Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Kasmaran


__ADS_3

Rendra sangat malu karena cincin permata yang dipilihnya tidak pas di jari Mauren, terlalu besar. Sewaktu membeli, dia hanya mengira-ngira saja. Karena ingin memberi kejutan, maka tidak bertanya berapa ukuran jarinya. Rendra tak menyangka jika akhirnya malah kacau seperti ini.


"Maaf," sesal Rendra.


Mauren tersenyum lebar, "Nggak apa-apa. Bisa dipakai di sini kok."


Rendra melirik sekilas, cincin yang seharusnya melingkar di jari manis, sekarang melingkar di telunjuk. Konyol, tetapi mau mau bagaimana lagi. Dia yang payah dalam memilih ukuran.


"Kalau ada waktu nanti kita tukar aja, pilih cincin yang lebih cocok untuk kamu," ujar Rendra.


"Dasar payah!" ledek Kavin. Dia tak bisa berhenti tertawa melihat tingkah adiknya. Rendra telah merusak suasana dan mengubah adegan romantis menjadi komedi.


"Sudah-sudah, jangan ribut. Malu, lagi bertamu," lerai Derri.


Tak lama kemudian, Fadila dan Diva masuk sambil membawa seserahan. Nina pun turut serta membantu mereka. Mauren terharu dengan seserahan yang Rendra bawa. Meski jumlahnya hanya lima kotak, tetapi sangat mewah. Ada gaun putih bertabur permata, yang sekilas seperti gaun pengantin, lengkap dengan high hells-nya. Ada set lengkap kosmetik produk Victory. Ada tas dan dompet branded. Ada aksesori rambut yang bermacam-macam bentuknya. Terakhir, set perhiasan black pearl yang terdiri dari kalung, gelang, dan anting-anting.


"Ndra, ini___" Mauren menatap seserahan yang diletakkan di atas meja.


"Untuk kamu. Sebagai hadiah ulang tahun, juga hadiah karena kita resmi menjadi pasangan." Rendra tersenyum lebar.


"Terima saja, Nak, jangan sungkan. Ke depannya kita adalah keluarga. Mulai sekarang, jangan panggil pak, tapi panggil papa saja," ucap Derri.


"Baik ... Pa." Mauren sedikit kaku saat memanggil Derri dengan sebutan 'pa'.


"Setelah ini, kamu maunya bagaimana? Saling mengenal dulu atau langsung pada hubungan yang serius? Apa pun keputusanmu, kami sudah siap. Nanti, kita bahas bersama-sama dengan keluargamu," ujar Derri.


"Pa, aku dan dia udah saling kenal. Dipercepat aja lah pernikahannya," sela Rendra.


"Ndra, diam dulu. Papa mau mendengar jawaban Mauren," kata Derri.


"Kan cuma berpendapat, Pa." Rendra menggerutu.


"Saya ada paman dari ayah yang tinggal di luar kota. Beliau adalah satu-satunya orang yang bisa menjadi wali saya. Nanti, saya akan menghubungi beliau untuk membahas ini." Mauren menjawab perkataan Derri.


Dalam batinnya Rendra bersorak girang karena jawaban Mauren seakan-akan menyiratkan kesiapan. Tidak ada niatan menunda pernikahan dalam maksud kalimat tersebut.


"Akhirnya, aku berhasil meluluhkan hati Mauren. Semoga hubungan kami tetap lancar sampai pelaminan. Aku udah nggak sabar untuk membahagiakan dia dalam ikatan halal," batin Rendra.

__ADS_1


Karena pembicaraan sudah mencapai hasil akhir, Derri dan yang lain pamit undur diri. Namun, Mauren menahannya dan mengajak mereka makan bersama terlebih dahulu. Derri tidak bisa menolak. Selain karena hidangan sudah disiapkan, Rendra juga bersikeras menerima tawaran Mauren. Akhirnya, mereka pindah ke ruang makan dan bersama-sama menyantap sajian.


Setelah selesai, Derri dan yang lain pamit pulang, tetapi tidak dengan Rendra. Lelaki itu tetap tinggal dengan alasan mengantar Mauren ke kantor, sebelum pergi ke tempat kerjanya sendiri. Rendra terpaksa membiarkan ayah dan kakak pulang ke apartemen tanpanya karena ada rapat yang harus ia hadiri.


"Kamu terlalu percaya diri nggak sih, tiba-tiba datang ke sini bawa keluarga, tanpa ngasih tahu aku pula. Kalau tiba-tiba aku tolak gimana?" ujar Mauren ketika Derri dan yang lainnya sudah pergi, menyisakan dirinya dan Rendra di ruang tamu.


"Kamu cinta sama aku, mana mungkin nolak," jawab Rendra dengan santainya.


"Sok tahu." Mauren mencibir sambil membuang muka.


"Buktinya, diterima juga kan," jawab Rendra tak mau kalah.


"Iya, iya," sahut Mauren tanpa menoleh. "Ya udah, aku ganti baju dulu. Katanya kamu ada rapat, nanti telat."


"Tunggu!" Rendra menarik tangan Mauren yang hendak melangkah.


"Ada apa?"


Rendra mengeratkan genggaman sambil melangkah lebih dekat, hingga kini tubuh keduanya nyaris tak berjarak.


"Jadi ... kapan kamu siap menikah denganku?" tanyanya diiringi tatapan lekat nan memikat.


"Nggak lama, kan?"


"Aku usahakan enggak," jawab Mauren.


"Kalau dari hatimu sendiri, kapan kamu siapnya?" Rendra masih menatap lekat.


Mauren tersenyum manis, "Sekarang pun aku siap."


Rendra kehabisan kata-kata. Jawaban Mauren membuatnya bahagia dan serasa melayang di atas awan. Wanita yang sangat dicintai, siap menikah dengannya. Ah, sungguh keberuntungan yang paling menakjubkan.


"Terima kasih, Sayang." Rendra berucap sambil mendekap erat tubuh Mauren. Diusapnya punggung sang kekasih, juga dicium puncak kepalanya. Aroma wangi shampoo yang menenangkan membuat Rendra betah berlama-lama menciumnya.


Di sisi lain, Mauren juga mendapatkan kenyamanan dan ketenangan dari tubuh Rendra. Rasa hangat yang dia salurkan, berhasil mengikis luka yang belum menutup sempurna. Kehadiran Rendra benar-benar menggantikan posisi Jeevan.


"Aku mencintaimu," ucap Rendra seraya menangkup pipi Mauren dan memaksanya mendongak, hingga keduanya kembali beradu pandang.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu. Tolong jangan kecewakan aku, ya," jawab Mauren.


"Tidak akan." Rendra menyahut sambil mengusap lembut pipi Mauren.


Dalam beberapa saat, Rendra sangat terpesona dengan bibir ranum yang merekah di hadapannya. Hatinya bergejolak dan seakan ada dorongan kuat yang memaksanya menikmati keindahan itu, menciumnya atau sekadar menyentuh dengan jemari.


Namun, Rendra menepis jauh keinginan itu, meski berat dan membuatnya tak nyaman. Dia sudah berjanji akan menghargai Mauren, menjaganya sampai waktu benar-benar mengizinkan mereka untuk bersentuhan.


"Bersiaplah, aku tunggu di sini!" perintah Rendra sambil mengurai pelukan.


Rendra tak sanggup berlama-lama menatap bibir Mauren, jadi jalan terbaik adalah menyuruh pergi, sebelum dirinya benar-benar khilaf dan menyesap habis rasa manis di bibir itu.


"Baik.Tunggu sebentar ya." Usai mengulas senyuman, Mauren melangkah pergi dan meninggalkan Rendra yang sedang berdebat dengan hasratnya.


"Sejak mengenal Mauren aku benar-benar normal, setelah dulu nggak pernah seperti ini. Jangankan hanya lihat bibir, lihat cewek pakaiannya kurang bahan aja aku nggak ngerasa apa-apa, malah ilfil yang iya. Tapi ... Mauren berbeda. Apa pun yang ada padanya, bagiku sangat istimewa. Aku nggak ada rasa ilfil atau keinginan untuk menghindar, malah maunya dekat-dekat terus dengannya. Cinta ... ternyata seindah ini jatuh cinta," batin Rendra. Dia senyum-senyum sendiri hanya karena membayangkan wajah Mauren, wajah yang tak pernah enyah dari ruang rindunya.


_________________


Gemerlap lampu kota berpadu indah dengan lampu-lampu kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Sangat layak untuk dinikmati. Namun, seseorang yang sedang berada di antaranya, malah melamun dan membayangkan sesuatu yang jauh dari pemandangan di hadapan.


Dia adalah Jeevan. Sembari memangku kotak hadiah dan setangkai mawar putih, dia menatap datar dan membayangkan masa lalunya bersama Mauren. Hangat dan manis, dua kata yang paling tepat untuk melukiskan pernikahannya dahulu, sampai akhirnya ia nodai dengan sesuatu yang kotor.


Kehamilan adalah alasan klasik yang Jeevan gunakan untuk membenarkan tindakan. Sebenarnya, bukan itu alasan utama ia selingkuh, melainkan tidak tahan dengan godaan Elsa. Wanita yang bekerja sebagai sekretarisnya itu sangat **** dan pandai merayu. Berawal dari pelukan dan ciuman bibir, Jeevan penasaran dan mengharapkan hal yang lebih intim, dan ternyata Elsa tidak menolak.


Niat awal sekadar mengobati rasa penasaran, malah berujung pada ketagihan. Tak dipungkiri, cara main Elsa memang jauh lebih baik dari Mauren. Ibaratnya Mauren sekadar hangat, sedangkan Elsa sangat panas. Jeevan tak bisa mengendalikan hasrat dan akhirnya terjerat dalam pelukan Elsa. Saking bodohnya mengutamakan bawah perut, Jeevan sampai lupa jika pengkhianatan itu akan melukai hati yang seharusnya ia jaga.


"Andai saja aku nggak pernah mencoba, nggak mungkin ada hal kayak gitu antara aku dan Elsa. Dan hubunganku dengan Mauren pun nggak akan pernah kandas. Ah, sayangnya semua udah terjadi," sesal Jeevan dalam batinnya.


Karena terlalu larut dalam pikiran, Jeevan sampai tak sadar jika taxi yang ditumpangi sudah tiba di depan rumah Mauren. Dia tersentak ketika sang sopir memanggilnya.


"Terima kasih, Pak," ucap Jeevan sebelum turun.


Dia sengaja berangkat menggunakan taxi agar penampilannya tidak berantakan. Jeevan ingin membuktikan kepada Mauren bahwa dirinya masih tampan dan layak dipertimbangkan.


Setelah taxi melaju pergi, Jeevan berjalan menuju pintu gerbang. Bibirnya mengulas senyum masam ketika teringat dengan kenangan silam. Selama dua tahun dia tinggal di rumah itu, menghabiskan waktu bersama wanita teristimewa. Sekarang, rumah masih sama, tetapi keadaan jauh berbeda. Dia tak lagi punya tempat di sana, dan mungkin juga di hati sang penghuninya.


"Mauren, segala sesuatu bisa diperbaiki. Kuharap kamu mengerti," batin Jeevan seraya memencet bel.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2