
"Dulu ... aku kenal wanita yang menjadi orang ketiga. Sama sepertimu, dia selingkuh dengan atasan yang sudah bersuami. Bedanya, mereka sudah punya dua anak, sedangkan kasusmu belum. Bedanya lagi, si istri sah ini nggak hanya diselingkuhi, tapi juga ditindas oleh mertua dan ipar. Pokoknya, sehari-hari itu hidupnya sangat tertekan. Akhirnya, si istri tidak tahan lagi dan bersikap kejam. Dia meracuni makanan semua penghuni rumah, termasuk selingkuhan suaminya. Lantas, mereka semua mati dengan mulut yang berbusa." Mita mulai bercerita.
"Ka ... kamu serius?" Elsa gugup. Dia membayangkan andai Mauren melakukan hal yang sama padanya, hancur sudah.
"Tentu saja, untuk apa aku mengarang cerita." Mita menjawab dengan sungguh-sungguh.
"Lalu, nasib pelakunya gimana? Apa dia dipenjara?" Elsa penasaran.
Mita menghela napas panjang, "Iya, tapi dengan kasus lain."
"Kok, bisa begitu? Emang kasusnya nggak terungkap?" Elsa keheranan.
"Enggak." Mita menggeleng. "Waktu itu si istri sedang sakit, jadi tidak masak. Si selingkuhan ini pesan makanan online. Tapi, waktu kurirnya nganter, mereka sibuk melihat-lihat dekorasi pernikahan, karena kan rencananya si suami mau nikah lagi. Alhasil, si istri yang menerima makanan itu. Tidak ada yang tahu kalau dia membubuhkan karena yang menyajikan di piring juga dia. Setelah semua mati, pemilik restoran yang jadi tersangka. Perbuatan si istri tidak diketahui oleh siapa pun," sambungnya.
"Terus ... si istri tadi dipenjara karena kasus apa?" tanya Elsa.
"Menghidupi dua anak seorang diri itu tidak mudah. Dia membuka warung makan dan terpaksa memakai formalin agar tidak bangkrut. Karena kadang ... pengunjung sepi dan makanan yang dia olah tidak habis. Dia ketahuan dan akhirnya dipenjara, sekarang pun belum keluar," jawab Mita sambil tersenyum.
Elsa berpikir keras. Dia menghubungkan rincian demi rincian cerita Mita, dan dia menemukan sesuatu yang janggal.
"Kamu bilang ... perbuatan si istri nggak diketahui siapa pun, lalu ... dari mana kamu tahu detail kejadiannya? Katamu tadi kan ... orang yang kamu kenal adalah si selingkuhan?"
Elsa bertanya serius, tetapi Mita tak jua menjawab. Dia hanya mengulas senyum miring sembari menatap penuh arti.
"Menurutmu?" jawab Mita beberapa saat kemudian.
Elsa tercengang, sampai kesulitan menelan ludah. Setahu dia, Mita dipenjara karena kasus penyalahgunaan bahan pengawet dalam makanan siap saji, dan lagi dia juga beranak dua.
__ADS_1
"Jangan-jangan ... ah," batin Elsa. Wajahnya pucat seketika. Wanita berwajah teduh yang biasanya murah senyum, ternyata menyimpan sisi yang kejam.
"Bersyukurlah, kamu hanya dipenjarakan. Itu pun karena kamu berencana menghancurkan dia. Coba kalau kamu hanya selingkuh, tanpa melakukan tindakan aneh-aneh, tidak mungkin ada di sini sekarang. Gimana, masih mending dipenjara tujuh tahun, kan, daripada diantar ke akhirat? Selamanya tidak bisa melihat dunia, nyesek nggak tuh?" Mita tertawa, seakan-akan kalimatnya sangat lucu. Padahal, di depannya Elsa sudah pucat pasi.
"Dalam pernikahan, wanita dituntut banyak hal untuk menjalani peran sebagai istri. Sangat menyakitkan jika suami malah memilih wanita di luar sana, yang hanya berjasa dalam urusan ranjang. Jadi tidak heran, jika terlukanya istri yang tersakiti mengubahnya menjadi sosok yang kejam." Mita kembali bicara.
"Iya, kamu benar. Aku ... aku dulu memang salah." Jantung Elsa berdetak cepat. "Ya sudah, aku tidur dulu, ngantuk. Kita lanjut besok saja," sambungnya.
Tanpa menunggu jawaban Mita, Elsa beringsut mundur dan kemudian merebahkan tubuhnya di atas tikar. Meski tidak mengantuk, tetapi Elsa memejam. Dia tidak mau melanjutkan obrolan dengan Mita, mengerikan.
Sementara itu, Mita menatap Elsa sambil tersenyum miring.
_____________
Hotel Highland, sebuah tempat mewah yang menjadi pilihan Mauren dan Rendra dalam mengambil foto prewedding. Mereka sengaja mengambil tema indoor demi menghemat waktu. Maklum, keduanya adalah pekerja yang selalu berpacu dengan waktu.
Wajah cantiknya berpadu indah dengan gaun warna ungu yang sedikit terbuka di bagian bahu. Rambutnya digerai dengan gaya curly di bagian bawah, sedikit disibakkan sehingga anting-anting yang berkilauan terpampang sempurna.
"Kalau nggak cantik, nggak serasi dong dengan kamu yang tampan gini," jawab Mauren sambil tersenyum manis.
Kata-katanya bukan bualan belaka, melainkan fakta. Saat ini, Rendra memang terlihat tampan nan rupawan. Tubuh kekarnya dibalut tuksedo warna senada dengan gaun yang dikenakan Mauren. Sedangkan rambutnya tetap seperti biasa, dibiarkan berdiri cinta langit.
"Pinter ngerayu ya sekarang." Rendra mencubit gemas pipi Mauren.
"Udah mau nikah kalau nggak pinter ngerayu entar suamiku gimana dong," jawab Mauren.
"Beneran berani ya kamu, hmm?" Rendra mendekat dan merapatkan tubuhnya.
__ADS_1
Mauren tertawa sambil melangkah mundur, tetapi gerakannya terhenti karena terhalang ranjang.
"Ndra! Jangan aneh-aneh!" teriak Mauren.
"Apa? Ndra?" Rendra makin mendekat sambil melayangkan tatapan penuh arti.
"Sayang, sorry, tadi keceplosan." Tawa Mauren kian lepas.
"Sudah siap?"
Canda tawa Mauren dan Rendra terjeda karena kehadiran fotografer.
"Sudah, Mas, mari!" jawab Rendra seraya merapikan kemejanya.
Lantas, mereka pun mulai mempersiapkan pemotretan. Foto pertama diambil di atas ranjang, yang sebelumnya sudah dihiasi kelambu dari manik-manik dan roncean bunga berwarna-warni.
Rendra dan Mauren berpose sederhana, tetapi mesra. Mauren duduk di tepi ranjang, di antara untaian manik-manik dan roncean bunga. Sedangkan Rendra duduk berlutut di hadapannya. Dia menggenggam tangan Mauren dan menciumnya dengan mesra. Chemistry yang tercipta di antara keduanya sangat sempurna. Entah karena Mauren mantan model atau karena perasaan yang benar-benar kental.
Foto kedua masih di tempat yang sama, dengan pose yang akan membuat orang terbawa perasaan ketika menatapnya. Mauren dan Rendra duduk berhadapan di atas ranjang. Mauren meletakkan tangannya di dada Rendra, sedangkan Rendra menangkup pipi Mauren sambil menatap lekat. Lagi-lagi, chemistry-nya terlukis sempurna.
Sebelum melakukan foto ketiga dan keempat yang akan diambil di rooftop, Mauren dan Rendra terlebih dahulu berganti baju. Kali ini, Mauren mengenakan gaun light silver dengan rambut yang diikat sebagian ke belakang, berhiaskan aksesori warna serupa.
Rendra pun mengenakan tuksedo yang senada. Pesonanya tak kalah menawan dengan pakaian yang pertama.
Foto ketiga diambil dengan pose duduk, lebih sederhana tetapi perasaan yang terlukis di dalamnya makin ketara. Mauren duduk di kursi, sedangkan Rendra duduk di pegangan kursi, di samping Mauren. Keduanya saling menatap dan tertawa lebar. Suasana yang tergambar sangat natural, namun penuh perasaan.
Foto keempat diambil dengan pose berdiri. Mauren dan Rendra saling menggenggam, tetapi jaraknya berjauhan. Tubuh mereka saling berlawanan, tetapi masing-masing menoleh dan saling menatap. Dengan latar belakang keramaian kota yang tampak jauh di bawah, pose keduanya terlukis indah.
__ADS_1
Bersambung...