
Di dalam ruangan yang luas dan elegan, Mauren dan Enggar duduk berhadapan. Mauren ditemani Siska, sedangkan Enggar ditemani asistennya. Mereka membahas kerja sama yang diajukan oleh pihak NE Group.
"Surat kontraknya seperti ini, silakan diperiksa dulu. Jika ada poin yang tidak Anda setujui, nanti bisa kita negoisasikan bersama." Enggar menyodorkan surat kontrak yang ia ajukan.
Mauren melihat satu demi satu poin yang tertera di sana dan tidak ada yang merugikan pihak Victory. Kedua belah pihak saling diuntungkan. Mauren tergiur untuk menerima kerja sama tersebut. Selain karena keuntungan, Mauren juga yakin bahwa NE Group tidak bermasalah.
"NE Group adalah perusahaan besar, relasinya banyak dan menyebar di mana-mana. Tidak ada catatan negative terkait bisnisnya, malah ada beberapa perusahaan yang langsung naik setelah bekerja sama dengan mereka. Enggar Erawanto sendiri adalah orang yang bersih, tidak ada catatan kecurangan atau hubungan dengan orang-orang di jalur gelap. Meski demikian, saya akan terus menyelidiki. Terlebih jika Anda sudah menandatangani kontraknya," terang Adnan tadi malam. Pria itu sudah berhasil mengorek informasi tentang Enggar dan NE Group.
"Jadi bagaimana, Bu? Ada yang perlu diubah?" tanya Enggar beberapa saat kemudian.
"Tidak. Ini sudah sesuai dengan kriteria saya. Semoga ke depannya, kerja sama kita berjalan lancar," jawab Mauren.
"Terima kasih banyak, Bu Mauren. Sungguh beruntung bisa bekerja sama dengan Victory." Enggar tersenyum penuh arti.
"Victory juga beruntung bisa bekerja sama NE Group," sahut Mauren.
"Betul, kita sama-sama beruntung." Enggar tertawa renyah. "Mmm, Bu Mauren, sebagai ungkapan rasa bahagia karena NE Group dan Victory deal bekerja sama, bagaimana kalau setelah ini kita makan siang bersama. Anda yang mencari rekomendasi restorannya, sedangkan saya yang membayar tagihannya. Bagaimana?" sambungnya.
"Dengan senang hati saya menerima tawaran ini," jawab Mauren diiringi senyuman lebar.
Enggar pun turut tersenyum, "Membayar makan siang tidak seberapa dibandingkan dengan keuntunganku nanti. Mauren ... selain cantik dan kaya, rupanya dia tidak punya kemampuan lain. Ini sangat memudahkan urusanku. Pertama kali mengambil celah dari jalan yang salah, ternyata targetnya sangat lemah. Aku pasti berhasil," ucapnya dalam hati.
_______________
Pagi-pagi sekali Mauren sudah rapi dalam balutan celana panjang cream dan kemeja panjang warna putih. Rambutnya dikuncir tinggi dan wajahnya dipoles mekap tipis. Sangat cantik.
Hari ini Mauren akan berkunjung ke pabrik dan meninjau pekerjaan yang ada di sana, terutama persiapan peluncuran produk baru dua minggu lagi. Mauren akan ke sana bersama Siska dan Diana—product developer di Victory. Diana adalah orang yang bertanggung jawab atas peluncuran produk baru nanti.
Selain peluncuran produk baru, Mauren juga ingin membahas tentang kerja samanya dengan NE Group. Bagian produksi harus tahu agar pengiriman barang dalam setiap bulannya tidak terhambat.
__ADS_1
"Sepertinya sudah," gumam Mauren sambil menilik penampilannya di depan cermin.
Karena dirasa sudah sempurna, Mauren langsung mengambil tas dan membawanya keluar kamar. Mauren turun ke lantai bawah dan menemui Siska yang sedang menunggu di ruang tamu.
"Bu Diana juga sudah siap, Bu. Beliau menunggu kita di kediamannya," ucap Siska.
"Bagus. Kita juga berangkat sekarang!" ajak Mauren.
"Baik, Bu."
Lantas, keduanya melangkah bersama meninggalkan rumah Mauren. Mereka menuju pabrik karena tuntutan pekerjaan.
Tak beda jauh dengan Mauren, seseorang lelaki yang bernama Rendra juga sudah beraktivitas. Bukan sekadar melaju di jalan raya, melainkan terbang di atas awan. Di dalam burung besi jurusan Jakarta-Surabaya, Rendra duduk tenang sambil menunggu landing, yang kira-kira hanya beberapa menit lagi.
"Sedang apa dia, ya?" batin Rendra sambil tersenyum manis.
Entah apa yang dimiliki wanita itu hingga Rendra sangat kagum dan kerap merindu. Cantik, mungkin memang iya. Namun, wanita-wanita yang mengejar Rendra juga tak kalah cantik darinya, bahkan ada yang lebih. Akan tetapi, hatinya malah terpaut pada Mauren.
"Mungkin karena awalnya aku sangat iba, jadi pandanganku padanya berbeda. Sampai akhirnya, hatiku bisa berlabuh padanya." Rendra kembali membatin sambil membayangkan Mauren, yang menurutnya galak tapi manis dan memikat.
"Dengan statusnya yang udah janda, sedangkan aku masih lajang, kayaknya nggak sulit untuk mendapatkannya." Rendra mengusap rambutnya yang dibiarkan berdiri cinta langit. "Setelah misi ini selesai, aku akan mengungkap identitasku dan memperjuangkan cintaku," sambungnya.
Sepuluh menit kemudian, pesawat yang ditumpangi Rendra sudah landing. Lelaki itu keluar tanpa menunggu barang bawaan. Maklum, dia hanya membawa ponsel dan dompet. Tidak ada baju, alat mandi, ataupun barang-barang lain.
Rendra bergegas menemui Joni, sopir pribadi ayahnya yang kini menjemputnya.
"Selamat datang, Tuan. Silakan!" Joni membuka pintu mobil dan mempersilakan Rendra masuk.
"Terima kasih," jawab Rendra.
__ADS_1
Ketika tuannya sudah masuk dan duduk di bangku mobil, Joni pun turut masuk dan melajukannya.
"Mampir sebentar di pusat perbelanjaan, aku akan membeli sesuatu untuk Ibu," ucap Rendra beberapa saat kemudian.
"Baik, Tuan."
"Ibu, aku akan memberimu hadiah yang menarik," batin Rendra.
Senyumnya terkulum lebar ketika membayangkan hadiah yang akan dibeli untuk ibu tirinya, ibu yang usianya empat tahun lebih muda darinya. Selain membeli hadiah untuk ibu tiri, Rendra juga membeli perlengkapan bayi untuk calon keponakannya. Selama ini hubungan Rendra dengan kakak iparnya kurang baik, dan setelah mengenal Mauren, barulah Rendra menerima wanita tersebut sebagai keluarga.
Satu jam kemudian, Rendra tiba di rumahnya. Dia tersenyum masam ketika menatap bangunan megah berlantai tiga itu. Di sanalah dia pernah dibesarkan dengan penuh kasih. Sampai akhirnya, dia sangat terluka karena wanita yang dianggap malaikat menghadap Ilahi dengan cara tragis.
"Andai Papa tidak egois, pasti Mama masih hidup dan rumah ini akan menjadi tempat pulang yang paling nyaman. Tapi ... ah, pelukan Mama hanya tinggal kenangan. Sebesar apa pun aku berharap, masa lalu nggak bisa berubah. Mama tetap tiada dan Papa tetap pada sifat buruknya," batin Rendra dengan sendu. Begitu besar rasa rindu untuk sang ibunda, tetapi takdir telah memisahkan mereka.
Kini, Rendra hanya dihadapkan pada lelaki egois yang selalu mengedepankan na*su. Sebuah sifat yang membentuk karakter Rendra saat ini—pembangkang, pemarah, dan anti wanita. Namun, kehadiran Mauren mulai mengubah sifat buruknya yang ketiga.
"Mari, Tuan!" Joni membuka pintu mobil dan membuyarkan renungan Rendra.
"Terima kasih." Rendra turun dari mobil dan berjalan menyusuri halaman rumah.
Sesaat kemudian, Rendra menginjakkan kaki di teras. Pintu utama terbuka lebar, tetapi tidak ada suara yang terdengar.
Rendra tak peduli dan langsung melangkah memasuki rumahnya. Entah ke mana semua orang, rasanya ruang tamu begitu senyap.
Ketika tiba di ruang tengah, Rendra melihat sosok wanita sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Tubuh idealnya dibalut dress merah selutut, tanpa lengan sehingga bahunya terbuka lebar. Rendra menatap sinis dan kemudian melangkah mendekatinya.
"Ibu!"
Bersambung...
__ADS_1