Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Detik-Detik Akad


__ADS_3

Setelah menunggu dalam waktu yang cukup lama, serta mempersiapkan banyak hal yang sedikit rumit, akhirnya hari yang dinanti tiba juga. Usai berjuang menahan rindu selama dua bulan penuh, kini Rendra dan Mauren siap melangkah ke jenjang pernikahan.


Sejak matahari belum menyingsing, Mauren sudah terjaga. Dia membersihkan diri dan memeriksa kembali persiapan di rumahnya. Mulai dari dekorasi sampai konsumsi. Dia tak ingin ada kesalahan sedikit pun. Hari istimewanya, harus dilangsungkan dengan istimewa pula.


Di tempat yang berbeda, Rendra pun tak kalah sibuknya. Semalaman dia tak bisa tidur karena memikirkan akad yang harus diucap. Dari beberapa artikel yang sempat ia baca, wibawa penghulu bisa mengalahkan pebisnis terkaya di suatu negeri. Rasa percaya diri terkadang luluh lantak saat penghulu menjabat tangan.


Kini, saat matahari mulai terbit, Rendra sibuk membantu asisten dan juga keluarga yang mempersiapkan bawaan. Mulai dari parsel buah, kue, dan juga seserahan yang jauh lebih mewah dari lamaran tempo hari.


Kali ini, yang ikut datang bukan hanya Fadila dan Kavin saja, melainkan juga sanak saudara yang lain. Mereka semua ingin menyaksikan ijab kabul Rendra yang sudah ditunggu sekian waktu.


"Saya terima nikahnya Maurena Alexandra Binti Pak ... ah, nggak pakai pak. Duh, salah mulu sih," gerutu Rendra yang saat ini baru masuk ke kamar.


Dengan kesal, Rendra menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Sambil memeluk guling, dia menatap mahar yang ditata rapi dalam kotak kaca. Ada tiga set perhiasan dengan jumlah total seratus gram. Sebenarnya, Rendra ingin memberi mahar yang lebih. Namun, Mauren menolak dan hanya meminta itu saja.


"Mudah-mudahan nanti lancar, biar cepet sah dan bisa cium bibirnya. Bisa peluk erat gini, bisa sentuh sana sini, ah enak banget pasti." Rendra terus bicara sambil mencengkeram erat gulingnya.


"Ndra! Ndra!" panggil Fadila diiringi ketukan di pintu.


"Iya, Ma!" jawab Rendra tanpa mengubah posisi tidurnya.


Atas permintaan Fadila satu bulan yang lalu, Rendra dan Mauren memanggilnya dengan sebutan mama. 'Ibu kalian sudah tiada, dan anak Tante juga tiada, jadi nggak ada salahnya kita saling melengkapi, toh masih ada hubungan darah', begitulah kata Fadila waktu itu.


"Cepat mandi setelah itu sarapan! Ingat, jangan sampai telat!" teriak Fadila.


"Iya, Ma. Ini udah mau mandi, kok." Rendra tidak membantah, tetapi juga tidak bergegas menjalankan perintah. Dalam beberapa menit, dia masih saja berbaring memeluk guling, membayangkan bahwa yang dipeluknya adalah Mauren.


Seiring jarum jam yang terus berputar, juga matahari yang makin merangkak tinggi, persiapan akad terlaksana dengan baik.

__ADS_1


Meski tadi Rendra sempat membuat drama, yaitu muntah-muntah, diare, dan juga kencing yang entah sampai berapa kali, akhirnya mereka tiba tepat waktu di kediaman Mauren. Mereka menikmati jamuan sambil menunggu penghulu dan juga mempelai wanita yang masih dirias.


"Kamu bisa keringetan kayak gitu sih," tegur Kavin saat melihat kening Rendra dipenuhi bintik keringat.


"Gugup, Kak. Rasanya perutku melilit lagi," jawab Rendra sambil memasang tampang menyedihkan.


"Laki, tapi ratu drama," cibir Kavin.


"Jangan diledek nanti dia makin gugup, Mas." Diva ikut menyela. Dia tak kuasa menahan tawa melihat adik yang semula angkuh dan dingin menjadi selemah ini hanya karena cinta.


"Baru juga mau ijab, udah kayak gitu. Gimana nanti malam, Ndra?" Evan turut menggoda.


"Kamu belum ya, nggak usah belagu!" sahut Rendra lengkap dengan pelototan tajam.


"Ijab emang belum, tapi yang setelah ijab udah." Evan tertawa renyah.


"Dasar penikmat dosa!"


"Bisa diem, nggak?" bentak Rendra dengan keringat yang makin bercucuran.


Bukannya diam, Evan malah makin tertawa. Sialnya, Kavin dan Diva juga mengikutinya.


Sementara itu, Mauren masih berada di kamarnya. Wajah sudah dirias sempurna, gaun putih panjang pun sudah melekat di tubuhnya. Namun, kerudung belum menutup di kepala. MUA masih menata rambutnya agar tidak terlihat.


"Wanita secantik ini, bodoh sekali yang mencampakkan. Ah, jangan terluka lagi ya, Mbak. Saya doakan semoga pernikahan kali ini tetap harmonis sampai maut yang memisahkan. Saya tahu Mbak Mauren orang yang baik, pasti Tuhan juga memberikan yang terbaik untuk Mbak. Semoga bahagia selalu dengan pernikahan ini ya, Mbak," ucap MUA di sela-sela aktivitasnya.


"Terima kasih banyak doanya, Mbak. Saya sudah melupakan yang telah lalu dan sudah siap menyongsong yang baru," jawab Mauren.

__ADS_1


MUA tersebut adalah langganan Mauren sejak lama. Bahkan, dulu yang merias ketika dirinya menikah dengan Jeevan juga MUA itu. Itu sebabnya, dia sangat menyayangkan sikap Jeevan. Karena dia sangat tahu, betapa dulu Jeevan sangat senang ketika menikahi Mauren.


"Gaun dan kerudungnya sangat cocok dengan Mbak Mauren. Mas Rendra sangat pandai memilih." MUA memuji gaun dan kerudung dari Rendra pada saat lamaran, yang kali ini dikenakan dalam acara akad.


"Iya, Mbak." Mauren menjawab sambil menahan senyum. Dia teringat dengan cincin lamaran yang berakhir di telunjuk.


Beberapa saat kemudian, MUA berhasil menyelesaikan tugasnya. Wajah cantik Mauren sudah menyerupai seorang putri. Berbalut gaun dan kerudung panjang yang menjuntai hingga ke batas paha, berhiaskan mahkota dengan permata putih menyala, paras Mauren nyaris tiada duanya. MUA yang merias amat yakin bahwa sang mantan berani hadir pasti sangat menyesal.


"Mari, Mbak, saya bantu turun!" ajak rekan MUA yang baru saja membantu Mauren memasang hight hells.


"Iya." Mauren bangkit dan tersenyum puas saat menatap bayangannya. Sangat menakjubkan. "Rendra, semoga ini pernikahan terakhir kita," sambungnya dalam hati.


Beberapa saat setelahnya, Mauren mulai melangkah meninggalkan kamar. Setibanya di ambang pintu, Mauren menoleh sekejap. Dia menatap ranjang yang sudah bertabur kelopak mawar, di setiap sudutnya dihiasi buket bunga melati yang semerbak wangi khas pengantin.


"Entah apa yang akan terjadi nanti," batin Mauren sambil menahan senyum.


Sebagai wanita yang pernah berumah tangga, bohong jika dia tidak merindukan sentuhan lelaki. Namun, dia juga tidak mau mendapatkannya secara sembarangan. Meski bukan ahli agama, tetapi dia menjaga martabatnya.


Dengan langkah pelan, Mauren berjalan menuruni tangga. Jantungnya mulai berdetak cepat ketika mendengar perbincangan di lantai bawah. Rendra, sebentar lagi benar-benar menghalalkannya.


"Ayo, Nak! Penghulunya sudah tiba." Bram menyambut Mauren dan membimbingnya ke tempat yang telah disediakan.


"Iya, Om." Mauren mengerjap cepat. Melihat sosok Bram, dia teringat dengan almarhum ayahnya. Andai saja dia masih ada, mungkin sekarang turut bahagia.


"Jangan menangis, ini hari bahagiamu, Nak! Percayalah, Mas Gino juga bahagia di sana." Bram merangkul Mauren dan mengusap-usap lengannya. Sungguh malang nasib keponakannya itu, menjadi yatim piatu di usia muda.


Langkah demi langkah telah Mauren lalui dan kini tiba di ruang tengah, di atas karpet merah, tempat ia dan Rendra akan melangsungkan akad.

__ADS_1


Sebelum duduk, Mauren dan Rendra saling bertatapan. Masing-masing menyiratkan kekaguman dan rasa bahagia yang tak terkira.


Bersambung...


__ADS_2