Legenda Pedang Naga Puspa

Legenda Pedang Naga Puspa
Membunuh Tanpa Keraguan


__ADS_3

"Bagaimana bisa ..."


"Tidak Mungkin ..."


Jika dilihat dari penampilannya, Arya Geni terlihat seperti remaja berusia tujuh belas sampai delapan belas tahun. Para Perampok Lembah Tengkorak pernah mendengar bahwa ada pemuda seusia demikian yang memiliki kemampuan beladiri tinggi di beberapa perguruan besar, pemuda-pemuda seperti ini dipandang sebagai jenius dan akan menjadi tokoh penting dunia persilatan ketika mereka sudah dewasa.


Hanya saja melihat langsung sosok seperti ini dihadapan mereka begitu mengejutkan apalagi Arya Geni membunuh begitu banyak orang tanpa berkedip.


Semua perampok lembah tengkorak yang berhadapan dengan Arya Geni pernah membunuh orang, tetapi mereka yakin tidak ada satupun dari mereka yang pernah membunuh lebih banyak orang daripada Arya Geni.


"Aura membunuhnya ..."


"Bocah ini berbahaya .."


Arya Geni membunuh lebih dari tiga puluh perampok dihadapan mereka, membuat aura pembunuh menyelimuti tubuhnya menjadi semakin pekat.


Gerakan Arya Geni menggunakan Meniti Angin Menapak Badai, memiliki kecepatan yang tidak mampu diimbangi para perampok dihadapannya.


"Ilmu meringankan tubuh miliknya juga begitu tinggi!"


Andai Arya Geni bukanlah musuh mereka para perampok ini akan terkagum-kagum pada kemampuan Arya Geni, masalahnya sekarang mereka hanya bisa memandang pemuda tersebut sebagai mimpi buruk.


Pemimpin perampok tersebut terus memerintah anggotanya untuk terus menyerang Arya Geni. Tidak memperdulikan korban dari pihaknya terus bertambah.

__ADS_1


Arya Geni menyadari batas kemampuan pedang yang digunakannya mulai tumpul karena bukan sebuah pedang pusaka. Jika dia terus menggunakan pedang tersebut untuk menghadapi seratus perampok yang sedang mengepungnya dan menyerangnya secara bersamaan, dia tidak akan selamat.


Arya Geni membuang pedang tersebut kemudian menarik pedang naga puspa. Ketika dia memegang gagang pedang terlihat aura merah merambat ke seluruh tubuh sehingga hanya dalam sekejap tubuhnya sudah diselimuti aura merah.


"Menarik, ternyata kau lebih kejam dari tua bangka itu" Arya Geni tersentak setelah mendengar suara dalam pikirannya.


"Jangan perlihatkan wajah bodoh itu padaku" Kembali suara itu terdengar.


"Siapa kau?" tanya Arya Geni.


"Apakah tua bangka itu tidak mengatakannya" Suara itu meninggi


"Naga Kreshna" Arya Geni memandang pedang dalam genggaman tangannya.


"Stop mengatakan aku bodoh besi karatan!" bentak Arya Geni, "Sayangnya untuk mengalahkan mereka semua aku tidak memerlukan kekuatan mu"


"Kurang ajar kau berani membentak aku, seandainya kekuatan ku tidak disegel tua bangka itu sudah ku hancurkan tubuh lemah ini" umpat Naga Kreshna kesal.


Arya Geni terkekeh, "Sayangnya kau tidak dapat melakukannya bukan" balasnya.


Pada saat yang sama semua perampok tersentak kaget ketika pemuda itu diselimuti aura merah setelah mengeluarkan pedang yang memiliki gagang berkepala naga dan diselimuti aura merah.


Melihat pemuda itu masih mematung belum melakukan serangan, para perampok berpikir ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan serangan lebih dulu.

__ADS_1


Arya Geni tersenyum melihat serangan dari dari berbagai arah ke arahnya. Dia langsung menyambut mereka dengan kecepatan luar biasa.


Arya Geni merasakan bahwa kekuatan yang dimilikinya telah bertambah kali-kali lipat setelah mengeluarkan pedang naga puspa. Tidak ada yang mampu bertahan dari satu serangannya. Tubuhnya bergerak sangat lincah membuat Arya Geni susah dihadapi, belum lagi pola serangannya yang sulit dibaca. Dia seperti dewa kematian sedang mencabut nyawa membunuh setiap perampok yang berada dalam jangkauan tanpa ampun.


Pimpinan perampok menaikkan alisnya ketika melihat cara bertarung Arya Geni, ini pertama kali baginya melihat jurus pedang sangat hebat.


"Siapa pemuda ini sebenarnya?


Dengan kemampuan yang dimilikinya seharusnya dia sudah memiliki nama di dunia persilatan, jurus yang digunakannya sepertinya aku belum pernah melihat sebelumnya," Pimpinan perampok merasa kebingungan.


Diam-diam Arya Geni mulai mengagumi pedang tersebut dia merasakan sendiri bagaimana jurus pedang naga puspa yang dipelajarinya selama ini lebih efektif ketika diperagakan bersama pedang tersebut.


"Hentikan bocah itu!" Pimpinan perampok menjadi panik ketika satu persatu anggotanya terbunuh oleh pedang Arya Geni.


Semua perampok Lembah Tengkorak bisa mendengar perintah tersebut dengan jelas namun melihat kekejaman Arya Geni, namun tidak satupun dari mereka yang memiliki keberanian untuk mendekatinya. Kekuatan mengerikan dan aura pembunuh Arya Geni cukup untuk membuat mereka berkeringat dingin, belum lagi pedang naga puspa yang digunakannya dapat memotong senjata mereka seperti memotong sayuran.


Para perampok tersisa mulai menjauh dari Arya Geni, bahkan beberapa dari mereka memilih berlari menjauh dari tempat itu setelah melihat kemampuan pemuda tersebut yang terus meningkat.


Para perampok ini bahkan tidak berpikir untuk menggunakan kuda, mereka lebih berlari mengandalkan sepasang kaki yang mereka miliki lagi pula kuda-kuda mereka sudah terlalu lelah untuk membawa mereka pergi dalam lebatnya hujan ini.


Arya Geni tidak berhenti memberikan tebasan pada leher atau menusuk jantung para perampok, bukan hanya dia tidak memiliki keraguan tetapi dirinya tersenyum seolah menikmati saat melakukannya.


"Bocah ini sungguh kejam! lebih kejam dari tua bangka Mahasyura" Naga Kreshna menggeleng pelan setelah melihat pemuda ini membunuh tanpa ada rasa penyesalan bahkan seolah menikmati pembunuhan tersebut.

__ADS_1


Arya Geni tidak berfikir untuk melepaskan semua perampok karena jika mereka dibiarkan lolos maka semua penduduk desa ini akan celaka.


__ADS_2