
Di tengah hening malam, di bawah guyuran hujan yang deras. Sesekali petir menyambar, menggelegar memekakkan telinga. Seolah alam ikut melukiskan apa yang dirasakan Fajar saat ini. Resah, gelisah, kelam, dan mencekam, itulah yang berkecamuk dalam hati Fajar. Kini, ia sedang berada di dalam mobil yang melaju menerjang hujan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, tetapi ia belum juga menemukan sosok istrinya.
Di tengah keputus asaan, Fajar memutuskan pulang ke apartemen. Ia sudah kehabisan tempat untuk mencari istrinya. Rumah Alvin, kelab malam, rumah Nina, dan rumah teman lama Senja yang lainnya. Semua sudah ia datangi, tetapi hasilnya nihil, tidak ada satupun yang tahu di mana istrinya berada. Fajar sudah berjam-jam mengelilingi jalanan di pusat kota, berharap mendapati sosok istrinya di salah satu tempat. Namun, lagi-lagi ia menelan kekecewaan. Ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan istrinya.
Fajar menghentikan mobilnya di parkiran apartemen, lalu turun dan melangkah gontai menuju apartemen. Tak henti-hentinya bibir Fajar memanjatkan doa, mengharap keajaiban dari Yang Mahakuasa. Semoga Senja sudah pulang dan beristirahat di dalam kamarnya.
Dengan jantung yang berdetak cepat, Fajar membuka pintu apartemen. Gelap, hanya kegelapan yang menyambutnya. Tidak ada nyala lampu sama sekali. Fajar menggigit bibir, ternyata Senja belum pulang.
Fajar masuk dengan langkah pelan. Ia terus berjalan menuju ke kamar. Keadan di dalam kamar tidak ada bedanya dengan ruang tamu, gelap dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Lalu Fajar menyalakan lampu dan menatap setiap jengkal ruangan. Tidak ada yang berubah, masih sama persis dengan tadi siang.
"Kamu kemana, Sayang? Inikah awal dari kepergianmu?" Fajar bergumam sambil terduduk lesu di sofa. Ia menunduk sambil memegangi kepalanya.
"Tolong jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku tahu kamu kecewa dengan sikapku, tapi aku melakukan semua ini demi kamu. Aku tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya, aku takut kehilangan kamu. Aku memang pengecut, tidak punya keberanian untuk mengakui kesalahan yang membuatku ternista," ratap Fajar dengan pelan.
"Kembalilah, Senja, tetaplah disisiku hingga ujung usiaku." Fajar menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Cukup lama Fajar tenggelam dalam kesedihan. Kilasan balik tentang kehidupannya di masa lalu berputar-putar dalam otaknya. Dosa-dosa yang pernah ia lakukan, seakan ikut menghakiminya saat itu juga. Membuatnya makin terpuruk dalam penyesalan. Kini kehidupannya hancur, akibat kesalahan fatal pada hari lalu.
***
Sang surya sudah menampakkan keanggunannya. Cahaya yang mulai keemasan menyerobot masuk ke kamar Senja. Membuat wanita itu menggeliat pelan dan mengerjap.
Lantas menguap dan perlahan membuka matanya.
Senja menatap ke sekeliling, lalu tersadar jika dirinya sedang berada di rumahnya sendiri. Senja hendak bangkit dari tidurnya, tetapi gerakannya terhenti saat merasakan sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya. Lantas rasa sakit itu mengingatkannya pada kejadian semalam. Senja tersentak dan seakan tersadar dari mimpi buruk. Dengan frustrasi ia mengacak rambutnya dengan kasar.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini, apa yang aku fikirkan semalam. Oh tidak, benar-benar ceroboh. Sekarang apa yang harus aku lakukan," gerutu Senja dengan ketakutan.
Ia tak pernah membayangkan pertemuannya dengan Ken akan berakhir seperti ini. Kemarin Ken menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Lalu mengantarnya pulang dan membantunya mencari informasi tentang Arrion. Detik waktu terus berjalan dan petang perlahan berubah menjadi malam. Perasaan Senja yang dipenuhi luka dan kecewa, serta perasaan Ken yang dipenuhi cinta dan kerinduan. Akhirnya mereka melakukan hal yang tidak pantas. Mereka terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan.
Dengan perlahan Senja berusaha bangkit. Lalu duduk sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Senja tak beranjak dari ranjang, rasa nyeri dan sakit membuat tubuhnya nyaris tak bertenaga.
Senja menunduk dan menatap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Sekelebat bayangan semalam kembali melintas dalam ingatan. Membuat hatinya sakit dan sesak. Mengkhianati Fajar dan mengkhianati pernikahannya, sungguh suatu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Kenapa keadaan juga tak bisa memihak padaku. Justru ikut menjerumuskanku ke dalam dosa ini," ucap Senja diiringi tetesan air mata.
Pada saat ia bertengkar dengan suami dan merasa putus asa dengan pernikahannya, mengapa sosok dari masa lalu yang datang menolongnya. Pada saat ia ingin berbagi beban dengan kakaknya, mengapa justru ia tidak ada, dan hanya sosok dari masa lalu yang ada di sampingnya. Sekian lama ia menanti bantuan dari Sella, tetapi ternyata ia bukanlah teman yang baik, dan lagi-lagi sosok dari masa lalu yang kembali membantunya.
Mengapa keadaan sangat menguji?
Dan ternyata dirinya gagal melewati ujian itu. Ia tergoda dan kini telah ternoda.
Senja terlalu larut dalam penyesalannya, sampai tak mendengar suara pintu yang terbuka.
"Aya!" panggil Ken sambil melangkah masuk. Ia meletakkan nampannya di atas meja, lalu mendekati Senja yang masih berada di atas ranjang.
Senja mengangkat kepala, lalu menyeka air matanya dengan kedua tangan.
"Maafkan aku." Ken berucap seraya mengusap air mata Senja. Jujur, ia pun sangat menyesali perbuatannya, tak menyangka jika Senja masih perawan.
"Bukan salahmu Ken," jawab Senja dengan pelan.
Apa yang dikatakan Senja memang benar adanya. Semalam ia bersikap terbuka. Mereka melakukannya atas kemauan masing-masing, bukan atas dasar keterpaksaan.
"Bersihkan badanmu dan makanlah. Setelah itu aku ingin membicarakan hal penting denganmu." Ken berkata sambil merapikan rambut Senja yang berantakan.
"Hal penting apa?" tanya Senja.
"Nanti saja, setelah kau sarapan aku akan mengatakannya," jawab Ken.
"Baiklah, aku akan mandi dulu." Senja menjawab sambil turun dari ranjang. Ia melangkah pelan dengan sedikit tertatih.
"Biar kubantu, Aya." Ken memegang tangan Senja.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," jawab Senja. Ia melepaskan tangan Ken dan meneruskan langkahnya.
Ken menatap Senja dengan nanar, sebenarnya ia kasihan melihat Senja berjalan tertatih. Namun, ia juga tak bisa memaksa Senja untuk menerima tawarannya, ia tahu saat ini Senja butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau dirimu masih suci, Aya. Aku tidak tahu jika pernikahan yang kau jalani serumit ini," sesal Ken. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
Bukan kebahagiaan yang Ken dapatkan kendati berhasil mendapatkan malam pertama Senja, melainkan penyesalan yang teramat dalam. Sedikit-banyak ia bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi pada Fajar.
__ADS_1
Sekitar setengah jam kemudian, Senja kembali masuk ke kamar. Ia terlihat lebih segar dengan rambut basahnya, jalannya pum tidak tertatih seperti tadi. Ken terpesona, ketika menatap Senja yang begitu cantik dalam balutan dress selutut warna coklat muda.
"Apa yang kufikirkan, jangan sampai kejadian semalam terulang lagi." Ken membatin sambil memalingkan wajahnya.
"Apa yang ingin kau katakan, Ken?" tanya Senja. Ia menatap mantannya sambil duduk di tepi ranjang.
"Makanlah dulu. Maaf aku tidak bisa masak, jadi hanya bisa menyajikan roti bakar untukmu." Ken berkata sambil menatap Senja.
"Aku belum lapar, katakan saja apa yang ingin kau bicarakan denganku," jawab Senja.
Ken menghela napas panjang, lalu beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Senja.Lantas duduk di sebelahnya.
"Aya, kenapa kau tidak mengatakannya padaku, kalau kau masih perawan?" tanya Ken membuka pembicaraan.
"Itu tidak penting." Senja menjawab cepat sambil memalingkan wajahnya. Ia merasa malu saat Ken tahu kalau Fajar tidak pernah menyentuhnya.
"Itu sangat penting, Aya!" sahut Ken dengan tegas.
"Kenapa begitu?" Senja bertanya sambil menatap Ken.
"Karena dengan hal ini, aku mengubah kesimpulanku."
"Apa maksudmu?"
"Aya, dengarkan aku!" Ken memegang kedua bahu Senja. "Jika hal yang disembunyikan Fajar selama ini hanyalah perselingkuhannya dengan Adara, dia tidak mungkin tidak menyentuhmu. Jika dia lelaki normal, dia tidak akan bisa bertahan mendiamkan kamu sampai setahun lebih. Menurutku, bukan hati Fajar yang bermasalah, tetapi dirinya," samnungnya dengan panjang lebar.
"Aku ... aku masih tidak mengerti Ken," kata Senja dengan gugup, entah mengapa jantungnya mulai berdetak cepat.
"Jika rahasia yang disembunyikan Fajar hanyalah perselingkuhan, dia pasti akan menyentuhmu, Aya. Tidak ada lelaki normal yang tidak tertarik dengan tubuh wanita. Sebesar apapun rasa cinta pada kekasihnya, dia tidak akan bisa mengendalikan na*sunya saat tinggal satu atap dengan wanita lain dalam waktu lama, terlebih lagi wanita itu adalah istrinya," ucap Ken menjelaskan.
"Jadi, kurasa ada hal lain yang terjadi pada diri Fajar. Aku punya tiga kemungkinan, yang pertama dia tidak normal, yang kedua dia imp*ten, dan yang ketiga ... mungkin dia sakit," sambung Ken dengan tatapan lekat.
"Ken, kau___"
"Kau ingat semalam ada Arrion yang bekerja sebagai dokter. Setelah aku tahu kamu masih perawan, aku langsung mencari tahu tentang dia. Kau tahu apa informasi yang kudapatkan? Arrion Giorgino, lelaki asal Indonesia yang kuliah di Singapura, kemudian ia menjadi dokter dan bekerja di Chan Hospital. Setahun yang lalu ia menikah dengan wanita asal Indonesia, Hana Wardhani. Dari informasi lain yang kudapatkan, dulu Arrion dan Fajar sekolah di SMA yang sama. Mereka saling mengenal. Jadi kurasa ... Fajar ke Singapura untuk konsultasi atas masalah yang terjadi pada dirinya," ucap Ken menjelaskan dengan panjang lebar.
Senja terpaku saat itu juga. Ketika mendengar nama Hana Wardhani, ia langsung teringat dengan kejadian kemarin. Ia masih ingat betul dengan apa yang dibisikkan lelaki misterius, yang ternyata adalah Arrion. "Dia sangat mencintaimu, jadi berhenti mencari tahu. Terkadang kenyataan jauh lebih menyakitkan dari yang kita fikirkan."
"Aku akan mencari tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi pada Fajar. Aku juga akan terus mencari tahu tentang Adara. Aku penasaran apa hubungan mereka, kenapa Fajar bisa tinggal di apartemennya Adara," ucap Ken.
Namun, ucapan itu ibarat angin lalu bagi Senja. Ia sama sekali tidak bisa menangkap apa yang Ken sampaikan. Ia terlalu larut dalam Pikirannya sendiri. Jika benar Fajar sakit, lalu apa yang harus ia lakukan? Dirinya sudah terlanjur menodai pernikahannya.
"Aya, kamu kenapa?" tanya Ken yang baru menyadari perubahan sikap Senja.
Senja masih diam terpaku, bibirnya terkatup rapat, seolah enggan menjawab pertanyaan Ken.
"Aya, jawab aku! Apa yang terjadi?" Ken berteriak sambil menggoyangkan bahu Senja.
"Kak Fajar normal dan dia tidak imp*ten," ucap Senja dengan pelan. Ia menunduk dan kembali menitikkan air matanya.
"Kamu yakin?" tanya Ken.
"Aku sangat yakin." Senja mengangguk.
"Jadi ... Fajar sakit?"
"Mungkin. Kemarin aku bertemu dengan Hana dan suaminya. Jika Hana menikah dengan Arrion, semuanya menjadi masuk akal." Senja bergumam sambil menyeka air matanya.
"Apa maksudmu?"
"Aku menanyakan tentang Adara pada Hana. Hana tidak mengatakan di mana Adara sekarang, tapi ia sangat yakin bahwa Adara tidak mungkin mengganggu rumah tanggaku. Lalu suaminya ... ia membisikkan sesuatu padaku. Dia menyuruhku untuk berhenti mencari tahu, karena Kak Fajar sangat mencintaiku. Dia juga bilang, terkadang kenyataan lebih menyakitkan dari yang kita bayangkan," ungkap Senja dengan panjang lebar.
"Aya! Kenapa kemarin kamu tidak mengatakan hal ini padaku? Aku sudah bilang 'kan, katakan semuanya agar aku bisa membantumu. Tapi kenapa banyak sekali hal yang kamu sembunyikan?" kata Ken dengan intonasi tinggi.
"Aku fikir itu tidak penting," ucap Senja dengan pelan.
"Itu sangat penting, Aya. Andai saja aku tahu dari kemarin, mungkin semuanya ini tidak akan terjadi. Maafkan aku, Aya, aku sudah mengambil kesucianmu. Kalau saja aku tahu kamu masih perawan, aku tidak akan pernah menodaimu. Aku tidak menyangka pernikahan yang kamu jalani ternyata serumit ini." Ken menunduk.
Ia benar-benar larut dalam penyesalan. Kekhilafan yang yang mereka lakukan semalam, tidak akan berakhir begitu saja. Semua itu pasti akan berdampak pada masa depan mereka.
"Selama ini aku tidak menduga sejauh itu, aku fikir Kak Fajar mengkhianatiku. Aku kira karena ada hati yang sedang dijaga, itu sebabnya dia tidak mau menyentuhku," ucap Senja.
__ADS_1
Ken menghela napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar. Mengapa pikiran Senja sedangkal itu? Dulu sewaktu sekolah, Senja termasuk anak yang cerdas, tetapi dalam hal memahami lelaki, mengapa ia sangat bodoh. Mana ada lelaki normal yang tahan mendiamkan wanita dalam waktu yang cukup lama.
"Kamu bodoh, Senja, kenapa kamu tidak bisa memikirkan kesimpulan yang lain. Dan aku, iya, aku juga bodoh. Aku tidak bisa mengendalikan na*suku, aku tidak bisa berfikir dengan akal sehatku," batin Ken seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ken!" panggil Senja.
"Hmmm," gumam Ken.
"Aku ingin sendiri," ucap Senja dengan pelan, ia takut jika perkataannya menyinggung perasaan Ken.
"Kamu yakin, kamu tidak butuh teman?"
"Aku butuh waktu untuk sendiri, Ken," ucap Senja.
"Baiklah, aku mengerti." Ken tersenyum, lalu beranjak dari duduknya.
"Aku benar-benar minta maaf atas kejadian semalam. Aya, tenangkan fikiran kamu. Bersedih boleh, tapi jangan berlebihan. Tetaplah menjadi Cahaya Senja yang selalu tersenyum. Nanti ajak Fajar bicara baik-baik, siapa tahu dia mau mengatakan yang sebenarnya. Aku juga akan tetap mencari informasi tentangnya. Jaga dirimu baik-baik, Aya." Ken berkata sambil mengusap rambut Senja. Lalu memeluknya sekilas, dan kemudian melangkah pergi meninggalkannya.
Setelah tubuh Ken menghilang di balik pintu, Senja kembali menunduk dan menitikkan air matanya. Kedua tangannya meremas tepian ranjang dengan sangat erat. Hatinya serasa hancur berkeping-keping. Tak pernah ia bayangkan, bila ujung pernikahannya akan sekelam ini.
Senja beranjak dari duduknya. Ia melangkah mendekati kursi dan duduk di sana. Matanya menatap nanar pada sepiring roti bakar dan segelas air putih yang tersaji di atas nampan.
Ken, lelaki humoris dan romantis yang dulu pernah menjadi tambatan hatinya. Lelaki itu mencintainya dengan tulus, tetapi ia salah paham dan meninggalkannya. Ia telah melukai hati Ken.
Sedangkan Fajar, lelaki itu hadir pada saat ia sedang terluka. Fajar mengulurkan cinta tulusnya dan mengajaknya merajut ikatan halal. Namun seiring berjalannya waktu, sikap aneh Fajar membuatnya curiga, dan lagi-lagi ia kembali salah paham dengan pasangannya. Ia menganggap Fajar selingkuh, dan besar kemungkinan anggapannya itu sangat salah. Kini, ia sudah menodai pernikahannya. Andai saja benar sikap Fajar karena sakit. Ahh, betapa berdosanya ia, mengkhianati kesucian cinta dari suami.
"Kenapa aku bisa sekejam ini, aku telah melukai dua lelaki yang tulus mencintaiku. Kenapa aku sebodoh itu, kenapa aku selalu salah paham dengan pasanganku?" ucap Senja di sela-sela tangisnya.
"Kak Fajar, maafkan aku. Maafkan kebodohanku." Senja meratap sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Fajar masih terduduk lesu di sofa kamarnya. Setelan formal yang ia pakai kemarin, sekarang pun masih melekat di tubuhnya. Kehilangan Senja membuatnya menjadi kacau. Sejak kemarin, Fajar belum makan, juga belum membersihkan diri. Ia hanya duduk sambil menatap layar ponsel. Berharap ada kabar dari orang suruhannya, atau justru kabar langsung dari istrinya.
Namun, hingga kini Fajar masih terbelenggu dalam kekhawatiran. Orang suruhannya belum ada yang menemukan keberadaan istrinya. Begitu halnya dengan nomor Senja, sampai saat ini belum bisa dihubungi.
"Kamu kemana, Sayang? Tolong jangan menyiksaku seperti ini. Maafkan sikapku yang mengecewakan kamu." Fajar meraih foto pernikahannya.
Ia mengusap foto itu dengan pelan. Satu setengah tahun menikah, rasanya belum ada kebahagiaan yang mereka rajut barang sehari saja. Fajar senantiasa diselimuti rasa takut dan khawatir. Sedangkan Senja, selalu diselimuti rasa curiga dan kecewa.
"Kembalilah, Sayang, jangan menghukumku seperti ini. Aku berjanji akan memperlakukan kamu dengan lebih baik lagi. Aku berjanji akan mengatakan keadaanku dengan jujur. Aku tidak peduli kau akan meninggalkanku,atau tidak. Tapi sekarang tolong kembalilah! Beri aku kesempatan untuk meminta maaf dan meluruskan semuanya padamu," kata Fajar dengan pelan.
Fajar menghela napas panjang, lalu membawa foto itu melangkah mendekati jendela. Fajar berdiri di sana dan menatap sinar surya yang masih menghangat. Sang surya! Entah sampai kapan Tuhan mengijinkan dirinya untuk menatap surya.
Fajar menunduk dan menatap foto pernikahan yang masih ada dalam genggaman. Senyuman manis tampak terukir di bibirnya, juga di bibir istrinya. Fajar kembali mengusapnya dengan pelan, dan kini matanya mulai berkaca-kaca.
"Menikah dengan seseorang yang kita cintai, tidak selalu berjalan manis dan bahagia, karena terkadang juga menyakitkan. Andai saja aku bisa memutar waktu, aku akan memperbaiki sikapku di masa lalu. Dengan begitu, aku tidak akan mengalami semua ini. Aku dan Senja pasti hidup bahagia," kata Fajar dengan pilu. Buliran bening mulai menitik dari sudut matanya.
"Dulu aku terlalu meremehkan dosa dan tak pernah memikirkan karma. Sekarang, semuanya sudah terlambat, penyesalanku tak akan mengubah keadaan. Aku hanya bisa berharap, semoga Tuhan masih mengijinkan kamu tetap ada di sampingku. Aku ingin melewati saat-saat terakhirku bersamamu, Senja." Fajar berkata sambil mendekap foto itu dengan erat.
Fajar masih larut dalam kesedihannya. Penyesalan yang tiada dasar, seakan mengurungnya dalam kepedihan yang tak terkira. Fajar masih berdiri menghadap jendela, dengan tatapan mata yang datar dan kosong. Fajar tak mendengar kala ruangan kamar itu terbuka.
"Kak Fajar." Samar-samar Fajar mendengar suara Senja memanggilnya.
Namun, Fajar masih tetap bergeming dan justru memejam. Ia menganggap suara itu hanyalah ilusi karena kerinduan yang telah membuncah.
"Kak Fajar." Lagi-lagi suara itu terdengar begitu nyata di telinga Fajar.
"Kau baik-baik saja, Kak?"
Fajar tersentak. Suara itu nyata dan bukan ilusi, karena kini Fajar merasakan sentuhan hangat di bahunya. Dengan cepat Fajar menoleh, dan sosok istrinya sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Senja! Benarkah itu kamu, Sayang?"
"Iya, ini aku, Kak." Senja menjawab sambil tersenyum getir. Ia makin merasa bersalah saat melihat keadaan Fajar yang sangat kacau.
"Maafkan aku, Sayang," Fajar memeluk Senja dengan erat.
"Kali ini aku akan mengatakan semuanya padamu. Jika kau memilih pergi, aku tak akan melarang. Setidaknya kau sudah tahu, betapa tulusnya aku mencintaimu," ucap Fajar dalam hatinya.
__ADS_1