Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Lahirnya Sang Buah Hati


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Di tengah malam yang lengang, Mauren mengerang kesakitan di dalam pelukan Rendra. Dia yang saat itu sedang hamil tua, tiba-tiba mengalami kontraksi hebat. Perut bagian bawahnya sangat sakit dan punggung pun ikut nyeri.


"Argg, sakit!" rintih Mauren sambil memegangi perutnya yang membuncit.


"Tahan sebentar ya, Sayang. Aku sudah menyuruh Pak Hamid untuk menyiapkan mobilnya. Setelah ini kita ke rumah sakit." Rendra berusaha menenangkan Mauren, meski dirinya sendiri sebenarnya juga panik.


Mauren tak menjawab lagi. Rasa sakit di perutnya makin menjadi dan dia hanya bisa merintih saja, hingga tak sadar tangannya mencengkeram lengan Rendra dengan erat dan menimbulkan ruam-ruam.


Tak lama kemudian, Rendra mengangkat tubuh Mauren dan menggendongnya ke luar rumah. Di sana, Hamid sudah duduk di depan kemudi dan siap mengantarkan tuannya.


Sejak kandungan Mauren memasuki usia tujuh bulan, Rendra mengajaknya pindah kamar—ke kamar tamu di lantai bawah. Kata Rendra, agar Mauren tidak capek naik-turun tangga. Beruntungnya ketika Mauren mengalami kontraksi mendadak seperti sekarang, tak perlu membutuhkan waktu lama untuk ke luar rumah.


"Tolong cepat ya, Pak!" perintah Rendra ketika sudah memasuki mobil.


"Baik, Tuan." Hamid mengangguk patuh. Lantas, melajukan mobilnya dengan segera.


"Sayang, sakit. Aku nggak kuat." Mauren kembali merintih, bahkan kini air matanya turut keluar.


"Tahan, Sayang, kamu pasti kuat. Ada aku di sini, ada Mama dan Papa juga nanti. Sekarang mereka sudah menuju ke sini, tahan ya. Demi anak kita, Sayang." Rendra mengusap-usap rambut Mauren dengan lembut, juga menyeka keringat yang membasahi kening dan pelipis.


"Andai saja aku bisa menggantikan posisimu, Sayang, pasti sudah kulakukan. Jujur, aku tidak tega melihatmu seperti ini," batin Rendra.


Dia menggigit bibir, menahan sesak yang membuat matanya turut memanas. Dari banyak artikel yang dia baca, juga cerita-cerita orang yang pernah mengalami, melahirkan adalah rasa sakit tertinggi bagi kaum wanita. Beberapa di antaranya ada yang gagal. Entah anak atau ibunya yang tidak selamat, entah juga keduanya. Tidak, Rendra tidak sanggup jika hal itu menimpanya.


"Sebentar lagi kita sampai, Sayang, tahan sebentar ya," ucap Rendra sambil menggenggam tangan istrinya.


Mauren mengangguk. Meski bibirnya tak lagi merintih, tetapi air matanya makin mengalir deras. Rendra sangat terpukul menyaksikan itu. Bahkan, tanpa sadar Rendra pun ikut menangis.


Tak lama kemudian, Hamid menghentikan mobilnya di halaman rumah sakit. Dua perawat bergegas menghampiri mobil mereka sambil membawa brankar. Sebelumnya, Rendra memang sudah memberitahukan kedatangannya kepada Arini—dokter kandungan yang selama ini menangani Mauren.


"Kita sudah sampai, Sayang. Kamu akan secepatnya ditangani," ucap Rendra. Lantas, dengan sigap dia menggendong Mauren dan membaringkannya di brankar.

__ADS_1


Dua perawat mendorongnya ke ruang bersalin, dan Rendra juga mengikutinya. Dia tak peduli dengan penampilannya yang hanya mengenakan boxer dan singlet. Maklum, tadi dia terburu-buru. Tidak terpikir untuk mengganti pakaian karena rintihan Mauren sudah membuatnya panik tak karuan.


"Dokter, tolong istri saya ya," pinta Rendra ketika kepada Arini, yang saat itu sudah berdiri di depan ruang bersalin.


"Tentu saja, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk Bu Mauren," jawab Arini. "Pak Rendra silakan tunggu di luar ya."


"Baik, Bu."


Bukan tanpa alasan Arini menyuruh Rendra menunggu di luar. Selama ini, Rendra punya rasa panik dan cemas yang berlebihan ketika melihat Mauren sakit, walau sebenarnya sekadar sakit biasa. Dikhawatirkan Rendra akan stres dan malah menularkan stresnya pada sang istri, apabila menyaksikan langsung jalannya persalinan. Jadi daripada berdampak buruk, lebih baik tidak usah menemani. Hal ini pernah dibahas sejak jauh-jauh hari dan Mauren tidak keberatan dengan itu.


Sepeninggalan Mauren dan Arini, Rendra sama sekali tidak tenang. Dia mondar-mandir ke sana kemari sambil memanjatkan doa, untuk anak istrinya yang sedang berjuang di dalam sana.


Sebenarnya, hari perkiraan lahir sudah dua hari yang lalu. Kemarin, Rendra sempat mengajak Mauren untuk periksa. Namun, istrinya itu tidak mau.


"Perutku nggak sakit, rasanya biasanya aja kok. Tunggu tiga hari aja, kalau masih telat, nanti kita temui Dokter Arini," tolak Mauren kala itu.


Rendra menurut saja karena keadaan Mauren memang sehat. Tidak disangka, kontraksi itu datang malam ini.


Sementara itu, di dalam ruangan Mauren makin kesakitan. Sakit di perut, juga nyeri di punggung, rasanya kian menyiksa. Jika tadi berkala, sekarang terus-menerus, nyaris tidak ada jedanya.


Selagi Mauren masih merintih, Arini memasang slang infus dan juga mempersiapkan alat-alatnya. Saat ini, Mauren sudah pembukaan delapan. Perkiraan, sebentar lagi dia akan mengejan. Dalam menangani persalinannya, Arini tidak sendiri, tetapi dibantu oleh dua perawat wanita.


Sekitar setengah jam kemudian, Mauren mulai mengejan. Berulang kali mengerahkan seluruh tenaga untuk melakukannya, tetapi bayi di kandungannya tak juga keluar, sampai-sampai Mauren kehabisan tenaga.


"Sedikit lagi, Bu. Ayo, Bu! Terus, Bu!" kata Arini.


Mauren menarik napas panjang. Ia kumpulkan sisa-sisa tenaga untuk mengejan. Jika kali ini masih gagal, entah apa yang akan terjadi. Mauren sudah tak kuat lagi. Dia sangat lelah, tubuhnya sudah basah oleh keringat, dan napas pun sudah tersengal karena perjuangan yang berat.


"Argghh!" jerit Mauren. Tubuhnya seakan terbelah saat anak pertamanya berhasil lahir, yang kemudian langsung ditangani oleh perawat.


Mauren terkulai lemah. Kali ini tenaganya benar-benar habis, bahkan untuk menggerakkan tangan saja ia tak mampu.


"Tarik napas, buang napas! Persiapkan kembali tenaga Anda, Bu Mauren. Sebentar lagi bayi kedua Anda akan lahir," ucap dokter.

__ADS_1


"Aku nggak kuat lagi," batin Mauren.


________________


Sudah empat jam penuh Rendra menunggu istrinya, tetapi dokter belum juga keluar memberikan kabar. Rendra makin tak tenang, banyak prasangka-prasangka buruk yang mulai memenuhi pikirannya.


"Anda harus tenang, Tuan. Nyonya Mauren pasti baik-baik saja," ucap Nina mencoba menenangkan Rendra.


Selama menunggu Mauren, tak sedetik pun Rendra duduk. Dia hanya mondar-mandir sambil berulang kali mengusap wajahnya. Bahkan, baju ganti yang dibawa Nina pun dibiarkan begitu saja. Rendra masih setia dengan boxer dan singlet-nya.


"Betul. Kita doakan saja Nyonya, Tuan, kita jangan ikut panik," sahut Inah. Dia yang semula tenang, akhirnya turut panik setelah melihat tingkah Rendra.


"Dokternya sangat lama, mana bisa aku tenang. Harusnya aku diajak masuk juga, biar tahu apa yang dialami Mauren," jawab Rendra sambil tetap mondar-mandir.


Tak berselang lama, pintu ruangan dibuka dari dalam. Arini berdiri di sana dengan wajah yang lelah. Rendra makin ketakutan melihat itu.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Rendra dengan jantung yang berdetak cepat.


"Persalinannya berjalan lancar, Pak. Bu Mauren melahirkan bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Keadaan bayinya sehat, tapi Bu Mauren___"


"Ada apa dengan istri saya, Dokter?" Rendra bertanya cepat dengan mata yang membelalak.


Bersambung....


Terima kasih masih setia di novel ini, dari awal kisah sampai kini hampir di ujung. Sebelum novel ini benar-benar sampai di bab akhir, aku sudah menerbitkan karya baru. Semoga kakak-kakak pembaca di sini berkenan juga mampir di sana.


Izinkan Aku Mencintai Istrimu


Meski judulnya seperti di atas, tapi kisahnya bukan pebinor yang nggak berakhlak kok. Dia itu_____


Ikuti aja yuk kisahnya😊😊😊


__ADS_1


__ADS_2