
Dengan jantung yang berdetak cepat, Mauren menoleh dan mendapati sosok lelaki yang amat dinantikan sedang berjalan ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Karendra Dirgantara. Dalam balutan kemeja putih panjang yang digulung asal, wajah tampan Rendra terpancar sempurna. Terlebih lagi saat ini dia mengulas senyum menawan yang kadar kemanisannya di atas rata-rata. Mauren sangat terpesona dibuatnya.
"Kamu apa kabar? Maaf banget ya, aku nggak bisa hadir di acara kamu, ada sedikit hal yang ... membuatku ragu untuk datang." Rendra menunduk sambil mengembuskan napas panjang.
Mauren bangkit dan kemudian melangkah mendekati Rendra, yang kala itu berhenti sebelum tiba di dekatnya. Mauren mengabaikan ucapan Rendra yang menanyakan kabar. Dia lebih fokus pada perkataan Rendra yang ragu untuk datang. Ada apa gerangan? Mungkinkah karena dirinya tak istimewa lagi?
"Kenapa?" Satu pertanyaan singkat Mauren layangkan dengan harap-harap cemas.
Rendra tak jua menjawab, bahkan sampai beberapa detik berlalu ia hanya bergeming di tempatnya.
"Rendra!" panggil Mauren.
Rendra mengusap wajahnya dengan kasar, lantas memandang Mauren dengan tatapan sendu, "Boleh aku duduk?"
"Silakan." Mauren tersenyum.
Mereka pun duduk berhadapan di kursi, di dekat jendela. Meski saat ini sudah larut, tetapi Mauren tetap tenang karena ada banyak orang di kantor. Selain itu, ada CCTV yang dipasang hampir di setiap sudut ruangan. Jadi, Rendra tidak mungkin macam-macam terhadap dirinya.
"Mauren, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rendra membuka perbincangan.
"Tanya aja," jawab Mauren.
Sembari menunggu Rendra bicara, Mauren menghubungi OB yang sedang bersih-bersih di bawah. Dia meminta tolong padanya untuk membawakan minuman dan dessert ke ruangan tempatnya berbincang bersama Rendra.
"Bagaimana tanggapanmu terhadap lelaki sederhana, yang tak punya aset apa-apa, yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya hanya mengandalkan tenaga?" tanya Rendra.
Mauren mengernyitkan kening, merasa heran dengan pertanyaan Rendra. Pasalnya, lelaki itu bukan dari kalangan sederhana, melainkan kalangan berada yang memiliki aset besar.
"Apa kamu bisa kasih kesempatan untuk lelaki yang semacam itu?" sambung Rendra.
__ADS_1
Mauren menatap Rendra, tetapi lelaki itu membuang pandangan dan menghindari tatapannya.
"Aku menilai seseorang nggak dari status sosial, tapi dari sifat dan perilakunya. Selama ini kamu udah tahu banyak tentang aku, kan? Kamu pasti tahu bagaimana status sosial Mas Jeevan dan Elsa, tapi dalam waktu lama aku berhubungan baik dengan mereka. Kalau sekarang aku benci dan kecewa, itu karena mereka telah menodai kepercayaan yang kuberikan. Dikhianati orang terdekat itu sakit, sakit banget," ucapnya.
Rendra mengulum senyum, setidaknya ada setitik peluang untuk mengejar Mauren. Setelah berhari-hari merasa pesimis dan bahkan sempat berpikir untuk mundur, sekarang semangat dan keyakinannya perlahan bangkit. Namun, belum sepenuhnya, karena ada hal lain yang membuatnya merasa tak pantas bersanding dengan Mauren.
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu?" Mauren bertanya karena Rendra tak kunjung bicara.
Rendra mengangkat wajah dan menatap Mauren. Mata hitamnya yang amat memikat mengunci tatapan Mauren hingga tak bisa berpaling. Dalam beberapa detik, keduanya hanyut dalam alunan cinta yang tak tergambarkan dengan kata. Masing-masing hati sekadar menyiratkan perasaan dalam sorot mata.
Sampai akhirnya, suasana romantis yang terlukis manis buyar karena langkah seseorang. OB yang diperintah Mauren sudah tiba di sana sambil membawa nampan. Dengan sopan, dia menaruh nampan itu di atas meja. Meski beberapa waktu lalu menjadi rekan Rendra, tetapi sekarang dia tak mengenalinya.
Memang itulah tujuan Rendra menyamar, agar tidak ada yang mengenali. Karena jika tidak, orang-orang yang bekerja sama dengan Elsa akan menyadari keberadaannya dan rencana yang sudah tersusun akan gagal total.
"Silakan diminum!" kata Mauren setelah OB pergi meninggalkan ruangan.
"Iya." Rendra mengangguk dan kemudian menyesap segelas minuman yang disodorkan padanya.
"Silakan aja."
"Bagaimana tanggapanmu terhadap ... anak hasil zina?" tanya Rendra. Suaranya sedikit tertahan karena mengucap kata itu meninggalkan rasa sesak di dada.
"Pertanyaanmu makin aneh. Ada apa sih?" Mauren balik bertanya.
"Cuma ingin tanya, penasaran aja dengan tanggapan kamu." Rendra menjawab asal.
Mauren berpikir sejenak, kemudian menyesap minuman sebelum menjawab pertanyaan Rendra, yang pastinya akan membutuhkan kalimat panjang.
"Kalau terhadap orang tuanya, aku nggak respect. Gimanapun juga zina itu harus dihindari, terlebih lagi jika keduanya atau salah satunya udah berumah tangga. Pernikahan itu ikatan sakral, nggak seharusnya dinodai dengan hal-hal yang semacam itu. Lagi pula, wanita itu wajib menjaga harga diri, sedangkan lelaki wajib menghormati harga diri wanita. Tapi, ini pandangan pribadiku ya. Aku nggak maksa orang lain setuju dengan pandangan ini, karena pendapat orang beda-beda. Cuma ... ya prinsip ini yang kuterapkan dalam hidupku." Mauren menjeda kalimatnya.
__ADS_1
"Tapi, jika terhadap anaknya pendapatku nggak demikian. Dia nggak ikut andil salah, takdir yang menggariskannya lahir di sana. Jadi, selama si anak hidup baik-baik dan nggak mengikuti jejak orang tuanya, aku oke-oke aja. Nggak ngerasa begini begitu, karena kapan dan di mana kita lahir itu takdir yang mengatur," sambung Mauren.
Rendra melebarkan senyuman. Wanita yang dia cintai memang memiliki pemikiran yang luar biasa. Namun, hal itu belum membuat Rendra merasa lega. Dia justru gugup karena setelah ini akan membahas hal yang paling inti, sebuah hal yang akan menentukan sikapnya di kemudian hari, maju atau mundur.
"Ada apa sih? Kenapa pertanyaanmu aneh-aneh?" Mauren kembali bertanya.
"Nggak ada apa-apa, hanya ingin tahu," jawab Rendra.
Beberapa saat kemudian, keduanya saling diam. Masing-masing mata kompak menatap ke luar, ke arah lampu yang gemerlapan di bawah sana.
"Mauren," panggil Rendra beberapa saat kemudian.
"Hmmm." Mauren bergumam sambil menoleh.
"Kalau seandainya aku anak hasil zina yang nggak punya harta benda, apa masih boleh aku mengejarmu?" tanya Rendra, yang lantas membuat Mauren tercengang.
Apa maksudnya?
"Meski aku belum paham dengan maksud pertanyaanmu, tapi akan kujawab. Sekali lagi, aku menilai seseorang dari sifat dan perilaku, bukan status sosial dan asal-usul kelahirannya," jawab Mauren dengan serius.
"Terima kasih." Rendra tersenyum tulus.
"Tapi, aku masih nggak paham apa maksudmu. Kenapa bertanya kayak gitu? Apa ada hubungannya denganmu?" selidik Mauren.
Rendra menghela napas panjang, "Andika Mantofany, lelaki yang kupinjam identitasnya. Sebenarnya dia sepupuku yang udah meninggal. Aku dan dia emang mirip banget, cuma penampilan aja yang berbeda. Dulu, kupikir karena kami sepupu. Ibunya dan ayahku saudara kandung, jadi wajar jika kami mirip. Tapi, belum lama aku menemukan alasan yang jauh lebih masuk akal."
"Alasan apa?" tanya Mauren dengan tidak sabar.
"Aku dan Andika mirip karena___"
__ADS_1
Bersambung...