
"Apa yang terjadi dengan istri saya, Dokter?"
Arini menghela nafas panjang, "Bu Mauren pingsan. Saat ini detak jantungnya masih lemah. Kami akan memberikan penanganan yang terbaik, tolong Anda dan sekeluarga membantu kami dengan doa."
Wajah Rendra pucat seketika. Pingsan, detak jantung lemah, sungguh kabar yang sangat buruk. Kabar yang membuat Rendra ketakutan dan nyaris kehilangan tenaga.
"Istri saya harus baik-baik saja, Dokter," ucap Rendra dengan lirih.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Pak Rendra. Tapi, untuk hasilnya, kita serahkan kepada Tuhan," jawab Arini.
Rendra tak bisa lagi berkata-kata. Perasaannya kacau seketika. Sampai akhirnya, Arini mengizinkannya masuk ke ruangan dan menjenguk Mauren.
Pertama kali melangkahkan kaki di sana, detak jantung Rendra makin melebihi batas wajar. Bayangan-bayangan buruk tentang keadaan istrinya membuat Rendra makin jatuh dalam rasa takut.
"Sayang," batin Rendra ketika tiba di dalam ruangan.
Rendra menatap sosok sang istri yang terbaring lemah dengan tangan yang dipasangi slang infus. Dengan mata yang berkaca-kaca, Rendra mengulurkan tangan dan menggenggam lembut tangan Mauren.
"Maafin aku yang nggak bisa ikut merasakan sakitmu. Maafin aku yang membuatmu berjuang sendiri." Rendra berbisik sambil memandangi wajah Mauren yang pucat. Mata indah yang biasa memikat, kini tertutup rapat.
"Cepat sadar, Sayang. Aku menunggumu," sambung Rendra masih dengan bisikan.
Di tengah perasaan yang masih kalut, Rendra membungkuk dan mencium lama kening Mauren. Dia berharap ada keajaiban yang membuat istrinya sadar dan membuka mata, lalu tersenyum mesra seperti biasa. Namun, hingga setengah jam lebih Rendra menunggui, Mauren masih tak menunjukkan tanda-tanda akan siuman.
"Dokter, kapan istri saya akan sadar?" tanya Rendra pada Arini, yang saat itu juga ada di dalam ruangan.
"Kita harus sabar, Pak Rendra. Kita doakan saja semoga kondisi Bu Mauren semakin membaik," jawab Arini. Sebuah pernyataan yang sangat tidak memuaskan menurut Rendra.
Namun, tak lama setelahnya Arini memberikan informasi yang cukup menghibur. Dia mengizinkan Rendra melihat bayi kembar yang kini masih ada di inkubator.
Rendra yang semula hanya berkaca-kaca, kini menjatuhkan banyak air mata. Antara sedih, bahagia, dan juga terharu. Dua sosok mungil yang ada di hadapannya sangat memesona dan membuat Rendra tak bisa berpaling. Rasanya Rendra masih tak percaya bahwa makhluk terindah itu adalah darah dagingnya.
__ADS_1
Dengan dibantu perawat, Rendra menggendong bayi kembarnya secara bergantian. Dia mengumandangkan azan dan iqamah di telinga keduanya. Setelah itu, si kembar kembali dibaringkan di tempatnya.
"Selamat datang di dunia, Nak," batin Rendra sambil mengusap kaca inkubator.
"Doakan semoga Mama cepat sadar ya, Nak, agar nanti bisa menggendong dan menimang kalian," sambung Rendra dengan bisikan.
Setelah cukup lama melihat sang buah hati, Rendra kembali ke tempat Mauren. Dia duduk di sebelahnya sambil menggenggam tangan yang masih setia dalam diam.
"Sayang, cepat sadar ya, anak-anak sedang menunggumu. Kamu nggak akan membiarkan mereka menunggu lama, kan?" ucap Rendra. Namun, hanya keheningan yang menanggapi ucapannya.
"Keanu Abian Dirgantara, Keanne Syahira Dirgantara. Dua nama yang kamu rangkai sejak beberapa bulan lalu. Apa nggak ingin menyematkan sendiri nama-nama itu untuk mereka. Cepat sadar ya, Sayang, agar kamu bisa melakukannya." Rendra kembali bicara, dan langsung terkejut saat melihat tanggapan Mauren. Bukan bergerak atau membuka mata, melainkan menitikkan air mata.
"Dokter! Dokter! Istri saya menangis. Apa yang terjadi dengannya, Dokter?" teriak Rendra dengan panik.
Dengan sigap, Arini mendekat dan memeriksa kondisi Mauren. Beberapa saat kemudian, dia tersenyum dan bernapas lega.
"Kondisi Bu Mauren sedikit membaik, Pak. Semoga nanti terus membaik dan segera siuman," ucap Arini.
_____________
Tepat dua puluh empat jam sejak jatuh pingsan, Mauren mulai membuka mata. Satu hal yang pertama kali dia lihat adalah Rendra. Lelaki itu sedang duduk di sebelahnya sambil menelungkupkan wajah. Awalnya, Mauren memanggilnya dengan pelan. Namun karena tidak mendapat jawaban, akhirnya Mauren menyentuh kepala Rendra.
"Dia pasti lelah," batin Mauren dengan kondisi yang masih lemah.
"Syukurlah, akhirnya Anda siuman, Bu Mauren. Sekarang, apa yang Anda rasakan, Bu?" Arini mendekati Mauren dan siap memeriksa kondisinya.
"Tidak ada, Dokter. Hanya lelah," jawab Mauren. "Mmm, bagaimana keadaan anak-anak saya? Baik-baik saja kan, Dokter?"
Arini tersenyum, "Baik-baik saja, Bu. Mereka sangat sehat. Selamat ya, Anda berhasil menjadi seorang ibu."
Saking terbarunya, Mauren sampai meneteskan banyak air mata. Lelah dan sakit yang dia rasa telah dibayar lunas dengan kehadiran dua sosok mungil, yang menurut dokter sangat baik dan sehat.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah sadar?" Rendra yang baru saja terbangun, langsung membelalak ketika melihat istrinya membuka mata dan tersenyum.
"Maaf ya, membuatmu lelah menunggu," jawab Mauren.
"Jangan bicara seperti itu, Sayang. Aku sangat senang akhirnya kamu siuman. Lelahku dalam menunggu, nggak sebanding dengan lelahmu dalam memperjuangkan anak-anak kita. Kamu luar biasa, Sayang." Rendra berucap sambil menciumi jemari Mauren.
Usai diperiksa dan diberi vitamin serta obat, Mauren meminta Rendra untuk membawa bayinya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka.
Pertama kali menatap wajah mungil Keanu dan Keanne, Mauren terpukau dan tanpa sadar kembali menangis. Kehadiran mereka merupakan anugerah terindah, kebahagiaan yang tiada duanya.
Bibir merah dan mungil, hidung mancung, kulit lembut dan lunak, serta rambut yang tebal dan hitam. Gambaran yang sangat sempurna. Bagi Mauren, sosok Keanu dan Keanne adalah rupa paling sempurna yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
"Mereka anak-anakku," ucap Mauren ketika memangku Keanu dan Keanne secara bergantian. "Seindah ini rasanya menjadi ibu," sambungnya.
"Mama, Papa, Kak Kavin, dan Kak Diva sudah tiba sejak siang tadi. Tapi, sore tadi Kak Diva pulang ke rumah. Dia mengajak Deana jadi nggak bisa lama-lama di rumah sakit," ucap Rendra sambil menatap Mauren yang asyik dengan Keanu.
"Iya, nggak apa-apa. Mmm, Deana nggak rewel, kan?" tanya Mauren. Deana adalah putri pertama Diva dan Kavin. Saat ini, umurnya baru delapan bulan.
"Enggak. Tadi cuma nangis bentar, setelah itu tenang lagi."
"Aku ... juga pengin pulang," pinta Mauren setelah beberapa saat terdiam.
"Keadaanmu masih lemah, Sayang. Tunggu sampai keadaanmu membaik, nanti kita pulang ya."
Mauren menghela napas panjang, lalu mengangguk meski terpaksa. Sebenarnya, dia ingin cepat-cepat pulang dan mengasuh anak-anaknya dengan tenang. Akan tetapi, tak dipungkiri tubuhnya memang masih lemah. Jika dia memaksa, mungkin bisa berakibat buruk.
"Sayang, dari awal datang Mama juga khawatir dengan keadaanmu. Nggak apa-apa, kan, kalau sekarang aku keluar dulu, biar Mama yang jenguk kamu?" tanya Rendra.
"Iya. Aku juga kangen sama Mama." Mauren menjawab sambil tersenyum.
Tak lama setelah itu, Rendra menyerahkan Keanne kepada perawat. Lantas, dia keluar ruangan dan memanggil Fadila, sekaligus memberitahukan kabar gembira kepada ayah dan kakaknya—Mauren sudah siuman.
__ADS_1
Bersambung...