
Genggaman tangan Rendra terlalu erat saking tidak inginnya ditinggal Mauren. Tanpa ia duga, tindakannya membuat Mauren kehilangan keseimbangan. Maklum, high hells yang dikenakan Mauren lumayan tinggi. Alhasil, Mauren terhuyung dan nyaris jatuh. Beruntung, Rendra bergerak cepat dan menangkap tubuhnya.
Kini, tubuh Mauren berada dalam pelukan Rendra. Untuk sekian detik Mauren terhanyut dalam tatapan yang memikat, sampai tak sadar jika tubuhnya dengan Rendra saling merapat. Bahkan, tangan Mauren juga menggenggam erat lengan Rendra.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rendra.
"Mmm, sorry." Mauren tersadar dan langsung melepaskan pelukan Rendra. "Udah malam, aku mau pulang. Kamu juga, pulanglah!" sambungnya.
"Kita belum selesai bicara," tolak Rendra.
"Bisa disambung lain waktu. Sekarang udah larut." Mauren menjawab tanpa menatap Rendra.
"Dua menit aja." Rendra masih bersikeras pada keinginannya.
Sebelum Mauren kembali menolak, Rendra segera bicara, "Melihat sikapmu barusan, aku tebak perasaanmu nggak jauh beda denganku. Mauren, apa tebakanku benar?"
Mauren menunduk sembari mencengkeram gaunnya. Di satu sisi ingin jujur, tetapi di sisi lain ingin berkilah. Masing-masing keputusan ada kelebihan dan kekurangan, Mauren bingung harus memilih yang mana.
"Mauren, kita sama-sama dewasa. Sudah layak menjalani hubungan serius. Jika perasaanmu memang sama sepertiku, dan kamu nggak masalah dengan keadaanku, lalu apa yang membuatmu ragu? Katakan, bagian mana yang harus kuperbaiki agar kamu yakin denganku?" sambung Rendra sambil melangkah mendekati Mauren.
Bukan tanpa alasan Rendra bicara demikian, melainkan sikap Mauren makin menunjukkan bahwa dirinya juga menyimpan rasa. Walau selama ini Rendra belum pernah mendekati wanita, tetapi ia sering browsing ciri-ciri wanita yang jatuh cinta, dan kini sikap Mauren memenuhi hampir seluruh poin.
"Mauren," panggil Rendra.
"Bisa nggak jangan bahas ini lagi?"
"Kenapa?"
"Ndra ... karena kita udah dewasa, maka perasaan bukan lagi hal sederhana. Nggak mungkin, kan, kita hanya mengharap pacaran? Pasti mengharap yang lebih dari itu. Aku nggak bisa mutusin sekarang, perlu sedikit waktu untuk berpikir. Tolong ngertiin aku, ya," jawab Mauren.
"Aku hanya ingin tahu, perasaan itu ada atau nggak, atau seenggaknya ... beri tahu aja gimana tanggapan kamu ke aku saat ini. Hannya nyaman berteman, atau mulai ada rasa, atau malah biasa aja." Rendra tak mengalihkan tatapan meski hal itu membuat jantungnya berdetak tak beraturan.
Karena tak ada pilihan, Mauren jujur perihal perasaannya. Pipinya bersemu merah ketika menyatakan bahwa setitik cinta mulai ada. Beruntung, Rendra tak memaksanya mendongak. Jadi, rasa malunya masih di dalam kendali.
"Tapi ... aku ragu. Kita belum lama kenal, benarkah kamu setulus itu? Kamu tahu aku udah janda, sedangkan kamu masih lajang. Aku nggak tahu apa kelebihanku sehingga kamu malah memilihku, padahal bisa mendapatkan yang lebih baik dariku. Selain itu, aku juga pernah gagal dalam berumah tangga, aku nggak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kali. Itulah kenapa sekarang aku bimbang dan belum bisa menerima kamu," terang Mauren usai mengakui perasaannya.
"Kita memang baru kenal, tapi perasaanku benar-benar tulus. Aku mencintaimu dan nggak akan pernah menyakitimu. Mauren, kamu adalah wanita pertama yang bisa membuatku merasakan hal ini. Jika kamu tanya alasan, aku juga nggak tahu. Tiba-tiba aja hatiku tergerak sendiri untuk merindumu dan mengimpikan kamu. Aku bahagia jika dekat denganmu, semua yang ada padamu rasanya begitu istimewa. Mauren, jangan membahas status janda karena aku pun sama sepertimu, menilai seseorang dari sifat dan perilaku. Janda perawan bagiku nggak masalah, karena yang penting adalah hati." Rendra tak menyerah dalam meyakinkan Mauren.
Bibir Mauren bergerak-gerak. Ada banyak kalimat yang ingin ia ucap, tetapi kesulitan untuk memulainya.
__ADS_1
"Kamu masih ragu?" tanya Rendra.
Mauren memberanikan diri mengangkat wajah dan menatap Rendra, "Iya."
"Tapi___"
"Jika kamu beneran serius dan tulus, buktikan! Yakinkan aku bahwa kamu nggak main-main dengan semua ini," pungkas Mauren dengan serius.
"Kamu memberiku kesempatan?" tanya Rendra dan kemudian ditanggapi dengan anggukan.
Rendra berbinar, "Terima kasih. Aku janji akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Paling lama satu bulan, aku akan membuktikannya. Aku nggak akan ngecewain kamu, Mauren."
Mauren tersenyum tipis dan itu tampak sangat manis di mata Rendra. Lantas, lelaki itu merogoh sesuatu dari saku celana dan kemudian berdiri tepat di depan Mauren.
"Maaf ya, kemarin sempat menjaga jarak. Aku nggak percaya diri dengan keadaanku. Berulang kali mikir, aku nggak pantes untuk kamu. Tapi ... sekarang aku nggak pesimis lagi. Aku mencintaimu dan aku akan memperjuangkan kamu." Rendra berkata sambil memasangkan kalung di leher Mauren.
"Ini, kenapa___"
"Karena kamu udah ngasih kesempatan, maka aku juga berani ngasih hadiah. Tolong jangan dilepas sampai batas waktu yang kuminta. Jika nanti aku gagal, terserah mau kamu apakan kalung ini. Tapi, kayaknya aku nggak akan gagal," pungkas Rendra.
"PD-nya ketinggian." Mauren mencibir sambil menatap liontin kalung yang baru saja melingkar di lehernya. Huruf M, sebuah simbol yang sangat familier.
"Iya, aku sengaja beli itu biar ada alasan datang ke rumahmu." Rendra tersenyum lebar. "Aku belum ada pengalaman, hanya ngandalin browsing di internet. Jadi, sorry, kalau caraku mendekatimu aneh dan norak." Rendra menjawab jujur.
"Jangan-jangan ... preman yang waktu itu___"
"Iya, itu juga bagian dari rencanaku. Gimana ya, aku tuh pengin banget kamu ingat. Jadi ... ya gitu, aku caper ke kamu. Caraku kampungan ya?" Rendra menggaruk-garuk kepala.
"Dasar kamu ya! Bukan masalah kampungan atau enggaknya, tapi itu menyangkut keselamatan."
"Enggak lah, kan aku yang menyuruh mereka. Mereka cuma menggertak aja, nggak beneran mencelakai. Aku 'tuh pengin jadi dewa penolong biar kamu mikirnya aku hebat dan layak dipertimbangkan. Di sekeliling kamu kan banyak lelaki yang hebat, selagi masih menjadi Andika, mana bisa aku bersaing dengan mereka," jawab Rendra.
"Siapa suruh menyamar gitu? Kalau kamu takut diketahui orang-orang yang bekerja sama dengan Elsa, kan bisa jujur ke aku doang. Sekalian kasih tahu juga siapa aja yang berkhianat. Malah nggak ribet, kan?" Mauren memutar bola mata.
Rendra menghela napas panjang, "Kamu belum lama terjun ke dunia bisnis, aku cuma takut rencanaku gagal kalau ngasih tahu kamu. Orang seperti Elsa penuh ambisi, jika nggak diberi pelajaran yang lebih, takutnya nggak jera dan malah makin dendam. Aku nggak mau itu terjadi."
"Maksudmu aku bodoh dan nggak bisa mengimbangi rencana kamu?" sahut Mauren.
"Kecerdasan dan keahlian orang berbeda-beda, dan menurutku keahlianmu bukan di bisnis. Sebelum cerai dengan Jeevan, kamu belum pernah kan menggeluti bidang ini?"
__ADS_1
Mauren berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Rendra memang benar, dirinya masih sangat payah dalam bisnis.
"Jangan pasang wajah murung gitu." Rendra menggenggam bahu Mauren. "Selama kita mau belajar, nggak ada yang nggak mungkin. Jangankan kamu yang berpendidikan tinggi dan punya fasilitas yang memadai, mereka yang berpendidikan rendah aja kadang bisa menjadi pengusaha yang sukses. Yang penting, jangan pernah menyerah dan jangan lelah belajar," sambungnya.
Mauren tersenyum, "Iya."
"Gitu dong, senyum. Mmm ya udah, pulang yuk! Aku antar," ujat Rendra.
"Aku bawa mobil."
"Aku juga. Nanti aku berkendara di belakang kamu."
"Tapi___"
"Please, jangan nolak!" pungkas Rendra.
"Baiklah." Mauren mengangguk. "Mmm, ngomong-ngomong kamu tinggal di mana?" sambungnya.
"Di Golden Apartment. Lantai empat belas nomor seratus lima puluh. Hanya itu dan mobil, aset yang merupakan milikku sendiri," jawab Rendra.
"Kenapa kamu malah punya aset di sini?"
"Hubunganku dengan Papa kurang baik, jadi aku sering kerja dengan teman. Kebetulan, salah satu temanku ada yang sini. Tapi, dia nikah dan ikut istrinya ke luar negeri. Jadi, apartemennya nggak dipakai, lalu aku beli. Nggak tahu juga kenapa dulu tertarik, mungkin ... udah ada feeling kalau jodohku orang sini." Jawaban Rendra sukses membuat Mauren tersipu.
______________
Pukul 07.00 pagi di kontrakan Jeevan. Lelaki muda yang masih setia menjadi kurir binatu, hari ini tampak murung dan lesu. Alasannya adalah mantan istri. Sesal dan sedih menggeluti hatinya hingga tak semangat melakukan aktivitas apa pun. Padahal, rencananya hari ini akan mencari pekerjaan yang lebih baik, mumpung binatu sedang tutup.
Coretan demi coretan alamat yang akan didatangi, sudah terselip rapi di dalam dompet. Namun, Jeevan tak jua berangkat. Ah, jangankan berangkat, mandi saja dia belum.
"Aku cemburu! Aku nggak rela Mauren menjalin hubungan dengan orang lain. Lelaki yang paling tulus mencintainya adalah aku, kenapa Mauren nggak ngerti juga?" sesal Jeevan sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Ketika Jeevan masih merenungi kesalahan silam, tiba-tiba pintu kos-kosan diketuk dari luar. Dengan malas, Jeevan bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Mas Jeevan!"
Mata Jeevan membulat saat mendengar teriakan seorang wanita di luar sana.
Bersambung...
__ADS_1