Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Tamparan Untuk Jeevan


__ADS_3

Mauren memejam sesaat. Lagi-lagi dia gagal memahami perasaan yang terus bergejolak. Cinta, satu kata yang berhasil mengikis rasa kecewa. Entah bagaimana konsepnya, yang jelas sekarang kekesalan Mauren tak sebesar tadi.


"Kenapa? Apakah bagian itu yang membuatku paling kecewa? Tapi ... seharusnya nggak begini," batin Mauren tanpa membalikkan badan.


Samar-samar, langkah Rendra terdengar mendekat. Lantas, hangat embusan napas terasa menyembur di puncak kepala. Sepertinya, Rendra berdiri tepat di belakangnya. Mauren mendadak salah tingkah. Lantas, dia hanya menunduk sambil mendekap dada, berusaha mengontrol detak jantung yang berantakan.


"Aku mencintai kamu, Mauren." Rendra mengulang kembali pernyataan cintanya.


"Kita baru kenal, gimana bisa kamu jatuh cinta, mungkin ... hanya rasa penasaran aja," jawab Mauren dengan pelan.


"Kita memang baru kenal, tapi aku tahu tentang kamu sudah lama. Aku yakin ini cinta, Mauren." Rendra terus meyakinkannya.


Perasaan Mauren kian bergejolak, ada hati dan logika yang saling bertentangan. Jika menuruti kata hati, pasti dirinya sudah berbalik dan memeluk Rendra dengan erat. Namun, logikanya berkata lain. Masih dalam hitungan hari dirinya mengenal Rendra, itu pun tidak diawali dengan kejujuran. Benarkah lelaki itu tulus mencintainya? Benarkah ia akan bahagia jika memilih lelaki itu?


Mauren dirundung keraguan yang tak berkesudahan. Kegagalannya dengan Jeevan membuat Mauren lebih selektif dalam memilih pasangan. Pikirnya, jangan sampai lagu lama terulang kembali.


"Aku paham, bagimu ini buru-buru." Rendra berpindah tempat dan kini berdiri tepat di hadapan Mauren.


"Mungkin memang terlalu awal aku menyatakan perasaan, tapi percayalah, ini benar-benar tulus." Rendra menggenggam kedua tangan Mauren. "Mauren, aku nggak menuntut jawaban sekarang. Aku tahu memahami perasaan itu butuh waktu. Tapi, tolong jangan menjauh. Kekacauan ini bukan maksud untuk menghancurkan kamu, melainkan melindungi. Aku di sini akan membantumu menyelesaikannya. Mauren, bertemanlah denganku dan izinkan aku mengejarmu. Beri aku kesempatan untuk meyakinkan hatimu," sambungnya.


Mauren mendongak dan langsung beradu pandang dengan Rendra. Kendati malu dan ingin berpaling, tetapi kenyataannya Mauren menikmati tatapan itu. Bola mata Rendra yang hitam memikat, berhasil mengikis sekat yang ia bentangkan sendiri. Harus diakui, Mauren terjerat dalam pesona Rendra.


"Mau kan berteman denganku dan memberikan kesempatan padaku?" Rendra bertanya dengan senyum yang terkulum sempurna.


Bukan tebar pesona, melainkan melukiskan rasa yang luar biasa bahagia. Bagaimana tidak, Rendra melihat pipi Mauren bersemu merah. Wanita itu tersipu karenanya.


"Hanya butuh waktu," batin Rendra.


"Iya, oke." Mauren tersadar dan langsung menarik tangannya, sekaligus mengalihkan tatapan. "Tapi ... sekarang aku mau pamit, kasihan Pak Adnan udah nunggu lama," lanjutnya.


"Iya. Hati-hati." Rendra mengangguk sambil melebarkan senyuman.


Detik berikutnya, Mauren benar-benar pergi, langkahnya lebih cepat dari sebelumnya. Rendra sedikit tertawa karena tingkah Mauren sangat lucu menurutnya.

__ADS_1


Cukup lama Rendra tak beranjak. Ia tetap di posisi semula sampai mobil Mauren melaju dan melintas di dekatnya. Setelah mobil Mauren keluar dari halaman kantor polisi, barulah dia melangkah menuju mobilnya.


Sebelum fokus dengan kemudi, Rendra diam sejenak dan merenungkan hidupnya sebelum tahu tentang Mauren. Hari-harinya nyaris tak ada warna, arah dan tujuan pun sangat suram. Sikap buruk ayahnya sukses membuat Rendra mati rasa.


"Terima kasih, Mauren. Berkat kamu, aku jadi tahu indahnya mencinta. Kamu telah mengubah pandanganku terhadap wanita. Kamu luar biasa, Mauren," gumam Rendra. Meski pandangannya tertuju pada kemudi, tetapi pikirannya berkelana pada satu objek—Mauren.


_________________


"Terima kasih banyak, Pak," ucap Mauren ketika ia dan Adnan tiba di depan rumah.


"Sama-sama, Bu. Sekali lagi maaf ya, saya belum bisa melakukan yang terbaik," jawab Adnan.


"Jangan terus meminta maaf, Pak. Yang Anda lakukan untuk saya sudah luar biasa. Ke depannya saya juga masih merepoti Anda. Victory mengalami ini ... mana bisa saya mengurusnya sendiri." Mauren menatap Adnan sekilas.


"Saya akan berusaha sekeras mungkin untuk Victory."


Setelah selesai berbincang, Mauren turun dan Adnan pun langsung melaju pergi. Baru lima langkah memasuki pintu gerbang, Mauren dihujani banyak pertanyaan oleh ART yang sejak tadi sudah menunggu kedatangannya. Lantas, mereka menangis haru ketika Mauren menjawab, "Aku nggak apa-apa. Bukti sudah menunjukkan bahwa aku dan Victory tidak bersalah."


"Ada yang datang, Nyonya," sela Nina ketika Mauren masih berbincang dengan ART yang lain.


Mauren menoleh dan mendapati motor matic berhenti di depan pintu gerbang, siapa lagi kalau bukan Jeevan.


"Kalian masuklah dulu. Biar aku sendiri yang menemui dia," ujar Mauren.


"Baik, Nyonya." Para ART mengangguk patuh dan kemudian masuk ke rumah.


Sementara itu, Jeevan turun dari motor dan langsung menghampiri Mauren. Kebetulan, pintu gerbang belum ditutup.


"Mauren, kamu baik-baik aja, kan? Udah terbukti nggak bersalah, kan?" tanya Jeevan dengan cemas.


"Aku baik-baik aja." Mauren menjawab datar. Sejak tahu bahwa Elsa-lah yang menjebaknya, Mauren sangat kesal kepada Jeevan, karena semua masalah ini berawal dari lelaki itu.


"Syukurlah kalau begitu. Sejak kemarin aku nggak tenang karena mikirin kamu. Takut terjadi sesuatu," ujar Jeevan.

__ADS_1


"Jadi ... kenapa bisa gitu? Apa ada yang jebak kamu?" Jeevan menyambung ucapannya.


Mauren tidak menjawab, sekadar membuang napas kasar sambil memutar bola mata dengan jengah.


Diamnya Mauren membuat Jeevan yakin bahwa ada pihak yang sengaja menjebak Victory.


"Bisnis itu memang keras, Mauren. Jauh lebih keras dari dunia hiburan seperti yang kamu geluti dulu. Pandai bermain strategi aja nggak cukup, kita juga harus bisa membaca strategi kawan dan juga lawan. Dalam bisnis, kawan bisa menjadi lawan, begitu pun sebaliknya. Karen zaman sekarang, banyak yang mencari keuntungan untuk pihaknya sendiri. Itu sebabnya, kita harus pandai-pandai membaca kondisi," ucap Jeevan dengan panjang lebar.


"Iya." Mauren menyahut cepat. "Contohnya kamu ya, Mas, suami tapi jadi pengkhianat," sambungnya dalam hati.


"Andai kamu mau balikan sama aku, aku pasti bisa bantu kamu ngurus kantor. Semua ini nggak akan terjadi, Mauren," kata Jeevan seolah-olah penuh sesal.


Tanpa mengucap sepatah kata pun, Mauren langsung melayangkan tangannya dan menampar pipi Jeevan dengan keras, sampai-sampai jemarinya meninggalkan bekas merah di sana.


"Beraninya kamu bicara kayak gitu, Mas! Asal kamu tahu, semua ini terjadi karena kamu!" bentak Mauren dengan penuh emosi.


"Apa maksudmu? Aku ... aku___"


"Dengar baik-baik, Mas! Yang menjebakku adalah Elsa, ja*angmu itu! Karena tingkahmu yang hanya memikirkan na*su, perusahaanku bermasalah sampai sekarang! Pergi kamu, Mas! Pergi!" teriak Mauren sambil mengepalkan tangan, siap melayangkan hantaman yang lebih keras.


"Tapi___"


"Pergi!" pungkas Mauren. Dia sama sekali tak memberi kesempatan untuk Jeevan berbicara.


"Mauren, aku___"


"Kalau udah disuruh pergi ya pergi aja. Itu namanya mengerti wanita. Kalau keras kepala kayak gini ... itu namanya egois."


Kali ini bukan Mauren yang memotong ucapan Jeevan, melainkan suara lelaki yang entah sejak kapan ada di sana.


Jeevan dan Mauren menoleh bersamaan. Lalu, mata mereka terpaku pada sosok rupawan dengan senyum menawan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2