Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Ujung Kisah


__ADS_3

Enam tahun kemudian.


Mauren dan Rendra makin sukses dalam bisnisnya. Victory berkembang pesat. Pabriknya sudah direnovasi dan diperbesar hingga dua kali ukuran awal. Distribusi produk pun tidak bergantung pada pihak lain, melainkan berdiri sendiri. Kantor distribusinya tersebar di seluruh kota-kota besar. Kosmetik produk Victory tidak hanya menguasai pasar dalam negeri, tetapi sudah diakui secara internasional.


Selain Victory, Mauren dan Rendra juga menjadi pemilik sah perusahaan milik Jeremy Mantofany. Setelah berulang kali menolak dan Fadila tetap memaksa, akhirnya Rendra menerima aset tersebut. Dengan syarat, ada sebagian yang diberikan kepada sepupu-sepupu Jeremy.


Fadila tidak keberatan dengan syarat tersebut. Sepupu-sepupu Jeremy mendapat bagian dari penjualan rumah dan apartemen, juga memegang sedikit saham di perusahaan. Meski bagian Rendra jauh lebih besar dari mereka, tetapi tak ada satu pun yang iri. Menurut mereka, sudah sepatutnya Rendra menerima semua itu.


Namun kini, kesehatan Fadila benar-benar memburuk. Komplikasi yang dia derita sudah parah. Kaki serta tangannya kerap bengkak, dan jika begini Fadila kesulitan berjalan. Namun, tidak bengkak pun Fadila juga tidak kuat berjalan jauh. Kesehariannya, Fadila kerap menggunakan kursi roda.


Akan tetapi, Mauren tidak pernah mengeluh. Dia tetap menyayangi Fadila seperti sebelumnya. Bahkan, ketika kondisi Fadila memburuk, Mauren tidak pernah kerja di kantor. Dia hanya membantu Rendra dari rumah. Mauren tidak tega jika meninggalkan Fadila bersama pelayan saja.


Selain sabar dalam merawat, Mauren juga tidak malu memperkenalkan Fadila sebagai mertua. Meski kondisinya sudah berbeda, tetapi Mauren tetap menganggapnya istimewa dan berharga.


Seperti malam ini, dengan hati yang bahagia Mauren mendorong kursi roda Fadila dan mengajaknya menghadiri acara ulang tahun Victory.


"Nak, beneran nggak apa-apa Mama ikut ke sini?" tanya Fadila dengan terbata-bata. Sejak mengalami stroke, dia memang kesulitan bicara.


"Tentu saja enggak, Ma. Aku seneng kalau Mama ikut menyaksikan acara penting ini," jawab Mauren.


"Tapi___"


"Jangan pikirkan apa pun, Ma. Di sini tidak akan ada yang mengata-ngatai Mama," pungkas Mauren.


Fadila tersenyum. Tidak sia-sia dia menyayangi Rendra seperti anaknya sendiri. Sekarang ketika keadaannya sudah buruk, Rendra masih menyayanginya dengan tulus, begitu pun dengan Mauren. Padahal, aset sudah resmi diserahkan kepada Rendra. Andai mereka matre dan hanya mau harta saja, pasti sangat mudah membuangnya. Namun, Rendra dan Mauren tidak seperti itu. Sifat Rendra jauh berbeda dengan ibunya.


"Nanti kalau capek bilang aja ya, Ma. Di sini sudah disiapkan ruangan sama Mas Rendra, untuk Mama rebahan," ujar Mauren beberapa saat kemudian.


"Iya, Nak. Terima kasih ya, sudah memperlakukan Mama sebaik ini." Mata Fadila berkaca-kaca.


"Nggak usah berterima kasih, Ma. Sudah seharusnya aku dan Mas Rendra melakukan ini." Mauren tersenyum dan kemudian merangkul Fadila.


Sekitar lima belas menit kemudian, acara dimulai. Acara dibuka dengan ucapan terima kasih dan sambutan-sambutan ringan. Bukan hanya Rendra dan Mauren saja yang naik ke atas panggung, melainkan juga si kembar, Derri, Fadila, Kavin, Deana dan Diva. Mereka ingin menunjukkan kepada publik, betapa harmonisnya keluarga mereka.


Derri duduk di kursi paling ujung. Meski terlihat renta, tetapi fisiknya masih sehat dan bugar. Di sampingnya ada Kavin dan Diva, pasangan tampan dan cantik yang kerap membuat orang lain iri. Di samping Diva ada Deana, Keannu, dan Keanne. Deana sudah duduk di kelas 2 SD, sedangkan si kembar baru kelas 1 SD. Mereka tampak imut dan menggemaskan. Di sebelah Keanu, Fadila duduk di atas kursi roda. Senyumnya terpancar di balik wajah yang kurus, mata pun berbinar walau tampak cekung.


Pada puncak acara, Rendra dan Mauren maju bersama. Mereka menyapa para karyawan, pelanggan, dan juga relasi lain yang turut hadir di sana. Mereka mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya, juga meminta maaf andaikata ada kesalahan selama berbisnis. Lalu, mereka menyampaikan visi dan misi Victory ke depannya.


Usai bicara panjang lebar perihal bisnis, Rendra dan Mauren berbagi kebahagiaan dalam kehidupan pribadinya.


"Istri saya sedang mengandung anak ketiga kami. Usianya baru menginjak dua bulan. Saya harap, para undangan yang hadir di sini berkenan memberikan doa untuk kami sekeluarga, khususnya istri dan calon bayi kami. Sebagai ucapan rasa syukur atas anugerah yang amat indah, malam ini kami akan membagi bingkisan-bingkisan kecil untuk para undangan. Semoga bermanfaat untuk Anda sekalian."


Tepuk tangan terdengar riuh menyambut kabar bahagia dari Rendra dan Mauren. Para reporter yang memang diizinkan hadir, tak henti-hentinya mengarahkan kamera ke atas panggung. Sebagai pebisnis besar yang cukup terkemuka, berita tentang mereka sangat menjual. Bahkan, salah satu saluran TV terbaik meminta izin untuk meliput acara, yang kemudian ditayangkan secara langsung.


Mauren dan Rendra tidak keberatan. Menurut mereka, hal itu malah berdampak baik pada popularitas, yang lantas berdampak juga pada penjualan produk.


Pada saat yang sama, di tempat yang berbeda.


Seorang wanita duduk di kursi plastik, di dalam warung kecil. Dia sedang menunggui sang pemilik warung yang menyiapkan nasi goreng pesanannya.


Dia adalah Elsa, mantan sahabat Mauren. Sejak minggu lalu dia sudah keluar dari penjara, dan kini ikut tinggal di rumah Mita. Mau ke mana lagi, dia tak punya apa pun atau siapa pun. Meski Mita pernah menjatuhkan mentalnya, tetapi berkat wanita itu dia bisa memperbaiki diri. Dia jadi sadar betapa besar kesalahannya terhadap Mauren, dan dia tak lagi menyimpan dendam atau benci.


"Andai aku nggak pernah terbakar rasa iri dan dengki, pasti sekarang aku ikut tersenyum di samping kamu. Aku akan menjadi orang yang paling beruntung karena dekat dengan kamu," batin Elsa ketika menatap siaran live acara ulang tahun Victory, di TV yang ada di sudut warung.


"Aku memang bodoh," sesal Elsa masih dalam batinnya.


"Mbak, ini nasi dan jusnya!"


Lamunan Elsa buyar ketika abang penjual menyerahkan pesanannya.


"Terima kasih, Bang." Elsa bangkit dan tersenyum, lalu bergegas pergi setelah membayar.


"Semoga kamu bahagia, Ren. Meski aku nggak kenal dekat dengan Rendra, tapi aku yakin dia jauh lebih baik dari Mas Jeevan. Mas Jeevan nggak tahan godaan, tetapi Rendra, dia sangat membatasi dirinya," batin Elsa.

__ADS_1


Karena pikirannya masih dipenuhi bayangan Mauren, Elsa sampai tidak fokus dengan langkahnya. Akhirnya, dia bertabrakan dengan lelaki bertubuh tegap. Meski tidak jatuh, tetapi jus yang Elsa bawa terlepas dan tumpah ke atas paving.


"Ahh," keluh Elsa.


Walau murah, tetapi jus itu sangat berharga baginya. Mengingat keadaannya yang belum beruntung—hanya menjadi buruh setrika di binatu samping rumah, uang ribuan pun sangat berarti baginya.


"Maaf, maaf, aku nggak sengaja. Biar aku ganti ya." Lelaki itu meminta maaf. "Elsa," sambungnya ketika melihat wajah Elsa.


Elsa terkesiap, lalu mendongak dan menatap lelaki di hadapannya.


"Van, ini ... kamu," gumam Elsa.


Lelaki itu adalah Bayvan Indradinata, kekasih pertama Elsa, lelaki yang sudah mengambil kesuciannya. Entah apa yang membuat lelaki itu di sekitaran warung dengan penampilan sederhana, padahal dulu dia tergolong orang kaya.


"Iya, ini aku. Gimana kabar kamu, El?" tanya Bayvan.


"Aku baik."


"Syukurlah." Bayvan tersenyum. "Ya udah masuk lagi yuk, biar kuganti," sambungnya.


"Nggak usah, nggak apa-apa kok," tolak Elsa.


"Ayolah, aku juga pengin ngobrol sama kamu." Tanpa menunggu jawaban Elsa, Bayvan langsung menggandeng tangannya dan mengajaknya masuk.


Elsa tak bisa menolak. Alhasil, dia ikut masuk dan duduk di dalam warung. Awal perbincangan, Bayvan bertanya tentang apa yang terjadi dengan Elsa, mengapa bermasalah dengan Mauren dan sampai dipenjara. Elsa menjawabnya dengan jujur.


"Maafin aku ya, El, gara-gara aku dulu, kamu jadi kayak gini. Aku udah merusak masa depan kamu," ucap Bayvan usai Elsa bercerita.


"Nggak usah minta maaf, itu bukan salahmu. Dulu aku sendiri yang mau," jawab Elsa. Memang iya Bayvan tidak pernah memaksa, dirinya sendiri yang bersedia.


"Tapi, tetap aja aku yang paling salah," sesal Bayvan.


"Ngomong-ngomong ... kamu ngapain di sini? Dan penampilanmu sedikit berubah, kenapa?" tanya Elsa mengalihkan pembicaraan.


Bayvan tersenyum masam, "Aku kena karma."


"Kamu tahu kan sejak dulu aku suka foya-foya. Aku malas kerja dan nggak pernah serius dengan wanita. Aku pernah nikah, tapi kemudian cerai. Wajar sih, setiap hari aku ke kelab. Nggak cuma minum, kadang juga main wanita di sana. Akhirnya, istriku minta cerai. Kayak gitu aku masih nggak berubah, tetap aja brengsek. Barulah ketika Mama dan Papa tiada, aku sadar bahwa tindakanku selama ini salah. Tapi, udah terlambat. Karena aku bodoh, bisnis keluarga bangkrut dan habis begitu saja. Rumah, apartemen, mobil, semua terjual untuk menutup hutang. Jadilah begini aku sekarang, menyambung hidup dengan bekerja kasar," terang Bayvan dengan panjang lebar.


"Aku nggak tahu kamu mengalami hal yang serumit itu," ucap Elsa.


"Aku sendiri yang membuat hidupku rumit." Bayvan menunduk sambil mengembuskan napas kasar.


Setelah itu, mereka terdiam cukup lama. Masing-masing hanyut dalam pikirannya sendiri. Sampai akhirnya, Bayvan kembali bicara.


"El, gimana kalau kita memperbaiki hidup kita bersama-sama?" tanya Bayvan.


"Apa maksudmu?" Elsa tergagap.


"Kita pernah bersama. Saat berpisah, kita sama-sama mengambil jalan salah. Sekarang, Tuhan kembali mempertemukan kita dalam keadaan yang berbeda. Aku ingin memperbaiki hidupku bersamamu, El," jawab Bayvan.


"Kamu jangan aneh-aneh deh, Van."


"Aku serius, El. Kamu tahu, dari semua wanita yang pernah dekat denganku, kamu adalah wanita yang paling berkesan. Karena kamu adalah satu-satunya wanita yang memberiku malam pertama. Kamu juga ... wanita yang pernah membuatku jatuh cinta, yahh walau akhirnya cinta itu dikalahkan na*su. Tapi, saat ini aku benar-benar serius, El." Bayvan menatap Elsa dengan lekat.


Elsa pun membalas tatapan itu, dan dia menemukan setitik ketulusan terselip di dalam manik hitam milik Bayvan.


Elsa menunduk. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat dan wajah pun ikut memanas.


"Elsa!"


Elsa terdiam cukup lama. Dia tak bosa merangkai kata untuk menjawab ucapan Bayvan. Namun, sesaat kemudian, dia mendongak dan mengulas senyum penuh arti.


__

__ADS_1


Tak jauh beda dengan Elsa, Jeevan pun turut menyesal saat menyaksikan siaran langsung ulang tahun Victory.


Di salah satu sudut Kota Denpasar, Jeevan sedang belanja di swalayan dan tak sengaja melihat acara itu di dalam TV yang ada di dekat kasir.


Beberapa menit menatap, Jeevan merasakan sakit di dada. Rupanya, luka lama kembali basah saat menatap senyuman Mauren yang menawan, yang bukan untuknya.


"Wah, Nyonya Mauren dan Tuan Rendra memang keren. Bingkisan yang dibagikan nggak main-main, satu set kosmetik Victory dan lima gram logam mulia. Ahh, andai saja aku tinggal Ibu Kota. Aku akan hadir di acara itu."


"Mereka memang keren. Meski kaya raya, tetapi tidak sombong sama sekali. Aku harap suatu saat nanti bisa bertemu langsung dengan mereka."


Jeevan mendengkus kesal saat mendengar komentar-komentar pengunjung yang menyanjung Mauren dan Rendra. Jeevan terluka dan cemburu.


"Aku duluan!" ucap Jeevan pada Indira. Kebetulan saat itu dia sedang bersama Indira dan Varel—anak Indira.


Saat berangkat ke Bali pada hari itu, ternyata Indira tengah hamil muda. Dia sempat bicara pada suaminya, tetapi lelaki itu tidak mau mengakui Varel sebagai anaknya, malah beberapa bulan kemudian dia mengirimkan surat cerai.


"Mas Jeevan, tunggu!" teriak Indira, tetapi tidak digubris. Jeevan tetap pergi dan meninggalkannya.


Indira hanya menggeleng-geleng saat melihat Jeevan pergi dengan tampang kesalnya.


"Dasar laki-laki nggak bisa move on," batinnya.


Usai membayar semua belanjaan, Indira dan Varel melangkah keluar. Mereka menyusul Jeevan yang sudah menunggu di atas motor, di parkiran.


Pertemuannya di bus pada hari itu, memang berlanjut hingga sekarang. Teman yang disusul Jeevan, tempat tinggalnya tidak jauh dengan kakak Indira. Itu sebabnya, sampai sekarang mereka kerap bersama, meski tempat kerjanya berjauhan. Indira membantu kakaknya menjaga toko baju, sedangkan Jeevan bekerja di galery.


"Kamu kesal sama berita tadi, ya?" tanya Indira ketika tiba di dekat Jeevan.


"Nggak usah nanya." Jeevan menyahut dengan nada dingin.


Indira menghela napas panjang, lalu berdiri di samping Jeevan sambil melipat tangan di dada.


"Kamu tahu nggak, Mas, cinta sejati itu yang gimana?" tanya Indira.


Jeevan tak menjawab, hanya menatap sekilas saja. Baginya, pertanyaan itu sangat tidak penting.


"Cinta sejati adalah cinta yang penuh keikhlasan. Ikhlas menerima segala keputusannya, apa pun itu. Termasuk pergi bersama orang lain. Bahagia ketika melihat dirinya bahagia, itulah makna cinta sejati. Jika sebaliknya, bersikeras memiliki tanpa memikirkan dia bahagia atau tidak, itu bukan cinta lagi namanya, Mas, tapi keegoisan," ujar Indira dengan panjang lebar.


Jeevan menanggapinya dengan dengkusan kasar.


"Makanya, Mas, berhenti mikirin masa lalu. Pikir saja masa depanmu sendiri. Kamu udah lama menduda, menikahlah!" sambung Indira.


"Kamu tahu yang kucintai hanya dia," jawab Jeevan dengan pelan.


"Itu karena kamu nggak mau membuka hati untuk orang lain. Coba kamu mau berusaha, pasti bisa. Asal kamu tahu, Mas, cinta itu kadang hadir karena kebiasaan. Lagian, Mbak Mauren udah bahagia banget sekarang. Suaminya punya bisnis besar, dan setia pula. Coba bayangin, andai kamu yang tetap jadi suaminya, Mas. Apa Mbak Mauren sebahagia sekarang? Kamu nggak sekaya Pak Rendra, kamu juga akan membagi cinta dengan Elsa. Apa kamu pikir Mbak Mauren nggak akan menderita?"


Jeevan menoleh dan menatap Indira. Apa yang dikatakan wanita itu memang benar. Mauren tidak akan sebahagia sekarang jika waktu itu menerima tawarannya—poligami.


"Mauren membuangku sebelum aku membawa madu dalam pernikahan kami. Ya, mungkin memang ini yang terbaik untuknya. Karena dengan pisah, dia bisa mendapatkan kebahagiaan yang sempurna. Bahkan, lebih sempurna dari kebahagiaan yang kuberikan sebelum mengenal Elsa," batin Jeevan.


Detik berikutnya, Jeevan tak menghiraukan ucapan Indira yang nyaris tak berhenti. Dia malah fokus menatap Varel yang berdiri tak jauh dari motornya. Bocah lelaki itu sedang menikmati ice cream cup cokelat kesukaannya.


"Aku akan menikah dengan seseorang yang bisa menyayangi Varel. Nggak peduli dia kaya atau miskin, yang penting tulus menerima anakku."


Jeevan tersenyum lebar saat mengingat ucapan Indira tempo hari. Wanita itu mau menikah dengan siapa pun asal bisa menerima anaknya. Syarat yang sangat mudah, karena selama ini Jeevan juga menyayangi Varel dengan tulus.


"Dira!" panggil Jeevan sambil menoleh dan menatap Indira dengan lekat.


"Kenapa, Mas? Eh, tatapanmu aneh." Indira kebingungan karena tatapan Jeevan seakan-akan menyiratkan arti lain.


Bukannya langsung menjawab, Jeevan malah meraih tangan Indira dan menggenggamnya.


"Aku akan menyayangi Varel dengan tulus. Sedangkan cinta, biarkan tumbuh karena kebiasaan," ucap Jeevan.

__ADS_1


Indira mengernyitkan kening. Kemudian, tersenyum lebar saat memahami maksud Jeevan.


TAMAT


__ADS_2