Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Berniat Pergi


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Paman Mauren—Bramantio Alexander, datang ke Jakarta dan membahas perihal pernikahan bersama Derri. Sebagai keluarga yang terpandang, mereka akan menggelar pesta besar, yang akan diadakan di rumah Mauren. Demi memaksimalkan persiapan, mereka sepakat melangsungkan pernikahan dua bulan lagi.


Awalnya Rendra keberatan karena tenggang waktu itu terlalu lama, tetapi setelah dipikir-pikir lagi persiapan pernikahan juga tidak sebentar. Daripada jalannya acara tak sesuai harapan, akhirnya Rendra setuju.


Karena di sisi lain, Rendra pun harus menuntaskan tanggungan tugas sebelum undur diri dari pekerjaan. Sesuai kesepakatannya dengan Mauren, Rendra akan resign dari kantor lama dan membantu pekerjaan Mauren di Victory. Sedangkan untuk aset dari Derri dan Fadila, Rendra belum mengambil sikap. Ia masih merasa tak pantas mendapatkan semua itu.


Bermodalkan tabungan yang ia kumpulkan selama ini, Rendra malah ingin membuka usaha sendiri di samping membantu sang istri. Rendra yakin, sekecil apa pun usaha jika diniati dan digeluti dengan baik, maka hasilnya tidak akan mengecewakan.


"Kamu yakin resign, Ndra?" tanya Evan—sahabat sekaligus pemilik kantor tempat Rendra bekerja.


"Mau gimana lagi? Bini juga punya usaha, masa malah kubiarin kerja sendiri, sedangkan aku kerja untuk orang lain," jawab Rendra tanpa menoleh. Dia fokus dengan pekerjaan yang sudah dikejar deadline.


"Masih nggak percaya rasanya kalau kamu mau nikah, padahal selama ini nggak ngerti cewek. Kupikir ... malah sukanya sesama pisang."


"Ngomong lagi kalau berani!" Rendra menoleh dan menatap Evan dengan tajam. Namun, yang ditatap malah tertawa keras.


"Kamu 'tuh yang suka pisang, makanya sampai sekarang nggak nikah-nikah. Padahal tuaan kamu dibanding aku," ucap Rendra tak mau kalah.


"Sembarangan, kita itu lahir di tahun yang sama. Nggak beda jauh umurnya, tiga bulan doang," bantah Evan.


"Tetap aja tuaan kamu."

__ADS_1


"Terserah deh." Evan menggeleng-geleng. "Tapi ... salut aku kamu bisa dapetin Mauren. Dia nggak cuma cantik, tapi juga kaya raya dan multitalenta. Bodoh banget suaminya dulu, membuang dia demi wanita kayak Elsa. Cantik sih, tapi kan nggak sekaya Mauren. Ancur kan hidupnya sekarang, nggak kerja kantoran lagi," sambungnya.


"Dia itu pinter, tahu kalau aku yang lebih tulus mencintainya." Rendra menyahut asal.


"Dasar bucin!" ujar Evan, yang kemudian ditanggapi dengan tawa.


Malam itu, Rendra dan Evan lembur hingga larut. Rendra menyelesaikan banyak pekerjaan karena besok tidak masuk. Dia dan Mauren akan melakukan poto prewedding, yang pastinya akan menghabiskan waktu sehari penuh.


Di tempat yang berbeda, Jeevan sedang duduk di tepi ranjang. Dia menatap sepuluh lembar uang ratusan ribu yang baru diterima sore ini. Di toko tempatnya bekerja, gaji memang diberikan per minggu, bukan per bulan.


"Aku ingin pergi dan melupakan dia, tapi___" Jeevan terdiam. Lagi-lagi ingatannya kembali tertuju pada Mauren. Di satu sisi berat meninggalkan, tetapi di sisi lain juga berat jika tetap dekat.


Baru-baru ini, hubungan Rendra dan Mauren menjadi berita hangat di media sosial. Banyak yang menyanjung dan memuji keserasian mereka. Bahkan, tak jarang yang mengutarakan ketidaksabarannya dalam menantikan hari pernikahan, yang akan digelar dua bulan lagi.


"Pergi nggak, ya?" gumam Jeevan sambil menopang dagu.


Malam itu, Jeevan nyaris tidak tidur. Dia terus mempertimbangkan keputusan untuk masa depannya, antara pergi dan tetap di Jakarta.


Keadaan Jeevan saat ini, sangat berbeda jauh dengan Mauren dan Rendra, yang bahagia dalam menyongsong hari istimewa.


___________________


Dingin lantai yang ada di dalam jeruji, menjadi satu-satunya hal yang menemani Elsa hingga dini hari. Setelah divonis kurungan selama tujuh tahun, Elsa lebih banyak murung. Pikirannya sering kosong dan tak pernah lagi menyusun rencana-rencana licik. Kesedihan atas hancurnya masa depan, lebih dominan dibandingkan benci dan kesal kepada rival.

__ADS_1


Di dalam kurungan, Elsa tidak sendiri. Ada dua teman lain yang lebih dulu menghuni ruang itu. Salah seorang bernama Anne, yang usianya sebaya dengannya. Dia tertutup dan pemarah, tak jarang memaki Elsa hanya karena tersenggol sedikit. Seorang lagi bernama Mita, usianya tiga tahun lebih tua dari Elsa. Elsa menyebutnya setengah gila, karena setiap saat hanya tersenyum dan bersenandung, seolah-olah penjara adalah tempat terindah.


"Setelah cita-citaku tercapai, aku akan break sejenak. Aku mau fokus dengan rumah tangga, Mas Jeevan udah ngebet pengin punya anak. Tapi, sebelum itu aku mau ngajak kamu jalan-jalan ke Eropa. Belanja dan menikmati kuliner dengan bebas di sana. Biar mimpimu kesampaian dan nggak ingat-ingat lagi dengan janji palsunya Ezra."


Ucapan Mauren pada waktu lalu terngiang jelas dalam ingatan Elsa. Sahabatnya itu berjanji akan mengajaknya ke Eropa, sebuah tempat yang menjadi impiannya. Dulu, Ezra yang pernah menjanjikan hal itu, tetapi hubungan mereka kandas sebelum janji ditepati.


Kala dirinya sendiri dan terpuruk karena ulah Ezra, Mauren adalah satu-satunya orang yang mengulurkan tangan. Sejak dulu, memang hanya Mauren yang tidak memandangnya sebelah mata, meski banyak beredar gosip bahwa dirinya bukan wanita baik-baik, dan faktanya gosip itu memang benar.


Sebelum mengenal Ezra, Elsa sudah kehilangan kesucian. Bukan sekali dan dengan satu lelaki dia melakukan hal itu, melainkan berulang kali dan dengan lelaki yang berbeda. Dia tak ubahnya seorang wanita malam, mau melakukan apa pun dengan imbalan uang, yang kemudian digunakan untuk mengungguli Mauren.


Sejak dulu, Elsa memang menyimpan iri dan dengki. Dia tidak rela jika orang lain lebih memuji Mauren dibanding dirinya, terlebih soal kecantikan. Namun, bodohnya Elsa tidak berkaca. Dirinya hanya wanita sederhana, jangankan untuk mengungguli, untuk mengimbangi saja butuh uang yang berlimpah.


"Andai saja aku terlahir kaya sepertinya, hidupku nggak akan berakhir begini. Aku nggak mungkin iri dan nggak akan menggoda suaminya. Dengan begitu, semua akan aman-aman aja. Tapi, nyatanya aku malah terlahir dalam keluarga miskin dan tanpa ayah. Mama hanya istri kedua yang nggak mendapat bagian harta. Kenapa takdir tidak adil?" Setetes air mata Elsa lolos begitu saja. Bukan kesalahan yang sangat ia sesali, melainkan takdir yang menciptakannya sebagai anak orang sederhana.


"Makin disesali, rasanya makin sakit. Lupakan, bebaskan, nggak usah dipikir-pikir lagi! Ikuti waktu aja ke mana akan membawa kita. Jika garisnya masih hidup, pasti bisa melewati ujian seberat apa pun itu. Tapi, jika garisnya memang udah berakhir. Ya udah, terima aja. Toh semua yang hidup akhirnya juga mati," ucap seseorang dari belakang Elsa.


Ternyata, dia adalah Mita. Entah sejak kapan dia bangun, tiba-tiba saja sudah ikut duduk sambil memeluk lutut.


"Iya." Elsa menjawab singkat. Mau dijawab bagaimana lagi, nasihatnya sangat menyebalkan.


"Bersyukur, hukumanmu hanya penjara tujuh tahun. Nggak kayak pengalamanku," ujar Mita.


Dalam waktu singkat, wajahnya menampilkan raut murung. Sorot mata pun kosong, seakan-akan pikirannya menerawang entah ke mana. Selama di bui, baru kali ini Elsa melihat Mita serius.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2