
Kisah Keanu Abian Dirgantara sudah hadir, dengan judul Mutiara Milik Tuan Anu. Masih baru dan cuplikan babnya ada di bawah ini👇👇
Burung besi jurusan Jakarta-Bali, tiba-tiba hilang kontak beberapa menit setelah lepas landas. Para FOO dan ATC sangat panik, mereka melakukan berbagai cara untuk menghubungi pilot yang sepertinya keluar jalur.
Sementara itu, di atas ketinggian 26.000 kaki, para penumpang yang akan menuju Pulau Dewata juga panik. Pasalnya, pesawat yang mereka tumpangi mulai hilang kendali.
"Ahhh!" teriak beberapa penumpang wanita ketika kendali pesawat makin kacau.
Di antara para penumpang yang ketakutan, ada salah seorang tuan muda yang duduk diam dan berusaha tenang. Dia adalah CEO di perusahaan terkemuka di Jakarta, dan kepergiannya ke Bali untuk bisnis. Namun, tak disangka malah mendapat musibah. Pesawat yang membawa dirinya jatuh di sekitaran Laut Jawa.
______________
Debur ombak yang pelan dan berirama, menjadi melodi paling merdu bagi Mutiara Fajaryani—gadis sederhana yang sejak kecil tinggal di Pulau Gading, sebuah pulau kecil yang jauh dari jangkauan.
Seperti rutinitas sebelumnya, setiap pagi Tiara selalu datang ke pinggir pantai untuk menunggu nelayan. Dia akan membeli beberapa ikan dan kemudian menjualnya di warung. Sebelum meninggal, ayahnya telah membangun warung makan khas ikan bakar di kawasan pantai. Dari situlah Tiara bisa bekerja dan mendapat pundi-pundi rupiah. Meski tak banyak, tetapi setidaknya cukup untuk makan sehari-hari. Tiara tinggal bersama ibunya yang renta dan kedua adiknya yang masih SMP dan SD.
"Eh, itu apa ya? Kok kayak mirip manusia?" gumam Tiara saat melihat sesuatu yang berwarna orange di dekat batu karang.
Tiara berlari mendekat dan ternyata benar, apa yang dia lihat memanglah manusia. Dia adalah seorang lelaki yang pingsan dan tengkurap di sana. Ada pelampung yang melekat di tubuhnya, entah apa yang terjadi sebelumnya.
"Tolong! Tolong!" teriak Tiara dengan panik.
Wajah lelaki itu sudah pucat dan ada banyak luka di sana sini. Namun, denyut nadinya masih ada. Tiara terus berteriak agar lelaki itu bisa diselamatkan sebelum terlambat.
Tak berselang lama, beberapa orang datang mendekati Tiara. Mereka sama kagetnya saat melihat lelaki itu. Lantas, dengan sigap mereka membawanya ke puskesmas.
Sesampainya di sana, bidan segera memberikan pertolongan dengan peralatan alakadarnya. Pulau Gading memang daerah yang tertinggal. Fasilitasnya sangat terbatas, termasuk lembaga pendidikan dan kesehatan. Selain itu, di sana juga tidak ada jaringan. Bahkan, listrik pun hanya mengandalkan energi surya.
"Bagaimana keadaannya, Bu?" tanya Tiara kepada Anisa—satu-satunya bidan yang ada di puskesmas Pulau Gading.
"Lukanya cukup parah, sepertinya tidak bisa siuman dalam waktu dekat," jawab Anisa.
__ADS_1
"Begitu ya, Bu." Tiara menatap lelaki asing itu dengan iba. "Mmm, apa kita bawa ke kota saja, ya?" sambungnya.
Anisa mengembuskan napas panjang, "Itu memang ide bagus, Mbak, karena tenaga dan fasilitas di sana lebih memadai. Tapi ... dalam kondisi yang seperti ini, bagaimana cara kita membawanya?"
Tiara terdiam. Daerah tempat tinggalnya memang sulit diakses. Selain sempit, jalanan ke sana juga terjal dan penuh bebatuan. Hanya motor yang bisa melintas.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantunya, kita doakan saja ya, Mbak, semoga lelaki ini bisa tertolong," ujar Anisa.
"Baik, Bu." Tiara mengangguk dengan penuh harap.
Dipandanginya wajah pucat yang masih setia menutup mata. Dalam hatinya Tiara sempat menebak bahwa lelaki itu bukan orang sembarangan. Terbukti dari kulitnya yang putih dan tampak terawat, juga pakaian yang terlihat seperti kain mahal. Sayangnya, dalam pakaian itu tidak terdapat kartu identitas, jadi Anisa tak bisa menguak nama dan alamat lelaki itu.
Waktu terus berlalu dan tak terasa sudah setengah hari Tiara berada di puskesmas. Karena sejak pagi belum makan, sekarang Tiara merasa lapar. Lantas, dia pamit pulang dan berjanji akan kembali sore nanti.
"Mudah-mudahan dia lekas siuman," batin Tiara sepanjang perjalanan menuju rumahnya.
Bukan aspal atau setapak yang mulus, melainkan jalanan yang penuh bebatuan, yang akan penuh lumpur ketika musim hujan tiba. Dulu, Tiara sempat berpikir untuk merantau guna mengubah perekonomian keluarga. Namun, dia tidak tega meninggalkan ibu dan adik-adiknya. Alhasil, dia tetap tinggal di rumah dan mengais rezeki alakadarnya. Bertahun-tahun dia menjalani kehidupan yang jalan di tempat.
"Kamu sudah pulang, Nak? Bagaimana dagangan hari ini, laris?" sambut Istiana—ibu Tiara.
"Aku hari ini tidak jualan, Bu. Tadi pagi pas menunggu nelayan, aku menemukan lelaki pingsan di dekat karang. Sekarang udah dirawat di puskesmas dan tadi aku menunggui dia," jawab Tiara.
Istiana tersentak mendengar penuturan anaknya. Berulang kali dia memanjatkan doa untuk kesembuhan lelaki yang belum diketahui seperti apa sosoknya.
Setelah berbincang lama, Tiara dan ibunya makan bersama. Sedangkan kedua adiknya—Nila dan Nasya, sudah makan lebih dulu dan sekarang sedang belajar di kamar.
_________________
Satu minggu telah berlalu, tetapi lelaki yang pingsan tempo hari belum juga siuman. Tiara tak bosan menjenguknya, setiap siang dan sore dia selalu datang ke puskesmas. Entah duduk di dekat lelaki itu dan mengajaknya ngobrol atau sekadar berbincang dengan Anisa dari depan pintu.
Tak terkecuali sore ini, Tiara menyempatkan diri datang ke puskesmas setelah pulang dari warung. Seakan mendapat durian runtuh, kedatangan Tiara kali ini tidak sia-sia. Lelaki itu sudah siuman.
__ADS_1
"Detak jantungnya sudah bagus, Mbak, tapi ... ingatannya terganggu. Dia tidak tahu siapa namanya dan di mana rumahnya," ujar Anisa ketika Tiara masuk ke ruangan.
"Kasihan sekali," gumam Tiara sambil memandangi lelaki itu.
Wajahnya terlihat lebih tampan dibandingkan dengan kemarin, sewaktu ia masih pingsan. Namun, tatapannya tampak kosong, bahkan saat Anisa dan Tiara berbincang banyak, lelaki itu hanya diam dengan bibir yang mengatup rapat.
"Untuk sementara, dia akan saya rawat dulu di sini, Mbak. Walaupun ingatannya belum pasti pulih, tapi setidaknya kondisi kesehatannya membaik," ucap Anisa.
"Iya, Bu. Lakukan saja yang terbaik untuknya," jawab Tiara.
Sore itu, Tiara berdiam diri cukup lama di sana, bahkan sampai senja hampir padam barulah dia beranjak pulang.
Keesokan harinya, Tiara kembali menjenguk. Namun, lelaki itu belum juga mengingat identitasnya. Setelah sadar selama dua hari, barulah dia mendapatkan sedikit ingatan.
"Aku ingat siapa namaku," ucap lelaki itu ketika Tiara mendatanginya dengan semangkuk bubur.
"Benarkah? Siapa namamu?" tanya Tiara dengan antusias.
"Anu." Lelaki itu menjawab singkat.
"Hah!" Tiara membelalak. Nama yang sangat unik, dan Tiara kurang yakin dengan jawaban itu.
"Iya, namaku Anu."
Tiara diam sejenak, lalu menatap wajah lelaki itu dengan lekat. Tidak ada kebohongan di sana, sepertinya memang benar Anu adalah namanya.
"Siapa namamu kemarin?" Anu balik bertanya.
"Aku Tiara." Tiara tersenyum tipis. "Mmm, kamu ingat nggak kenapa bisa ada di laut? Di tubuhmu ada pelampung, apa sebelumnya kamu naik kapal dan kecelakaan?" sambungnya.
Anu menatap lurus ke depan, lalu menggeleng tanpa ekspresi. Tiara hanya bisa menghela napas panjang, sepertinya harus banyak bersabar untuk mengetahui informasi tentang Anu.
__ADS_1