
Air mata Elsa menetes ketika polisi memvonis dirinya sebagai tersangka dan kemudian menahannya. Meski sanksi belum diputuskan dan masih menunggu pemeriksaan selanjutnya, tetapi Elsa tak yakin jika dirinya bisa bebas. Bukti dan saksi sudah terkumpul. Sepertinya tidak ada guna walau dirinya terus bungkam dan enggan mengakui kesalahan. Pada akhirnya, hasil final adalah penjara.
Walaupun ada kesempatan mengajukan banding, tetapi tanpa bukti dan dukungan, apalah artinya?
Saat ini, Elsa benar-benar sendiri. Tidak ada lagi orang yang berdiri di pihaknya. Ezra, Jeevan, Derri, mereka sudah mencampakkan dirinya. Sementara Enggar, Altan, dan yang lain, mereka pun sama-sama dikurung. Tak mungkin ada yang memikirkan dirinya, masing-masing orang hanya memikirkan kebebasannya sendiri. Tidak peduli meski menjerumuskan rekan, yang penting diri sendiri bisa bebas dari jerat hukuman.
"Andai aja aku nggak bodoh," sesal Elsa dalam kesendiriannya.
Tanpa sadar, tubuhnya terjatuh dan menyatu dengan dingin lantai. Runtutan peristiwa kelam kembali terlintas dalam ingatan, ia menorehkan luka dan sesal yang teramat besar, yang pasti akan diingat sepanjang hidupnya.
Tiga hari yang lalu, Elsa sedang berhias di dalam kamarnya. Lantas, Derri datang dan memeluknya dari belakang.
"Sayang, sepertinya kekacauan yang kamu buat sudah membuahkan hasil. Victory langsung diserang netizen dan sekarang ratingnya anjlok. Para korban pun sudah melapor dan kasus ini pasti akan secepatnya ditindaklanjuti," ujar Derri.
"Tentu saja, Mas. Bahkan, bukan hanya ratingnya yang anjlok, tapi juga harga sahamnya. Mauren yang angkuh itu akan dipenjara dan Victory bisa kukuasai." Elsa tersenyum licik.
"Sayangku memang cerdas." Derri mencubit gemas pipi Elsa. "Tapi, Sayang, apa kamu nggak penasaran dengan kekacauan itu?" sambungnya.
"Maksudnya, Mas?"
Derri tersenyum sambil mengeratkan pelukan, "Aku baru saja membeli apartemen di Ibu Kota. Rencananya, bulan depan akan memulai bisnis di sana, jadi aku lebih dulu menyiapkan hunian biar nanti nggak repot. Apa kamu nggak ingin melihat langsung kehancuran Mauren dan Victory? Apa puas jika hanya memantaunya dari sini?"
Elsa menatap suaminya, "Maksud Mas Derri, sebaiknya aku pergi ke Jakarta dan tinggal di apartemen itu? Biar tahu secara langsung gimana hancurnya Mauren?"
"Bukankah itu sangat menarik?" Derri menaikkan kedua alisnya.
Elsa berpikir sejenak dan kemudian tersenyum lebar. Ide yang disarankan Derri sangat brilliant. Selain puas karena melihat secara langsung, kesempatannya untuk membeli saham di Victory pun lebih besar, karena dirinya bisa bergerak sendiri. Ah, sungguh menguntungkan menikah dengan Derri. Meski sudah tua, tetapi dia sangat peka dan banyak uang.
"Mas, aku jadi pengin pergi ke sana," ujar Elsa.
"Pergilah! Tiga atau empat hari lagi aku akan menyusul. Maaf, belum bisa menemanimu sekarang. Aku masih ada kerjaan di sini. Tahu sendiri, kan, Rendra sudah kembali ke Medan. Kasihan jika semuanya dibebankan pada Kavin," ucap Derri.
"Nggak apa-apa, Mas. Selesaikan dulu pekerjaan kamu. Aku bisa jaga diri kok di sana." Elsa makin melebarkan senyuman.
"Istri yang baik. Aku jadi makin cinta, Sayang." Usai berucap, Derri mengecup kening Elsa dengan mesra.
Malam itu juga, Derri memesankan tiket untuk Elsa. Dia memilih penerbangan yang paling pagi agar istrinya segera tiba di Ibu Kota.
Sesuai dengan rencana, pagi-pagi sekali Elsa berangkat ke bandara dan terbang ke Jakarta. Dengan perasaan yang luar biasa bahagia, Elsa menuju apartemen baru milik Derri. Beruntung, sejak kecil dia hidup di Jakarta, jadi tidak kesulitan saat mencari alamatnya.
Hari pertama di apartemen, semua berjalan normal. Tidak ada kejadian yang berarti. Elsa hanya menikmati kemenangannya karena saat itu pabrik Victory sudah diamankan polisi.
Akan tetapi, ada hal berbeda yang terjadi keesokan harinya. Sebelum tengah hari, ada seseorang yang datang ke apartemen. Elsa sangat terkejut, tak menyangka jika lelaki itu akan datang menemuinya.
"Rendra!"
"Ibu, boleh aku masuk?" tanya Rendra dengan kepala yang setengah menunduk.
"Tentu saja. Ayo sini, jangan sungkan!" Elsa mempersilakan Rendra dengan ramah. Dia melihat sesuatu yang beda dalam tatapan Rendra kali ini.
"Kemarin aku telponan sama Papa, dan dari sana jadi tahu kalau Ibu pergi ke sini." Rendra memberikan penjelasan terkait kedatangannya.
__ADS_1
"Iya, kemarin pagi aku tiba di sini." Elsa mengangguk. "Kamu ... bukannya lagi di Medan? Kok tiba-tiba ada di sini?" sambungnya.
Rendra yang kala itu sudah duduk di sofa, menunduk sambil mengusap wajah, seakan-akan ada beban berat yang memenuhi pikirannya.
"Rendra!" panggil Elsa.
"Ibu percaya nggak, kalau aku bela-belain terbang ke sini hanya demi ... Ibu," ucap Rendra.
"Apa maksudmu?" Elsa mulai gugup. Jantungnya berdetak cepat mendengar jawaban Rendra. Apakah lelaki itu sudah luluh padanya? Satu pertanyaan yang terus mengusik benak Elsa.
"Ibu tahu nggak kenapa selama ini aku bersikap dingin?" Rendra menatap Elsa dengan sendu.
"Kenapa?"
"Karena aku nggak rela Ibu berhubungan dengan Papa. Andai aja ada haknya, aku akan mengatakan bahwa aku ... cemburu. Ibu, seburuk itukah aku di matamu? Menurutmu, masih lebih baik Papa kah?"
Perasaan Elsa melambung tinggi ketika mendengar pengakuan Rendra. Lelaki muda dan tampan yang selama ini sering diharapkan, kini datang dan menyatakan rasa cemburunya. Sungguh anugerah yang tiada duanya.
"Rendra, kamu ... serius dengan ucapanmu?" tanya Elsa.
"Apa aku terlihat bohong?" Rendra balik bertanya.
Elsa menatap Rendra cukup lama, dan tak menemukan segurat dusta di matanya. Dalam penglihatan Elsa, hanya ketulusan yang tampak jelas.
"Rendra ... aku dan ayahmu baru menikah siri. Jika kamu memang mencintaiku, kurasa ... masih belum terlambat untuk memulai hubungan." Elsa beranjak dari duduknya dan berpindah ke samping Rendra.
"Ibu ... serius?"
"Nggak. Aku ingin memanggilmu ... Sayang," jawab Rendra.
"Kalau begitu lakukan saja."
"Tapi, bagaimana dengan Papa? Dia mencintaimu dan ... bukannya kamu juga mencintainya?" Rendra bertanya dengan ragu-ragu.
"Dibandingkan denganmu, perasaanku padanya nggak ada separuhnya. Pelan-pelan Mas Derri pasti bisa ngerti, soal hati nggak bisa dipaksa. Lagi pula ... bukankah aku lebih pantas denganmu daripada dengannya?" jawab Elsa.
"Iya sih, tapi___"
"Kalau kamu ragu, kita rahasiakan dulu hubungan ini," pungkas Elsa.
Rendra mengangguk, "Ide yang bagus. Aku setuju."
Elsa pun tersenyum lebar, dalam hatinya bersorak girang.
"Ternyata ... ini maksudnya kemarin memberiku hadiah gelang. Rupanya, dia tertarik padaku. Aku memang cantik dan memesona, hanya lelaki abnormal yang nggak terpikat. Jeevan yang udah punya istri model aja jatuh juga dalam pelukanku, apalagi lelaki lajang yang kabarnya belum pernah pacaran macam Rendra. Sekali saja kukasih pengalaman panas, pasti akan ketagihan dan tergila-gila padaku," batin Elsa.
Akhirnya, seharian Rendra berdiam diri di apartemen bersama Elsa. Mereka berbincang dan bercanda bersama, layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Bedanya, Rendra tidak melakukan sentuhan fisik yang terlalu intim, sebatas memeluk dan mengusap kepala saja. Namun, hal itu tidak berlaku ketika malam tiba. Obrolan mereka mulai menjurus pada sesuatu yang vulgar.
"Sayang, kamu ... nggak ada niat ngasih aku apa gitu?" pancing Rendra dengan diiringi kerlingan nakal.
"Kamu mau dikasih apa, bilang aja," jawab Elsa.
__ADS_1
"Aku belum pernah melakukannya, tapi ... sangat penasaran. Aku merasa beruntung jika kamu mau mengajariku," ujar Rendra langsung pada intinya.
Elsa mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Rendra, "Kamu mau di mana belajarnya?"
"Di sini boleh?" Rendra menatap Elsa dengan lekat.
"Tunggu sebentar."
Elsa beranjak dan pergi ke kamarnya. Beberapa saat kemudian, dia kembali ke ruang tengah dengan penampilan yang jauh berbeda. Bukan lagi dress rumahan yang melekat di tubuhnya, melainkan lingerie merah menyala dengan dalaman yang indah berenda. Ekspresi wajahnya sayu menggoda, menggugah hasrat siapa pun yang memandangnya.
"Kamu sangat cantik, Sayang," puji Rendra.
"Dan kecantikan ini ... hanya untukmu. Malam ini, kamu bebas menikmatinya, karena aku ... adalah milikmu," jawab Elsa yang kala itu sudah duduk di pangkuan Rendra.
Baru saja Elsa mengalungkan tangannya di leher Rendra, tiba-tiba ada langkah kasar yang menuju tempat mereka. Elsa dan Rendra menatap ke sumber suara, alangkah terkejutnya mereka saat melihat sosok Derri.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Derri.
"Mas, aku bisa jelasin. Ini nggak___"
"Keterlaluan kamu, Elsa! Bisa-bisanya selingkuh dengan anakku sendiri! Kurang apa aku selama ini? Aku rela meninggalkan kerjaan demi kamu, tapi apa yang kudapat? Kamu malah main gila dengan Rendra!" murka Derri.
"Mas___"
"Apa yang kulihat sekarang sudah cukup menjelaskan semuanya. Elsa, detik ini juga aku talak kamu. Mulai sekarang kita bukan suami istri lagi. Kita cerai!" pungkas Derri dengan napas yang memburu. Tanpa segan, dia menceraikan Elsa saat itu juga.
"Pa, jangan begini! Aku bisa menjelaskan semuanya, Pa!" teriak Rendra.
"Persetan dengan penjelasan kalian!" bentak Derri. Lantas, dia pergi meninggalkan Elsa dan Rendra.
"Sayang, aku akan membujuk Papa. Kamu baik-baik ya malam ini, besok aku akan datang lagi," ujar Rendra kepada Elsa.
"Iya, kamu juga hati-hati ya."
Beberapa detik kemudian, Rendra pergi menyusul Derri. Sementara Elsa, kembali ke kamarnya dengan perasaan yang tak menentu. Di satu sisi dia bahagia karena mendapatkan cinta Rendra, tetapi di satu sisi merasa takut jika sikapnya menyakiti Derri dan membuatnya bertindak nekat.
"Nggak mungkin, Rendra pasti melindungiku," batin Elsa berusaha menenangkan hatinya.
Malam itu, Elsa tak bisa beristirahat dengan nyenyak. Ada perasaan yang sangat mengganjal dalam benak.
Sampai akhirnya, pagi pun tiba dan Rendra benar-benar kembali mendatanginya. Elsa merasa tenang ketika melihat sang kekasih. Harapannya, masalah Derri bisa diatasi dan dirinya bisa menjalin hubungan yang indah dengan Rendra.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tak lama setelah Rendra masuk, polisi datang dan menangkapnya. Dia menjadi tersangka dalam kasus yang menimpa Victory.
"Aku benar-benar datang dan memberimu gelang yang lebih asli dibanding tempo hari. Kamu licik, tapi aku lebih licik. Kamu masih mengira aku menyukaimu, hmm?" bisik Rendra sebelum Elsa masuk ke mobil polisi.
"Sial! Sial! Sial! Bisa-bisanya aku percaya dengan sandiwaranya! Dasar pria brengsek! Kenapa nggak mati saja kamu!" umpat Elsa dalam batin.
Napasnya memburu, bahkan dadanya sampai naik turun tak beraturan. Setiap kali mengingat kejadian itu, emosinya langsung membuncah. Gara-gara kelicikan Rendra, sekarang dirinya dipenjara.
Bersambung...
__ADS_1