
Matahari sudah merangkak tinggi, tetapi dua insan yang berbaring di bawah selimut tebal masih asyik mengarungi mimpi. Dengan posisi tubuh yang saling berimpitan dan lengan saling memeluk pinggang, keduanya sangat tenang dalam lelap.
Mereka adalah Rendra dan Mauren. Usai mengikrarkan janji suci dan melangsungkan acara resepsi, keduanya saling menikmati manis cinta.
Disaksikan kelopak mawar yang layu tertindih, juga roncean melati yang banyak patah karena genggaman tangan-tangan kasar, peluh dan napas mereka berbaur bebas hingga mencapai batas. Sampai mereka tak sadar bahwa separuh malam sudah dihabiskan dengan satu adegan.
Lelah dan letih tiada arti, semua terkikis rasa bahagia karena berhasil memiliki satu sama lain. Sampai akhirnya, semburat jingga di ufuk timur mengantar mereka pada lena. Dengan berpelukan dan saling menggenggam, keduanya memejam sambil menikmati ngilu dan nyeri akibat aktivitas barusan.
Kini, sudah enam jam berlalu mereka terlelap. Rendra belum ada tanda-tanda membuka mata, hanya tangannya yang masih memeluk erat pinggang Mauren. Sedangkan Mauren, ia mulai mengerjap dan menggeliat pelan.
Mauren menguap sebelum membuka mata secara sempurna. Lantas, menoleh ke samping dan tersenyum saat mendapati wajah tampan Rendra berada di tepat di hadapannya. Hidung mancung, bibir sensual, serta alis tebal, tampak sempurna di mata Mauren. Terlebih lagi saat lelaki itu tersenyum, lesung pipinya membuat Mauren tak berpaling dari pesonanya.
"Di suamiku," batin Mauren dengan pipi yang bersemu.
Menatap wajah Rendra membuatnya teringat dengan detik demi detik semalam. Nyaris tak ada waktu yang mereka lewati tanpa memuji satu sama lain. Sungguh, sebuah hal yang manis dan romantis.
"Aku udah belajar dari kesalahan lama, mudah-mudahan kali ini nggak gagal lagi." Mauren kembali membatin.
Dengan tetap menatap Rendra, Mauren mengusap perutnya yang rata. Tidak ada pengaman atau pencegahan apa pun di antara mereka, dan Mauren sudah siap dengan kemungkinan terbesarnya—hamil. Dalam pernikahan ini, Mauren tidak menunda-nunda lagi. Biarlah sang buah hati hadir cepat, harapannya itu bisa membuat ia dan Rendra makin harmonis.
Selain kehamilan, Mauren juga banyak belajar tentang bahasa cinta. Dia masih terngiang dengan ucapan Elsa kala itu, yang menyebutnya seperti gedebok pisang. Kini, Mauren banyak memperbaiki diri dari kesalahan itu.
Karena terlalu fokus dengan pikirannya sendiri, Mauren sampai tak sadar jika tangannya sudah mengusap mesra rahang Rendra, hingga sang empunya terbangun dan balik menggenggam tangannya.
"Mau lagi, ya?" goda Rendra dengan suara seraknya.
Mauren terkesiap dan makin tersipu. Lantas, dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya di dada Rendra.
"Jangan berlebihan, masih banyak yang harus kita lakukan hari ini," ucap Mauren.
"Kan ada Bibi." Rendra menyahut sambil merapikan rambut Mauren yang kusut dan berantakan. Namun, ia menyukainya.
__ADS_1
"Jangan ngandalin Bibi doang, nanti kalau ada yang ketinggalan kita sendiri yang repot. Lagian yang masalah kerjaan, mana bisa ngandalin dia," jawab Mauren.
Menurut rencana yang telah disusun sejak jauh-jauh hari, Rendra dan Mauren akan bulan madu ke Paris. Visa dan tiket keberangkatan sudah dipersiapkan, tinggal mengemasi barang-barang yang perlu dibawa dan memberikan arahan untuk orang-orang kantor. Rencananya, mereka akan terbang lusa pagi.
"Ya udah, kalau gitu nanti aku aja yang berkemas dan ngasih arahan, kamu istirahat. Gimana? Mau lagi, kan?" Rendra kembali menggoda.
"Ish, maksa deh." Mauren tertawa renyah, sembari memukul dada Rendra yang terbuka bebas.
"Nggak maksa, Sayang, aku cuma nanya."
"Katamu aja itu," sahut Mauren.
Cukup lama mereka berbincang dan bercanda. Sampai akhirnya, Mauren berpamitan mandi dan Rendra malah mengikutinya.
Tiga jam kemudian, Mauren dan Rendra sudah selesai membersihkan diri. Masing-masing mengenakan pakaian santai dan duduk berhadapan di balkon kamar. Rendra dan Mauren menikmati sarapan, yang sebenarnya sudah lewat dari jam makan siang.
"Meski nggak pernah belajar, tapi ... hasil karyaku bagus juga ya," ujar Rendra di sela-sela suapannya. Dia menatap puas leher sang istri yang terdapat banyak bekas merah.
Rendra menatap Mauren dengan lekat, "Kamu meragukanku, Sayang?"
Mauren tertawa renyah, "Aku cuma bercanda, serius banget sih nanggepinnya."
"Takut aja, mana tahu kamu beneran ragu." Rendra menjawab cepat.
"Enggak lah, aku percaya banget sama kamu." Mauren tersenyum manis dan hati Rendra makin berbunga-bunga dibuatnya.
Setelah itu, mereka saling diam dan hanya menikmati hidangan. Tidak ada yang bicara, hanya gemerisik angin dan suara kunyahan yang terdengar.
Usai menghabiskan semua makanan dan tinggal minuman saja yang tersisa, Rendra kembali bicara. Kali ini, dia mengungkit tentang Jeevan.
"Hadiah yang semalam, mau kamu apakan?" tanya Jeevan dengan sedikit ragu, masih khawatir jawaban Mauren membuatnya tak nyaman.
__ADS_1
"Mungkin kuberikan pada Nina, soalnya cuma dia ART yang muda. Kalau sebaya Bi Inah, kan ya nggak cocok pakai kalung model gitu. Nanti Bi Inah dan yang lain aku kasih tips aja biar adil," jawab Mauren.
Rendra sedikit tersenyum.
"Kamu nggak pengin pakai?" tanyanya.
"Kalung yang kubeli sendiri, juga kalung yang dibelikan kamu, masih sangat cukup untuk kupakai. Banyak pilihan untuk dipadukan dengan style baju-bajuku. Jadi, untuk apa aku nyimpen hadiah dari Jeevan. Dia hanya masa lalu, saat hubungan kami berakhir, apa pun tentangnya juha harus berakhir." Mauren menjawab dengan sungguh-sungguh. Matanya pun menatap dalam-dalam dan menyiratkan keseriusan.
Di hadapannya, Rendra bernapas lega. Rasa cemburu yang tadi hampir menyembul, kini kembali menghilang dari dasar hati. Dengan senyum yang menawan, Rendra menggenggam tangan Mauren.
"Terima kasih ya, Sayang," ucap Rendra.
"Aku istrimu, sudah seharusnya aku melakukan ini," jawab Mauren.
Hadiah dari Jeevan adalah kalung dengan liontin berbentuk hati, juga ada selembar surat yang ia sertakan di dalamnya.
Pada anniversary pernikahan kita yang pertama, aku berjanji akan memberimu kalung, yang kemudian hilang saat perjalanan ke restoran yang kita janjikan. Tapi, maaf, sebenarnya aku bohong. Kalung itu tidak hilang, melainkan kuberikan kepada Elsa. Aku nggak sempat beli lagi karena waktunya sudah mepet, memang waktu itu aku terlalu lama bersama Elsa. Sekali lagi maaf, ya. Entah ini akan kamu pakai atau sekedar disimpan saja, yang penting niatku untuk menebus kesalahan lalu. Maaf, kalungnya tertunda sampai selama ini. Bahkan, sekarang untuk hadiah pernikahanmu, bukan anniversary kita. Semoga kamu bahagia, Mauren.
Saat pertama kali melihat kalung di dalam kotak hadiah, Mauren dan Rendra sempat kaget, apa maksudnya? Rendra sampai cemburu dan terus menggerutu. Beruntung suasana hatinya kembali membaik setelah Mauren merayunya. Kini, lelaki itu kembali mengungkit dan beruntung jawaban Mauren tidak sesuai dengan harapannya. Dia memang tidak ikhlas jika Mauren memakai kalung itu. Bukan karena cemburunya yang tidak wajar, melainkan karena sikap Jeevan di masa lalu. Lelaki brengsek itu sudah menyakiti Mauren, sangat tidak pantas jika sekarang masih mendapat tempat di hati.
"Sayang, semoga ini menjadi pernikahan terakhir kita ya," ucap Rendra tanpa melepaskan genggaman.
"Iya. Aku juga berharap begitu. Meski kamu bukan yang pertama, tapi saat ini, hanya kamu satu-satunya nama yang ada di hatiku." Mauren menjawab sambil membalas genggaman Rendra.
Berbeda jauh dengan Rendra dan Mauren yang asyik memadu kasih, di tempat yang berbeda Jeevan merenung di dalam bus, yang sebentar lagi akan berangkat dan membawanya ke Bali.
"Selamat tinggal, Mauren. Selamat tinggal kenangan indah," batin Jeevan. Sedih, sendu, berat, tidak ikhlas, bercampur aduk menjadi satu dan membuat perasaannya kacau tak karuan. Sejujurnya Jeevan tak rela meninggalkan Jakarta, tetapi tak ada pilihan lain. Mauren sudah menikah.
Ketika Jeevan masih terpaku dalam renungannya, seseorang tiba-tiba datang dan duduk dengan kasar di samping Jeevan.
Jeevan tersentak dan menoleh. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat sosok wanita yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
Bersambung...