Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Tepat Waktu


__ADS_3

Jarum jam baru menunjukkan pukul 07.00 pagi, tetapi Mauren sudah rapi dalam setelan formalnya. Hari ini adalah pengumuman hasil pemeriksaan cream produk Victory. Bukan hanya Mauren saja yang akan hadir di sana, tetapi juga Enggar Erawanto, sebagai pemilik NE Group.


Setelah dua hari menunggu dan selama itu pula tidak bisa makan dengan enak, apalagi tidur dengan nyenyak, kini Mauren akan mendapatkan jawabannya. Namun bukannya tenang, Mauren justru makin cemas. Dia takut jika jebakan itu sudah disusun sempurna dan tak ada lagi celah untuk membela diri. Meski ditemani Adnan, tetapi jika kalah bukti, apa lagi yang bisa ia lakukan.


Sejauh ini, Adnan masih gagal mengorek informasi tentang pengkhianat di divisi produksi, juga gagal menyelidiki posisi Yohan dan Rendra saat ini. Satu-satunya hal yang menjadi bukti hanyalah identitas Andika yang ternyata palsu.


Namun, apa kuatnya bukti itu? Jika tidak ada bukti lain yang mendukung, maka akan kalah dengan bukti lawan yang lebih akurat.


"Jangan gugup, jangan gugup," batin Mauren berusaha menenangkan diri sendiri.


Akan tetapi, tak dipungkiri masalah ini benar-benar menghantui. Mauren tidak hanya gugup, tetapi juga takut dan gemetaran. Bagaimana jika dirinya terbukti bersalah? Bagaimana jika Victory benar-benar hancur? Bagaimana jika dia dipenjara?


Beragam prasangka buruk berputar-putar dalam pikiran Mauren.


"Bu Mauren, maafkan saya yang tidak bisa diandalkan dalam membantu Anda. Sampai berhari-hari ... saya gagal memberikan informasi yang Anda butuhkan. Masalah sudah sekeruh ini, tapi pengkhianat-pengkhianat itu masih bergerak bebas di luar sana. Bahkan ... malah lebih bebas dari kita. Andai saja saya tidak terlalu percaya diri dan segera melaporkan identitas palsu Andika, mungkin masalah ini masih bisa diatasi," sesal Adnan.


"Sudah, Pak, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Rencana yang kemarin ... saya juga yang ikut menyetujui. Tapi, kemampuan manusia memang ada batasnya. Mungkin ... lawan kita kali ini memang kuat." Mauren berusaha tersenyum.


Sesungguhnya, dalam hatinya juga terselip sesal. Andai saja dari kemarin melaporkan masalah identitas Andika, bukan malah pura-pura tak curiga demi meyelidiki tindakannya secara pribadi. Mungkin, saat ini dirinya punya pegangan untuk menghadapi polisi. Namun, semuanya sudah telanjur. Nasi sudah menjadi bubur.


"Iya, Dirgantara memang kuat. Selain itu ... mereka sudah mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari. Sedangkan kita, sebelumnya tidak ada persiapan sama sekali," jawab Adnan.


Mauren menghela napas panjang, "Benar, Pak. Ah sudahlah, jangan terlalu menyesali yang telah lalu. Kita upayakan saja yang terbaik untuk saat ini. Jangan sampai Victory runtuh dan hancur."


"Iya, Bu." Adnan mengangguk pelan. "Kalau begitu, mari berangkat," sambungnya.

__ADS_1


Mauren menjawab singkat dan kemudian mengikuti langkah Adnan yang keluar rumah dan menuju mobil yang terparkir di depan pintu gerbang. Dengan pikiran yang jauh dari kata tenang, keduanya meluncur menuju kantor polisi.


Setelah menempuh perjalanan yang rasanya sangat singkat, Adnan dan Mauren tiba di kantor polisi. Mereka bergegas masuk ke ruangan yang telah disediakan. Rupanya, Enggar sudah ada di sana. Dengan tampang angkuhnya, dia menatap Adnan dan Mauren.


"Kamu pikir masih bisa menang dariku? Kalaupun hasil produk tidak sama, kamu tetap tidak bisa membela diri. Kamu pikir, waktu satu minggu cukup untuk mengubah produk? Heh, Mauren, kamu tidak akan bisa membongkar tindakanku. Terima saja kenyataan bahwa Victory akan hancur hari ini dan kamu akan mendekam di balik jeruji," batin Enggar.


Demi menenangkan pikiran yang makin kalut, Mauren menatap lurus ke depan, seakan-akan tak melihat keberadaan Enggar di dekatnya. Mauren tidak mau jika ketakutannya makin mendorong dirinya dalam posisi yang salah.


"Selamat pagi, Bu Mauren, Pak Enggar, terima kasih sudah bersedia datang dan memperlancar penyidikan kami. Setelah dua hari menunggu, sekarang hasil pemeriksaan cream Victory sudah keluar. Baik cream yang sudah beredar di Surabaya, maupun cream yang masih ada di pabrik Victory." Polisi mengawali pembicaraan.


Mauren makin cemas, sedangkan Enggar makin menunjukkan kesombongannya.


"Cream yang beredar di Surabaya, terbukti mengandung merkuri dengan dosis tinggi. Ini sangat berbahaya. Pemakaian jangka pendek bisa mengakibatkan iritasi dan ruam, sedangkan pemakaian jangka panjang dapat mengakibatkan kanker kulit. Penggunaan bahan ini dalam pembuatan kosmetik, sangat dilarang," sambung polisi.


"Sayang sekali, Bu Mauren, hasilnya sama dan kami menetapkan Anda sebagai tersangka. Perusahaan yang Anda kelola sudah menyalahi aturan yang berlaku, hal ini sangat membahayakan kesehatan dan keselamatan konsumen. Tindakan Anda harus ditindaklanjuti!"


Keterangan polisi ibarat petir yang menyambar tepat di ulu hati, sangat menyakitkan. Mauren tidak bisa menerima ini, tetapi tidak bisa juga untuk mengelak. Bukti yang ada telah mengarah kepadanya.


"Ini tidak mungkin, saya pasti dijebak. Selama ini produk-produk Victory selalu aman, semuanya sudah mendapat izin edar. Pasti ada yang tidak beres dengan kerja sama ini. Buktinya___"


"Anda mau menuduh saya memalsukan produk Anda, begitu? Ah picik sekali, padahal di sini saya korbannya. Kerja sama kita baru berjalan semingguan, mana mungkin ada waktu untuk mengotak-atik produk. Ini bukan sulapan, Bu Mauren, waktu seminggu hanya cukup untuk mendistribusikan ke konsumen. Anda ini sudah mencoreng reputasi perusahaan saya, tapi masih ingin mengambinghitamkan saya. Anda sangat kejam." Enggar memotong ucapan Mauren. Meski tegas, tetapi ucapannya terdengar tenang, seolah yang dikatakan memang kebenaran.


"Saya tidak mengambinghitamkan Anda, tapi memang Anda yang menjebak saya. Semua___"


"Bukti sudah berbicara dan Anda masih saja mengelak. Lucu sekali! Lain kali jika masih takut dengan pidana, jangan bertingkah yang melanggar aturan," pungkas Enggar makin menyudutkan Mauren.

__ADS_1


"Anda jangan bicara sembarangan. Bu Mauren bicara seperti ini juga ada dasarnya," timpal Adnan.


"Oh ya, apa itu?" Enggar menyahut.


"Semuanya tenang dan jangan menggunakan emosi. Jika ada barang bukti, serahkan saja dan akan kami selidiki." Polisi menengahi mereka.


"Saya___"


Belum sempat Adnan meneruskan ucapannya, tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar. Setelah dibuka, ternyata sosok Rendra yang datang. Dengan didampingi dua polisi, dia masuk ke ruangan.


"Mauren dan Victory tidak bersalah! Saya ke sini membawa bukti dan saksi, juga ... membawa dalang di balik semua ini," ujar Rendra dengan tegas.


"Lepaskan saya! Lepas! Saya tidak tahu apa-apa! Saya tidak bersalah!"


Mauren kesulitan menelan ludah ketika mendengar teriakan tersebut. Suara yang sangat familier, suara yang ia yakini milik mantan sahabatnya—Elsa.


"Kenapa Rendra menolongku, dan kenapa dia membawa Elsa kemari? Bukankah Elsa adalah ibu tirinya? Sebenarnya ... apa yang terjadi dalam kasus ini?" batin Mauren seraya menatap Andika alias Rendra, yang sebenarnya adalah lelaki tampan dengan penampilan menarik dan berkharisma.


Mauren menatap dengan ekspresi bingungnya, sedangkan Rendra malah tersenyum manis dan memamerkan lesung pipinya.


*Yang mungkin bertanya-tanya kok Mauren nggak bisa membedakan mana kawan mana lawan, nanti di bab selanjutnya ada penjelasan kenapa pas ini karakternya Mauren begini, juga penjelasan tentang Rendra yang malah diam dan menyusun rencana ini sendiri.


Happy reading yahh🙂🙂


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2