagia ya, Nak. Maaf, kemarin Tante tidak ada di sini saat kamu terluka dan tertimpa masalah. Tante benar-benar menyesal," ujar Rina ketika Mauren memeluknya.
"Tidak apa-apa, Tante. Aku maklum, tempat tinggal kita cukup jauh. Aku mohon doanya saja, Tante, semoga ke depannya jalan hidupku lebih lancar dan tidak ada ujian yang berat lagi." Mauren mengurai pelukan dan menatap wajah Rina dengan lekat.
Selama ini, Rina dan Bram tinggal di luar Jawa. Mereka disibukkan dengan pekerjaan dan juga empat orang anak. Jadi, Mauren sangat maklum jika mereka tidak ada waktu untuknya.
"Tante akan selalu mendoakanmu, Nak." Rina menepuk pelan pipi Mauren dan kemudian memeluknya sekilas.
Setelah itu, Mauren beralih pada Derri dan juga Fadila. Fadila memeluknya tak kalah erat dengan Rina. Meski dulu pernah disakiti oleh ibunya Rendra, tetapi kini sangat sayang pada Rendra dan juga Mauren, sampai-sampai menyuruhnya memanggil 'mama' karena sudah menganggap mereka seperti anak kandung.
Selain pada Fadila dan Derri, Mauren juga menghampiri Kavin dan Diva, yang kini resmi menjadi kakak iparnya.
Sementara itu, Rendra meminta restu kepada Derri, Fadila, Bram, dan Rina. Selain memberikan ucapan selamat, mereka juga memberikan petuah agar membimbing Mauren dengan cara halus, bukan kasar dan mengedepankan ego. Rendra mengiakan nasihat mereka dengan tegas. Karena baginya, Mauren memang untuk disayangi, bukan disakiti.
Usai meminta doa dan restu pada keluarga, Mauren dan Rendra mendapat banyak ucapan selamat dari sanak saudara dan kawan, termasuk Dilan, Ezra, dan Zenna. Dalam acara ini, mereka bertiga turut hadir.
"Selamat ya, Ren, akhirnya kamu mendapatkan suami yang jauh lebih baik dari cowok belagu itu. Memang jalan terbaik kamu membuangnya, nggak ada guna. Kalau dipertahankan cuma jadi bakteri aja dalam hidup kamu. Nggak bawa bahagia, malah bawa derita," ujar Zenna tanpa memelankan suaranya. Meski wanita, tetapi dia terbiasa bicara blak-blakan tanpa tedeng aling-aling.
"Iya juga ya, untuk apa bahas hal-hal nggak penting di hari istimewa. Tapi, aku gatel aja kalau nggak ngomentarin sikap bodohnya. Gimana ya, kelewatan banget soalnya, aku jadi gemes tahu nggak." Zenna kembali melampiaskan kekesalannya, dan Mauren hanya menanggapinya dengan tawa renyah.
"Eh, aku ada kabar gembira loh," ucap Zenna beberapa saat kemudian.
"Oh ya, apa?" tanya Mauren.
"Bibitnya Ezra udah tumbuh. Baru lima minggu, tapi kata dokter sehat. Aku disuruh jaga diri biar dia baik-baik saja di sana." Zenna menjawab sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.
"Hah? Serius?"
"Iya. Untuk sementara ... kami nggak aneh-aneh di luar. Ya, jalani pernikahan kayak orang pada umumnya gitu," jawab Zenna dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
"Jangan sementara, Zenna, usahakan selamanya. Sebentar lagi udah ada anak, kan, masa masih memburu na*su aja? Nggak kasihan apa kalau anaknya lihat orang tuanya kayak gitu, sakit hati dia nanti," ujar Mauren.
"Nanti lah diatur. Diskusikan dulu sama Mas Ezra." Zenna tertawa.
Mauren hanya menggeleng-geleng melihat tingkahnya. Sungguh pribadi yang unik, menjalani pernikahan, tetapi saling berburu kesenangan di luar. Hanya mengandalkan kejujuran, tetapi hubungan tetap harmonis sampai bertahun-tahun. Sangat sulit dimengerti.
Setelah cukup lama mengobrol, Zenna pamit pergi dan bergabung dengan yang lain, yang saat ini sedang menikmati jamuan di meja makan. Ketika orang-orang sibuk dengan hidangan, Rendra menghampiri Mauren dan menggenggam tangannya.
"Sayang, maharnya disimpan dulu yuk," bisik Rendra seraya menatap mahar yang ada di tangan Mauren.
Mauren langsung tersipu. Dia paham benar, mahar hanyalah alasan, sedangkan tujuan utamanya adalah kamar.
Kendati malu dan jantung terus berdetak cepat, tetapi Mauren tak menolak. Untuk apa? Rendra sudah sah menjadi suaminya, dan jujur dirinya pun mengharapkan hal itu. Tak apa meski malu, gugup, ataupun salah tingkah, itu sudah biasa dalam awal-awal pernikahan.
"Ayo," jawab Mauren.
Lantas, keduanya melangkah bersama menaiki anak tangga. Rendra tak henti tersenyum, begitu pula dengan Mauren.
Tak berselang lama, mereka tiba di kamar Mauren. Semerbak wangi melati menguar tajam ketika Mauren membuka pintunya. Sebuah aroma yang perlahan membawa Rendra pada angan-angan lain. Terlebih saat melihat kelopak mawar yang tertata di atas ranjang, pikiran Rendra tak bisa jauh-jauh dari sana.
Ketika pintu sudah ditutup sempurna, Rendra menarik tangan Mauren, yang saat itu sedang berjalan di samping ranjang.
"Sayang!" panggil Rendra.
"Iya." Mauren menoleh dan menatap suaminya.
Rendra tersenyum, tetapi tak mengucap kata. Hanya tangannya yang meraih kotak mahar dan meletakkannya di atas meja kecil.
Dalam beberapa detik, tidak ada yang bersuara, sekadar embusan napas yang ada di antara mereka. Kendati demikian, tangan masing-masing mengambil tempat dengan sendirinya. Tangan Mauren melingkar mesra di leher Rendra, sedangkan tangan Rendra memeluk erat pinggang Mauren. Rendra sedikit menunduk, sementara Mauren sedikit mendongak, hingga nyaris tak ada jarak di antara kedua wajah.
__ADS_1
Sesaat setelah merasakan hangat napas masing-masing, tangan Rendra bergerak naik dan berhenti di tengkuk Mauren. Dia menekan pelan agar wajah Mauren terkunci dan tak bisa berpaling. Lantas, Rendra makin mendekatkan wajahnya dan siap mereguk manis bibir yang merekah indah.
Bersambung...