
Arya Geni bergidik ngeri ketika dihadapannya sebuah jurang yang sangat dalam sampai tidak kelihatan dasarnya. Namun ada yang menarik perhatiannya jurang tersebut seolah memintanya untuk turun mendatangi nya.
"Namanya jurang tanpa dasar, jurang ini sudah ada sebelum Perguruan Anggrek Merah berdiri" Mantili mencoba menjelaskan jurang tersebut.
"Apakah ini perasaan aku saja atau memang ada sesuatu didalam sana" ucap Arya Geni.
"Aku juga selalu merasakan yang sama ketika melihat jurang itu, makanya Guru berpesan kepada kami agar tidak terlalu lama berada di tempat ini " Balas Mantili.
"Kalau begitu kita cari tempat lain saja," ucap Arya Geni.
Mantili mengangguk setuju.
Namun ketika memutar tubuh terlihat seorang sedang menatap dingin ke arah mereka.
"Kakak Lestari maaf aku tidak menyadari kedatangan anda" ucap Mantili setelah melihat saudara seperguruannya.
"Gak usah basa-basi" balas wanita itu dingin sambil menodongkan pedang ke arah mereka berdua.
"Kakak apa maksudnya ini" Mantili tersentak melihat saudaranya mengarahkan pedang.
"Cabut pedang mu, mari kita berlatih tanding" ujar wanita itu dingin.
Mantili sejenak termenung melihat tatapan dingin saudara nya itu yang tidak seperti biasanya.
"Maaf saat ini aku sedang menemani tuan muda berkeliling, mungkin setelah aku selesai baru kita bisa berlatih tanding" ucap Mantili membujuk saudara seperguruannya itu.
Wanita itu terlihat tersenyum kecut, "Justru supaya tuan muda mengetahui siapa yang lebih kuat diantara kita" balas Lestari.
"Kamu telah salah bila cemburu kepada ku" ucap Mantili setelah menyadari saudaranya memiliki api cemburu kepadanya.
__ADS_1
"Tutup mulutmu, ayo lawan aku!" Lestari langsung melakukan serangan.
Melihat bujukannya tidak berhasil dan pertarungan tidak bisa dihindari Mantili memberi tanda kepada Arya Geni.
"Tuan muda mohon menjauh," ucapnya
Belum sempat Arya Geni menjawab gadis muda itu sudah bergerak maju. Tidak ada pilihan selain menjauh beberapa langkah karena tidak mungkin untuk melerai keduanya dengan keadaan saat ini.
Dalam sekejap mata kedua gadis muda itu sudah terlibat dalam sebuah pertarungan.
"Kita bisa bicarakan secara baik-baik kalau Kaka memiliki perasaan kepada tuan muda" ujar Mantili yang terus menangkis serangan yang membabi buta kepadanya dan berusaha membujuk saudaranya itu.
"Kau pikir siapa dirimu? bisa mengaturku, oh aku lupa bahwa kau adalah calon penerus ketua perguruan," balas Lestari sinis.
"Apa maksud calon ketua perguruan?" Mantili tersentak ketika saudaranya itu menyinggung soal penerus ketua perguruan.
"Jangan bodoh, guru telah meminta mu untuk memperdalam ilmu pedang langit bukan, itu artinya tanpa kau sadari guru telah menunjuk dirimu sebagai penerusnya," ujar Lestari.
Namun Lestari tidak menjawab seluruh jiwanya telah dikuasai hawa nafsu. Dalam dirinya hanya satu saat ini yaitu bagaimana membinasakan lawannya agar semua cita-citanya tercapai.
Melihat saudara seperguruannya tidak bergeming dengan semua ucapannya apalagi sorot matanya menunjukkan hawa membunuh membuat dirinya meningkatkan kewaspadaan dan terus bertahan tanpa melakukan serangan balik.
Lestari yang merasa lawannya tidak melakukan serangan dan hanya bertahan membuat emosinya tersulut karena merasa diremehkan.
"Berani sekali kau meremehkan aku" ujar Lestari meningkatkan kecepatan dan gerakannya.
"Pedang Langit : Naga langit Murka"
Kecepatan dan gerakannya meningkat pesat seiring pedangnya meliuk-liuk siap membabat lawan.
__ADS_1
"Gawat dia benar-benar sudah dirasuki iblis" Mantili menyadari saudara seperguruannya memang berniat mencelakakan dirinya, maka dia tidak lagi bertahan karena nyawanya bisa terancam bila terus bertahan.
"Bagus sekarang kau telah sadar siapa lawan mu," ujar Lestari perubahan gerak Mantili tidak lagi bertahan.
"Gawat sepertinya keduanya akan bertarung hidup dan mati," gumam Arya Geni yang mulai panik.
Mantili mulai terpojok beberapa kali karena kemampuan saudaranya itu terus meningkat.
"Jurus ini bukankah tingkat ke 8 setahuku dia baru menguasai sampai tingkat 5, bagaimana dia bisa menguasainya?" gumam Mantili setelah melihat perubahan pola serangan lawannya semakin cepat dan mematikan.
"Hahahaha simpan rasa terkejut mu," senyuman sinis terlihat dari bibir Lestari melihat saudaranya itu kebingungan.
Crashh
Sebuah sabetan pedang berhasil melukai Mantili membuat dia terhuyung. Belum sempat dia bereaksi sebuah tendangan berhasil membuatnya terpental.
Mantili terlihat berusaha menguasai diri namun tiba-tiba.
"Membusuk lah kau di jurang tanpa dasar" ucap Lestari yang telah berada didekat Mantili sambil mengarahkan telapak tangan kanan ke dada gadis muda itu.
"Cepat sekali" Mantili menyadari saudaranya sudah berada didekatnya dia hanya bisa memejamkan mata merasakan tubuhnya meluncur ke arah jurang.
Ketika dirinya sudah kehilangan harapan tiba-tiba ada sesuatu yang meraih tubuhnya kemudian mendorong sehingga tidak jatuh ke jurang.
Dia sempat melihat bayangan jatuh kejurang sebelum dia kehilangan kesadaran.
"Pria bodoh masih saja menolong wanita lemah, kalian pantas membusuk bersama" umpat Lestari sinis sambil melangkah mendekati tubuh Mantili yang sudah kehilangan kesadaran.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat merasakan beberapa orang mendekat.
__ADS_1
"Kali ini kau selamat," ucapnya sambil menatap tubuh Mantili sejenak sebelum sekelebat melesat secepat kilat menghilang dari tempat itu.
Setelah wanita itu menghilang muncul belasan pendekar anggrek merah ke tempat itu.