Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Beauty SC


__ADS_3

Wanita yang tak lain adalah Mauren, kesulitan menelan ludah ketika mendengar penjelasan tentang produk baru Sandria. Concealer multifungsi dengan aroma khas aquatic adalah produk yang akan diluncurkan Victory dua minggu lagi.


Awalnya, Mauren masih berpikir positif, mungkin kebetulan mereka sedang merancang produk yang sama. Akan tetapi, pikiran positif itu hilang ketika sang pembicara menyebutkan nama dan menunjukkan contoh produknya. Mulai dari bentuk, nama, warna, dan desainnya, semua persis seperti produk Victory. Beauty SC, hanya beda satu huruf dengan produk milik Mauren—Beauty VC.


"Ini bukan kebetulan, tapi memang produkku yang dibajak. Pasti ada pengkhianat yang mencuri produk ini dan membocorkannya ke Sandria," batin Mauren.


Tanpa basa-basi, Mauren langsung bangkit dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Dilan terkejut dan kebingungan. Dia tidak tahu mengapa tiba-tiba Mauren bertingkah demikian. Tidak punya pilihan lain, akhirnya Dilan menyusul Mauren.


Di balik langkah mereka yang tergesa-gesa, ada satu pasang mata yang menatap puas. Dia adalah karyawan Sandria—seseorang yang bekerja sama dengan pengkhianat di Victory—seseorang yang paling diuntungkan atas bocornya Beauty VC.


Sementara itu, Mauren langsung masuk ke mobil dan berusaha menenangkan diri di sana. Namun, sekuat apa pun dia berusaha, air mata tetap keluar jua.


"Mauren, kenapa?" tanya Dilan yang kini sudah duduk di samping Mauren. Dia panik melihat Mauren yang tiba-tiba menangis.


"Nggak apa-apa," jawab Mauren dengan suara lirih.


"Aku tahu kamu nggak baik-baik aja. Kenapa? Ada masalah dengan produk barunya Sandria?" Dilan kembali bertanya dan Mauren hanya menanggapinya dengan gelengan lemah.


"Kita bukan orang lain, nggak cuma sebulan dua bulan saling kenal. Meski aku udah kerja bareng orang lain, tapi tetap kamu partner kerja terbaikku. Aku cuma pengin tahu apa yang terjadi sama kamu. Walau belum tentu bisa bantu, setidaknya aku bisa dengarin keluh kesah kamu. Mana tahu bebanmu akan berkurang jika berbagi cerita denganku," sambung Dilan.


Mauren masih tetap diam, hanya embusan napas beratnya yang menjawab ucapan Dilan.


"Kamu wanita hebat, seberat apa pun masalah yang kamu alami, pasti bisa melewatinya." Dilan menggenggam tangan Mauren sekilas. "Kita pulang ya," sambungnya.


Mauren hanya mengangguk, bibirnya masih enggan mengucap kata, takut jika nanti malah memancing air mata.


"Aku payah dalam bisnis. Aku nggak bisa mengendalikan orang-orangku, bahkan aku nggak tahu jika salah satu dari mereka adalah pengkhianat," batinnya berulang kali.


Di sampingnya, Dilan mulai melajukan mobil dan meninggalkan gedung Sandria. Mauren masih diam, hanya membuang pandangan ke luar sembari mengalihkan rasa sesak yang makin lama makin mengimpit rongga napas.

__ADS_1


"Andika, apa benar dia yang melakukan ini? Tapi, kenapa?" batin Mauren.


"Kamu mau langsung pulang atau mampir dulu cari makan?" tanya Dilan beberapa saat kemudian.


"Pulang aja." Suara Mauren pelan dam serak.


"Oke."


Setelah itu, tak ada lagi perbincangan di antara keduanya. Mauren masih larut dalam pikirannya, sedangkan Dilan memilih diam dan memberikan ruang untuk Mauren. Sampai akhirnya, mobil yang mereka kendarai tiba di depan rumah Mauren.


"Jangan terlalu larut dengan masalahmu. Harus jaga kesehatan, ya?" ucap Dilan sebelum Mauren keluar mobil.


Mauren mengangguk pelan dan kemudian menatap Dilan.


"Lan, maaf ya aku belum bisa cerita secara rinci. Yang jelas ... ya, ada masalah di kantorku, cukup berat," ungkapnya.


"Apa itu berhubungan dengan produk baru Sandria?"


"Aku paham." Dilan tersenyum. "Masuk dan tidurlah agar pikiranmu bisa tenang. Jika butuh bantuan atau butuh tempat untuk berbagi, telpon aja. Nggak usah sungkan karena kapan pun aku selalu siap," sambungnya.


Mauren turut tersenyum, "Terima kasih. Maaf ya, sekarang masih___"


"It's okay. Aku mengerti."


Tak lama kemudian, Mauren turun dan bergegas masuk ke rumahnya, lantas langsung menuju ke kamar. Mauren tidak segera istirahat seperti pesan Dilan, melainkan duduk dan merenungkan masalah yang terjadi hari ini. Cukup lama, bahkan sampai lewat tengah malam.


Sampai akhirnya, Mauren mengirimkan pesan kepada manajer divisi produk untuk mempersiapkan rapat besok pagi. Mauren paham, serapuh apa pun dirinya, masih ada tanggung jawab yang harus diemban.


_______________

__ADS_1


Tepat pukul 08.00 pagi di Kantor Victory. Semua karyawan divisi produk sedang melakukan rapat. Mereka bingung dan bertanya-tanya apa gerangan yang membuat Mauren mengadakan rapat mendadak.


"Kalian tahu kenapa pagi ini saya kumpulkan di sini?" Mauren menatap karyawannya secara bergantian. Ada perasaan kesal juga kecewa karena tidak bisa menebak mana yang jujur dan mana yang pengkhianat.


"Maaf, Bu, kami masih belum paham," jawab Firman—manajer yang menaungi divisi produksi.


Mauren menghela napas panjang, "Semalam Sandria meluncurkan produk baru, concealer multifungsi dengan aroma aquatic. Produk itu diberi nama Beauty SC, dikemas dalam botol kecil dan panjang dengan dominan warna cokelat. Kalian bisa jelaskan kenapa ini bisa terjadi?"


Tidak ada sahutan dalam beberapa detik kemudian. Para karyawan saling pandang dan menunjukkan keterkejutannya. Mereka sama sekali tidak tahu mengapa produk Sandria sama dengan produk Victory.


"Bukan hanya ukuran kemasan dan dominan warna yang sama, melainkan font tulisannya juga persis. Jadi, sangat jelas bahwa ini bukan kebetulan. Pak Firman, bisakah Anda memberikan pendapat terkait masalah ini?" sambung Mauren sembari melemparkan tatapan tajam.


Firman menunduk dan menjawab pelan, "Maaf, Bu, sepertinya ... data perusahaan telah bocor."


"Oh tidak, produk ini adalah hasil jerih payahku. Mana boleh diklaim orang lain," timpal Diana dengan penuh sesal.


"Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?" sahut Mauren dengan cepat.


Firman makin menunduk. Dia merasa malu karena gagal membimbing anggota yang ada dalam naungannya. Kasus yang terjadi hari bukan masalah sepele, melainkan masalah besar. Jika produk yang dirancang sekian waktu gagal diluncurkan, maka perusahaan akan rugi banyak.


"Data perusahaan tidak akan keluar dengan sendirinya, saya yakin ada tangan tak bertanggung jawab yang membawanya ke sana. Saya tidak mau tahu apa motifnya melakukan ini, yang jelas tindakannya sangat merugikan. Jadi, saya tidak akan tinggal diam. Cepat atau lambat, semuanya akan saya ungkap. Jika orang itu salah satu dari kalian, saya sarankan cepat menemui saya dan mengakui kesalahan secara jantan. Jika dalam satu kali dua puluh empat jam tidak ada kejelasan, saya sendiri yang akan mengungkapnya. Dan ... masalah ini akan saya bawa ke jalur hukum," terang Mauren dengan tegas.


Nyali para karyawan mendadak ciut. Tidak ada yang berani membantah sedikit pun. Mereka tahu Mauren sangat marah dengan masalah tersebut. Mereka sekadar bertanya-tanya dalam batin siapa kira-kira yang berkhianat.


"Ke ranah hukum, yakin? Takutnya ... malah kamu duluan yang masuk sana," batin salah seorang karyawan yang saat ini ikut rapat. Dia mengulas senyum licik di balik kepalanya yang menunduk.


*Novelnya lagi masuk puncak konflik, jadi mungkin bikin tensi naik. Tapi, tenang aja, konfliknya aku tulis dalam satu kali up, jadi keselnya nggak lama-lama.


So, semangat scroll yahh🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2