Legenda Pedang Naga Puspa

Legenda Pedang Naga Puspa
Serangan Pendekar Misterius


__ADS_3

"Duarrrr"


Pintu utama perguruan hancur bersamaan dengan munculnya puluhan pendekar misterius berpakaian hitam yang langsung menyerang para pendekar yang ditemui. Mereka yang belum mengetahui situasi sehingga terlambat bereaksi terpaksa langsung terbunuh tanpa memberikan perlawanan berarti.


"Gawat kita kita diserang!" teriakan-teriakan bersahutan.


Dalam sekejap perguruan rajawali putih berubah menjadi arena pertempuran. Suara dentingan senjata beradu disertai jeritan para pendekar yang tumbang.


Dalam waktu singkat banyak mayat bergelimpangan mengerikan menyebabkan bau anyir memenuhi sekitarnya.


****


Para pendekar yang berada disebuah ruangan langsung terkejut ketika pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan bermunculan puluhan pendekar berpakaian hitam langsung menyerang.


Dalam waktu singkat pertempuran pecah di dalam ruangan tersebut.


"Cukup besar juga nyali mereka!" ujar Ki Aswatama setelah membunuh salah satu pendekar yang menyerangnya.


"Mari kita beri mereka peringatan,"seru Ki Segoro Laksa melesat ke arena pertempuran.


Sebuah tebasan pedang hampir memenggal kepalanya andai dia tidak bergerak cepat menghindar.

__ADS_1


"Besar nyalimu," ujar Ki Aswatama sambil bergerak menyerang pendekar yang barusan menyerangnya.


Hanya dalam dua pertukaran jurus pendekar tersebut langsung terkapar meregang nyawa.


Matanya tertuju kepada seorang pendekar yang menari-nari mengambil nyawa para pendekar aliran putih.


"Bocah laknat aku lawan mu" ujarnya sambil bergerak ke arah Mahendra.


Mahendra tersenyum dingin dia menyadari ada seorang yang bergerak ke arahnya dengan satu hentakan dia melesat keluar ruangan supaya ruang geraknya bebas.


"Mau lari kemana kau!" teriak Ki Aswatama mengejar pemuda itu.


Ki Ranubaya bergerak sangat cepat meninggalkan ruangan beberapa pendekar yang coba menghadangnya langsung terkapar meregang nyawa hanya dalam satu tarikan nafas.


"Aku tidak melihatnya Ketua," jawab pemuda itu kemudian berlalu.


"Gawat kemana anak itu?" ujarnya merasa khawatir.


Khawatiran pria paruh baya itu cukup mendasar karena cucunya yang tidak memiliki ilmu beladiri apabila bertemu pendekar misterius akan sangat mudah bagi lawan untuk membunuhnya.


****

__ADS_1


"Kakang berjanji bahwa aku adalah wanita satu-satunya dihatimu kan" ucap gadis muda itu manja yang menyandarkan tubuhnya ke tubuh kekasihnya.


Arya Geni mengecup kening gadis itu lalu berkata, "Tentu selamanya kamu adalah wanita yang ada dalam hati dan pikiran ku" ucapnya sambil membelai lembut rambut panjang Dewi Nawang Wulan.


Pujian itu membuat hatinya bergejolak membuat gadis muda itu diam tidak bisa berkata apa-apa selain wajahnya yang mulai merah merona.


Bulan purnama menjadi saksi dua insan manusia yang berpadu kasih melepaskan semua perasaan yang hadir dalam relung hati. Ketika gelora asmara mulai merasuki jiwa maka dunia ini terasa milik berdua.


*****


Dewi Nawang Wulan berjalan tidak seperti biasanya wajahnya nampak berseri-seri sorot matanya terlihat memancarkan kebahagiaan seolah menggambarkan suana hatinya sedang dilanda gelora asmara.


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar suara ledakan dari arah gerbang utama perguruan.


"Apa yang terjadi?"gumamnya dalam hati sambil sekelebat melesat menuju lokasi suara ledakan tersebut.


Namun baru beberapa langkah muncul para pendekar berpakaian hitam yang langsung menyerangnya.


"Kurang ajar, bahkan tidak memberikan aku berfikir terlebih dahulu" ucapnya seraya menarik pedang putihnya.


Pertarungan pecah para pendekar misterius langsung menyerang dari segala arah.

__ADS_1


Dewi Nawang Wulan bergerak lincah berkelebatan diantara gempuran para pendekar misterius yang terus menyerangnya dari berbagai arah.


__ADS_2