
Lelaki yang tak lain adalah Rendra, melangkah dan lebih mendekati Mauren. Tanpa menghiraukan Jeevan yang masih menatap bingung, Rendra menatap Mauren sambil menggenggam bahunya.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Rendra dengan lembut, sengaja menunjukkan sikap pedulinya.
"Nggak apa-apa." Mauren tersenyum kaku. Dia sangat gugup ketika ditatap lekat.
"Kamu siapa? Apa maksudnya tanya kayak gitu ke Mauren? Aku ini lelaki yang cukup dekat dengannya, jadi nggak mungkin membuatnya kenapa-napa." Jeevan bicara sinis.
Dia kesal dengan kehadiran Rendra. Selain sok ikut campur dengan urusannya, lelaki itu juga terlihat dekat dengan Mauren. Mana boleh demikian, menurut Jeevan hanya dirinya yang paling pantas bersanding dengan Mauren.
"Tapi ... terkadang justru orang terdekat yang menyakiti dengan sangat." Rendra menatap Jeevan sambil tersenyum manis.
"Apa maksudmu? Beraninya bicara seperti itu!" bentak Jeevan.
Emosinya mulai terpancing. Dia tahu Rendra sengaja menyindir dan menyudutkan, tetapi menutupinya dengan sikap santai. Sikap yang sangat munafik menurut Jeevan.
"Kenapa tersinggung? Aku hanya meniru kata-kata mutiara yang sering berseliweran di sosial media. Kalau kamu nggak merasa melakukan itu, ya udah lupakan saja," ujar Rendra, masih dengan nada santai.
"Kamu___"
"Mas, udah!" potong Mauren.
"Tapi, Mauren."
"Mas, tadi aku udah cerita kan gimana kejadiannya. Kamu pasti bisa nebak lah bagaimana perasaanku sekarang. Tolong, jangan menambah beban dengan ribut-ribut di sini. Aku butuh ketenangan untuk berdamai dengan semua ini. Jadi, selagi aku masih bisa mengendalikan emosi, tolong mengerti," ucap Mauren dengan setengah memejam, guna mengendalikan amarah yang sebenarnya sudah membuncah.
Jeevan menggeleng-geleng, "Siapa dia? Kenapa kayak dekat sama kamu?"
"Dia teman___"
"Jika teman, kenapa sedekat itu, bahkan tatapannya ke kamu juga berbeda? Mauren, kamu jangan begini, aku cemburu. Aku masih mencintai kamu," pungkas Jeevan dengan cepat.
"Mas, cukup ya! Aku lagi pengin tenang, tolong mengerti." Suara Mauren mulai meninggi.
"Nggak." Jeevan menggeleng. "Aku nggak akan biarin kamu berduaan sama dia. Hubungan kita masih bisa diperbaiki, Mauren, kamu jangan cari pengganti. Tolong hargai perasaanku. Menjauhlah darinya, aku cemburu," sambungnya.
__ADS_1
"Jangan egois, Mas! Kita udah cerai. Kamu udah nggak ada hak ngatur-ngatur urusan pribadiku!" sahut Mauren. Sekeras apa pun dia mengendalikan emosi, pada akhirnya tetap meledak karena Jeevan terus memancingnya.
"Jangan kejam, Mauren! Aku___"
"Aku kejam, iya?" pungkas Mauren dengan bentakan.
"Aku berteman dengan lelaki lain di saat kita udah cerai dan masa iddah udah habis, itu yang kamu bilang kejam? Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, Mas?" Mauren mendekati Jeevan dan mencengkeram kerah kemejanya. "Kamu menjalin hubungan intim dengan sahabatku di saat aku masih menjadi istrimu. Kamu nggak ngasih nafkah ke aku dan sebagian uangku malah kamu berikan padanya. Aku udah mau memaafkan kamu dan ngasih kesempatan untuk memperbaiki hubungan, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah menawarkan poligami! Kamu menyalahkan aku karena nggak bersedia menerima dia jadi madu," sambungnya dengan napas yang memburu.
"Maafkan aku," ucap Jeevan dengan lirih.
Mauren tak acuh dengan ucapan Jeevan. Dia malah mengeratkan cengkeraman dan mendorong tubuh Jeevan hingga merapat di pohon Cemara Rentes.
"Jangan bicara tentang menghargai perasaan jika kamu sendiri nggak bisa melakukannya! Apa sampai sekarang kamu masih nggak tahu gimana perasaanku saat kamu bersikeras menikahi Elsa? Kamu tahu aku mencintaimu, tapi begitu teganya kamu melakukan hal itu. Kamu pikir perasaanku nggak hancur, nggak remuk, hah? Jangan salahkan siapa-siapa kalau sekarang aku nggak bisa mencintai kamu, hatiku udah telanjur mati karena sikapmu sendiri. Jangan memaksa cinta yang udah hilang, Mas, ia pernah ada tapi kamu campakkan." Mauren bicara panjang dengan mata yang berkaca-kaca. Terlalu emosi membuat air matanya mendesak keluar.
"Aku tahu saat itu aku salah. Itu sebabnya sekarang aku minta maaf, aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku udah bisa belajar dari kesalahan. Aku hanya minta kamu buka hati sekali lagi, apa itu sulit? Aku beneran tulus, Mauren, tolong pertimbangkan. Lelaki di luar sana belum tentu setulus aku. Jadi tolong ya, demi aku, jangan menjalin hubungan dengan lelaki lain," pinta Jeevan tanpa rasa bersalah.
"Demi kamu? Apa kamu pantas? Kamu udah lama kenal aku, pasti tahu betul apa yang paling kubenci. Pengkhianatan jika kamu lupa! Tapi kamu ... dengan sengaja melakukannya. Dan sekarang, tanpa malu memaksa aku kembali padamu. Kamu benar-benar egois, Jeevan!" ucap Mauren dengan tatapan tajam. Kendati suaranya pelan, tetapi sangat tegas dan penuh penekanan.
Nyali Jeevan menciut seketika. Seumur-umur, baru sekarang Mauren memanggilnya tanpa embel-embel 'mas'. Dulu, selagi mereka baru kenal saja, Mauren sudah memanggilnya dengan sebutan 'mas', bahkan setelah cerai pun masih demikian.
Jika saat-saat yang lalu, penyesalan Jeevan lebih didominasi harta. Dia bersikeras ingin kembali dengan Mauren karena mengharap hidup yang lebih baik. Namun, semua itu tidak berlaku untuk sekarang. Kini penyesalan Jeevan lebih pada perasaan. Dia baru sadar jika hatinya memang mencintai Mauren. Dia sangat sakit melihat kekecewaan Mauren yang teramat dalam, dan mungkin tak bisa sembuh seperti sedia kala.
"Maafkan aku. Maafkan aku," batin Jeevan.
"Pergilah!" Mauren melepaskan cengkeraman sambil membuang pandangan.
Kali ini, Jeevan tak membantah lagi. Dia langsung beranjak dan pamit undur diri. Rendra menatapnya sambil menahan senyum. Wanita pujaannya sungguh luar biasa, terbukti dari kancing kemeja Jeevan yang banyak terlepas, juga daun dan ranting cemara yang banyak patah berguguran.
"Pelakor itu memang horor. Jadi, udah seharusnya kamu milih aku, Sayang. Aku paling anti dengan yang namanya pelakor," batin Rendra.
Sementara itu, Jeevan memandangnya dengan tatapan tak suka.
"Jika waktunya udah tepat, aku akan menjelaskan tentang perasaanku yang sebenarnya. Kamu pun belum tentu lelaki baik, jadi aku yakin Mauren akan mempertimbangkan aku," batin Jeevan.
Sesaat setelah Jeevan pergi, Mauren menyeka air matanya dan kemudian mendekati Rendra.
__ADS_1
"Maaf, kamu harus menyaksikan pertengkaranku dengannya. Aku ... nggak bisa mengendalikan diri," ucap Mauren.
"Nggak apa-apa. Aku tahu sikapnya tadi memang menyebalkan. Andai aki yang ada di posisimu, mungkin wajahnya udah kucakar-cakar," jawab Rendra.
Mauren tersenyum simpul, "Mmm, kamu ... ada penting apa? Kok sampai nyamperin aku ke sini?"
"Tadi kalungmu jatuh." Rendra menjawab sambil merogoh saku celana. Lalu mengambil kalung dengan liontin huruf 'M' dan memberikannya kepada Mauren.
Mauren mengernyit, "Itu bukan kalungku."
"Iyakah? Tadi aku menemukan ini saat kita habis bicara, dan ... liontinnya juga huruf M. Kupikir ini punyamu," jawab Rendra.
"Bukan, mungkin punya orang lain." Mauren menggeleng.
"Iya mungkin ya." Rendra menggaruk-garuk kepala, kemudian menyimpan kembali kalungnya. "Nanti kukembalikan ke petugasnya aja deh, mana tahu ada yang nyari," sambungnya.
"Iya."
"Tawarin masuk dong, terus ngobrol-ngobrol gitu. Udah nyampe sini nih, jangan dianggurin lah biar perjuanganku nggak sia-sia. Nahan kangen nggak enak tahu. Please ya, please banget, kasih kesempatan untuk orang yang lagi kasmaran ini," batin Rendra.
"Mau masuk___"
Belum sempat Mauren menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ponsel Rendra berdering.
"Eh, bentar ya," ujar Rendra seraya merogoh ponselnya.
Tanpa menunggu lama, Rendra bergegas mengusap tombol hijau dan menyapa sang penelepon.
"Memangnya ada apa?" tanya Rendra usai mendengar perkataan lawan bicara.
"Argghh sial!" Rendra menggeram dalam batin.
Apa yang disampaikan oleh seseorang di seberang berhasil menyulut emosinya.
Bersambung...
__ADS_1