
Seorang wanita yang menjabat sebagai developer product sedang menyelinap ke dalam kamar mandi untuk menerima telepon. Dia adalah Diana, seorang karyawan yang sudah tiga tahun lebih bekerja di Victory.
Diana merasa kecewa karena yang diangkat sebagai manajer justru Firman, bukan dirinya. Padahal, dirinya yang lebih senior karena Firman baru dua tahun bekerja di sana. Itu sebabnya, Diana menerima tawaran Elsa untuk menjual produk Victory kepada Sandria—data produk yang sebenarnya adalah hasil karyanya sendiri.
Selain jumlah nominal yang fantastis, Elsa juga menjamin keselamatan Diana. Rencana ini sudah disusun matang dan dipastikan tidak ada kesalahan. Orang-orang yang terlibat di dalamnya, sampai kapan pun tidak akan ada yang tahu. Dari sanalah, Diana tidak ragu untuk maju.
"Halo, Bu Elsa," sapa Diana dengan suara lirih.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Elsa.
"Masih jalan di tempat, Bu. Dia hanya mencurigai anggota divisi produksi, tapi belum bisa menebak secara perorangan," jawab Diana.
"Dia tidak akan bisa menebak. Sampai hancur pun, masalah ini akan tetap menjadi misteri." Elsa bicara dengan penuh percaya diri.
"Tapi, Bu, dia dibantu Adnan. Anda pasti tahu, dia bukan pria sembarangan. Dia adalah penyelidik yang andal." Diana sedikit waswas.
"Kamu tenang saja, suamiku juga bukan orang yang sembarangan. Dia punya kekuasaan penuh untuk membantuku membalas dendam. Sebelum Adnan berhasil menguak tindakanmu, Victory akan hancur lebih dulu. Percaya saja padaku, dalam waktu dekat akan ada kasus besar yang menjerat Victory. Mauren tidak akan bisa mengelak, dan mau tidak mau dia akan mendekam di penjara. Saat itu juga, aku akan mengakuisisi Victory dan perlahan-lahan mengambil kendali penuh atas perusahaan itu. Dan kamu akan kuberi jabatan yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari manajer divisi produksi seperti yang kamu impikan sekarang," terang Elsa.
"Terima kasih banyak, Bu Elsa, sangat beruntung bisa bekerja sama dengan Anda." Diana tersenyum senang, sudah terbayang betapa banyak gaji yang akan ia terima dalam setiap bulannya.
"Mmm, kalau boleh tahu, Bu, kasus apa yang akan menjerat kantor ini?" sambung Diana.
Elsa tertawa renyah, "Tunggu dan lihat saja. Anggap ini kejutan yang sangat menyenangkan."
__ADS_1
"Baiklah, Bu. Saya percaya usaha Anda pasti memuaskan," jawab Diana. Baginya, tak apa tak tahu keseluruhan rencana Elsa, yang penting tidak lama lagi menjabat posisi tinggi.
Setelah berbincang dengan Elsa, Diana keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruangannya. Dia kembali berkutat dengan tugas-tugasnya terkait produk baru yang harus disusun ulang. Diana bersikap biasa ketika bersama rekannya, seolah-olah tak ada sesuatu yang ia sembunyikan. Bahkan, Diana bertingkah seolah-olah dialah pihak yang paling dirugikan.
______________
Sehari setelah menguak identitas Rendra, Adnan sudah kembali ke Surabaya. Rencananya akan menyelidiki pengkhianat yang telah membocorkan data perusahaan. Namun, belum sempat rencana itu terlaksana, Victory kembali tersandung kasus yang tak mengenakkan. Bahkan, kasus kali ini lebih berat dari kasus sebelumnya.
Banyak konsumen dari luar kota yang komplain seusai memakai cream produk Victory. Kulit mereka ruam dan iritasi parah, bahkan ada beberapa yang sampai dirawat di rumah sakit.
Selain menyerang lewat media sosial, pihak-pihak yang menjadi korban juga melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Dugaan awal, cream yang diproduksi Victory mengandung bahan kimia yang berbahaya.
Mauren menyangkal dugaan tersebut. Selama ini, semua kosmetik yang diproduksi sudah lolos pemeriksaan dan ada izin edarnya.
"Tapi, selama ini produk saya aman-aman saja. Saya yakin ada yang tidak beres dengan distributor saya. Baru semingguan saya bekerja sama dengan NE Group, mereka yang mendistribusikan produk saya di Surabaya. Dan yang menjadi korban, semua berasal dari Surabaya. Pasti ada konspirasi, Pak," kilah Mauren. Dia berusaha membela diri dan mencari kebenaran.
"Semua akan diusut tuntas. Tapi sebelum itu, kami akan memeriksa produk Anda terlebih dahulu. Cream yang ada di NE Group, dan juga cream yang masih ada di pabrik Anda. Jika hasilnya tidak sama, kami bisa memeriksa NE Group. Tapi, jika hasilnya ternyata sama, maka pihak bersalah memang Victory. Sebagai pemilik dan pemimpin perusahaan, Anda harus bertanggung jawab atas masalah ini."
"Kalau begitu periksa secepatnya, Pak. Saya yakin produk yang ada di pabrik saya aman, sama seperti produk awal yang saya ajukan untuk mendapat izin edar. Saya ingin masalah ini cepat selesai agar nama baik Victory kembali. Saya tidak mau perusahaan yang saya jalankan tercoreng dengan fitnah-fitnah seperti ini," jawab Mauren.
Rasanya dia frustrasi dengan berita yang trending hari ini. Semua pihak menghujat dan menyalahkan Victory. Reputasi dan prestasi yang diperjuangkan sekian lama, hancur dalam sehari saja. Selain kehilangan kepercayaan dari konsumen, harga saham di Victory juga menurun dalam waktu singkat. Banyak investor yang melayangkan protes dan mengancam putus kerja sama.
"Baik, mari kita selesaikan hari ini."
__ADS_1
Usai mengakhiri pembicaraan, polisi bangkit dan siap pergi. Mauren pun turut serta untuk mengantar mereka ke pabrik.
Dalam perjalanan ke sana, Mauren diliputi rasa cemas dan waswas. Dia takut gagal menjaga bisnis yang dirintis susah payah oleh orang tuanya.
"Mama, Papa, andai saja kalian masih ada. Hal seperti ini nggak akan pernah terjadi," batin Mauren dengan mata yang berkaca-kaca.
Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya polisi dan Mauren tiba di pabrik. Tampak sepi karena hari ini sengaja diliburkan. Mauren akan memperkerjakan mereka kembali setelah masalah aman.
Tanpa mengulur waktu, polisi memeriksa cream yang masih tersisa beberapa karton. Lantas, mengambil tiga buah dan membawanya untuk diperiksa lebih lanjut. Untuk sementara waktu, pabrik Victory juga diamankan.
"Terima kasih atas kerja samanya, kami akan memeriksa produk ini dan mengusut kasus ini. Jika terbukti tidak bersalah, kami akan memberikan keadilan untuk Anda," ucap polisi.
"Baik, Pak." Mauren menjawab pelan. "Semoga Tuhan masih melindungiku. Kuharap mana yang benar dan mana yang salah akan segera terungkap," sambungnya dalam hati.
Setelah menyelesaikan urusan dengan polisi, Mauren menghubungi Enggar untuk mencari setitik bukti. Namun, untuk kesekian kali dia menelan kekecewaan. Kenyataan tak sesuai dengan harapan.
"Bu Mauren, Anda masih punya muka menghubungi saya. Saya tidak menyangka Anda memberikan saya produk yang bermasalah. Apa Anda memang berniat mengambinghitamkan saya?" tuduh Enggar dengan nada tinggi.
"Justru Anda yang menjebak saya. Sebelumnya saya tidak pernah tersandung kasus apa pun, tapi setelah bekerja sama dengan Anda, langsung ada masalah sebesar ini!" sahut Mauren.
"Jangan asal menuduh, kita lihat saja nanti. Siapa yang benar dan siapa yang salah." Enggar mengakhiri sambungan telepon usai berbicara demikian.
"Siapa yang benar dan siapa yang salah, kenapa kedengarannya seperti ancaman. Apakah masih ada jebakan lain?" batin Mauren dengan perasaan yang makin tak karuan.
__ADS_1
Bersambung....