Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Makin Terluka


__ADS_3

"Mauren, dia datang ke sini. Apa dia berubah pikiran dan mau balik sama aku?"


Hati Jeevan berbunga-bunga. Langkah yang semula malas, sekarang semangat dan cepat. Dalam hitungan detik, dia sudah tiba di dekat pintu.


"Ma___ Mbak Sinta," sapa Jeevan dengan kecewa. Ternyata yang datang bukan Mauren, melainkan Sinta—anak pemilik tempat kos.


"Iya, Mas. Maaf, mengganggu pagi-pagi. Saya disuruh Ibu untuk ambil bayaran bulan ini. Katanya, kemarin Mas Jeevan sudah oke."


"Iya. Tunggu sebentar, Mbak, saya ambilkan dulu." Jeevan tersenyum masam dan kemudian kembali masuk.


Hari ini pemilik tempat kos akan menghadiri pernikahan keponakannya di luar kota. Jadi, uang sewa yang seharusnya dibayar minggu depan diminta sekarang.


Setelah mengambil uangnya, Jeevan kembali ke luar dan menemui Sinta.


"Ini, Mbak." Jeevan menyerahkan uangnya.


"Terima kasih ya, Mas." Sinta tersenyum.


"Sama-sama, Mbak. Sudah mau berangkat ya?" tanya Jeevan.


"Iya, Mas. Tinggal nunggu suami mandi."


"Oh."


Tak berselang lama, Sinta undur diri dan Jeevan pun kembali duduk di ranjang. Lagi-lagi Jeevan merenung, memikirkan Mauren yang sepertinya makin jauh dari jangkauannya.


"Ah, mandi aja lah. Mana tahu nanti pikiran jadi lebih seger."


Kemudian, Jeevan keluar kamar dan menuju kamar mandi. Dia membersihkan diri dan setelah itu mengganti baju dengan setelan rapi. Jeevan akan pergi mencari pekerjaan yang lebih baik.


"Mudah-mudahan aja nasibku mujur," gumam Jeevan ketika menunggu ojek yang ia pesan.


Setelah menunggu beberapa saat, ojek itu datang dan Jeevan bergegas naik. Kali ini, tujuannya adalah pusat perbelanjaan. Kemarin lusa, Jeevan melihat iklan lowongan kerja sebagai pramuniaga di toko elektronik.


Usai menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Jeevan tiba di tempat tujuan. Jeevan langsung mendatangi toko itu dan menanyakan perihal lowongan.


"Maaf, Pak, bos kami sedang keluar. Silakan Anda kembali sekitar satu jam lagi."

__ADS_1


"Oh begitu, ya. Tapi, benar kan di sini mencari tenaga baru?" tanya Jeevan.


"Benar, Mas. Tapi, kami juga sama-sama karyawan, jadi tidak berani memberikan jawaban terkait lamaran Anda. Kami harap, Anda tidak keberatan jika kembali lagi nanti."


"Baiklah, Mas. Saya pergi dulu dan nanti akan kembali. Terima kasih informasinya," jawab Jeevan.


Lantas dia meninggalkan toko itu dan beralih menuju depot kecil yang tak jauh dari sana. Jeevan memesan semangkuk soto dan segelas air putih sebagai menu sarapan.


"Aku berharap banget toko tadi mau nerima aku. Di antara lowongan-lowongan yang lain, di sana yang gajinya paling besar," batin Jeevan di sela-sela suapannya.


Setelah sarapannya habis, Jeevan bangkit dan membayar tagihan. Kemudian, dia belanja keperluan sehari-hari, sekalian jalan-jalan karena sudah lama tidak berkunjung ke pusat perbelanjaan.


"Ini enak, beneran. Nanti cobain deh kalau nggak percaya!"


Jeevan membuang napas kasar. Hatinya makin sesak karena lagi-lagi berhalusinasi. Pendengarannya menangkap suara Mauren, yang ia yakini pasti tidak mungkin. Seperti tadi pagi, yang ternyata adalah orang lain.


Namun, tak lama kemudian, Jeevan menghirup aroma parfume kesukaan Mauren. Mau tidak mau, pikiran Jeevan kembali terusik dengan bayangan sang mantan. Sampai akhirnya, tawa renyah Mauren terdengar nyata dan membuyarkan pikiran yang berkelana. Lantas, Jeevan menoleh ke belakang dan Mauren memang ada di sana. Sayangnya, wanita itu berjalan bersama lelaki tampan yang tempo juga bersamanya.


"Dia lagi," batin Jeevan.


"Iya." Jeevan tersenyum masam. "Kamu kok di sini, apa nggak kerja?" sambungnya.


"Aku ada janji dengan relasi dan kebetulan tempatnya nggak jauh dari sini. Jadi, sekalian aja belanja," jawab Mauren.


"Oh. Mmm, selamat ya. Peluncuran produk barunya berjalan lancar. Maaf, semalam aku nggak bisa hadir. Ada urusan lain," ujar Jeevan yang kemudian membuat Mauren mengernyit.


"Nggak datang? Jelas-jelas semalam kamu ada di sana. Kenapa kamu bohong, Mas?" batin Mauren.


"Ayo lanjutkan belanjanya! Masih banyak yang belum dibeli, nanti kamu telat." Rendra menyela di antara obrolan Jeevan dan Mauren.


"Ayo!" Mauren mengangguk.


Sementara itu, Jeevan menatap Rendra dengan kesal. Dia tidak rela jika lelaki yang baru dikenal menggantikan posisinya di hati Mauren.


Di tengah kekesalannya, Jeevan beradu pandang dengan Rendra. Tatapan tajam yang ia miliki, mengingatkan Jeevan pada tatapan seseorang yang entah siapa.


"Sepertinya aku nggak asing dengan tatapan ini. Siapa dia?" batin Jeevan.

__ADS_1


Belum sempat Jeevan mendapatkan jawaban, Rendra dan Mauren sudah berlalu. Jeevan hanya bisa menatap punggung mereka yang makin menjauh.


Sekitar setengah jam kemudian, Jeevan menyudahi kegiatannya. Apa yang ia butuhkan sudah dibeli dan kini saatnya kembali ke toko yang tadi. Namun, sepertinya garis takdir sangat memaksanya menelan luka. Untuk kedua kali, Jeevan melihat Mauren dan Rendra.


Kali ini, mereka berada di parkiran. Rendra membukakan pintu mobil untuk Mauren, tetapi tidak turut masuk. Entah mengapa dia membiarkan Mauren pergi sendiri.


Tak ingin melewatkan kesempatan, Jeevan cepat mendekat dan menghampiri Rendra. Sekarang dia lebih percaya diri karena sudah tahu siapa Rendra sebenarnya.


"Kamu OB itu, kan?" teriak Jeevan ketika tiba di belakang Rendra.


Rendra menoleh dan kemudian tersenyum tipis, "Kamu masih ingat?"


"Sudah kuduga, kamu bukan lelaki baik. Kamu menyamar menjadi orang lain pasti punya tujuan, sekarang pun mendekati Mauren pasti karena alasan tertentu," tuduh Jeevan.


Rendra makin melebarkan senyuman, "Sangat hebat! Kamu selalu tahu tentangku, tebakanmu tidak ada yang meleset."


Jeevan memicing. Emosinya kian membara mendengar jawaban Rendra yang menurutnya sangat angkuh.


"Jauhi Mauren! Lelaki penuh kebohongan sepertimu, tidak pantas dekat-dekat dengannya!"


"Atas dasar apa aku harus menurutimu? Mauren saja tidak keberatan dengan keberadaanku, bahkan ... kamu lihat sendiri, kan, tadi dia tertawa bebas. Artinya ... dia bahagia saat bersamaku." Rendra berbangga di hadapan Jeevan.


"Jangan sombong! Jika Mauren tahu kamu telah membohonginya, ceritanya akan lain. Kamu ... tidak akan punya tempat lagi. Jadi, sebelum dia marah dan membencimu, lebih baik jauhi dia dari sekarang." Jawaban Jeevan menyiratkan ancaman.


Rendra tertawa renyah, lantas mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telinga Jeevan.


"Terlambat, Jeevan. Mauren sudah tahu dengan apa yang kulakukan, dan ... dia tidak marah, malah makin lengket, karena dia paham alasanku mendekatinya adalah ... cinta."


"Kamu!" geram Jeevan.


"Kamu hanya masa lalunya, jangan terlalu berambisi untuk kembali. Kamu sendiri yang melepaskan mutiara berharga sepertinya, jadi ... jangan menyalahkan orang lain jika sekarang banyak yang berusaha menggenggamnya." Rendra bicara sambil menepuk pelan bahu Jeevan. Lantas, dia pergi tanpa menunggu sahutan Jeevan.


"Apa kesalahanku sebesar itu, sampai-sampai nggak bisa diperbaiki?" batin Jeevan setelah Rendra meninggalkannya.


"Apa aku harus menyerah dan merelakannya bersama orang lain? Tapi___"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2