
Didalam gubuk sederhana Ki Ageng diikuti para tetua perguruan melakukan pertemuan dan nampak terlihat juga Ranajaya, Arya dan Sakawuni menghadiri pertemuan tersebut.
"Terimakasih para tetua perguruan terutama tetua Ranajaya dari perguruan lentera merah yang berkenan menghadiri undangan kami" ucap Ki Ageng menundukkan kepalanya ke arah Ki Ranajaya.
"Tidak usah sungkan ketua, jasa perguruan naga puspa begitu besar jadi kami tidak memiliki alasan untuk tidak memberikan bantuan" balas Ranajaya tersenyum ramah.
"Terimakasih ketua bantuan lentera merah tidak akan kami lupakan" balas Ki Ageng.
Setelah selesai basa-basi kemudian Ki Ageng menjelaskan tentang pertemuan tersebut yaitu tentang rencana penyerangan untuk merebut kembali perguruan naga puspa dari tangan Ki Sadewa.
Ki Ageng membagi beberapa kelompok karena berencana akan menggempur dari tiga arah langsung.
Kelompok pertama yang akan dipimpin oleh Ki Ageng sendiri akan bergerak dari arah pintu utama.
Ranajaya akan memimpin kelompok kedua yang bergerak dari arah timur.
Sedangkan kelompok ketiga yang dipimpin oleh Tetua Batara dan Darma bergerak dari arah barat.
Semua akan bergerak bersama setelah
Arya dan Sakawuni berhasil menyusup dan memberikan tanda dengan membuat kekacauan dari dalam perguruan.
"Baiklah semuanya segera bersiap karena sebelum malam kita akan bergerak" Ujar Ki Ageng.
Semua orang menganggukkan kepala kemudian satu persatu membubarkan diri dari pertemuan tersebut.
__ADS_1
"Maafkan kami karena telah melibatkan nona" ujar Ki Ageng setelah semua tetua perguruan bubar.
Sakawuni tersenyum ramah, "Tidak usah sungkan ketua, aku sudah berjanji kepada temanku ini untuk membantunya" balasnya sembari menoleh ke Arya Geni.
Arya Geni hanya tersenyum saja.
Tiba-tiba pintu gubuk diketuk bersamaan terdengar seseorang berkata, "Darma mohon menghadap Ketua" ucap Darma dari luar.
"Masuklah!" jawab Ki Ageng mempersilahkan Darma untuk masuk.
Tidak lama berselang lama terdengar suara pintu berderit kemudian terbuka bersamaan munculnya Darma.
Pemuda tersebut langsung mengatupkan kedua tangannya memberikan penghormatan. "Hormat kepada ketua" ucapnya pelan.
Darma kemudian menceritakan tentang para pendekar lembah hitam yang telah meninggalkan wilayah Karangsari dan perguruan naga puspa.
Ki Ageng terlihat berbinar dia melirik ke arah Ranajaya dengan penuh senyuman.
(sebelumnya)
"Tidak tetua ini aku tidak mungkin memanfaatkan nona Sakawuni" ujar Ki Ageng nampak tidak setuju dengan rencana Ranajaya yang ingin menjadikan Sakawuni sebagai tawanan.
"Ini adalah jalan-jalan satu-satunya untuk menekan lembah hitam agar tidak terlibat dan aku yakin nona Sakawuni tidak akan keberatan"
Ki Ageng terdiam walaupun dia sebenarnya setuju dengan rencana tersebut namun ia merasa khawatir kalau Sakawuni akan menolak.
__ADS_1
"Lakukan lah paman jika itu akan membantu kalian"
Ki Ageng dan Ranajaya menoleh kearah suara tersebut. Dan menemukan Sakawuni telah berdiri bersama Arya dibelakang mereka.
"Terimakasih aku tidak akan melupakan kebaikan nona" Ki Ageng terlihat sumringah.
"Tidak usah sungkan paman" balas Sakawuni.
####
Sebuah bayangan hitam melesat masuk ke sebuah penginapan di desa Karangsari.
"Hormat kepada tetua" ucap seorang pemuda yang memakai ikat merah memberikan hormat kepada seorang pria yang berwajah tegas.
"Katakan!" ucapnya.
Kemudian pemuda tersebut memberikan sebuah gulungan berwarna coklat kepada Lingga.
Lingga mengambil gulungan tersebut kemudian membukanya, raut wajahnya berubah menjadi tegang setelah membaca isi gulungan tersebut.
"Ranajaya sialan akan aku cincang tubuhnya" ujarnya geram sambil menghancurkan gulungan tersebut menjadi abu.
"Tarik kembali semua pendekar dan kembali lembah hitam" ucap Lingga mempersilahkan pendekar tersebut untuk pergi.
Setelah memberikan penghormatan pendekar tersebut langsung menghilang. Lingga menarik nafas sebelum keluar dari kamarnya dengan wajah masam.
__ADS_1