
"Bylla! Kamu mau ke mana?!" Teriakan Ella menggema memenuhi ruangan. Ia heran melihat Bylla yang terburu-buru menyambar kunci mobil.
"Aku ada urusan Ma, penting! Assalamu'alaikum." Bylla melenggang dengan langkah cepat. Ia mengabaikan teriakan Ella yang terus memanggilnya.
"Aku tidak boleh telat, jangan sampai dia pergi karena menungguku terlalu lama," ucap Bylla pada dirinya sendiri.
Lantas, ia bergegas masuk mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Jarum jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 06.50, sedangkan jarak antara rumahnya dengan Menara Eiffel cukup jauh. Semalam, ia terlalu memikirkan Ghani sampai sulit memejamkan mata, sehingga tadi pagi, ia terjaga ketika fajar sudah jauh berlalu.
Bylla terus menginjak pedal gas dengan kuat, untuk pertama kalinya berkendara cepat setelah kecelakaan. Seiring jarum jam yang terus berputar, Bylla makin menambah laju kecepatan. Ia tak peduli dengan kendaraan lain yang kelabakan saat didahuluinya.
Tepat pukul 07.30, Bylla tiba di taman, di bawah menara. Ia bergegas turun dan berlari mencari Ghani. Matanya menatap ke sana kemari, berharap segera bersua dengan sang pemilik hati.
"Bylla!"
Bylla menghentikan langkahnya, ia hafal benar itu suara siapa, Ghani Alghibrani—seseorang yang menempati seluruh ruang dalam hati.
"Ghani." Bylla menoleh dan benar saja sosok Ghani sudah berdiri di belakangnya.
"Terima kasih sudah mau menemuiku, ada beberapa hal yang ingin aku luruskan, Bylla!" ucap Ghani. Ia melangkah maju dan mengikis jarak di antara keduanya.
"Maaf sudah membuatmu salah paham cukup lama, mungkin kamu terluka dengan hal itu. Tapi, Bylla, aku sama sekali tidak punya sempat untuk meluruskan. Sekarang, aku sudah berhasil menjebloskan Om Tommy dan Evelyn ke penjara, aku juga berhasil membersihkan namaku dan meluruskan berita bohong tentangku. Aku tidak pernah mengkhianatimu, Bylla, aku selalu setia dengan cinta ini. Jadi, masih ada 'kan kesempatan untuk kita kembali bersama?" Mata hitam menatap lekat penuh perasaan. Berharap masih ada secercah harapan untuk kembali membina hubungan.
"Maafkan aku, Ghani, lima hari lagi aku menikah. Aku tidak bisa kembali bersama kamu, maaf." Bylla menunduk dan menyembunyikan air mata yang lolos begitu saja.
Ghani terkesiap, kalimat yang Bylla lontarkan ibarat pedang tajam yang menghujam tepat di ulu hati, sangat menyakitkan.
"Menikah, apa maksudmu, Bylla?"
"Maafkan aku, Ghani. Waktu itu, aku berhari-hari menunggu penjelasan darimu, tapi tidak ada. Aku sangat kecewa dan aku memutuskan untuk menghapus perasaanku padamu. Aku membuka hati untuk lelaki lain dan sekarang kami akan menikah," terang Bylla.
"Aku seminggu terdampar di Pulau Sebira dan tidak tahu dengan berita yang beredar. Om Tommy menjebakku, Bylla, video itu seharusnya untuk klip lagu. Setelah aku kembali, aku berusaha menghubungimu, tapi semua akses sudah kamu tutup. Kenapa, Bylla, kenapa kamu tidak percaya padaku?" teriak Ghani. Ia memegang kedua bahu Bylla dengan erat.
"Aku sudah putus asa, Ghan. Hatiku terlalu sakit," jawab Bylla dengan pelan tanpa mengangkat kepala.
"Kamu pikir aku juga tidak sakit? Aku kalang kabut karena tidak bisa menghubungi kamu! Aku ke Jakarta untuk memantaskan diri karena kamu terlalu tinggi, Bylla! Aku tidak mau hubungan kita berakhir!" tegas Ghani.
__ADS_1
"Ghani, aku akan menikah," ujar Bylla, kali ini sambil menatap mata Ghani.
"Sekian lama aku berjuang dan sekarang sudah berhasil keluar dari Batas. Apakah semua ini akan sia-sia, Bylla?" teriak Ghani.
"Maaf, Ghani," jawab Bylla singkat.
"Kamu masih tetap akan menikah?" tanya Ghani dengan suara yang tertahan.
"Iya."
"Kenapa, Bylla, kenapa?" Ghani terus berteriak. "Kenapa kamu bersikeras menikah dengannya, padahal kita saling cinta! Sebelum hubungan itu terlanjur halal, pikirkan kebahagiaan kamu, juga kebahagiaan kita!" sambung Ghani tanpa menurunkan intonasi.
Bylla masih tidak menjawab, jantungnya berdegub kencang. Belum pernah ia melihat Ghani semarah ini.
"Jangan mengorbankan kebahagiaan kamu, Bylla. Menikahlah denganku!" ucap Ghani dengan tegas.
"Maaf, Ghani, aku sudah mencintainya. Kebahagiaanku bersama dia," jawab Bylla.
"Bohong! Kamu pasti bohong, Bylla!" teriak Ghani, ia tetap memegangi kedua bahu Bylla.
"Aku bisa merelakan kamu kalau memang dia orang yang kamu cintai. Tapi, tidak Bylla, matamu mengatakan bahwa perasaan itu masih untukku. Aku tidak akan merelakan wanita yang kucintai mengorbankankan kebahagiaannya sendiri, apa pun alasannya." Ghani makin mendekat. Jarak di antara mereka kini hampir tak ada.
"Aku mencintainya, Ghani. Aku sudah tidak mencintaimu." Bylla menunduk dan menatap rerumputan hijau tempatnya berpijak.
"Tatap mataku dan katakan kalimat itu! Jika kamu bisa melakukannya, baru aku percaya!" kata Ghani dengan tegas.
Beberapa menit berselang, Bylla belum juga mendongak. Ia malah menikmati semilir angin yang meriapkan rambut panjangnya.
"Bylla!" panggil Ghani.
Bylla hanya memejam dan membiarkan air matanya terus menetes. Bahkan, kini kedua bahunya bergerak naik turun seirama dengan isakan.
"Bylla!"
"Semua sudah terlanjur, Ghani. Apa pun perasaanku, aku tidak bisa membatalkan pernikahan ini. Hanya kurang lima hari, apa yang bisa kulakukan, Ghani?" Bylla mendongak dan menatap Ghani dengan air mata yang berderai.
__ADS_1
"Jadi benar 'kan, perasaanmu masih untukku?"
"Iya, aku sangat mencintai kamu. Itu sebabnya, aku sangat sakit saat melihat berita tentangmu. Sakit itu membuatku kecewa dan putus asa, lantas tak berani berharap lagi. Di saat aku sedang terpuruk, Kak Rubben datang dengan cinta yang ia simpan sejak lama. Aku yakin, sampai kapan pun aku tidak akan jatuh cinta lagi. Itu sebabnya, aku menerima lamaran dia. Aku tidak pernah menyangka bila semua ini hanya salah paham," terang Bylla dengan panjang lebar.
"Kenapa kamu meragukan aku, Bylla? Kenapa?" tanya Ghani. "Sekarang semua sudah jelas, kita berdua masih saling mencintai. Tidak maukah kamu mengubah keputusanmu, Bylla?" Ghani menangkup kedua pipi Bylla dan menatapnya dengan penuh cinta.
"Maafkan aku, Ghani. Dari awal, pekerjaanmu membuatku cemburu. Itu sebabnya, kepercayaanku semakin hari semakin terkikis. Dibandingkan lawan mainmu, aku begitu banyak kekurangan. Aku, aku___"
"Aku mengerti. Maafkan aku, Bylla, seharusnya mendengarkan kamu dan tidak pernah pergi ke Jakarta. Bylla, sekarang bagaimana keputusanmu, kamu tidak akan menikah, 'kan?" pungkas Ghani. Lantas, ia menyeka air mata Bylla dengan kedua jemari.
"Maafkan aku, Ghani. Aku tidak bisa mengubah keputusanku. Aku tahu betapa sakitnya ditinggalkan menjelang pernikahan. Aku tidak akan melakukan itu pada orang lain. Aku memang tidak mencintai Kak Rubben, tapi aku juga tidak bisa menyakiti dia," jawab Bylla.
"Bylla, kamu tidak tega menyakiti dia, tapi kamu tega menyakiti aku dan menyakiti dirimu sendiri. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Bylla!"
"Ghani, undangan sudah disebar. Semua orang tahu bahwa lima hari lagi keluargaku dan keluarga Kak Rubben menjalin ikatan. Jika tiba-tiba batal, bukankah itu akan mempermalukan kedua kelurga? Selama ini, aku sudah memberi harapan untuk Kak Rubben, jika tiba-tiba aku menolak menikah dengannya, bagaimana perasaan dia?" ujar Bylla menjelaskan maksudnya.
"Tapi, Bylla."
"Ghani, kamu percaya 'kan takdir itu selalu indah dan tak pernah salah. Jika kita tidak bersama, mungkin memang itulah yang terbaik untuk kita. Namun, jika takdir kita memang bersama, Allah pasti punya jalan untuk menyatukan kita. Aku ingat, salah seorang guruku pernah memberi nasihat. Mudahkanlah urusan orang lain, maka Allah akan mempermudah urusan kita. Hindari menyakiti orang lain, maka Allah akan memelihara kita dari luka." Bylla menatap Ghani lekat-lekat, berharap lelaki itu mau menerima keputusannya.
"Tapi, Bylla, aku tidak bisa berpisah denganmu." Mata Ghani berkaca-kaca, ia rela menjatuhkan sedikit harga diri di depan wanita yang dicintai.
"Kamu yang lebih paham ilmu agama. Kamu pasti mengerti, Ghani. Kita bisa berencana, tapi Allah yang menentukan takdirnya. Jika perasaan kita tulus dan Allah memang meridhoi, percayalah, pasti ada jalan untuk kita bersama, tanpa menyakiti dan tanpa melukai hati yang lain. Entah hari ini, esok, ataupun nanti. Aku memang tidak bisa berdiri di sampingmu, tapi namamu akan selalu kusebut dalam setiap doaku. Di manapun kamu berada, doaku selalu menyertaimu, Ghani." Bylla mengusap setetes air mata yang membasahi pipi Ghani.
Ghani tak menjawab, tetapi langsung memeluk Bylla dengan erat. Sakit rasanya ketika rasa masih senada, tetapi keadaan tak mengijinkan bersama.
"Aku mengerti, sangat mengerti dengan maksud baikmu, Bylla. Baiklah, mulai sekarang kita akan menjalani hidup masing-masing. Semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu. Hapus perasaanmu untukku agar tidak menjadi dosa. Besok aku akan terbang ke Indonesia dan menjalani hidupku di sana. Aku juga akan berusaha menghapus perasaanku untukmu karena tidak benar merindukan istri orang. Maaf, aku tidak bisa hadir di hari pernikahanmu." Ghani mengusap-usap rambut Bylla sembari memeluknya dengan erat.
"Semoga di Indonesia kamu mendapatkan penggantiku. Semoga kamu bahagia, Ghani," bisik Bylla.
Keduanya saling menumpahkan tangis dalam pelukan. Kendati bibir mereka mengatakan kalimat panjang, tetapi hati mereka hanya melantunkan satu doa. Semoga kuasa Tuhan memberikan jalan untuk bersama.
Ketika perasaan dan keadaan dalam persimpangan, cinta terserak tinggalkan puing-puing hati yang retak. Dalam rasa yang senada, keduanya menggantungkan asa pada keajaiban Tuhan.
__ADS_1