Legenda Pedang Naga Puspa

Legenda Pedang Naga Puspa
Sebuah Tawaran


__ADS_3

"Siapa wanita itu, aura kekuatan yang dimilikinya bahkan mengintimidasi aku"


Arya menyalurkan seluruh tenaga dalamnya untuk mempertahankan kesadarannya.


Tidak lama wanita itu berputar kemudian terbang dengan mudahnya mendekati Arya.


"Kau lama sekali kakang" ucap wanita itu sambil membuka penutup wajahnya.


"Apa aku bermimpi?" Arya tersentak menatap tidak percaya apa yang dilihatnya.


"Kakang tidak sedang bermimpi semua ini nyata" ujar Mantili tersenyum ramah.


"Tapi bagaimana bisa" Arya masih tidak percaya.


Mantili memahami apa yang ada dalam pikiran Arya, "Mari kakang! ada seseorang yang ingin bertemu denganmu?"


"Tunggu bertemu denganku?" Arya mengernyitkan dahinya.


Namun belum sempat bertanya, Mantili sudah melangkah lebih dulu.


"Inikah yang disebut telaga tujuh warna" Arya terpana dengan pemandangan dihadapannya.


Tiba-tiba Mantili berjongkok dan merapal sebuah jurus sambil menempelkan telapak tangannya ke tanah.


Keajaiban tiba-tiba terjadi dari telapak tangan Mantili keluar cahaya putih yang melesat ke arah telaga.


Beberapa detik kemudian sungguh diluar akal sehat telaga tersebut berubah menjadi sebuah perguruan.


"Ini apakah aku sudah gila" Arya mematung tidak percaya.


"Ayo kakang kita masuk?" Mantili meraih tangan Arya dan membawanya memasuki gerbang Perguruan Telaga Tujuh Warna.

__ADS_1


"Nona anda sudah kembali"


Dua penjaga gerbang menundukkan kepala memberi hormat.


#####


(Aula Utama Telaga Tujuh Warna)


"Kau sudah membereskan orang itu?"


"Kami sudah lakukan sesuai perintah Ketua" balas seorang perempuan muda yang tengah berlutut menghadap seorang perempuan berambut putih dengan gemetar.


"Baiklah, terus perketat penjagaan jangan sampai ada yang berani mendekati hutan larangan" Perempuan berambut putih itu mengangkat tangannya.


"Baiklah, semua perintah ketua akan kami laksanakan!" Balas perempuan tersebut menganggukkan kepala sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan.


"Aku harus segera mempersiapkan diri, karena cepat atau lambat aku merasa bahwa orang itu segera menemukan tempat ini" Perempuan berambut putih itu terlihat mengepalkan tangannya.


"Masuklah!"


Pintu terbuka, muncul seorang wanita bergaun biru dengan sangat hati dia berjalan kemudian berlutut memberi hormat.


"Ada apa?" Perempuan berambut putih menatap tajam muridnya itu.


"Adik Mantili telah kembali Guru"


"Baiklah katakan aku segera menemuinya"


"Perintah akan Kenaga sampaikan"


######

__ADS_1


"Nona apa maksud semua ini aku masih belum mengerti"


"Kakang tidak perlu khawatir karena sebentar lagi akan segera mengetahuinya"


Arya hanya menghela nafas di merasa semuanya sangat misteri, namun dia berharap semuanya akan baik-baik saja.


"Maap aku telah membuat kalian menunggu"


Seseorang perempuan berambut putih tiba-tiba muncul kemudian duduk disalah satu bangku.


"Aku memberi hormat kepada guru" Mantili berlutut didepan gurunya.


"Tugasmu telah usai sekarang kamu boleh meninggalkan kami berdua" ujar Perempuan berambut putih.


"Baik guru" Mantili memberi hormat, Dia sempat melirik Arya sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Setelah Mantili pergi perempuan tersebut menoleh ke arah Arya kemudian berkata dengan ramah, "Aku memahami kebingungan tuan muda"


"Maap senior, aku belum mengerti dengan semua ini dan apa tujuan senior membawaku kemari?" ujar Arya pelan bersikap berhati-hati tidak ingin menyinggung. Karena tidak tahu latar belakang perempuan tersebut.


Perempuan itu terlihat terdiam sebentar sebelum berkata,


"Pertama ijin aku memperkenalkan diri namaku Tungga Dewi, dan tujuanku membawamu kemari karena ingin memberikan sebuah penawaran yang menarik"


"Penawaran apa yang dimaksud Senior?"


"Kitab Langit dan Bumi yang kau cari" Perempuan tersebut berhenti seperti ingin melihat reaksi Arya.


"Dia mengetahui tujuanku, tapi tunggu bukankah menurut naga kresna kitab itu berada didalam hutan tanpa batas, aku harus berhati-hati"


"Apa tuan muda tidak tertarik?" ucap Tungga Dewi karena melihat Arya terdiam.

__ADS_1


"Bukan begitu senior tapi ...." Arya sedikit tertahan karena masih ragu


__ADS_2