Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Balas Dendam


__ADS_3

Usai rapat dengan karyawan divisi produksi, Mauren menelepon Adnan yang saat ini sedang berada di Surabaya. Mauren bercerita tentang data produk barunya yang kemungkinan dicuri dan dibocorkan ke Sandria.


"Saya benar-benar payah dalam bisnis. Saya tidak tahu mana karyawan yang jujur dan mana yang berkhianat. Bisakah Pak Adnan membantu saya?" ujar Mauren setelah bercerita panjang.


"Tentu saja, Bu. Tapi, untuk sementara bukan saya sendiri yang menyelidiki. Saya masih di Surabaya, mencari tahu tentang saudara Andika yang bernama Rendra," jawab Adnan.


"Baik, Pak. Saya tunggu kabar baiknya."


Setelah sambungan telepon berakhir, Mauren menyandarkan punggung di kursi kerjanya. Lagi-lagi perasaan sesak kembali menghampiri. Mauren benar-benar terpukul dengan kegagalan ini.


"Mama, Papa, maafkan aku yang belum pantas dibanggakan," sesal Mauren.


Perlahan, ingatan tentang beberapa saat yang lalu kembali terlintas, ketika dirinya sedang rapat dengan anggota divisi produksi. Mauren meminta mereka secepatnya menyusun ulang produk baru. Maksimal waktu satu bulan, entah akan seperti apa hasilnya. Mauren tidak yakin bisa sebaik produk awal.


"Bagaimanapun hasilnya, yang pasti harus berusaha. Aku nggak boleh nyerah, Victory harus baik-baik aja." Mauren menyemangati diri sendiri.


Ketika Mauren masih larut dalam kekecewaannya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan masuk yang ternyata dari Yohan. Lelaki itu mengatakan bahwa dirinya sedang ada di Bandung. Dia menjenguk Andika yang kecelakaan ketika mengantar keponakannya. Menurut Yohan, kondisi Andika cukup parah dan harus dirawat intens.


"Setelah kamu dan Andika pergi, ada masalah sebesar ini di kantor. Sulit untuk nggak menebak bahwa kalian berhubungan dengan masalah ini," gumam Mauren.


Sesaat kemudian, dia menghubungi Yohan. Namun sayang, nomor lelaki itu sudah tidak aktif.


"Argghh!" geram Mauren seraya melemparkan ponselnya ke atas meja.


Pada saat yang sama, di tempat yang berbeda, Firman duduk di ruangannya sambil menghubungi seseorang.


"Tuan, produk baru Sandria sudah diluncurkan dan Bu Mauren sudah sadar jika datanya bocor," lapornya pada seseorang di seberang.

__ADS_1


"Bagaimana tanggapannya?"


"Bu Mauren terlihat marah. Beliau akan menindaklanjuti pelaku jika tidak mau minta maaf dalam satu kali dua puluh empat jam," jawab Firman.


"Cegah dia. Identitas pelaku harus tetap tersembunyi sampai aku berhasil menyelesaikan rencana."


"Baik, Tuan. Tapi ... apa ini bagus untuk Anda? Anda dan Pak Yohan menghilang begitu saja, bisa jadi Bu Mauren mengaitkan masalah ini dengan kepergian Anda, karena selama ini Bu Mauren sudah curiga dengan identitas Anda." Firman mengutarakan pendapatnya.


"Tidak apa-apa, biarkan saja dia berburuk sangka. Ini, kan, hanya sementara. Setelah semuanya terungkap, dia pasti mengerti kenapa aku melakukan ini."


"Baiklah, Pak. Saya akan melakukan seperti yang Anda minta," ujar Firman sebelum mengakhiri sambungan telepon.


_______________


Lima hari setelah Sandria meluncurkan produk baru, Adnan kembali menghubungi Mauren. Sebelum memberikan informasi yang ia dapat, Adnan terlebih dahulu meminta maaf. Kali ini dia sangat terlambat dalam menggali informasi. Bahkan, anak buah yang menyelidiki pengkhianat di divisi produksi juga belum ditemukan. Entahlah. Mungkin ada tangan-tangan lain yang sengaja mengganggu penyelidikannya.


"Ada, Bu. Dan saya juga sudah menyelidiki siapa dia dan apa hubungannya dengan Anda," jawab Adnan.


"Hubungannya dengan saya? Tapi ... saya tidak kenal dengan Andika ataupun Rendra." Mauren keheranan. "Apa dia salah seorang yang pernah kukecewakan saat aku masih berkecimpung di dunia hiburan. Tapi ... seingatku dulu nggak ada masalah yang serius," sambungnya dalam hati.


"Mungkin memang tidak, tapi dia punya hubungan dengan orang yang pernah bermasalah dengan Anda. Bu Mauren, yang menyamar sebagai Andika Mantofany adalah Karendra Dirgantara, putra kedua Derrion Dirgantara. Pak Derri adalah kakak kandung Fadila Dirgantara, ibu kandung Andika. Saat ini ... Pak Derri menikah siri dengan ... Elsabila Zaqia, mantan sahabat Anda," terang Adnan.


Mauren menganga tak percaya. Satu nama yang dalam beberapa bulan terakhir ia lupakan, kini kembali muncul dan sepertinya ingin membalas dendam.


"Puas-puaslah tertawa! Hari ini aku mengakui kekalahanku, tapi ... tunggu dan lihat baik-baik, suatu saat nanti aku akan membalasmu dengan lebih kejam! Camkan itu, Mauren!" Ancaman Elsa ketika Mauren dan Ezra mengupas masa lalunya yang penuh aib.


Mauren kembali teringat dengan ancaman itu. Entah dengan cara apa Elsa masuk dalam keluarga Dirgantara, yang jelas kini sudah menjadi nyonya dan punya kekuatan untuk balas dendam.

__ADS_1


"Andika, ternyata kamu adalah Rendra, anak tirinya Elsa. Pasti dia yang menyuruhmu masuk ke Victory dan menjebakku dalam masalah ini. Tak kusangka, tatapanmu yang seolah tulus ternyata palsu. Kamu nggak beda jauh dengan Jeevan, sangat memuakkan. Elsa ... lagi-lagi dia beruntung. Apa dasarnya lelaki memang hanya memikirkan ranjang, jadi pasti takluk ketika ada wanita yang menawarkan tubuhnya. Ah, sial!" Mauren merutuk dalam hatinya.


"Bu Mauren, Anda masih di sana?"


"Eh, mmm, iya. Maaf, Pak." Lamunan Mauren buyar karena panggilan Adnan.


"Saya akan segera kembali dan mencari bukti terkait masalah Victory. Saya yakin pelakunya adalah orang yang punya wewenang di divisi produksi. Karena merekalah yang punya akses dengan data produk tersebut," kata Adnan, yang kemudian dibenarkan oleh Mauren.


Mustahil jika pelakunya staf bawah karena mereka tidak punya akses penuh. Mauren yakin pelakunya adalah dia yang punya jabatan, dan besar kemungkinan mereka bersekongkol dengan Yohan dan Andika.


"Saya harap kita bisa bergerak cepat. Jangan sampai mereka menang dan berhasil mengacaukan Victory," jawab Mauren.


"Saya akan berusaha sebaik mungkin, Bu. Tapi ... sebelum kita berhasil mendapatkan bukti, sebaiknya masalah ini kita simpan sendiri. Jangan sampai ada yang tahu jika kita mencurigai Andika dan Yohan, karena kita belum tahu mana orang yang jujur dan mana yang tidak." Adnan memberikan arahan.


"Iya, Pak. Beberapa hari lalu saya juga sudah menghubungi Yohan, bertanya bagaimana kabar Andika. Saya berusaha bersikap wajar, tidak mengungkit identitas Andika, apalagi membahas masalah ini, semoga saja dengan begitu mereka tidak curiga lagi," ungkap Mauren.


Sehari setelah Yohan izin menjenguk Andika, Mauren mulai bersikap biasa, seolah tak ada apa-apa antara dirinya dengan Andika. Tujuannya agar Yohan dan Andika tidak sadar jika dirinya sudah mencurigai mereka. Dengan begitu, besar kemungkinan mereka terlena dan Mauren punya kesempatan untuk menguak tindakan buruknya. Namun, satu hal yang membuatnya kesal, sampai saat ini nomor mereka sering tidak aktif.


"Itu bagus, Bu. Semoga usaha kita tidak sia-sia."


"Benar, Pak. Apa pun yang terjadi Victory harus tetap berdiri," sahut Mauren.


Tak lama kemudian, sambungan telepon berakhir. Mauren duduk lemas di kursinya, memikirkan masalah yang ternyata bersumber dari Elsa.


"Dia benar-benar balas dendam, dan bodohnya aku bisa kecolongan sampai sejauh ini," batin Mauren.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2