
Seseorang di sebelah Jeevan adalah wanita muda yang membawa karung. Entah apa isinya, tapi tampaknya cukup berat. Terbukti dari keringat yang bercucuran di kening dan pelipis.
Penampilan wanita itu pun jauh dari kata rapi, malah sebenarnya tak pantas untuk ukuran seseorang yang sedang bepergian. Selain daster kusam dan melar, kakinya dibiarkan telanjang begitu saja. Tak ada sepatu atau setidaknya sandal jepit. Rambutnya pun dibiarkan berantakan dan meriap di sekitar wajah dan bahu, apalagi bentuknya panjang dan bergelombang. Sangat tidak sedap dipandang.
Sebenarnya, dari segi wajah tidak terlalu buruk. Cukup manis meski kulitnya tidak semulus wanita-wanita yang ada di sekitar Jeevan—Elsa dan Mauren. Hanya saja, paras manis itu tenggelam dan penampilan yang amburadul dan bau badan yang kurang harum.
"Ini wanita setengah stres apa ya? Masa bepergian penampilannya kayak gini, mana bawa karung lagi. Kayak orang mau minggat aja. Apes banget duduknya di sebelahku," batin Jeevan.
Dia melirik sekali lagi wanita yang duduk di sebelahnya. Murung, satu hal yang Jeevan tangkap dari raut wajahnya.
"Apa dia beneran minggat?" Jeevan kembali membatin.
Sebelum Jeevan sempat tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita di sebelahnya, sopir sudah memberikan aba-aba bahwa bus akan segera berangkat. Fokus Jeevan sedikit terbagi dan tidak memperhatikan wanita itu lagi.
Sekitar lima menit setelah bus melaju, wanita yang tadi kembali mencuri perhatian Jeevan. Bagaimana tidak, dia menangis sesenggukan dan sibuk mengusap air mata dengan ujung daster yang kumal. Walau awalnya tidak mau peduli, tetapi lama-lama Jeevan risih dan akhirnya bertanya.
"Kenapa?" Jeevan menatap sekilas.
"Sedih aku, Mas," jawab wanita itu dengan suara parau.
"Kenapa?" Jeevan kembali bertanya.
"Sedih!" Wanita itu menjawab dengan intonasi yang lebih tinggi.
"Maksudku sedih kenapa? Kalau nggak mau jawab ya udah, yang penting diam. Jangan nangis, mengganggu penumpang lain tahu nggak," jawab Jeevan dengan kesal.
__ADS_1
Suasana hatinya saat ini sedang tidak baik dan malah ada orang yang sengaja memancing emosinya, menyebalkan.
"Aku diusir sama suami dan mertuaku. Seminggu ini tinggal di kos-kosan. Dan tadi ... baru juga mau siap-siap, udah dikejar-kejar sama penagih hutang. Jadinya ya gini, berangkat dadakan nggak sempat mandi," ucap wanita itu beberapa saat kemudian.
"Kenapa diusir?" tanya Jeevan alakadarnya. Meski pengakuan wanita itu tergolong menyedihkan, tetapi dia belum bersimpati.
"Aku ketahuan selingkuh. Padahal, niatku baik. Aku selingkuh untuk nambah-nambah penghasilan karena gaji suamiku nggak seberapa. Maklumlah, hanya pekerja pabrik, bukan orang kantoran. Mana yang dibiayai ada mertua, ada adik ipar yang masih sekolah. Kadang sampai bingung bagi-baginya gimana, sampai terpaksa menunda kehamilan juga karena belum ada persiapan," terang wanita itu yang lantas membuat Jeevan tercengang.
"Selingkuh," batin Jeevan, seketika saja ingatannya tertuju pada Mauren.
"Apa pun alasannya, selingkuh itu nggak benar. Kalau untuk nambah-nambah penghasilan, kan bisa dengan kerja lain. Nggak harus selingkuh, kan?" ucap Jeevan.
Wanita itu menghela napas panjang, "Mungkin kamu nggak pernah hidup susah, Mas, jadi nggak ngerti rasanya kekurangan uang itu gimana. Aku dan suami kerja, bukan untuk biaya kami saja, tapi ada mertua dan adik ipar. Mertua udah tua dan nggak kerja, mana sering sakit dan harus beli obat. Gaji kami habis untuk biaya itu semua. Aku kan juga mikir, gimana masa depan nanti. Aku pengin punya anak, punya rumah sendiri. Tapi, kalau setiap hari begitu, ya mana bisa?"
"Tapi, nggak harus dengan selingkuh, kan? Bisa dicoba buka usaha pribadi atau apa. Pasti bisa," kata Jeevan.
"Jangan sok yes kalau bicara, Mas. Masih mending aku selingkuh demi duit, lha kamu? Demi apa? Udah punya istri cantik, kaya, dan pintar macam Mbak Mauren, masih aja selingkuh dengan Elsa, yang dari segi apa pun jauh di bawah Mbak Mauren."
Jeevan tersentak seketika. Dia tak menyangka bahwa wanita di sebelahnya tahu perihal rumah tangganya.
"Kamu ... kamu___"
"Jangan heran kalau aku tahu. Mbak Mauren itu wanita terkenal. Dia model dan juga pemilik Victory. Berita tentangnya pasti menyebar di mana-mana, terlebih tentang perselingkuhanmu itu, Mas. Jadi trending topic berhari-hari." Wanita itu memotong ucapan Jeevan yang terbata.
Jeevan diam seketika.
__ADS_1
"Aku dulu sempat marah-marah sendiri waktu tahu berita itu, gimana ya ... gemes gitu sama kamu, Mas. Kok bodoh banget gitu, ninggalin Mbak Mauren demi Elsa. Yang kamu lihat apanya coba, Mas?"
Jeevan masih diam. Bodoh, satu kata yang memang paling tepat untuk menggambarkan dirinya. Lebih bodohnya lagi, amat-sangat terlambat menyadari kebodohannya itu.
"Ah, semuanya sudah telanjur. Mudah-mudahan aja ada kehidupan yang lebih baik di Bali nanti," batin Jeevan.
Tanpa menghiraukan wanita di sebelahnya yang masih bicara panjang lebar, Jeevan bersandar dan mengingat kembali kejadian tadi pagi. Jeevan sempat membesuk Elsa. Dia ingin menemuinya sebelum pergi jauh dan entah kapan akan kembali, atau mungkin tidak kembali lagi. Sebesar apa pun rasa kecewanya, tetapi tidak menutup kenyataan bahwa dulu Elsa pernah menjadi wanita yang istimewa dalam hatinya.
Akan tetapi, Elsa tidak mau menemuinya. Mantannya itu hanya menitipkan selembar surat kepada polisi. Entah apa yang terjadi dengan Elsa, sampai saat ini suratnya belum Jeevan baca, masih terlipat rapi di dalam dompet.
_____________
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, bus masih melaju di antara kendaraan yang turut memadati jalanan. Para penumpang sudah banyak yang tertidur, termasuk wanita di sebelah Jeevan, yang ternyata bernama Indira. Penampilannya sekarang sedikit lebih baik dari tadi, rambutnya diikat rapi dan lengannya dibungkus jaket tebal, dengan warna yang masih cemerlang.
Jeevan pun turut mengenakan jaket demi menghalau rasa dingin akibat udara malam. Namun, berbeda dengan penumpang lain, Jeevan sama sekali tak bisa menutup mata. Tak ada rasa kantuk meski berkali-kali berusaha merebahkan diri. Akhirnya, Jeevan hanya diam sambil menatap kerlap-kerlip lampu di luar sana.
Di sela-sela diamnya, tiba-tiba Jeevan teringat dengan surat dari Elsa. Lantas, dia bergegas mengambil dompetnya dan mengambil lipatan kertas yang ia selipkan tadi pagi.
"Isinya apaan ya, kenapa dia sampai nggak mau menemuiku? Terlalu kecewa atau ... ada hal lain yang nggak aku tahu?" batin Jeevan sebelum membuka lipatan tersebut. Entahlah, tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat. Kilasan balik tentang kenangan bersama Elsa, juga tanpa tahu malu hadir begitu saja dalam ingatannya.
"Baca dulu deh." Jeevan menggumam sambil membuka sedikit demi sedikit lipatan itu.
Tulisan kecil nan rapi terpampang jelas memenuhi separuh halaman. Lalu di pojok kanan bawah, ada tertanda 'Elsabila Zaqia'.
Tanpa menunggu lama, Jeevan langsung membaca baris pertama surat itu.
__ADS_1
Mas Jeevan___
Bersambung...