Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku
Laki-laki Macam Apa Aku?


__ADS_3

Niat Rendra yang semula sekadar mengantar sampai pintu, kini singgah sebentar karena penasaran dengan isi hadiah yang diduga dari Jeevan. Pandangan Rendra tak beralih ketika Mauren membuka hadiah tersebut.


Kotak musik berbentuk bola salju dengan hiasan sepasang patung di dalamnya. Ketika musik diputar, sepasang patung itu berdansa. Manis, mungkin iya jika hadiah itu diberikan sewaktu Jeevan belum berkhianat. Namun sekarang, apa pun yang Jeevan berikan tidak akan menyiratkan hal manis atau sejenisnya.


Selain kotak musik, juga ada cokelat dan kartu ucapan. Bukan hanya tulisan selamat ulang tahun, tetapi juga permintaan maaf yang dirangkai dengan kalimat indah.


"Dia masih cinta sama kamu, bersikeras banget ingin balikan," ujar Rendra sembari menimang-nimang setangkai mawar.


"Mungkin sekarang udah sadar kesalahannya sebesar apa, jadi ngerasa nyesel." Mauren menyahut asal.


"Kamu ... nggak akan tertarik kan dengan ajakannya?" Rendra menatap lekat.


Entah mengapa ada rasa takut yang tiba-tiba menjalar. Jeevan adalah lelaki yang pernah menyandang status suami, tentu banyak hal yang mereka lewati selama dua tahun menikah. Dalam keseharian, pasti ada banyak kebiasaan yang berkesan. Rendra khawatir hati Mauren goyah karena Jeevan sudah berubah. Bagaimanpun juga, Jeevan pernah menjadi orang yang paling dicintai.


"Kamu meragukan aku?" Mauren balik bertanya.


"Bukan gitu. Aku hanya takut kehilangan kamu," jawab Rendra.


"Selama kamu bisa menjaga sikap, aku nggak akan berpaling. Tapi ... sekali saja kamu melakukan kesalahan seperti Jeevan, saat itu pula nggak ada lagi namamu dalam hidupku," ucap Mauren dengan bersungguh-sungguh.


"Nggak akan pernah, Sayang. Aku mencintaimu, bodoh sekali jika menyakitimu." Rendra bangkit dan mendekati Mauren, lalu duduk di sebelahnya sambil merangkul tubuhnya.


Ketika mereka masih asyik meyakinkan hati masing-masing, tiba-tiba ponsel Mauren bergetar. Ada notifikasi pesan baru yang entah dari siapa.


Karena sudah berkomitmen untuk jujur dalam segala hal, maka Mauren mengambil ponselnya dan membuka pesan tersebut.


Jeevan : Aku memang salah, tapi nggak kusangka kamu sekejam itu, menolakku demi lelaki lain yang baru kamu kenal. Apa yang kamu harapkan darinya? Benarkah dia setia? Sadarlah, Mauren, dia anak orang kaya. Kemungkinan besar dia playboy, atau setidaknya kerap melakukan one night stand. Lalu apa yang kamu harapkan? Bukankah lebih baik kembali denganku? Meski pernah khilaf, tapi sekarang aku beneran berubah. Aku nggak akan menyakiti kamu lagi. Mauren, pernikahan bukan mainan. Pikirkan baik-baik.


"Asem banget dia, bilang aku playboy dan sering one night stand. Aku masih perjaka ting-ting ya! Gila aja ngelakuin yang begituan, dekat dengan wanita aja baru sekarang. Asal jeplak 'tuh mulut, belum pernah ngerasain bogem kali ya. Awas aja kalau ketemu, aku hajar sampai habis giginya biar sekalian nggak bisa ngomong! Sembarangan aja menilai orang. Bilang aja kalau iri, nggak usah fitnah-fitnah gitu!" umpat Rendra dengan kesal. Dia sangat tersinggung disebut playboy dan sering melakukan one night stand.


"Hei, kenapa marah-marah sendiri!" seru Mauren.


"Aku kesel, Sayang. Bisa-bisanya dia bilang kayak gitu."


"Udah, udah, yang bilang kan dia, bukan aku. Nggak usah dipikirkan lah," ujar Mauren.


"Aku takut kamu percaya." Rendra masih bersungut-sungut.


Mauren tersenyum, "Kalau aku percaya sama dia, kita nggak akan pernah kenal. Karena aku nggak akan cerai dan nggak akan berhenti jadi model. Aku nggak akan pernah memegang Victory."


Berkat ucapan Mauren yang sangat meyakinkan, emosi Rendra perlahan reda. Lantas, Mauren mengutarakan niat yang harus segera dituntaskan.


"Sayang, sepertinya ... aku harus ngomong banyak ke dia. Ngasih pengertian biar dia paham dan nggak berharap lagi. Aku juga nggak enak kalau dia masih aja kayak gini," ucap Mauren.


"Ketemuan?"


"Kamu boleh ikut kok. Niatku cuma mau ngasih pengertian, bukan yang lain. Jadi, bagus juga kalau ada kamu, sekalian bisa tahu apa yang kubicarakan sama dia," jawab Mauren.


Rendra menggeleng, "Nggak usah, aku percaya sama kamu. Tapi, boleh nggak aku minta satu syarat?"


"Syarat apa?"


"Cukup sekali ini menemui dia, jangan ada lain kali," pinta Rendra.

__ADS_1


"Iya, niatku juga cuma sekali kok, hanya menuntaskan sedikit hal yang masih mengganjal. Biar nanti saat menikah denganmu, udah nggak ada beban lagi."


"Iya."


Tak berselang lama, Rendra pamit pulang. Mauren mengantarnya sampai ke pintu gerbang. Lantas, Mauren kembali ke rumah dan langsung menuju kamar. Di sana, dia membalas pesan Jeevan, memberitahukan bahwa ingin bertemu dan bicara. Akhirnya, mereka sepakat bertemu di kafe yang tak jauh dari toko elektronik tempat Jeevan bekerja.


_______________


Matcha latte dingin, minuman yang Mauren pilih sembari menunggu Jeevan yang katanya baru keluar dari toko. Hari ini, dia bertekad mengutarakan semuanya agar Jeevan pun bersedia melepasnya. Dia tak ingin pernikahan keduanya masih dibayang-bayangi masa lalu.


Sekitar lima menit kemudian, Jeevan datang dan langsung duduk di depan Mauren. Dia mengucap banyak kata maaf karena terlambat datang. Maklum, dia baru diizinkan keluar setelah masuk jam makan siang.


"Nggak pesan makan dulu?" tanya Jeevan.


"Aku nggak, masih kenyang. Kamu aja kalau mau silakan pesan," jawab Mauren.


"Masa aku mau makan sendiri, nggak enak dong." Jeevan tersenyum lebar. Lantas, dia memanggil pelayan dan memesan dua porsi makanan kesukaan Mauren.


"Ngobrol sambil makan lebih enak," sambung Jeevan. Mauren hanya menanggapinya dengan anggukan pelan.


Sebelum memulai perbincangan, Mauren terlebih dahulu menghabiskan sisa matcha latte. Kemudian, merogoh tasnya dan mengambil barang-barang dari Jeevan semalam.


"Aku nggak bisa menerima ini, aku udah mau nikah," ujar Mauren seraya menyodorkan barang-barang tersebut.


Jeevan mengepal, lagi-lagi kata 'nikah' membuatnya sesak.


"Kenapa harus dia? Aku udah berubah, kenapa kamu masih nggak ngerti?" ucapnya.


"Yang nggak ngerti itu aku atau kamu?" Mauren membalik omongan.


"Kamu menganggap pengkhianatan adalah hal sepele, padahal bagiku itu adalah hal besar. Aku pernah mencintaimu dengan sangat, tapi kamu kecewakan dengan sangat pula. Apa kamu nggak pernah berpikir, betapa sakitnya hatiku, betapa sulitnya menyembuhkan luka itu?" pungkas Mauren.


"Tapi, aku udah berubah."


"Apa dengan berubah keadaan akan kembali?"


"Memang enggak, tapi kan bisa diperbaiki. Semua manusia pernah bersalah, harusnya kamu ngerti," jawab Jeevan.


Mauren menggeleng-geleng, "Kamu masih aja nggak ngerti gimana perasaanku. Masih saja egois dan ingin enak sendiri."


"Apa maksudmu? Aku benar-benar berubah, Mauren."


Mauren menarik napas panjang, "Kamu kesal kan setelah tahu hubunganku dengan Rendra?"


"Lebih dari kesal."


"Kenapa? Padahal, di antara kita udah nggak ada hubungan apa-apa?" pancing Mauren.


"Tapi, kamu mantan istriku dan aku masih mencintaimu," jawab Jeevan dengan cepat.


"Hanya mantan, kan? Lalu bagaimana dengan posisiku dulu? Aku jelas-jelas istri sah kamu, yang masih mencintaimu. Tapi, kamu mengkhianatiku. Saat aku marah dan menentang hubunganmu dengan Elsa, kamu malah memilih dia. Sekarang, kita udah cerai dan masa iddah pun udah habis. Tapi, kenapa kamu masih nggak terima kalau aku sama orang lain? Padahal, dulu kamu menjalin hubungan sama orang lain di saat kita masih bersama. Dan lagi, jangan sok bilang pernikahan bukan mainan, karena jelas-jelas kamu sendiri udah mempermainkan pernikahan." Mauren bicara panjang lebar.


"Aku ... aku___"

__ADS_1


"Kamu nggak lupa kan, gimana dulu aku banyak berkorban untuk kamu. Selagi kita masih tunangan, aku yang menanggung biaya pengobatan almarhum Bapak. Aku menguras tabunganku sendiri, demi menjaga citramu di hadapan keluargaku. Dan Elsa, kamu tahu betapa dekatnya kami. Aku menganggap dia seperti saudara. Uang satu-dua juta bagiku bukan masalah. Apa pun kesulitannya, aku selalu membantu. Tapi, kalian menusukku dari belakang. Bayangkan betapa kecewa dan terlukanya aku atas ulah kalian!" sambung Mauren.


"Aku minta maaf," sesal Jeevan.


"Iya, memang hanya kata maaf yang bisa kamu lakukan karena semua udah terjadi. Sebaik apa pun kamu berubah, nggak bisa menyembuhkan hatiku yang udah retak. Untuk itu, berhenti mengajakku kembali. Biarkan aku bahagia dengan orang lain," jawab Mauren.


"Tapi, kenapa harus dia? Kamu belum lama mengenalnya. Bisa jadi dia adalah lelaki buruk dan kamu akan terluka lagi." Jeevan masih tidak rela melepaskan Mauren bersama Rendra.


"Dia nggak seburuk yang kamu pikirkan," sahut Mauren.


"Tapi, hati manusia mudah berubah. Mana tahu___"


"Iya, kamu memang benar. Hati manusia mudah berubah, yang semula terlihat baik, bisa menjadi pengkhianat. Yang semula terlihat lembut, bisa berubah menjadi jahat. Bersama Rendra memang bisa saja terluka, tapi ... kembali denganmu peluang terlukanya jauh lebih besar." Mauren memotong ucapan Jeevan dengan tenang.


"Nggak seperti itu, Mauren."


Mauren tak acuh. Dia malah bangkit dan menghampiri Jeevan, lalu sedikit menunduk dan berbisik di telinga Jeevan.


"Aku beri tahu satu hal agar kamu bisa membenciku."


"Apa maksudmu?" Jeevan mengerutkan kening.


"Kebersamaan Elsa dan Ezra, juga ... cekmu yang hilang, ada hubungannya denganku," jawab Mauren masih dengan bisikan.


"Apa!" Jeevan tersentak dan spontan menatap Mauren, yang kini sudah mengulas senyum miring.


"Kamu sangat tahu bagaimana sifatku selama ini, tapi aku tega melakukan semua itu. Harusnya sekarang kamu sadar betapa terlukanya aku karena ulahmu. Beruntung aku memilih pergi, karena jika menerimamu kembali, bisa jadi aku melakukan hal yang lebih dari itu." Usai membisikkan kalimat yang membuat Jeevan merinding, Mauren melangkah pergi. Ia tak peduli dengan Jeevan yang kesulitan menelan ludah.


"Mauren adalah wanita anggun dan berhati lembut, tapi aku telah mengubahnya menjadi orang yang kejam, dan ... aku juga melakukan hal yang sama pada Elsa." Jeevan membatin sambil membayangkan sikapnya ketika Elsa mengadu tentang sikap Mauren. Dirinya tak percaya dan malah menyudutkan wanita itu. Sampai akhirnya, Elsa pergi dan kembali untuk membalas dendam.


"Kesenangan yang kulakukan ... akibatnya sefatal ini. Ah, laki-laki macam apa aku?" Jeevan mengerjap cepat karena matanya mulai panas.


Tak lama kemudian, pelayan datang dan menyajikan hidangan.


"Silakan dinikmati, Pak!"


"Bawa ke belakang saja, Mbak, saya nggak jadi makan," jawab Jeevan.


"Tapi ini sudah jadi, Pak."


"Tidak apa-apa, untuk Mbak saja." Jeevan berusaha tersenyum.


"Wah, terima kasih banyak, Pak."


Usai mengangguk, Jeevan bangkit dan melangkah pergi. Pikirannya sangat kacau saat ini.


Akan tetapi, langkah Jeevan terhenti ketika tiba di dekat pintu. Pelayan yang tadi mengantarkan pesanan berteriak memanggilnya.


"Pak, Pak! Bapak kemeja biru, jangan pergi dulu!"


Jeevan menoleh, "Ada apa?"


"Tagihannya belum dibayar, Pak," jawab pelayan.

__ADS_1


Jeevan tertegun. Ternyata kalimat 'silakan pesan' maksudnya pesan sendiri dan bayar sendiri.


Bersambung...


__ADS_2