
Pada saat yang sama, Mauren dan Adnan berjalan menuju parkiran. Di sana, Rendra sudah menunggu sambil bersandar di badan mobil. Senyumnya yang menawan terulas sempurna ketika Mauren tiba di dekatnya.
Akan tetapi, pesona senyuman itu menguar begitu saja. Pasalnya, Mauren sedikit pun tidak menanggapi. Ada rasa kecewa yang terselip nyata dalam hatinya. Rendra menyusun rencana dengan rapi tanpa memberi tahu dirinya. Rendra menyamar sebagai Andika dan berpura-pura kerja sebagai OB. Ya, pura-pura. Semua sikap Rendra adalah pura-pura, termasuk perasaan cinta yang beberapa hari lalu pernah diungkapkan. Kekecewaan Mauren makin menjadi ketika menyadari hal itu.
"Mauren!" panggil Rendra.
Mauren menoleh sebentar kepada Adnan, "Pak, saya mau bicara dulu dengannya."
"Baik. Saya tunggu di mobil, Bu," jawab Adnan. Lantas, dia melangkah pergi menuju mobil yang terparkir di ujung.
"Maaf, selama ini aku bohong soal identitas. Aku sengaja menyamar agar mereka yang bekerja sama dengan Elsa nggak menyadari keberadaanku. Kenalkan, aku Rendra Dirgantara." Rendra mengulurkan tangannya. Namun, Mauren tak acuh. Wanita itu malah menatap Rendra dengan lekat.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Mauren.
"Melakukan apa? Aku membantumu, kan?" Rendra kebingungan.
Mauren tertawa sumbang, "Kamu memang membantuku, tapi ... kamu nggak kasih tahu aku tentang semua ini, padahal dari awal kamu sudah tahu jelas."
Suara Mauren tertahan dan gemetaran. Sesak di dadanya kian terasa. Dia dihadapkan pada kenyataan yang memalukan. Di dalam kantor Victory, ada banyak orang yang tidak tulus bekerja dengannya. Ada komplotan Elsa dan ada pula komplotan Rendra. Bodohnya, Mauren sama sekali tidak menyadari. Lantas, masih pantaskah ia disebut pemimpin?
"Maaf, aku tahu itu membuatmu nggak nyaman. Tapi ... aku punya alasan yang kuat kenapa merahasiakannya darimu. Mauren, aku melakukan ini untuk kebaikanmu dan juga kebaikan Victory," jawab Rendra.
"Kebaikan Victory? Kamu nggak salah bicara? Dengan adanya kasus ini, rating dan harga saham di kantorku turun drastis. Banyak konsumen yang meragukan kualitas produkku, banyak juga investor yang hampir memutus kerja sama. Jika itu adalah kebaikan, lantas seperti apa yang disebut keburukan?" Mata Mauren berkaca-kaca. Dia masih tak tahu bagaimana nasib Victory setelah ini.
"Victory nggak bersalah, dalam hal ini ia dijebak dan menjadi korban. Jika kasusnya sudah diungkap, rating dan harga saham pasti kembali normal. Konsumen pun akan kembali percaya seperti sedia kala," sanggah Rendra.
__ADS_1
Mauren menggeleng-geleng, "Kamu pikir semudah itu?"
Rendra mengembuskan napas kasar, "Mungkin memang nggak mudah. Tapi percayalah, pasti bisa."
"Andai saja kamu mau jujur sejak awal, aku akan memecat Diana dan Dion, lalu menolak kerja sama dengan NE Group. Dengan begitu, nggak akan pernah ada kasus ini dan Victory akan aman terkendali. Aku nggak susah-susah mengembalikan reputasi yang hancur. Aku___"
"Begitukah?" Rendra memotong ucapan Mauren. "Maaf, cara berpikirmu terlalu dangkal, Mauren. Jika kamu hanya memecat Diana dan Dion, juga menolak kerja sama dengan NE Group, lalu bagaimana caramu menangkap Elsa?" lanjutnya.
Mauren terdiam.
"Jika jalan untuk menjebak sudah kamu gagalkan, mungkin dia memang mundur. Tapi, selama masih berkeliaran dengan bebas, kejadian seperti ini kemungkinan besar akan terulang lagi di kemudian hari. Iya kalau ada yang tahu, maka ada yang menolongmu. Jika tidak, maka kamu yang akan jatuh. Andai rencana ini berhasil, bayangkan sendiri sehancur apa kamu sekarang." Rendra kembali bicara karena Mauren tak jua menyahut.
Mauren menunduk. Apa yang dikatakan Rendra memang benar adanya, tetapi entahlah, rasa kecewa itu masih saja ada.
"Sebenarnya ... kamu juga masih bisa mengambil keuntungan dari kasus ini. Beritanya, kan, sempat trending. Orang-orang yang awalnya nggak tahu, jadi penasaran dan mencari tahu. Mungkin memang banyak yang kontra, tapi keuntungannya kamu bisa menaikkan popularitas. Dengan membuktikan kualitas produkmu, maka yang kontra pun lama-lama akan menjadi pro. Banyak loh di luar sana yang sengaja memakai cara ini sebagai strategi marketing. Berpura-pura tersandung kasus, demi menjadi viral." Lagi-lagi masih Rendra yang bicara.
Mauren menarik napas panjang, "Aku mengerti. Yah, terima kasih banyak sudah membantuku."
Meski diiringi senyuman, tetapi ucapan Mauren terkesan terpaksa. Sejujurnya, dia memang belum ikhlas mengatakan kalimat itu. Dia masih butuh waktu untuk memahami semuanya. Apa yang terjadi baru-baru ini sungguh rumit, hingga dia terjebak dalam lingkaran rasa yang runyam, yang entah bagaimana meluruskannya.
"Jika ada investor yang benar-benar memutus kerja sama dan berpengaruh besar pada keuangan perusahaan, aku siap menjadi investor baru. Nomorku tetap sama dengan yang kemarin, hubungi saja jika butuh bantuan. Sekali lagi maaf, aku sudah berpura-pura menjadi Andika," ujar Rendra.
"Nggak apa-apa." Mauren menjawab singkat. Kekecewaan di matanya makin ketara ketika Rendra mengungkit tentang Andika.
Dalam beberapa detik, Rendra terdiam. Dia menyadari kekecewaan dalam diri Mauren. Rendra sadar, tindakannya memang kurang benar. Namun, dia tak ada pilihan. Meski terlihat tegas, tetapi Mauren masih payah dalam memahami strategi bisnis. Rendra takut rencananya malah gagal jika melibatkan Mauren.
__ADS_1
"Mauren!" panggil Rendra.
"Hmm."
"Tenangkan dulu diri kamu, nanti kujelaskan perlahan mengenai alasanku yang merahasiakan rencana ini darimu," ujar Rendra.
"Iya." Jawaban Mauren masih singkat dan datar.
Hening. Dalam beberapa saat, tak ada yang bicara. Mauren masih larut dalam kekecewaan, sedangkan Rendra mendadak serba salah. Mauren terus berpaling dan menghindari tatapannya, seakan-akan kekecewaan sudah melebihi batas wajar dan merambat pada kebencian.
"Mauren, aku benar-benar minta maaf. Aku janji akan bertanggung jawab. Aku akan membantumu mengembalikan reputasi dan kestabilan Victory," ucap Rendra beberapa saat kemudian.
"Terima kasih," jawab Mauren. "Lain kali kita bahas lagi, sekarang ... aku izin pamit. Kasihan, Pak Adnan sudah menunggu lama."
Tanpa menunggu tanggapan Rendra, Mauren langsung melangkah menjauh.
Rendra tak tinggal diam. Dia turut berbalik dan menatap punggung Mauren.
"Mauren!" panggil Rendra seraya melangkah maju, hingga kini jaraknya dengan Mauren sekitar dua langkah saja.
Mauren tak menjawab, tetapi menghentikan langkahnya.
"Selama menjadi OB, aku memang banyak berbohong. Mulai dari identitas, status sosial, sampai alamat tempat tinggal. Tapi ... ada satu hal yang benar-benar tulus, yaitu perasaan. Saat aku menyatakan cinta padamu, sama sekali nggak ada paksaan ataupun kepalsuan. Aku memang mencintai kamu, Mauren. Sangat mencintai kamu. Perasaan ini sudah ada sejak lama, jauh sebelum aku kerja di kantormu," ucap Rendra dengan sungguh-sungguh.
Bersambung...
__ADS_1