
Menara besi yang menjulang tinggi, lengkap dengan hiasan lampu yang membuatnya bersinar terang, menjadi objek yang sangat memesona. Mauren sampai tak bisa berpaling sedetik pun. Dia betah menatapnya berlama-lama.
Menara Eiffel, icon Negara Perancis yang popular di seluruh dunia. Hampir semua orang tentang monumen ini, walau sebatas gambar dan ulasan dalam artikel. Terkenal akan kemegahannya yang menjulang tinggi, tak jarang orang bermimpi untuk datang ke tempat ini. Sungguh keberuntungan besar bagi Rendra dan Mauren, diberi kesempatan menyaksikan Menara Eiffel secara nyata.
Saat ini, Mauren dan Rendra sedang berada di taman, di bawah menara. Mereka duduk berdua dan saling berimpitan. Tangan Rendra merangkul bahu Mauren dengan erat, sesekali mengusapnya dengan lembut.
"Melihat tempat yang seindah ini bersama seseorang yang paling kucintai, rasanya ... aku ingin waktu berhenti di sini saja. Terlalu indah soalnya," ujar Rendra lengkap dengan senyum manisnya.
"Jangan mengharap waktu berhenti. Biarkan saja ia berjalan, kita pun bisa kok tetap bersama. Bahkan, membuat momen-momen yang lebih indah dari ini," jawab Mauren sambil menatap suaminya sekilas.
"Iya juga sih." Rendra menggaruk kepalanya. "Mmm, intinya aku nggak mau jauh-jauh dari kamu. Apa pun momennya, yang penting bareng kamu," sambungnya.
"Aku juga nggak mau jauh dari kamu, telanjur nyaman." Mauren menyahut sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rendra.
Beberapa saat berlalu, keduanya berhenti bicara. Masing-masing sibuk menikmati cinta yang mengalir indah dalam hati. Dalam posisi yang saling memeluk dan menggenggam, Mauren dan Rendra memanjatkan doa yang serupa—semoga Tuhan mengizinkannya bersama dalam waktu yang lama.
"Sayang!" panggil Rendra beberapa saat kemudian.
"Hmmm." Mauren menggumam pelan, dengan mata yang menatap lekat pada wajah Rendra.
"Dari kebersamaan kita setiap malam, apa yang kamu harapkan?" tanya Rendra.
"Aku ingin dia tumbuh dan hadir menjadi sosok mungil yang lucu," jawab Mauren, yang lantas membuat Rendra merasa lega. Ternyata keinginan Mauren sama dengannya, yakni membiarkan buah cinta hadir dalam waktu dekat.
"Semoga harapan kita cepat terkabul, Sayang," ujar Rendra. Mauren pun menanggapinya dengan anggukan.
Malam itu, Rendra dan Mauren menghabiskan waktu yang cukup lama di bawah menara. Selain menikmati keindahan tempat, mereka juga menikmati jajanan khas yang banyak dijual di sekitar sana, seperti crepes, eclair, croissant, dan macaron.
__ADS_1
Setelah puas, Rendra dan Mauren kembali ke apartemen, yang kebetulan tidak jauh dari sana. Meski saat itu sudah larut, tetapi Rendra dan Mauren tidak langsung tidur. Mereka saling merayu dan memadu cinta dalam kasih yang lembut.
_______________
Keesokan harinya, Rendra dan Mauren kompak bangun siang. Mereka lelah karena lagi-lagi lupa waktu dan bermain sampai pagi. Sekitar pukul 10.00 waktu Paris, mereka baru membersihkan diri.
Hari ini, Rendra dan Mauren akan mengunjungi Museum De Louvre, salah satu museum terbesar yang paling banyak dikunjungi, juga termasuk dalam monumen bersejarah di dunia. Banyak karya seni yang dipamerkan di sana, mulai dari lukisan, ukiran, sampai patung.
Selain ke museum, Mauren dan Rendra berencana berburu kuliner yang khas. Meski di Indonesia kerap menyantap hidangan yang serupa, tetapi jelas berbeda jika menikmatinya langsung di negara asalnya.
"Misalkan nanti sekalian belanja, waktunya sempat nggak ya?" ujar Mauren sambil duduk di tepi ranjang, menunggu sang suami yang masih menyisir rambut.
"Kalau nggak sempat ya belanja yang untuk kita aja, belanja oleh-olehnya besok atau lusa aja," jawab Rendra.
Mauren memang berencana membeli oleh-oleh untuk orang-orang terdekat. Mulai dari keluarga, sampai bawahan.
"Semalam Mama kirim pesan, katanya sampai sekarang Papa nggak berulah lagi. Ah, aku harap gitu terus sih. Anteng aja menikmati masa tua bareng anak-anak, nggak numpuk dosa mulu." Rendra bicara sambil melangkah mendekati Mauren.
"Berkat kamu, Sayang. Memang terbaik deh," ujar Rendra. Tangannya mengusap lembut puncak kepala Mauren.
"Kok jadi aku?" Mauren mengernyit heran.
"Iya. Kan Papa mau berubah sejak aku mengakui perasaanku ke kamu," jawab Rendra.
Sejak Rendra berniat menikahi Mauren, Derri memang berjanji untuk bertobat. Tidak lagi bermain perempuan seperti sebelumnya. Namun, saat itu Rendra tidak yakin. Dia masih menganggap omongan ayahnya sekadar bualan.
"Aku sangat nggak suka dengan sikap Papa dulu. Apa pun alasannya, tapi perilaku itu salah. Boleh aja marah dan kecewa, tapi nggak harus mencari pelampiasan juga, kan? Beruntung loh, Kak Kavin teguh pendirian. Meski Papa kayak gitu, tapi dia tetap menjadi cowok baik. Sejak mencintai Kak Diva, dia nggak pernah main-main sama cewek lain. Sedangkan aku ... yah, saking traumanya melihat pernikahan Mama dan Papa, aku sampai anti wanita. Beruntung aku ketemu kamu, Sayang. Kamu bisa mengubah cara pandangku terhadap wanita," ujar Rendra dengan panjang lebar.
__ADS_1
"Kamu tahu nggak, setiap kali ingat masa lalu, kadang aku merasa pesimis. Aku nggak punya keluarga yang seharmonis kamu," sambung Rendra diiringi senyum masam.
"Sayang, setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mungkin ... keluargaku memang harmonis, tapi orang tuaku pergi dengan begitu cepat. Bahkan, sebelum aku sempat memenuhi permintaannya." Gurat sesal tampak jelas di wajah Mauren.
"Apa?"
"Sejak dulu, Mama dan Papa memintaku belajar bisnis. Tapi, aku sama sekali nggak mengindahkan perintah itu. Aku tetap bergelut dengan hobi, sedikit pun tak pernah belajar bisnis. Sampai akhirnya Mama dan Papa tiada, dan karena ketidaktahuanku, bisnis kupercayakan pada orang yang salah. Aku hampir saja kehilangan Victory, padahal bisnis itu dirintis dengan usaha keras," jawab Mauren,
juga dengan kalimat panjang.
Rendra makin mendekat dan kemudian merangkul tubuh Mauren.
"Sekarang ... hal itu nggak akan terjadi lagi, Sayang. Meskipun nanti kamu hamil dan nggak bisa kerja, tapi aku akan selalu melibatkan kamu dalam urusan apa pun yang berkaitan dengan kantor. Dan soal hobi, semoga nanti kamu bisa mengasahnya kembali," ucapnya.
"Mengasah hobi? Maksudnya?" Mauren kebingungan.
"Aku ada sedikit tabungan, rencananya akan kugunakan untuk membuka butik. Mengasah hobi di modeling, aku nggak bisa bantu. Aku nggak punya kenalan agensi, dan ... ketika kamu udah hamil dan punya anak nanti pasti agak sulit, karena pekerjaan itu sangat menyita waktu. Jadi, aku ingin mendukung hobimu di fashion saja. Nanti, kamu bisa mengasah lagi pelan-pelan hobi itu, dan aku akan selalu mendukungmu."
Mendengar penuturan Rendra, Mauren terkesiap. Namun, dia menolak rencana tersebut.
"Nggak usah, Sayang. Ke depannya, aku cuma ingin fokus dengan bisnis dan juga rumah tangga kita. Tabungan kamu, nanti gunakan saja untuk membuka usaha yang sesuai dengan bidang kamu. Ya?" ucap Mauren.
"Tapi___"
"Sayang, aku pengin jadi pebisnis hebat seperti kamu, yang nggak mudah dijebak dan dipermainkan lawan. Untuk hal lain, aku beneran nggak kepikiran," pungkas Mauren sambil menatap Rendra dengan lekat.
"Yakin?" tanya Rendra.
__ADS_1
"Iya." Mauren tersenyum manis.
Bersambung....