
Mas Jeevan, maaf aku tidak bisa menemuimu. Ada banyak hal yang membuatku malu untuk melakukan itu. Mas, maaf di masa lalu aku banyak salah dan banyak bohong sama kamu. Aku begitu demi bisa bersama kamu, karena sejujurnya aku sangat terobsesi denganmu.
Mas, maafkan perasaanku yang tidak sempurna. Sebenarnya, cintaku ke kamu tidak sebesar yang kukatakan. Aku ingin memilikimu karena itu adalah bukti bahwa aku lebih baik dari Mauren, juga jalan pintas untuk ikut menikmati hartanya. Itulah mengapa, aku mati-matian menjeratmu.
Selama kita bersama, banyak kebohongan yang kulakukan. Aku buka perawan, yang kamu nikmati malam itu hanya hasil operasi selaput dara. Aku juga bohong tentang Mauren yang tidak pernah memikirkan anak dan lebih memilih karier. Sebenarnya, Mauren sudah berniat istirahat. Dia mematok waktu lima bulan saja. Jika dalam tenggang itu cita-citanya belum terwujud, dia akan merelakannya demi hamil anakmu. Mauren sangat mencintaimu, Mas.
Selain itu, aku juga berbohong tentang uang yang kuambil dari Victory. Sebenarnya tidak hanya dua puluh lima juta, tapi delapan puluh juta. Itu yang membuat Mauren marah dan akhirnya menjebakku.
Selama ini, aku selalu iri dengan Mauren. Kami bersahabat, tapi berbeda jauh, sangat jauh. Dia cantik, kaya, dan apa pun yang diinginkan selalu didapat. Sedangkan aku, butuh usaha keras untuk mengimbanginya. Satu hal yang membuat semakin iri dan benci dengannya, dia punya kamu, suami yang sangat mencintainya. Sementara aku, pacarku tidak bisa menerima keadaanku. Dari situlah aku bertekad untuk merayumu dan mengambilmu darinya. Maafkan aku, Mas.
Ke depannya, jangan lagi menemuiku. Selain malu, aku juga ingin merenungi kesalahanku sendiri. Kamu pun berubah lah. Jadikan ini pelajaran untuk hidupmu nanti. Jika kamu kembali dengan Mauren, sayangi dan cintai dia, jangan selingkuh lagi. Jika kamu menikah dengan wanita lain, jangan melakukan kesalahan yang sama. Seburuk-buruknya istrimu, dia jauh lebih baik dari selingkuhanmu.
Sekali lagi, maafkan aku, Mas. Semoga kamu bahagia.
-Elsabila Zaqia-
Jeevan mengepal dan meremas kertas itu kuat-kuat. Sakit, kecewa, benci, dan entah perasaan apa lagi yang bercampur aduk dalam hatinya, yang jelas itu tidak nyaman dan menyesakkan.
"Kenapa? Kenapa harus begini?" sesal Jeevan.
Hancur sudah kepingan-kepingan senyuman yang tadi masih terselip di antara sendu. Kejujuran Elsa membawa hal pahit yang membuatnya terjatuh dalam rasa sesal yang lebih besar.
"Mauren," batin Jeevan.
Dia memejam dan mengingat kembali perlakuan-perlakuan buruknya terhadap Mauren. Seorang istri yang tulus mencintainya, yang bersedia menerima kekurangannya, bahkan bersedia meninggalkan cita-cita demi dirinya, malah dikhianati dengan begitu keji. Sementara wanita lain yang ia pilih, tak ubahnya racun yang memang hadir untuk menghancurkannya.
"Aku sangat bodoh. Bisa-bisanya aku menilai Elsa yang lebih tulus, padahal sebenarnya dia hanya terobsesi karena rasa iri dan benci. Kenapa aku buta dan nggak bisa melihat semua itu? Kenapa?" Jeevan menggeram dalam batin. Andai tidak ingat bahwa dirinya masih ada dalam bus, pasti sudah berteriak keras demi meluapkan rasa sesak.
Saat ini, mata Jeevan sudah panas. Kenangan-kenangan terkait masa lalunya bersama Mauren benar-benar menyakitkan.
"Andai aku bukan laki-laki, pasti sekarang udah nangis. Istriku ... sebodoh itu aku menyakitimu. Maafkan, maafkan aku," batin Jeevan dengan bibir yang mengatup rapat.
Karena perasaannya makin sesak dan mata pun makin panas, Jeevan menunduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Semoga sekarang dia bahagia. Walaupun dengan orang lain, aku akan berusaha ikhlas. Karena bersamaku, dia sangat menderita. Yah, memang pilihan bagus aku pergi dari hidupnya, karena aku hanyalah lelaki yang nggak tahu diri, yang membalas cintanya dengan sebuah luka," sambung Jeevan masih dalam hatinya.
"Kamu baik-baik aja, Mas?" tanya Indira yang entah sejak kapan dia terbangun.
Jeevan tak sanggup menjawab dan hanya menanggapinya dengan gelengan pelan. Jeevan takut air matanya tak bisa dibendung lagi jika membuka suara.
"Mau minum ... atau apa gitu?"
Lagi-lagi Jeevan menggeleng. Tidak ada apa pun yang ia harapkan kali ini, selain ketenangan dan kesendirian. Karena segalanya telah terjadi, telah berantakan, dan tak mungkin bisa dikembalikan. Pernikahannya telah kandas dan wanita yang dicintai sudah ada dalam genggaman orang lain. Sesakit dan sesesak apa pun, dia harus ikhlas dan sabar dalam menerima kenyataan.
"Maafkan aku, Mauren," batin Jeevan.
Kata-kata itu terlontar tulus dari dasar hati yang paling dalam. Bahkan saking tulusnya, Jeevan sampai merasakan basah di ujung jemarinya. Dia menangis!
Sementara itu, kondisi Elsa tak jauh beda dengan Jeevan. Dia meringkuk di tengah kesunyian, meratapi sesak dan sesal atas kejadian-kejadian silam.
"Semoga Mas Jeevan sadar dan nggak mengulang kesalahan yang sama di lain hari," batin Elsa.
Mata cekungnya masih membuka sempurna meski malam sudah larut. Tubuhnya yang jauh lebih kurus dari sebelumnya, hanya ditutup selimut tipis, yang sama sekali tidak bisa menghalau hawa dingin.
"Semoga setelah keluar dari sini, aku masih ada kesempatan untuk hidup lebih baik," batin Elsa.
"Nggak tidur?" tanya Mita dengan suara dinginnya, yang saat itu berbaring tak jauh dari tempat Elsa.
"Iya, ini mau tidur kok." Elsa menunduk takut, lantas memejam meski tidak mengantuk.
Walau tidak pernah melakukan apa pun, selain bertanya tegas dan menatap tajam, tetapi Elsa merasa takut sendiri. Baginya, Mita seperti sosok mengerikan yang sewaktu-waktu bisa mencabut nyawanya. Berlebihan, tetapi memang itulah yang ia rasa.
__________________
Sorot mata Mauren tampak berbinar ketika tiba di Bandara de Gaulle Paris. Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh empat jam, akhirnya dia tiba di tempat tujuan—Paris.
"Nggak sia-sia kan lelahnya?" Rendra tersenyum sambil merangkul tubuh Mauren dari samping.
__ADS_1
Mauren pun turut tersenyum sembari mengangguk pelan.
Beberapa saat kemudian, Rendra dan Mauren berjalan menuju tempat penjemputan. Kebetulan, kawan Rendra sudah menunggu di sana. Dia pula yang membantu Rendra mencari tempat penginapan.
Rendra dan Mauren berjalan bersama, dengan Rendra yang membawa semua barang-barang.
"Mau aku bantu?" tawar Mauren.
"Nggak usah, Sayang, kamu pasti capek," jawab Rendra.
"Kamu juga capek." Mauren menatap suaminya.
"Aku laki-laki," sahut Rendra.
"Apa bedanya?"
"Laki-laki wajib melindungi wanitanya. Kalau kamu masih capek-capek sendiri, nanti aku kehilangan peran dong." Rendra menjawab cepat.
"Tapi ... kamu sering bikin aku capek," goda Mauren.
"Itu beda, capeknya enak. Kamu juga demen, kan? Jangan bilang nggak loh, kamu pernah minta nambah." Rendra menatap nakal.
"Apaan sih! Jangan keras-keras, didengerin orang malu tahu!" ujar Mauren dengan tawa renyah.
"Mereka nggak ngerti bahasa kita, Sayang."
"Eh, iya juga ya." Mauren tersenyum lebar.
"Kamu kebanyakan mikir itu sih, jadi nggak fokus dengan sekitar," sahut Rendra dengan entangnya.
"Sembarangan aja ya!" Mauren membalasnya dengan mencubit pinggang Rendra.
Mereka pun tertawa bersama. Bahkan, sampai tiba di tempat kawan Rendra, keduanya masih tetap bercanda.
__ADS_1
Bersambung...